Thursday, September 21, 2017

Sinopsis Temperature of Love Episode 4


Sumber Gambar: SBS


Hyun Soo jalan sambil melambaikan dan akhirnya jatuh. Jung Sun bertanya, apa Hyun Soo mabuk? Hyun Soo menyangkalnya, ia memang sering jatuh. Kalau begitu Jung Sun menyuruh Hyun Soo berdiri.

"Tidak mau berdiri. Katanya kalau sedang sedih kita harus istirahat. Aku istirahat saja dulu." Kata Hyun Soo.

"Kau sedang menggodaku?"


Hyun Soo langsung berdiri, Tidak tuh! Menggoda? ia belum pernah dengar perkataan itu! Ia bukan orang seperti itu. Semua kenalannya bilang ia tomboy.

"Mereka salah, atau mungkin itu kemampuan tersembunyi. Kau hanya tahu sejauh yang kau lihat."


Jung Sun mulai jalan dan Hyun Soo mengikutinya. Hyun Soo mengatakan kalau Jung Sun itu mirip kakek-kakek, tapi Jung Sun sadar gak? Sikap Jung Sun tidak sesuai usianya.

"Baiklah, Noona."


Hyun Soo terkejut dipanggil Noona, terdengar mengerikan, ia merasa tua sekali, seolah ia dewasa dan sangat berkuasa. Jangan!

"Kau sadar kalau kau tidak konsisten?"

"Aku tahu. Biasanya manusia seperti itu."

"Baiklah, Hyun Soo-ya."

"A-haha Itu tidak benar. Hyun Soo-ssi?"


Jung Sun meminta nomor ponsel Hyun Soo, ia akan menelpon Hyun Soo, jadi jangan terlalu waspada.

"Aku tidak melakukannya saat ini. Tapi aku tak punya bolpen."

"Kalau begitu katakan saja, akan kuingat."

Hyun Soo tersenyum dan Jung Sun juga.


Hyun Soo pulang dan ia heran melihat Ibunya yang mengeringkan rambut, ia kira ibunya habis mandi, tapi kapan?

"Siapa yang mandi? Itu bukan mandi tapi terpaksa." Jawab Hyun Yi.

"Sepertinya kau senang ibumu kena siram?" Tuduh Ayah.

"Aigoo, siramannya tidak banyak, tapi sayang sekali aku tidak melihat."


Ibu: Hati-hati dengan perkataanmu?

Hyun Yi: Mungkin lain kali aku harus mengeluarkan kalian dari kantor polisi?

Hyun Soo menebak, apa mereka kena siram karena memamerkan kontak fisik? Ibu memuji Hyun SOo yang sangat pintar karena bisa langsung menebak.

"Aah, karena ibu begini makanya dia makin kacau." Protes Hyun Yi.

"Dia itu kakakmu, mana bisa berkata begitu." Nasehat ibu sambil memukul Hyun Yi dengan handuk.

Ayah menengahi, tidak apa-apa, kalau sudah menikah Hyun Soo akan berubah. Hubungan Hyun Yi-Hyun Soo akan memburuk kalau dipaksa berubah.

"Kau benar." Kata Ibu.


Lalu ayah meminta ibu duduk disampingnya, dan ia bahkan menggeser Hyun Yi.

Ibu: Kalian harus berterimakasih pada kami. Melihat ayah dan ibu mereka masih mesra adalah hadiah terbesar buat anak.

Hyun Soo: Ya, ya...

Ayah: Wah, tanpa riasan kau tampak makin cantik. Tak salah lagi...

Hyun Soo dan Hyun Yi geli mendengarnya.


Ibu Jung Sun melihat foto keluarga, ia kemudian menghubungi ayah Jung Sun tapi ponselnya tidak aktif.


Jung Sun mengawali hari seperti biasa, ia berolahraga di tempat biasa pula. Bedanya, kali ini ia memikirkan Hyun Soo.


Hyun Soo bangun tepat jam 7, bangun setelah alaramnya berbunyi. Hyun Soo membereskan tempat tidurnya lalu memutar lagu dengan keras dan menari.

"Hari ini mari semangat lagi!"


Hyun Yi marah-marah, menyuruh kakaknya mematikan lagu itu,

"Ini tempat tinggal. Artinya akulah perempuan gila yang tinggal di sini."

Hyun Soo bergumam, "Benar, kau perempuan paling gila di sini."


Jung Sun melihat majalan di tempatnya olahraga, ada resep chef favoritnya, nama masakannya "Lekukan Gunung Taebaek". Jung Sun membawa majalan itu dengan sepedanya.


Di jalan ia melihat telfon umum, lalu ia menghubungi Hyun Soo. Hyun Soo senang Jung Sun menelfon, karena ia harus mewawancarai Jung Sun, kapan Jung SUn ada waktu?

"Ayo makan bersama." Ajak Jung Sun.


Hyun Soo menemui Penulis Park untuk meminta cuti sehari. Tapi tanpa disangka Penulis Park memberi ijin. Hyun Soo sangat senang mendengarnya.

"Terima kasih, penulis. Saat kembali aku akan bekerja keras."

"Kembali? Kau mau pergi?"


Hyun Soo sampai duluan di TERMINAL BIS SEOUL SELATAN. Ia menunggu Jung Sun sambil merapikan baju dan rambutnya. Tapi Jung Sun diam-diam mendekatinya dari belakang dan ia terkejut sekali melihat kebelakang.


Jung Sun menunjukkan dua tiket bus dari Seoul menuju Beolgyo. Hyun Soo heran, mau makan kerang saja harus di Beolgyo? DI Seoul kan banyak?

"Aku ingin makan langsung dari tempat asalnya."

"Buatku makanan cuma makanan, tapi buat Jung Sun-ssi itu bagian dari pembelajaran?"

"Ya. Tapi, kau ingin wawancara apa?"

"Ada deh..."


Setelah bisnya jalan, Hyun Soo mengeluarkan camilan yang selalu ia bawa kemana-mana, tapi Jung Sun menolaknya, Jung Sun tidak suka camilan.

"Padahal enak. Sungguh tak mau?"

Jung Sun pun terpaksa menerima dan memakannya. Hyun Soo akan mengambilkan lagi tapi Jung Sun menolaknya.


Hyun Soo menangaku kalau sekarang ini ia merasa bahagia,slama setahun menjadi asisten penulis, ia belum pernah tenang selama satu hari.

"Menjadi asisten penulis pasti sulit. Tapi, tak apa cuti hari ini?"

"Bukan karena penulis tidak mengizinkan aku cuti. Tapi aku tak bisa memintanya.. di saat atasanku bekerja keras."

"Itu artinya dia tak mengizinkanmu istirahat. Kau saja yang salah menilainya."


Hyun Soo menangaku kalau sekarang ini ia merasa bahagia,slama setahun menjadi asisten penulis, ia belum pernah tenang selama satu hari.

"Menjadi asisten penulis pasti sulit. Tapi, tak apa cuti hari ini?"

"Bukan karena penulis tidak mengizinkan aku cuti. Tapi aku tak bisa memintanya.. di saat atasanku bekerja keras."

"Itu artinya dia tak mengizinkanmu istirahat. Kau saja yang salah menilainya."


Setelah naik bis, mereka melanjutkan perjalanan dengan naik kapal. Pemandangannya indah banget, banyak burung di tepi sungai (atau laut?). Hyun Soo sibuk memandangi pesona alam itu, tapi Jung Sun malah memandangi wajah Hyun Soo.


Selanjutnya mereka jalan di tengah padang ilalang. Hyun Soo kembali lengah dan akan terjatuh tapi kali ini Jung Sun memeganginya.

"Hati-hatilah!"

Hyun Soo hanya tersenyum, kemudian mengajak makan karena ia sudah lapar.


Mereka makan di restoran kerang. Jung Sun mencium aroma sup kerang dulu sebelum memakannya. Hyun Soo penasaran jadi ia ikut-ikutan dan ia terkejut dengan rasanya,

"Aku ingin tahu kenapa kau mencium aromanya, tapi ternyata bisa membuat rasa makanan lebih enak."

"Kau cepat belajar."

"Nilai sekolahku bagus."


Hyun Soo berkata ia tidak begitu suka sashimi, tapi walaupun Jung Sun melarangnya memakannya tapi ia tetap makan.

"Katanya tidak suka?"

"Sudah kubilang, manusia penuh kontradiksi."

Jung Sun hanya tersenyum. Hyun Soo lalu menanyakan tujuan mereka setelah makan. Jung Sun bilang mereka harus memakan budaya.


Sayangnya semua galeri sudah tutup saat mereka datang, jadi mereka singgah untuk minum teh. Padahal Hyun Soo selalu ingin mengunjungi musium literatur di gunung Taebek. Lalu bertanya apa Jung Sun pernah baca buku "Gunung Taebaek"?

"Aku tidak tahu ada buku seperti itu."

Hyun Soo ketawa, "Ini menunjukan jarak usia kita."

"Bukannya jarak usia tapi pengetahuan."

"Kalau begitu, bisa dibilang selera kita berbeda."


Hyun Soo bertanya soal "pria yang memakan steak mentah" apa Jung Sun sudah memikirkannya?

"Setelah kupikir, ini masalah perbedaan pilihan daripada kepribadian. Mereka juga suka daging mentah karena lebih lembut dan banyak jus nya. Mereka juga suka rasa dari daging mentah."

"Tidak bisa begitu. Harus ada yang khusus dari kepribadian mereka."

"Banyak orang barat yang suka memakan steak mereka mentah."

"Kau keras kepala. Harusnya ikuti saja."

"Coba gunakan imajinasimu. Jangan coba mengubah fakta."

"Kau pandai menyerang orang dengan fakta."

Jung Sun tersenyum, lalu mengajak Hyun Soo ke terminal untuk mengejar bis terakhir.


Tapi di terminal para supir bis sedang menggelar demo, mereka mogok. Hyun Soo bingung, tapi bukankah masih ada kereta KTX jam segini?

"Kalau naik KTX kita harus ke Suncheon atau Mugunghwa." Jelas Jung Sun,

"Aku akan menelpon. Ini hari kerja, pasti masih ada kursi tersisa. Bisa kita pesan."

"Tidak bisa memesan menggunakan ponsel."

"Lalu bagaimana? Tidur di sini? Besok aku harus bekerja. Aku harus pulang."


Jung Sun ada ide, ia meminta Hyun Soo mengikutinya. Jung SUn membawa Hyun Soo ke daerah 'malam', ada banyak orang mabuk yang mereka lewati, juga motek di kana kiri jalan.

Hyun Soo panik, Jung Sun mau membawanya kemana? Jung Sun tak menjawab, hanya menyuruhnya ikut saja. Tapi ternyata, Jung Sun mengajak Hyun Soo ke Warnet.


Jung Sun memesan tiket online dan dalam sekali klik, tiket sudah ada di tangan mereka. Hyun Soo senang dan mengajak Jung Sun pergi sekarang tapi Jung Sun masih ada perlu, ia mau mengecek e-mail.


Jung Sun menjelaskan, ia mengagumi Chef Alain Passard dan mengajukan magang di restorannya.

"Kalau lolos, kau akan pergi ke Perancis?" Tanya Hyun Soo.

"Tidak, meskipun tidak dapat aku tetap akan pergi.  Aku masih belum lulus universitas."

Hyun Soo kelihatan agak kecewa. Jung Sun juga tapi dalam artian berbeda, Jung Sun kecewa karena masih belum ada e-mail baru.

"Ayo pergi. Kau bisa lari?" Ajak Jung Sun.

"Jangan meremehkan aku. Aku ini anggota klub lari."

"Aah, ya..."


Jung Sun berkata kalau Hyun Soo bisa pelan-pelan, mereka masih ada waktu tapi Hyun Soo tidak mau. Hyun Soo tetap berlari dan Jung Sun mengejarnya. Mereka sama-sama berlari dalam gerakan slow.


Lalu mereka duduk di kursi sesuai tiket. Mereka sama-sama tersenyum dan tak lama kemudian kereta jalan.


Jung Sun ketiduran, tapi saat ia bangun, Hyun Soo tidak ada disampingnya. Ia mencari Hyun Soo di toilet tapi tidak ada.


Jung Sun akhirnya menemukan Hyun Soo disela gerbong. Hyun Soo menyambut Jung Sun, sudah datang?

"Aku cemas karena kau tidak kembali dari toilet."

"Apa aku anak kecil? Buat apa cemas?"

Jung Sun tersenyum.


Lalu Jung Sun ikutan Hyun Soo memandang keluar. Hyun Soo kembali mengatakan kalau ia bahagia. Jung Sun sadar, Hyun Soo sudah mengatakan dua kali bahwa dia bahagia.

"Mudah sekali membuatmu bahagia."

Hyun Soo menatap Jung Sun.


Lalu tiba-tiba kereta bergoncang dan Jung Sun terdorong ke arah Hyun Soo. Jung Sun menggunakan tangannya untuk menahan tubuhnya.


Setelah kereta kembali normal, Jung Sun kembali menjauh. Hyun Soo menjelaskan, Jung SUn tidak membuatnya bahagia, ia sendiri yang bahagia.

"Itu persis dengan... pilihan kita dalam menilai situasi." Lanjut Hyun Soo.

"Aku akan menerima nasihatmu. Untuk hidup sesuai usiaku. Aku selalu serius, tulus, dan tertekan akan tanggung jawab. Hari ini, aku ingin bersikap layaknya 23 tahun."

"Lakukan."


Jung Sun tiba-tiba berkata kalau dia ingin mencium Hyun Soo, "Kalau mencium... haruskah aku bertanggung jawab?"

Hyun Soo tersenyum dan menjawab tidak. Jung Sun balas tersenyum, ia tidak tahu apakah yang ia rasakan itu cinta atau hal lain.

"Kalau kau jujur begitu, tidak ada wanita yang akan menciummu. Wanita sering berimajinasi.. kalau pria yang mencium mereka.. karena mereka mencintainya." Nasehat Hyun Soo.


Jung Sun lalu meletakkan tangannya dibelakang kepala Hyun Soo, menempelkan pada dinding.

"Kau bisa menghindar kalau tak mau."

Jung Sun mendekati Hyun Soo dan Hyun Soo tidak menghindar. Perfect first kiss.


Jung Sun mengulanginya lagi tapi kalai ini tidak melepaskannya.


Jung Sun tersenyum lebar dalam perjalanan menuju rumahnya, tapi langsung surna saat melihat ibunya ada di depan rumahnya dengan membawa dua koper jumbo.


Ibu mendekati Jung Sun, "Ibu baru tiba. Aku tidak lama menunggu, jadi jangan merasa bersalah."


Jung Sun membawa ibunya ke dalam rumahnya. Ibu senang melihat tempat tinggal putranya bagus.


Ibu lalu menyentuh wajah Jung Sun, "Ibu rindu padamu. Kau selalu melindungi aku, ibu tidak akan melupakannya. Bagaimana kau melindungi ibu."

Kilas Balik..


Saat Jung Sun manis SMP. Ayah marah pada Ibu karena memasukkan tahu di dalam sup? Ayah mengeluarkan tahunya lalu memukul kepala ibu dengan sendok.


Jung Sun tidak tahan melihat itu jadi ia menahan ayahnya agar tidak memukul lagi.


Ibu bangkit dari duduknya, "Kita cerai saja. Aku akan melepaskanmu."

Kilas Balik Selesai...


Jung Sun menunjukkan ruangan yang bisa Ibunya gunakan untuk tidur.

"Mau aku tidur di sini? Kau tidak tahu aku tak bisa tidur di lantai?" Tanya Ibu manis.

Jung Sun tidak menjawabnya, ia meletakkan selimut dan alas tidur lalu pergi.

"Baiklah. Kau marah, ya? Baiklah, karena aku ibumu... aku mengerti. Aku mengerti."


Jung Sun menghirup udara di luar dalam-dalam.


Hyun Soo kembali masuk kantor. Si merah heran, kenapa Hyun Soo masih datang? Hyun Soo tak mengerti apa maksudnya, ia cuek.

Si merah melanjutkan, "Bukannya kau keluar? Penulis bilang begitu."


Lalu Penulis keluar dari ruangannya. Penulis juga bertanya kenapa Hyun Soo kesana. Hyun Soo menjawab jalau ia tidak pernah bilang akan keluar.

"Kukira kau keluar saat ingin cuti."

"Penulis bilang tak masalah jika aku cuti."

"Benar, aku bilang begitu. Kau boleh cuti selamanya, karena tidak serius."

"Penulis... Aku sangat menghormatimu dan berharap bisa membantu..."


"Membantu apa?! Kau ini dibayar, bukan kerja sukarela! Caramu mendekati pekerjaan ini salah! Lalu, Kita sedang tayang, mana bisa kau minta cuti? Karena sutradara punya pandangan yang sama denganmu, kau menganggapku lelucon?! Aku lelucon?!"

"Tidak."

"Kau sok baik, tulus dan pekerja keras. Aku tertipu karena aktingmu sehingga bersikap baik padamu, itu membuat darahku mendidih! Aku, belum pernah melihat orang sejahat dirimu selama 10 tahun karier ku. Kau ingin jadi penulis? Ya, lakukan saja. Orang sejahat dirimu, tidak akan bertahan di industri ini! Kalau kau gagal pasti aneh karena kelakuanmu seperti iblis!"

"Aku... tidak berpikir dengan benar. Kebetulan saja, pendapat sutradara dan pendapatku sama. Aku kira aku melukai hati penulis. Aku kira penulis tidak ingin melihatku."

"Kau banyak sekali bicara. Memang pembohong suka sekali bicara. Berikan barang-barang Hyun Soo. Selamat jalan. Aku tidak akan membuat rumor jelek, karena kau dulu menjadi bawahanku."


Hyun Soo kembali setelah berolah raga dan ibunya sudah memasak banyak.

"Ibu sengaja membuatnya. Karena sudah lama tidak melakukannya, aku tidak jamin soal rasanya."

Jung Sun tidak menjawabnya, ia langsung masuk ke kamar.


Hyun Soo keluar dari kantor dengan berat hati. Ia berjalan menuju lift sambil menunduk.


Di dalam lift, ia semakin menunduk, airmatanya turun.


Di jalan, Hyun Soo mencoba tegar,

"Sesungguhnya, hanya ada 1 hal terlintas di kepalaku saat itu. Aku harus menemui Jung Sun. Aku baru menyadarinya setelah beberapa waktu berlalu. Orang yang kuingat setiap kali merasa putus asa. Itulah cinta..."

Hyun Soo berlari menuju rumah Jung Sun.


Jung Sun tidak menyentuh masakan Ibunya, ia akan langsung berangkat kerja tapi tiba-tiba ibunya minta uang, memintanya membayar biaya untuk membesarkannya selama ini.

"Karena kau membuang ponselmu, ibu kesulitan menemukanmu."

"Siapa yang menyuruhmu mencari? Kalau aku membuang ponselku dan menghilang, harusnya jangan dicari. Kenapa mencariku?"

"Mana mungkin tidak mencari anakku sendiri? Kau tahu kau putra seperti apa bagiku."

"Hentikan. Kalau ada yang dengar mereka pikir kau ibu yang baik. Aku muak selalu membereskan masalahmu. Tolonglah, kita hidup terpisah saja."

"Kita keluarga. Kalau saling membuang kita akan dihukum. Ibu... tidak ingin kau di hukum."

"Lebih baik aku di hukum. Lagipula bersama ibu sudah seperti hukuman bagiku."


Ibu refleks menampar Jung Sun, namun setelahnya ia minta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri yang pasti sudah tidak waras.

Ibu mengkhawatirkan Jung Sun, tapi saat ia menyentuh Jung Sun, Jung Sun menepis tangannya..

"Keluar dari rumah ini. Jangan sampai masih ada saat aku pulang."


Ibu mendadak membuang semua makanan di meja, ia histeris.

"Siapa wanita itu? Wanita mana yang membuatmu begini?"

"Hentikan... Tolong hentikan!!"

"Kenapa? Merasa bersalah? Aku melihat wajahmu semalam. Kau tampak bahagia sekali. Kau suka sekali padanya?"

"Kenapa menyeret orang lain di dalam masalah kita?"

"Lalu, kau menatapku seolah aku ini kotoran! Kau merendahkan aku dan memojokkan aku! Mana bisa anak begitu pada ibunya?!"


Ibu lemas, berat.. berat sekali.. ia tak bisa hidup lagi. Ia tahu ia bersalah. Tapi Jung Sun tak bisa begini padanya.

"Kau tahu bagaimana hidup ibu selama ini. Lebih baik aku mati kalau tidak bisa denganmu. Aku mau mati. Kau mau membunuh ibu?"

Jung Sun menggenggam celananya erat, sampai ia tak tahan lagi dan lari keluar rumah. Ibu semakin menjadi, ia menangis, meraung.


"Aku harus menemui Hyun Soo... Hyun Soo... Aku tahu kenapa... Kenapa aku ingin menemui Hyun Soo di saat seperti ini."


Jung Sun menuju telfon umum dan menekan nomor Hyun Soo.

Sementara Hyun Soo sudah sampai di depan rumah Jung Sun, Ia mengatur nafas dulu sebelum memencet bel.


Dan Hyun Soo memencet bel rumah Jung Sun tanpa tahu kalau yang di dalam bukanlah Jung Sun. 

6 komentar

Seru.....nunggu seminggu lagi,nggak sabar rasanya

Gomawo... Berasa nonton. Cant wait next episode.

Sepertinya bagus ini, lanjut terus yah ..

D tunggu kelanjutan y. Makasih ya sinopsis y..

D tunggu kelanjutan y. Makasih ya sinopsis y..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon