Tuesday, September 26, 2017

Sinopsis Temperature of Love Episode 5


Sumber Gambar: SBS


Kembali saat Jung Sun mengantar Hyun Soo sampai di depan rumah. Mereka masih canggung satu sama lain. Hyun Soo bilang akan masuk dulu, Jung Sun hanya membungkuk hormat tanpa berkata apapun.

Lucunya, Hyun Soo sampai menjatuhkan kuncinya saat akan membuka gerbang, ia gugup. Jung Sun tidak bereaksi apa-apa, tapi setelah berjalan agak jauh, ia tersenyum.


Di rumah ternyata ada tamu, Joon Ha, yang saat ini sedang menenangkan Hyun Yi yang tengah menangis keras. Joon Ha menyuruh Hyun Yi berhenti menangis.

"Alangkah baiknya jika aku berhenti menangis hanya karena kau menyuruhku begitu." Jawab Hyun Yi.

Hyun Soo bertanya, kenapa Hyun Yi menangis. Joon Ha menjawab, mantan pacar Hyun Yi menikah. Hyun Yi melarang Joon Ha memberitahu Hyun Soo, karena Hyun Soo akan mengejeknya nanti.

"Bagaimana kau tahu kalau dia mau menikah?" Tanya Hyun Soo.

"Lihatlah, lihat! Dia hanya tertarik dengan fakta faktanya."

"Aku perlu tahu fakta-faktanya sebelum mengambil tindakan selanjutnya."

Joon Ha memuji Hyun Soo bahwa tidak semua orang berkepala dingin seperti Hyun Soo. Tapi Hyun Yi tidak setuju, bagaimana Hyun Soo bisa jadi penulis naskah drama kalau begitu sikapnya.

"Dia tidak bisa menulis roman. Setidaknya dia bisa menulis drama dengan genre lain." Jawab Joon Ha.


Hyun Soo melihat mereka berdua ini cocok satu sama lain dan mneyarankan mereka untuk berkencan saja. Keduanya kompak menjawab tidak mau.

Joon Ha lalu merangkul Hyun Yi, mereka adalah Brother! Hyun Yi menyingkirkan tangan Joon Ha, Sister tahu!, Sister!

"Apa yang kau katakan?" Sodok Joon Ha.

"Kalian cepat sekali bahagianya!" Komentar Hyun Soo.

Joon Ha lalu bertanya, habis darimana Hyun Soo. Hyun Soo malah bengong.

"Waktu itu, Aku tidak tahu.. bahwa itulah cinta. Kenapa sulit sekali.. bagi kami memastikan bahwa kami sedang jatuh cinta?"


Hyun Soo sedang bersih-bersih di kamar mandi dan ia senyam senyum saat teringat kejadian di kereta tadi.

Tiba-tiba Hyun Yi masuk, muntah. Hyun Soo membantu dengan menepuk-nepuk punggung adiknya itu. Hyun Yi menangis lagi, ia lebih baik mati saja kalau begini.

"Sudahlah!" Kata Hyun Soo.

"Aku berharap kau menangis sampai matamu keluar karena seorang pria.. dan akhirnya kau menghancurkan semuanya sendiri." Do'a Hyun Yi.

"Kau harus berharap untuk sesuatu yang lebih realistis. Itu tidak akan pernah terjadi pada Hyun Soo. Hyun Soo pikir cinta itu seperti kemeja yang disetrika dengan rapi." Jelas Joon Ha.


Lalu Ibu Jung Sun (Nyonya Yoo Young Mi) keluar dan memanggil Hyun Soo, mau kembali kah? Hyun Soo menoleh, ia memastikan apa yang dimaksud Nyonya Yoo adalah dirinya?

"Bukankah ke sini ingin bertemu dengan anakku?"

"Nama anak anda siapa?" Tanya Hyun Soo.


Sementara itu, karena telfonnya tidak diangkat oleh Hyun Soo, Jung Sun memutuskan untuk membeli ponsel.


Hyun Soo diajak Nyonya Yoo bicara di kafe. Mereka minum kopi dan hanya dengan mencium aromanya saja Nyonya Yoo tahu kopi apa itu. Nyonya Yoo kemudian bertanya, bagaimana Hyun Soo bisa mengenal Jung Sun? Sebagai informasi, ia mengenal semua teman Jung Sun.

"Kami belum terlalu lama kenal. Kami bertemu di klub Running."

"Berapa umurmu?"

"29."

"Kalau 29... berarti kau lebih tua dari anakku. Hmm.. Aku tiba-tiba merasa lega."

Nyonya Yoo berdiri dan mengulurkan tangan pada Hyun Soo. Hyun Soo pun menjawabat tangan Nyonya Yoo.

"Senang bertemu denganmu. Aku sebenarnya selalu menjaga hubungan yang lama dengan orang-orang. Tapi sepertinya kali ini tidak bisa, aku jadi kesal." Kata Nyonya Yoo lalu menarik tangannya dan pergi.

Hyun Soo terduduk lemas. *gak direstui nih ceritanya?


Hyun Soo kembali ke rumah, ia membaringkan tubuhnya di sofa. "Aigoo~" Desahnya.


Tiba-tiba Park Jung Woo menghubunginya. Hyun Soo belum ingat siapa Jung Soo sampai Jung Woo membahassoal Joon Ha.

"Oh iya. Anyyenghaseyo. Darimana kau dapat nomorku?"

"Aku pikir kau cerdas, tapi kualitas pertanyaanmu cukup rendah."

"Aku sedang Badmood hari ini."

"Aku menerima keluhan tentangmu hari ini."

"Maksudmu dari Joon Ha Seonbae?"

"Aku dengar kau dipecat."

"Ah, Manusia itu..."

Jung Woo malah tersenyum, ia menyuruh Hyun Soo datang ke kantornya pukul 17:00. Hyun Soo langsung menolaknya. Jung Woo menjawab, jika Hyun Soo tidak mau, ia akan mengingat Hyun Soo sebagai seseorang yang rendah diri.

"Aku tidak peduli bagaimana kau akan mengingatku." Balas Hyun Soo lalu menutup telfon. Ia mengutuk Joon Ha yang ember.


Jung Sun akan memasak sous vide, tapi ia akan memanggang kentangnya dulu. SousChef memarahinya karena tidak melakukan sesuai perintahnya.

Jung Sun menjelaskan, kentangnya kali ini terlalu banyak mengandung air, jadi ia mau menguranginya dengan memanggangnya sebentar.

"Lagi! Lagi! Kau tidak mendengarkanku." Kata SousChef sambil mendorong Jung Sun dengan jarinya.

Jung Sun membantah, ia selalu mendengarkan kata SousChef, kemarin ia juga sudah memasak sous vide.

"Ooh. itu sebabnya kau melawanku?"

"Sudah ku bilang kalau aku menghormati apa yang Anda katakan. Terakhir kali kentangnya tidak mengandung banyak air jadi tidak perlu dipanggang."

"Jadi maksudmu kentangnya harus diproses berbeda, tapi aku tidak tahu itu?."

"Betul."


Semua Staff dapur terkejut mendengar jawaban Jung Sun itu. Semua sontak menatap ke arah Jung Sun.

SousChef semakin kesal, ia sampai akan memukul Jung Sun. Untung kepala Chef masuk dan membubarkan mereka.


Jung Sun lalu keluar setelah SousChef melepaskannya. SousChef memanggil-manggilnya tapi Jung Sun tidak merespon.


Kepala Chef meminta SousChef jangan terlalu kasar dengan Jung Sun. SousChef menjelaskan, jika ia tidak keras, mereka akan malas-malasan dan membuat masalah.

SousChef lalu membentak yang lain untuk segera siap-siap, karena waktu buka sudah dekat.

"Apa kau tidak dengar aku?! Kenapa kau mengubah topik? Kenapa kau memotongku?!" Bentak Kepala Chef.

SousChef pun meminta maaf.


Kepala Chef menjelaskan pada Jung Sun, seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, berbaur dengan anggota tim itu juga berupakan skil.

"Apa untuk berbaur artinya aku harus menahannya?

"Bahkan jika kau berbakat, kau tetap masih pemula. Kau pikir kau akan tetap disini tanpa bantuanku? Mulai besok bekerjalah ketika SousChef datang bekerja, bantu dia."


Jung Sun menunjukkan ekspresi keberatan. Kepala Chef menjelaskan lagi, Jung Sun pasti tahu sendiri kalau ia memfavoritkannya. Jadi ia melakukan semua ini demi Jung Sun.

"Aku pikir, terus menahan diri dan membantu SousChef adalah cara yang tepat untuk membalas kebaikan Anda."

"Lalu?"

"Aku berubah pikiran saat Anda bilang, "Aku melakukan ini untuk kepentinganmu". Satu hal yang aku pelajari adalah bahwa ketika seseorang memaksamu untuk melakukan sesuatu dan memberitahumu bahwa itu untuk kepentinganmu, itu sebenarnya penipuan. Aku akan pikirkan lagi tentang ini. Apakah dengan tetap di sini benar-benar demi kepentingaku atau tidak, karena aku yang tahu apa yang terbaik untuk diriku."


Nyonya Yoo datang ke restoran Jung Sun dan tak sengaja ia bertabrakan dengan Jung Woo di pintu masuk.

"Apa Anda baik-baik saja?" Tanya Jung Woo.

"Oh.. Iya."

Jung Woo pun membungkuk pamit.


Kebetulan, Jung Woo duduk tidak jauh dari Nyonya Yoo. Jung Woo mendengar Nyonya Yoo meminta pelayan untuk memanggilkan Jung Sun dengan memberitahu kalau ibunya datang.


Hyun Soo sekarang ada di sekolah dasar. Ternyata Ibunya mengajar disana. Ibu datang dan Hyun Soo berteriak, "Aku punya ibu juga!"

"Apakah ada masalah?" Tanya Ibu.

"Tidak. Aku bertemu dengan ibu temanku, lantas aku merindukan Ibu."

"Mau berpelukan?"

"Kedengarannya bagus!"


Hyun Soo pun turun dan memeluk Ibunya. Hyun merasa energinya tersisi kembali setelah pelukan itu, ia akan pulang sekarang.

"Yaa! Kau tidak mau memberitahu Ibu ada masalah apa?"

"Ibu~ Apakah aku berbakat?"

"Tentu saja, kamu berbakat. Kamu berbakat dalam segala hal."

"Ibu bilang begitu karena Ibu adalah ibuku. Itu membuat perasaanku lebih baik."

"Bekerja itu penting, tapi kau juga harus menikah. Ayahmu dan Ibu hanya mementingkan satu hal. Caranya dididik. Pria dari keluarga bahagia."

*Waduh! Sama-sama gak ada restu.


Hyun Soo meminta Ibunya berhenti, karena sudah terlalu sering membahasnya. Lalu Ibu mendapat pesan dari ayah. Ayah mengirim foto selfie-nya bersama makan siangnya kali ini dan ayah bertanya tantang makan siang ibu.

"Ibu sebahagia itu?" Tanya Hyun Soo.

"Tentu saja." Ibu lalu membalas pesan ayah kalau Hyun Soo datang dan ia sudah makan siang. Ibu jadi bertanya apa Hyun Soo sudah makan siang?

"Aku suka kalian selalu memikirkan diri sendiri sebelum anak-anak. Aku hanya perlu mencemaskan diriku saja."

"Kami amat saling mencintai, jadi, tidak akan membebanimu."


Jung Sun pun datang menemui ibunya. Ibunya memuji rasa masakan Jung Sun. Jung Sun menoleh ke arah Jung Woo sebelum menjawab, tapi Jung Woo memasang wajah masa bodoh. Tapi sebenarnya Jung Woo memasang telinga untuk mendengar percakapan mereka.

Ibu berkata lagi, "Menurutmu kenapa ibu datang kemari? Ibu tidak ingin kau membenci ibu karena kejadian tadi pagi. Kau tahu cara ibu meminta maaf dan merenungkan perbuatan ibu."

"Nikmati makanan Ibu."

"Tidak bisa di sini saja sampai Ibu selesai makan?"

Jung Sun hanya memandang ibu, lalu kembali ke dapur.


Saat akan membayar, Nyonya Yoo meminta kasir untuk memasukkan tagihannya pada milik Jung Sun. Kasir berkata itu akan sulit.

Jung Woo yang ada di belakang Nyonya Yoo mengisyaratkan akan membayar tagihan Nyonya Yoo. Kasir menangkap itu dan mengijinkan ibu pergi.


Jung Woo pun maju untuk membayar taghannya juga Nyonya Yoo. Ia lalu memberi Kasir itu tips karena mengerti isyaratnya tadi.

"Terima kasih." Ucap Kasir. Jung Soo kembali menjawabnya dengan isyarat.


Jung Woo diam-diam ke dapur, kebetulan disana cuma ada Jung Sun yang sedang membuat meringue. Jung Woo mengatakan kalau ia juga tahu cara membuat meringue.

"Anda asal masuk saja seolah-olah ini dapur Anda." Protes Jung Sun.

"Aku memiliki paspor yang bebas masuk ke mana saja."

"Sepertinya norak sudah menjadi ciri khas Anda sekarang. Memang cocok."

"Entah itu kritik atau pujian. Aku akan menganggapnya sebagai pujian saja. Baik, aku langsung bicara saja."


Jung Woo bertanya, apa Jung Sun sudah memikirkan tawarannya tempo hari? bahwa akan berinvestasi jika Jung Sun membuka restoran sendiri.

"Aku tidak memikirkannya. Tidak kusangka Anda ternyata serius."

Jung Sun mendapat pesan dan ia membukanya. Jung Woo berkomentar, ia kira Jung Sun tidak punya ponsel, tapi ternyata ada. Jung Sun menjelaskan kalau ia baru membelinya hari ini. Jung Woo manggut-manggut.


Jung Woo lalu meminjam ponsel Jung Sun. ia menghubungi ponselnya dengan ponsel Jung Sun.

"Simpan nomor ini. Aku kontak pertamamu?" Tanya Jung Woo.

"Bukan."

"Aku akan menjadikannya sebagai tawaran resmi."

"Aku menolak tawaran itu secara resmi."


Jung Woo menasehati, setidaknya pikirkan dahulu sebelum menolak. Jung Sun merasa sudah cukup dipikirkan dan itulah alasannya bisa menjawabnya dengan cepat.

"Tapi terima kasih atas tawaran baik Anda."

"Jika menginginkan sesuatu, aku akan terus berusaha. Sampai menjadi milikku. Ini baru permulaan."

Jung Woo lalu keluar.


Hyun Soo makan siang dengan ramyeon dan nasi. Setelahnya ia bertepuk tangan, nasi memang enak.


Hyun Soo mengecek ponselnya dan ternyata ia melewatkan satu panggilan. Hyun Soo merasa tidak asing dengan nomor itu. Sampai Hyun Soo ingat nomor otu adalah nomor yang digunakan Jung Sun menelfonnya kemarin.

"Oh.. Dia meneleponku. Kenapa dia menelepon? Sulit dipercaya aku melewatkannya. Dia meneleponku pukul 8.43. Saat itu aku di depan rumahnya. Kenapa dia meneleponku? Aku tidak bisa menelepon balik karena ini dari telepon umum. Tapi kenapa tidak? Tidak ada salahnya mencoba." Kata Hyun Soo.


Hyun Soo pun menelfon balik dan beruntung ada orang lewat lalu mengangkatnya. Hyun Soo bertanya dimana lokasi telfon umum itu.

"Lokasinya di pintu masuk Taman Yeonnam."

"Baik, terima kasih."


Hyun Soo lalu mendatangi telfon itu, ia menghubunginya lagi untuk memastikan. Hyun Soo kecewa jadi ia berbalik.


Tapi ponselnya berdering saat itu, telfon daro Jung Sun. Hyun Soo tersenyum bahagia mendengar Jung Sun sudah membeli ponsel.

"Begitu, ya~" Kata Hyun Soo pelan untuk menyembunyikan kegiranagannya.

"kau sakit? Suaramu kenapa?"

"Aku tidak sakit. Aku senang mendengar... Tidak. Aku senang sekali... Tidak. Lupakan saja."

"Aku senang kau tidak sakit. Aku harus menyiapkan bahan untuk makan malam."

"Aku juga harus pergi karena ada janji."

Setelah menutup telfon, Hyun Soo lalu menyimpan nomor Jung Sun dengan "Ohn Jung Sun".


Won Joon mengajak Hong Ah makan siang bersama dan Won Joon sengaja masak banyak. Won Joon berkata tadinya ia mau berbagi dengan para perawat.


Hong Ah mencoba satu masakan Won Joon dan memuji rasanya. WOn Joon tersenyum lebar.

"kau sesenang itu melihatku makan?"

"Aku senang melihat siapa pun juga yang menikmati masakanku."

"kau masih ingin menjadi koki? Sayang jika berhenti menjadi dokter untuk bekerja sebagai koki."

"Kenapa sayang?"

"Bisakah kau melawan keinginan orang tuamu? Hanya orang dari keluarga miskin seperti Jung Sun yang bisa mengejar impian sesuai keinginan mereka."

"Kenapa kau berpikir dia dari keluarga miskin? Ayahnya dokter dan kakeknya orang kaya di Andong. Tampaknya dia mendapat warisan dari kakeknya juga."

"Lantas, kenapa dia tidak mengajakku berkencan? Kurasa karena dia tidak percaya diri."

"Mengkhayal juga merupakan penyakit. Tidak semua pria tertarik kepada wanita seperti dirimu."


Hong Ah kesal dengan ucapan Won Joon itu. Won Joon menambahi, ia rasa Hong Ah lah yang kekurangan kasih sayang.

"Tampaknya kaulah yang mengkhayal. Mau bertaruh Jung Sung menyukaiku atau tidak? Lihat saja dia akan jatuh cinta kepadaku atau tidak."

"Aku tidak bertaruh untuk orang. Makanlah."

Hong Ah tiba-tiba membanting sumpitnya, "Mana bisa aku makan usai kau membuatku marah? Aku tidak akan menemuimu lagi. Sadarlah. Aku Ji Hong Ah."


Hyun Soo datang ke kantor Jung Woo saat Jung Woo sedang melihat profile seorang bernama Park Soo Bin, 17 tahun, pandai menyanyi dan menari.

Jung Woo melihat jam-nya, tepat jam 17:00. Jung Woo tak menyangka Hyun Soo datang tepat waktu, ia kira semua penulis suka terlambat.

"Aku belum menjadi penulis dan memang selalu tepat waktu." Jawab Hyun Soo.


Jung Woo bertanya, memangnya butuh izin untuk menjadi penulis? Hyun Spp menulis untuk mencari nafkah. Bukankah itu berarti Hyun Soo seorang penulis?

"Di luar, kau bisa menjadi penulis dengan menulis satu buku saja." Lanjut Jung Woo lalu berdiri dan menuju ke meja kerjanya.

"kau harus memiliki pikiran bebas agar bisa menjadi penulis. Aku tidak bisa membebaskan diri dari sistem pendidikan yang ada. Aku sering berprasangka dan mudah terintimidasi dengan usia meski berpura-pura tidak begitu."

"Untuk ukuran orang yang dipecat, kau sangat bersemangat."

"Aku pandai bangkit dari masalah. Aku mudah bangkit meski orang menjatuhkanku."


Jung Woo memberikan kartu namanya pada Hyun Soo. Ia  membutuhkan penulis. Ia membeli hak cetak beberapa novel internet dan komik web, ia ingin Hyun Soo mengembangkan alur ceritanya. Ia akan membayar Hyun Soo 3.000 dolar per bulan dan libur di akhir pekan. Beri tahu saja jika ada syarat lain yang Hyun Soo inginkan.

"Aku menolak tawaran Anda."

"Kenapa kau menolak tawaran bagus ini?"

"Ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Kurasa Anda mempekerjakanku karena latar belakang pendidikanku."


Jung Woo membenarkannya, lagi pula, Hyun Soo masih terpaku dengan sistem pendidikan yang ada. Jadi, seharusnya Hyun Soo menerima tawarannya ini.

"Memang benar aku masih terpaku dengan aturan yang ada, tapi aku berusaha membebaskan diri dari itu. Anda menyelaku."

"Akan kulakukan semua sesuai caraku. Kita alumni sekolah yang sama. Aku akan bicara dengan santai. Ada masalah?"

"Tidak. Kalau begitu, aku pamit, Seonbae-nim."


Jung Woo mengijinkan dan Hyun Soo bisa kembali kapan saja. Ia menjadi lebih tertarik karena Hyun Soo u menolaknya. Itu membuat Hyun Soo tampak berkompeten.

"Aku cenderung seperti itu. Aku terlihat kompeten, tapi sebenarnya tidak. Seonbae-nim, Anda harus berhati-hati agar tidak tertipu."

"Aku yang memutuskan bisa tertipu atau tidak. Tapi tidak akan mudah untuk menipuku."


Jung Woo lalu menyelipkan kartu namanya pada Hyun Soo, "kau bisa mencobanya jika mau."

Hyun Soo pun terpaksa membawanya dan itu membuat Jung SOo tersenyum.


Jung Sun dan ibunya minum diberanda. Ibu memuji langit malam itu sangat indah, kenapa langit di Seoul bisa seindah ini? Bunga-bunganya juga cantik.

"Ibu paling cantik saat sedang tidak melakukan apa pun." Kata Jung Sun.

"Kau menyuruh ibu mati? Ibu akan mati jika kau menginginkannya. Ibu akan melakukan apa pun yang kau katakan."

"Jika Ibu berusaha menyiksaku dengan perkataan yang tidak serius, hentikan saja. Tidak mempan lagi untukku."

"Ibu juga tidak mau tinggal di sini. Rasanya sesak. Tidak ada yang bisa ibu lakukan di sini."

Jung Sun memberi Ibu sejumlah uang. Unga itu bisa ibu gunakan untuk menutup pengeluaran Ibu selama mencarinya. Jung Sun akan mencarikan Ibu tempat tinggal, ia tidak bisa tinggal dengan Ibu.

"Mari kita kembali saja ke Paris. kau bisa menyelesaikan studimu di sana. Jika lulus dari Le Cordon Bleu, kau bisa mendapat pekerjaan bagus. kau masih muda. Masa sekarang harus dipakai untuk membangun masa depanmu."

"Lucu mendengar Ibu mengatakan hal semacam itu."


Ibu tiba-tiba membahas Ayah Jung Sun yang katanya paling menyesali satu hal, yaitu menikah sebelum usia 30 tahun. Ibu takut Hyun Sun akan memukuli wanita seperti ayahnya dahulu.

"Ibu!"

"Anak lelaki menuruni ayahnya."

"Jangan berpikir aku akan menjadi seperti Ayah."

"Dengarkan ibu. Ibu juga seorang ibu. Ibu ingin melakukan sesuatu agar masa depanmu lebih baik. Ibu tidak akan melakukan hal bodoh lagi."

"Manusia tidak bisa berubah."

"Ibu sudah bertemu dengan wanita itu. Dia datang ke rumah ini."

"Jangan dekati dia!"


Hyun Soo minum-minum dengan Hong Ah di rumah. Hong Ah tadinya mengira Hyun Soo akan merasa depresi tapi ternyata senang.

"Aku merasa senang karena ada alasan. Kurasa aku aneh."

"Penulis Park-lah yang aneh."

"Salahku meminta cuti."

"Kenapa kau memutuskan untuk cuti?"

"Karena aku frustrasi."

"Astaga."

Hong Ah melihat gambar-gambar di lantai, ia bertanya apa itu judul dramanya? Hyun Soo menjawab tidak.


Hyun Soo menjelaskan, Judulnya "Steik". Kisah soal seorang pria yang memakan steik mentah.

"Pria yang suka makan steik mentah memiliki kepribadian khusus, bukan?"

"Tidak, ini hanya soal selera. Aku sudah mewawancarai Jung Sun."

"Jung Sun? Bagaimana caramu menghubunginya? kau mengirim pesan?"

"Tidak. Dia sekarang punya ponsel."

"Kalian berkencan?"

"Tidak. Ayolah, dia lebih muda daripada aku."

"Itu memang dirimu. Aku menyukai sifatmu yang realistis. Meski dia menyukaimu, sebaiknya jangan mengencaninya."


Hong Ah berkata kalau Jung Sun mata keranjang, dia sekolah di luar negeri sejak masih kecil.

"Ah.. Bukankah itu prasangka? Tidak bisa disamaratakan."

"kau tidak bisa mengabaikan budaya tempatmu dibesarkan. Pada awalnya dia menggodaku."

"Benarkah? Begitu, ya."

Disini Hyun Soo sedikit kecewa, apalagi saat Hong Ah meminta nomor ponsel Jung Sun.

"Judul... "Pria Pemakan Steik Mentah" lebih baik ketimbang "Steik"." Kata Hong Ah.


Jung Sun melihat Hyun Soo membuang sampah saat akan berangkat kerja. Hyun Soo juga sudah berpakaian rapi, siap berangkat.

Jung Sun lalu menghampiri Hyun Soo, "Mau berangkat kerja?"

"Tidak, aku dipecat."

Jung Sun sangat terkejut. Hyun Soo melarang Jung Sun memasang wajah begitu, ia dipecat karena alasan baik, berkat itu, hidupnya berada dalam situasi darurat, jadi, ia mau pergi ke perpustakaan.

"Aku ingin menyiapkan diri untuk kontes." Lanjut Hyun Soo.

"Perpustakaan mana?"

"Perpustakaan kampusku. Aku akan belajar keras dengan murid tahun pertama."

"Naiklah."

"Tidak mau."

Jung Sun cemberut.


Tapi kemudian Hyun Soo berteriak suka saat Jun memboncengnya.

"kau tadi bilang tidak mau." Jung Sun mengingatkan.

"Aku memang plinplan."


Sepeda melewati gorong-gorong jadi sedikita ada guncangan. Jung Sun akan memegangi Hyun Soo tapi Hyun Soo sudah terlebih dulu merangkul pinggangnya.


Jung Sun menurunkan Hyun Soo di halte bis. Jung Sun bertanya, mau makan siang apa nanti Hyun Soo?

"Apa saja. Ada banyak makanan di kantin kampus."

"Aku ingin mencoba makanan kantin."

"Datang saja saat makan siang. Aku yang bayar. Tapi.. kau bisa datang?"

"Aku punya waktu istirahat."

Jung Sun lanjut jalan lagi dan Hyun Soo tersenyum melihatnya.


Hong Ah sedang olah raga dan setelah selesai ia menghubungi Jung Sun.

"Ini aku, Hong Ah. Seharusnya kau memberitahuku. Aku mendapatkan nomormu dari Hyun Soo."

"Memang aku harus memberitahumu?"

"kau tidak tahu etika bersosialisasi, ya?"

"Aku tidak tahu bahwa ini dianggap tata krama."

"kau harus mempelajarinya."

"Kenapa kau marah?"

"Karena aku memang marah."

"Kenapa? Aku tidak mengerti."

"Aku juga tidak mengerti. Tapi aku marah."


Jung Sun mendesah, bertanya kenapa Hong AH menelfonnya. Hong Ah balik bertanya, apa diantara mereka ia membutuhkan alasan untuk meneleponnya?

"Jika kau terus begini, aku bisa marah."

"Aku akan mengunjungi restoranmu hari Jumat. Pesankan tempat untukku."

"Jangan minta aku melakukannya. Telepon saja restoran."

"Kenapa kau selalu bersikap kaku denganku?"

"Nyaman saja! Karena kau temanku."

Jung Sun lalu mematikan telfonnya dan Hong Ah kesal.


Hyun Soo sampai di perpustakaan dan ia mulai menulis.


Hyun Soo membayangkan adegannya bagaimana dan mengucapkannya sedikit keras. Hyun Soo juga mengucapkan dialog tokoh.


Mahasiswa yang duduk dekat Hyun Soo memberinya pesan, menyuruhnya diam.


Hyun Soo pun minta maaf dan segera pergi dari sana.

1 komentar so far

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon