Tuesday, September 26, 2017

Sinopsis Temperature of Love Episode 6


Sumber Gambar: SBS


Hyun Soo keluar gedung perpustakaan bertepatan dengan datangnya Jung Sun. Jung Sun heran melihat Hyun Soo membawa semua barangnya.

"Aku mau pergi ke tempat lain. Saat menulis dialog, aku suka mengucapkannya keras-keras. Aku merasa mengganggu junior-junior lainnya." Jelas Hyun Soo lalu mengajak Jung Sun makan.


Hyun Soo mentraktir Jung Sun makan di kantin. Jung Soo berkomentar harganya murah, cuma 4 dolar. Tapi bagi Hyun Soo ini pemborosan, tadinya ia mau membeli yang 3 dolar.

"Kau bisa bekerja di tempatku. Tempatku akan kosong seharian karena aku ada di restoran." Kata Jung Sun.


Hyun Soo bertanya apa Ibu Jung Sun sudah pergi? Ia terkejut karena Ibu Jung Sun amat muda dan cantik, mereka hampir seperti kakak-beradik.

"Kata sandi pintu depannya--" Jung Sun mengalihkan pembicaraan tapi Hyun Soo memotongnya.

"Aku tidak suka berutang kepada orang lain."

"kau bisa membayarku kembali."

"Dengan apa?"

"Menjadi pengecap hidanganku. kau menyukai hidangan apa?"

"Sup."


Besoknya, Jung Sun memasak sup untuk Hyun Soo dan Hyun Soo mulai bekerja di rumahnya.

"Astaga, rasanya menyegarkan."

"Kerang itu baik bagi orang-orang yang harus sering berpikir."

"Rasanya juga lezat. Meski rasanya tidak seenak yang biasa dibuatkan ibuku. Maksudku, masakan ibuku pasti terasa lebih enak karena ada cerita di baliknya."

"Hidangan terasa lebih enak karena ada cerita di baliknya?"

"Ya. Jika nanti berkesempatan membuka restoran sendiri, kau harus menciptakan menu yang memiliki cerita tersendiri. Pasti akan amat populer."

Jung Sun hanya memandangi Hyun Soo. Hyun Soo bertanya biaya makanannya sudah ia bayar bukan? Jung Sun mengiyakan sambil tersenyum.

"Lantas, apakah nasi omelet ini akan masuk ke daftar menumu nanti?"

"Tidak."


Besoknya lagi, Jung Sun memasak menu yang berbeda. Hyun Soo berterimakasih atas makannya, lalu menyinggung soal baju Jung Sun yang terbalik, sebenarnya ia mau bilang sejak tadi, tapi tidak mau mempermalukan Jung Sun.

"Aku sengaja memakainya terbalik. Label mereknya membuatku gatal."

"Aku seharusnya bilang lebih awal. Joon Ha Seonbae... Ada teman kuliahku yang bekerja sebagai produser di SBC. Dia bilang aku terlalu berterus terang. Dia bilang, suatu hari aku akan dilempari batu sampai mati."

"kau menahannya karena takut aku akan melemparimu batu?"

"Hahaha Melegakan sekali. Aku amat ingin memberitahumu."


Besoknya lagi, Jung Sun kembali memakai bajunya terbalik. Itu membuat Hyun Soo berpkikir bahwa baju terbalik adalah gaya khas diri Jung Sun.

"kau seharusnya menanyaiku agar tidak merasa terganggu begitu."

"kau benar. Omong-omong, kenapa aku merasa kau melakukan ini bukan untuk mengembangkan menu, tapi karena kubilang menyukai sup, kau terus membuatkannya untukku?"

"Apakah tebakanmu selalu benar?"

"Tidak."

"kau salah lagi."

"Aku ingin makan sesuatu yang pedas!"


Besoknya, Jung Sun memasak makanan pedas untuk Hyun Soo. Besoknya lagi juga masih makanan pedas.


Dan hari ini, mereka makan di beranda sambil minum soju. Hyun Soo selalu memuji rasa masakan Jung Sun.


Jung Sun lalu meletakkan lauk di nasi Hyun Soo. Itu membuat Hyun Soo bertanya, apa begtu cara Jung Sun menggoda wanita?

"Memangnya aku bagaimana?"

"Sikapmu terlalu manis."

"Aku tidak manis kepada wanita."

"Lantas, semua ini apa? Karena aku bukan wanita?"

"kau mau kuperlakukan sebagai wanita?"

"Tidak. Untuk sekarang, pekerjaan lebih penting dari cinta."


Hyun Soo lalu bertanya, apa Alain Passard sudah menghubungi Jung Sun? Jung Sun menjawab kalau ia mengirim e-mail lagi. Hyun Soo bertanya, jika Jung Sun diterima, Jung Sun akan di sana selama lima tahun, bukan? Jung Sun mengangguk.

"Berapa usiaku saat itu? Aku akan berusia 34 tahun. Aku mungkin sudah menikah saat itu."

"Aku tidak akan pergi jika kau memintaku."

Hyun Soo tersenyum, "Mana mungkin aku meminta begitu?"

"Kita sudah berciuman."


Hyun Soo terdiam sebentar lalu menjelaskan, jangan asal mengartikan ciuman yang terjadi begitu saja, mereka hanya terbawa suasana saat itu, ia memutuskan menganggapnya begitu.

"Meski hanya sekali dalam hidupmu, tidak masalah menyepelekan sesuatu." Lanjut Hyun Soo.

"kau tampak keren."

"Aku hanya berpura-pura begitu. Karena aku lebih tua darimu. Aku merasa bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan."

"kau lebih menarik saat tidak berpura-pura. kau kurang menarik sekarang."

"Aku bisa menarik lagi."

"kau selalu pintar menjawab."

"kau menyukai itu dariku?"

"Ya."

"kau tidak bisa membenciku."

"kau pamer lagi."

Lalu Hong Ah menghubungi Jung Sun, tapi Jung Sun tidak menjawabnya, malah meminta Hyun Soo menuangkan soju lagi untuknya.


Besoknya, Hong Ah datang ke restoran Jung Sun dan SiusChef melihatnya.


SousChef mengumumkan ke dapur kalau Hong Ah datang lagi. Ia menyindir Jung Sun sangat berbakat, memiliki kemampuan membuat orang menyukainya.

"Dia sangat cantik"

"Dia bukan tipeku." Jawab salah satu staff dapur.

"kau tidak bisa melihat, ya? Dia seperti artis. Dia seorang ratu." Imbuh salah satu dari mereka.

Tapi Jung Sun sama sekali tidak menyahut.

SousChef tiba-tiba memerintahkan Jung Sun untuk memesan bahan-bahan mulai sekarang. Jung Sun protes karena itu adalah tugas SousChef.

"Kepala Chef menyuruhmu membantuku. kau sudah lupa? Tidak mau?"

"Bukan begitu."

Lalu SousChef menyuruh yang lain untuk memberitahu Jung Sun apa barang yang kosong.


Jung Sun mengeluarkan buku catatannya, ia siap mendengarkan berapa dan apa yang mereka butuhkan.


Naskah Hyun Soo "Pria Pemakan Steik Mentah" sudah selesai. Hyun Soo mencetaknya dengan senyum lebar.


Tiba-tiba Hwangbo Kyung menelfonnya (Asisten termuda penulis Park). Kyung mengatakan kalau penulis Park menginginkannya kembali mulai besok.

"Aku tidak bisa. kau melihat kejadian saat aku keluar dari sana."

"Akan kusambungkan dengannya."

"Oh.. Tidak usah." Kata Hyun Soo tapi terlambat.


Penulis Park: kau masih marah kepadaku? Saat seseorang sedang marah, mereka cenderung asal bicara. Tahukah kau sesulit apa bagiku untuk meneleponmu lebih dahulu? Seperti yang kau ketahui, Kyung tidak tahu apa itu episode. kau mengenal dia. Dia asisten termuda. Hyun Soo-ya~ kau tetap akan menolak meski aku bertindak sejauh ini? Katamu kau menyukai dan mengagumiku. Apakah semua itu bohong?


Hyun Soo akhirnya kembali bekerja. Penulis Park bertanya, apa yang Hyun Soo lakukan selama ini? Hyun Soo menjawab ia mempersiapkan diri untuk kontes. Penulis Park meminta Hyun Soo menunjukkan tulisannya kepadanya, ia akan memberi umpan balik.

"Baik, terima kasih."


Kyung membuat ramyeon untuk penulis Park, tapi mie nya terlalu matang. Penulis Park marah, karena rasnaya tidak enak, seperti makan bubur saja.

"Aku tidak mau pencernaan Anda terganggu. Perut Anda sering bermasalah belakangan ini, tapi Anda mau makan ramyeon." Alasan Kyung.

"Begitukah? Niatmu baik sekali. Tapi apa gunanya? Rasanya tidak enak sama sekali."

"Maafkan aku."

"Astaga. Bagaimana dengan penulisanmu? Itu tidak berkembang karena kau sibuk melakukan hal tidak berguna."


Nyonya Yoo datang ke klinik Ayah Jung Sun tanpa pemberitahuan. Kebetulan Ayah Jung Sun baru selesai merawat pasien, ia juga menyuruh perawatnya keluar sampai ia memanggilnya untuk masuk.


Nyonya Yoo mengomentari foto keluarga Ayah Jung Sun. Ayah Jung Sun pasti akur dengan mereka, keluarganya tampak bahagia.

"Kenapa kau kemari?" Tanya Ayah Jung Sun.

"Kenapa kau tidak menjawab telepon?"

"Untuk apa aku menjawabnya? Hubungan kita telah usai."

"Usai bagaimana? Kita punya anak."

"Berhenti memanfaatkan putramu untuk menghubungiku."


Nyonya Yoo langsung membanting foto keluarga Ayah Jung Sun. Ayah Jung Sun teriak marah dan menghampiri Nyonya Yoo.

"Kenapa? kau mau memukulku? Silakan. Biar aku mengingat lagi bagaimana situasiku dahulu."

"Pergi."

"Aku tidak akan pergi hanya karena kau suruh. kau masih menganggapku Yoo Young Mi yang dahulu suka kau pukuli? Kenapa kau hanya memukulku? Kenapa kau tidak memukulnya?"

"Sampai kapan kau akan begini?"

"Jawablah teleponku. Sekali suami, tetaplah suami."

"Kirim saja nomor rekeningmu."


Nyonya Yoo langsung berbalik untuk mengambil tasnya. Sebelum keluar, ia menjawab pertanyaan Ayah Jung Sun.

"Sampai aku bahagia, kau tidak boleh bahagia."


Hong Ah keluar restoran bersama Jung Sun. Jung Sun tak menyangka Hong AH beratah berdiam diri di suatu tempat untuk waktu lama.


Hong Ah menanggapi Jung Sun dengan berjalan mundur, ia suka membaca di rumah, itulah alasannya mau menulis. Orang-orang kira ia mudah bergaul, tapi sebenarnya ia introvert.


Tiba-tiba ada seorang pria yang menabrak Hong Ah dan curi kesempatan untuk bisa memegnagnya. Hong AH langsung menyingkir, marah.

"Apa-apaan itu? Aku tidak cantik untuk dilirik begitu."

"Memang aku berbuat apa? kau yang menabrakku. kau cantik, tapi pemarah."

"Apa? Aku pemarah? Ini pelecehan seksual. Tahukah kau betapa menjijikkan tatapanmu tadi?"

"Kenapa sikapmu kasar? Pikirmu aku tidak bisa berteriak?"

"kau akan melakukan apa?"


Jung Sun menahan Hong Ah, ia minta maaf pada pria itu dan menjelaskan kalau Hong Ah agak sensitif hari ini.

"Memang salah mengatakan dia cantik?"

"Tidak salah, tapi itu membuatnya tidak nyaman. Kita sudah agak berlebihan, jadi, mari hentikan di sini."

"Dasar kau.."

"Aku bekerja di restoran itu. Anda harus datang. Akan kubuatkan makanan enak."

Pria itu pun pergi dan Hong Ah tersentuh dengan sikap Jung Sun tadi.


Jung Sun heran dengan Hong Ah, Ada apa dengan? Kenapa memulai pertengkaran?

"Tahukah kau betapa menjijikkannya saat seorang pria melirikmu dari atas sampai bawah?"

"Lupakan saja. Kebanyakan orang melupakannya meski mereka merasa kecewa."

"Astaga. Antar aku pulang."

"Aku sudah duga, aku sudah menelepon taksi."


Taksi datang. Jung Sun membukakakn pintu untuk Hong Ah. Hong Ah masuk dengan kecewa.


Hyun Soo tidak bisa konsen menulis, ia tidak tahan lagi. Ia akan bilang sama Pemulis Park. Dan kebetulan penulis Park keluar ruangannya untuk meminta Kyung membuarkannya kopi.


Hyun Soo minta maaf pada penulis Park, tapi ia tidak bisa bekerja untuk Penulis Park lagi. Ia ingin fokus pada tulisannya untuk tahun ini, ia tidak bisa fokus pada penulisan untuk Penulis Park.

Penulis Park seolah akan memberikan naskah Hyun Soo, tapi sengaja menjatuhkannya sebelum Hyun Soo menerimanya, " "Pria Pemakan Steik Mentah", kau menyebut sampah ini sebagai karya tulis? kau selalu menganalisis pekerjaan orang lain, jadi, kupikir kau akan menjadi penulis yang baik. Tapi apa ini? Karakter, susunan, dan dialognya, semuanya kekanak-kanakan."

"Seburuk itukah?"


"Kontes menulis bukan lelucon. kau tahu aku pernah menjadi juri untuk kontes menulis SBC, bukan? Tulisan seperti ini adalah sesuatu yang akan kusingkirkan sejak awal. kau seharusnya menyadari posisimu sebelum bersikap angkuh dan sombong."


Hyun Soo mengambil naskahnya di lantai, ia kecewa.

Sementara Penulis Park meminum kopi buatan Kyung tapi ia memprotes karena terlalu manis dan kental.

"Aku memasukkan dua bungkus karena Anda terlihat lelah."

"Kenapa kau tidak becus dalam segala hal? Lakukan saja sesuai perintah. Kenapa kau yang memutuskan?"


Kyung memutuskan, ia juga mau berhenti, ia  juga punya pemikiran sendiri tapi selalu dimarahi, ia tidak mau menjadi gila. Ia juga tidak banyak membantu Penulis Park. Ia sudah tidak tahan lagi.

"Apa? Astaga. Hei. kau. Apa kau punya tujuan?"

"Akan kuusahakan."


"Inilah yang orang bilang jangan pernah menerima orang asing. Aku memberimu makan dan tempat tinggal! Lihatlah perbuatanmu (Hyun Soo) kepadanya (Kyung). Akan kupastikan kalian berdua tidak bisa masuk ke industri ini! Aku mampu melakukannya! Astaga!"


Ayah Jung Sun menunggu di depan rumah Jung Sun malam ini. Ayah terpaksa datang karena tidak tahu cara menghubungi Jung Sun.

"Ayah mau masuk?"

"Kita bicara di sini saja. Kenapa ibumu kembali?"

"Dia tidak boleh kembali?"

"Ayah gelisah saat kau kembali karena ayah pikir dia akan mengikutimu. Dia datang menemui ayah tadi dan membuat keributan. Tolong bawa ibumu pergi dan tinggalkan Korea. Biarkan keluarga ayah hidup tenang."


Jung Sun bertanya, memangnya ia bisa apa? Ayah tahu kalau Ibu selalu mendengarkan Jung Soo. Ayah berkata kalau Ibu Jung Sun itu tidak waras.

"Siapa yang menjadikannya begitu?" Protes Jung Sun.

"Dia menyalahkan orang lain karena tidak punya pekerjaan."

"Apa ayah melakukannya tanpa alasan? Dia selalu mengganggu ayah."

"Aku ada di tempat kejadian."

"Tolonglah."


Saat Hyun Soo pulang, bibi pemilik rumah memberitahunya kalau penyewa baru akan melihat-lihat besok. Hyun Soo tak mengerti, apa maksudnya?

"Adikmu bilang kau akan pindah. Dia meminta depositonya kembali."

"Apa?"


Hyun Soo mengonfirmasinya pada Hyun Yi, benar Hyun Yi mau menyewakan rumah?

"Ya. Sampai kapan Kakak akan menumpang hidup dariku?"

"Apa maksudmu?"

"Aku sudah menemukan rumah untuk kutinggali sendiri. Setengah depositonya milikku, jadi, aku akan mengambilnya. Kakak bisa mencari tempat tinggal sendiri. Aku harus melakukan ini agar Kakak bisa sadar."


Malam itu, Jung Sun kembali memeriksa e-main dan akhirnya ia mendapat balasan dari Alain Passard. Alain Passard tergerak oleh kegigihan Jung Sun, jadi ia menerima ajuan Jung Sun untuk magang di restorannya. Jung Sun tersenyum bahagia.


Hyun Soo menangis saat mulai menulis lagi, ia berusaha menahan tangisnya tapi tidak bisa.


Lalu Jung Sun menelfonnya. Hyun Soo menghapus aormatanya sebelum mengangkat dan mencoba bersuara seperti biasa.

"kau sudah tidur?" Tanya Jung Sun.

"Belum."

"Suaramu kenapa? kau menangis?"

"Tidak. Kenapa menelepon? Ini sudah larut."

"kau menang, Hyun Soo-ssi. Hal baik baru saja terjadi kepadaku dan kau terpilih untuk merayakannya denganku."


Hyun Soo menabak, Alain sudah menghubungi Jung Sun kan? Jung Sun tersenyum membenarkan. Hyun Soo juga ikut senang dan memberikan selamat.

"kau mau bertemu sekarang?"

"Tidak."

"Rumah kita dekat. Aku akan ke rumahmu. Tidak akan lama."

"Kubilang tidak! kau bersikap kekanak-kanakan. Jangan menggangguku."

"Maaf~ Kalau begitu, tidurlah."

"Baik. Selamat."


Kepala Chef memeriksa daftar pesanan dan ia menuliskan '-750,000'. Kebetulan Jung Sun datang jadi kepala Chef memintanya menjelaskan semua itu. Jung Sun heran, kenapa jumlahnya dua, padahal ia hanya memesan masing-masing satu.

"Lantas, kenapa tertulis mereka mengirim dua?" Tanya Kepala Chef.

"Kenapa ada dua?"

"Kenapa kau menanyaiku? kau yang memesannya. kau melakukan ini karena aku memarahimu?"

"Maksud Anda, aku mencurinya? Semuanya mengarah pada hal itu."

"Alasanku datang ke sini adalah kepercayaanku kepada Anda, tapi hal itu hancur hari ini."

"Bukan kau?"

"Bukan."

"Lantas, siapa?"


Jung Sun mendesah, ia ingin mengakhiri semuanya dengan baik. Kepala Chef tidak mengerti, apa maksudnya itu?

"Aku mengundurkan diri."

"Teganya kau seperti ini. Aku sudah mengurusmu dengan baik."

"Aku bersyukur akan hal itu."

"Baiklah. Tapi bagaimana caramu bertanggung jawab?"

"Pesanannya kacau karena ulahku, jadi, aku akan membayarnya."

"Ternyata benar kau memang kaya. Karena itulah sikapmu tidak sopan."

"Anda seharusnya tidak berkomentar tentang kepribadianku. Suatu saat kita bisa saja bertemu lagi."


Saat Jung Sun keluar, Jung Woo memanggilnya dari dalam mobil, mengajaknya ke suatu tempat. Jung Sun tersenyum dan Jung Woo membalasnya.



Jung Woo membawa Jung Sun ke rumahnya. Disana terpajang banyak pengkargaan dari negara.

"Leluhur Anda bekerja untuk negara?" Tanya Jung Sun.

"Leluhurku? Lucu sekali. Kakek dan ayahku tidak sejauh itu dariku."


Jung Woo lalu bertanya, apa caranya mengaduk pasta sudah benar. Jung Sun menjawab tidak ada benar atau salah.

"Bagaimana caramu melakukannya?"

"Caraku berbeda karena itulah yang kupelajari."

Jung Sun lalu menunjukkan cara yang ia pelajari.


Jung Woo bergerak ke spot lain, ia menuang wine ke gelas. Tadi Jung Woo ingin memesan tempat saat ia mendengar Jung Sun mengundurkan diri.

"Kupikir ini akan menjadi kesempatanku." Kata Jung Woo.

Jung Sun langsung berhenti memasak dan mendekati Jung Woo, Sungguh Jung Woo bisa memberikan keinginannya?

"Apa yang kau inginkan?"

"Anda." Jawab Jung Sun. Jung Woo tidak bisa membalasnya lagi, ia terkejut+takut.


Jung Sun hanya bercanda ternyata, beberapa detik kemudian ia tertawa, Hal-hal norak itu membuat ketagihan, ia sempat ketagihan.

Jung Woo ikut ketawa, "Ah... Pasti seperti ini rasanya saat mendengar diriku bicara."

"Untuk sekarang ini, aku menolak."


Jung Woo meminta Jung Sun memanggilnya Hyung dan asal tahu saja, ia tidak memberikan kesempatan itu kepada sembarang orang.

"Entah memakan waktu berapa lama, tapi jika mau membuka restoran, aku akan melakukannya dengan Hyung." Jawab Jung Sun.


Jung Woo pun tersenyum dan meminta Jung Sun mencicipi masakannya. Jung Sun mengatakan mie Jung Woo terlalu matang.

"Aku suka mi yang terlalu matang." ALasan Jung Woo dan itu membuat keduanya tersenyum.


Hyun Soo sangat frustasi jadi ia memutuskan untuk menghubungi Jung Woo.

"Halo, ini Lee Hyun Soo. Aku menelepon karena ada hal yang ingin kukatakan. Kapan Anda punya waktu?"


Jung Woo menyuruh Hyun Soo ke tempat latihan baseball. Jung Woo minta maaf karena sudah membuat Hyun SOo datang jauh0jauh kesana.

"Tidak apa-apa. Aku harus datang karena aku yang meminta bertemu." Jawab Hyun Soo.


Setelah berhasil memukul bola, Jung Woo bertanya alasan Hyun Soo memintanya bertemu.

"Aku akan menerima tawaran Anda. 3.000 dolar per bulan. Tentu saja jika itu masih berlaku."

"kau bisa mulai besok?"

"Tentu saja."


Jung Woo lalu menawari Hyun Soo untuk mencoba memukul. Hyun Soo tidak mau karena ia sedang tidak ingin.

"Meski sedang tidak ingin, kau harus melakukan perintah bosmu. Begitulah pekerjaan. Meski merasa malu, kau tetap harus melakukannya." Paksa Jung Woo.

"Baiklah."


Hyun Soo pun memukul tapi ia kehilangan bolanya. Hyun Soo meminta satu kesempatan lagi tapi Jung Woo tidak memberikannya.

"Kenapa?"

"Karena kau mau melakukannya."


Jung Woo mengajak Hyun Soo makan. Hyun Soo protes, haruskah ia makan? Ia tidak ma---

Jung Soo berbalik dan menatapnya tajam.

"Maksudku.. Bukankah tidak nyaman jika Anda memaksaku?"

"Sama sekali tidak. kau pasti sengaja melakukannya karena takut menyinggungku. Itu hanya mungkin dilakukan jika aku berkuasa."

"Ah... Anda pasti menyukai kekuasaan."

"Ya, sangat suka."

"Aku senang bisa makan. Itu bukan paksaan."


Jung Sun mulai beres-beres dibantu Won Joon. Jung Sun mengepak satu dus dan meminta Won Joon untuk menyimpannya selama ia pergi.

"Hyun Soo Noona bilang apa?"

"Situasinya sedang tidak baik. Dia memiliki kehidupannya sendiri."

"kau tidak memintanya untuk menunggumu, bukan? kau tidak tahu apa pun soal wanita. Mereka akan selalu memilih cinta lebih dari apa pun. Dia sibuk mencari pekerjaan. Jika kau memintanya menunggu, dia akan menyukainya."

"kau berkata begitu karena tidak mengenalnya. Baginya, pekerjaan lebih penting."

"kau sudah bertanya?"

"Sudah."

"Pasti kau hanya bertanya sekali. kau harus bertanya dua kali. Dia lebih tua darimu, jadi, tidak akan semudah itu. Kenapa kau lamban sekali?"

" Menurutmu begitu?"

"Ya. Telepon dia sebelum kau pergi. Coba lihat dia menjawab atau tidak."

"Dia tidak akan mengabaikan teleponku. Dia akan menjawab, lalu menolak."


Hyun Soo mengomentari selera makan Jung Woo yang seperti anak kecil. Jung Woo menjawab ibunya biasa membuatkan itu saat ia masih kecil, ia sedang merindukannya.

"Temui dia jika Anda merindukannya." Jawab Hyun Soo.

Jung Woo langsung memandangnya seperti tadi, tatapan maut saat Jung Woo tidak setuju dengan pernyataan atau pertanyaan Hyun Soo.


Hyun Soo minta maaf karena mengajukan pertanyaan tidak bermutu lagi.

"Ibu Anda sudah tiada?"

"Ya."

"Saat Anda umur berapa?"


Jung Woo belum sempat menjawabnya karena ponsel Hyun Soo berdering, telfon dari Jung Sun.

Jung Sun menghubungi Hyun Soo dari bandara, ia disana bersama Ibunya.

"Aku tidak akan menjawabnya." Kata Hyun Soo pada Jung Woo.

"kau ingin menjawabnya?" Tanya Jung Woo.


Parah! Aku ketagihan banget sama drama ini, sampai aku menontonnya 3x, dengan sub eng, sub indo, dan saat menulis sinopsis ini. Semakin gak sabar dengan kelanjutannya~~

3 komentar

Parah ..aku juga ketagihan

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon