Wednesday, September 27, 2017

Sinopsis Temperature of Love Episode 7


Sumber Gambar: SBS


Kita kembali saat Jung Sun menghubungi Hyun Soo sesaat ketia ia membaca e-mail balasan dari Alain Passard. Walaupun Hyun Soo sedang terpuruk, ia tetap menyelamati Jung Sun.

Jung Sun ingin bertemu, tapi Hyun Soo menolaknya, tapi Jung Sun tetap kerumah Hyun Soo dan Hyun Soo juga keluar.

"Kau pikir aku tidak datang karena kau menyebutku kekanak-kanakan, bukan?"

Hyun Soo hanya tersenyum.

"Kenapa kau menangis?"

"Kau tahu?"

"Hmm. Aku juga menangis seperti itu sebelumnya."

"Orang bilang pria hanya diperbolehkan menangis 3 kali dalam hidupnya. Pertama, ketika orang tua mereka meninggal--"

"Siapapun bisa menangis jika mereka sedih tanpa memandang jenis kelamin. Kenapa kau membedakannya? Itu pemikiran yang jadul."

"Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu karena ayahku juga sering menangis. Aku hanya ingin jadi sedikit rewel."

"Kenapa?"

"Entahlah."

"Kau mau kuberitahu apa yang aku lakukan saat aku merasa sedih?"


Jung Sun mengajak Hyun Soo jogging. Karena Hyun Soo larinya lambat, jadi Jung Sun beberapakali meninggalkannya, tapi sebanyak itu pula Jung Sun memelankan langkahnya untuk menjajari Hyun Soo. 


Usai berlari, Jung Sun menyuruh Hyun Soo melakukan peregangan, karena bisa nyeri otot nanti.

"Kau selalu saja mengomel." Protes Hyun Soo.

Tapi Hyun Soo tetap mengikuti gerakan Jung Sun dan itu membuat Jung Sun ketawa. Hyun Soo juga ketawa, tak tahu kenapa ia mengikuti Jung Sun.


Mereka kemudian duduk di salah satu bangku sambil menikmati minuman. Jung Sun bertanya, Hyun Soo akan menunggunya, kan?

"Aku memikirkanmu.. segera setelah mendapat email dari Alain Passard. Aku bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan."


Hyun Soo hanya tersenyum, lalu ia memutar sebuah lagu. Jung Sun ternyata juga tahu lagu yang diputar Hyun Soo itu, lagu Amy Winehouse.

"Dia penyanyi dan penulis lagu di Inggris yang meninggal karena overdosis saat berusia 27 tahun." Kata Jung Sun.

"Benar. Aku berpikir dia itu jenius."


Lagu diputar dan kita diperlihatkan kilasan saat merea pertama bertemu sampai saat ini.


Sembari jalan pulang, Hyun Soo menyinggung perkataan guru menulis naskah dramanya. "Drama dimulai.. antara pria dan wanita ketika mereka putus".


Hyun Soo tiba-tiba berhenti. Ia mengutip satu kalimat dari lagu tadi, "We only said goodbye with words". Apa Jung Sun tahu apa artinya?

"Bahasa Inggrisku tidak cukup baik untuk menerjemahkan secara langsung." Jawab Jung Sun.

" "Kita hanya perlu mengucapkan selamat tinggal dengan kata-kata". Bagaimana bisa orang mengatakan selamat tinggal hanya dengan kata-kata? Semua hubunganku sebelumnya berakhir ketika aku ingin mereka yang mengakhirinya. Cinta tidak spesial buatku."


Hyun Soo menjelaskan, Ibu dan Ayahnya saling mencintai bahkan setelah 30 tahun menikah, tapi tidak ada yang spesial dari perasaan mereka. Ia tidak harus membuang-buang.. waktu yang penting dari masa mudanya untuk cinta yang kecil.

"Jadi cinta.. tidak spesial bagimu?" Ulang Jung Sun.

"Seperti yang kau bilang, aku menangis hari ini. Mimpiku lagi-lagi bertabrakan dengan realitas. Ini hari yang sulit dari biasanya."

"Kau sulit sekali dimengerti."

"Betul. Kaupun juga begitu."

"Aku sulit dipahami dalam sisi yang berbeda."


Hyun Soo minta maaf. Jung Sun melarang Hyun Soo merasa begitu, Hyun Soo sudah memberinya jawaban yang jelas dari permintaannya untuk menunggunya.


Lalu kita loncat ke Bandara, dimana Jung Sun kesananya diantar oleh Won Joon. Won Joon menyuruh Jung Sun masuk duluan, ia akan menyusul setelah memarkir mobil.

"Terima kasih Hyung. karena melakukan ini."

"Aku akan melakukan kebaikan lain untukmu. Pinjam ponselmu. Aku akan membatalkannya (pendaftaran nomor) untukmu."

Jung Sun sudah mengulurkannya tapi tidak jadi memberikannya, ia mau menelfon dulu.


Jung Sun menghubungi Hyun Soo saat ia sudah di dalam. Hyun Soo tidak mengangkatnya karena ia sedang bersama Jung Woo.

"Kau mau mengangkatnya?" Tanya Jung Woo.

"Aku tidak akan mengangkatnya."


Jung Sun pun memberikan ponselnya pada Won Joon, walaupun sepertinya berat sekali. Ia sempat ragu tapi akhirnya memberikannya pada Won Joon.

"Kunjungi aku jika kau libur." Pinta Jung Sun.

"Baiklah."


Ibu mengajak Jung Sun masuk sekarang, ia mau melihat-lihat toko-toko, hanya lihat kok, tidak akan membeli sesuatu.

Jung Sun mengerti dan ia berpamitan pada Won Joon.


Hyun Soopulang naik bis, ia menghubungi Jung Sun, tapi nomor Jung Sun sudah tidak aktif. 

Sebenarnya, Jung Sun sudah naik pesawat.


Hyun Soo sepertinya masih santai, ia tidak memikirkan yang tidak-tidak. Ia lalu membuka jendela bis dan bersandar disana.

Jung Sun menyudahi membaca bukunya, ia melamun.


Besoknya, Hyun Soo mulai bekerja pada Jung Woo. Jung Woo menunjuk buku-buku di meja. Ia menyuruh Hyun Soo untuk membaca semua itu, lalu pikirkan baik-baik apa mereka perlu membeli hak publikasi atau tidak.

"Ya pak."

Jung Woo kemudian menghubungi seseorang untuk menunjukkan Hyun Soo dimana mejanya.


Hyun Soo menumpuk semua buku itu. Jung Woo melanjutkan, Hyun Soo juga perlu menulis sinopsis buku-buku itu. Hyun Soo mengerti, ia lalu mencoba membawa buku itu sekaligus tapi malah jatuh berserakan.


Jung Woo bangun dari kursinya untuk mendekati Hyun Soo.

"Apa kau benar-benar berpikir... Aku akan menyuruhmu membawa semua ini sekaligus?"

"Lalu?"

"Pergi ke mejamu, dan aku akan menyuruh seseorang untuk membawakannya."

"Aku bisa membawa semuanya sekaligus jika Anda memberiku tas atau sesuatu. Aku bisa membawanya sendiri!"

"Baiklah kalau begitu."


Jung Woo memberikan tas untuk Hyun Soo dan Hyun Soo membawa semua buku itu sendiri ke mejanya. Jung Woo mengawasi dari atas, ia tersenyum.


Hong Ah mengunjungi Hyun Soo sambil membawa makanan. Hyun Soo menyambutnya senang karena Hong Ah menyempatkan diri datang ditengah kesibukannya mempersiapkan kontes.

"Aku sudah selesai menulis naskahnya karena aku mengubahnya menjadi drama pendek. Aku sudah mendaftarkannya karena tenggatnya besok."

"Syukurlah."

Hong Ah lalu memberikan makanan yang ia bawa, ia sengaja membawanya karena Hyun Soo bilang tidak punya waktu untuk pergi ke luar.

"Kenapa mereka memberikan banyak pekerjaan sampai kau sendiri tidak punya waktu untuk makan?"

Hyun Soo melihat Jung Woo jalan keluar jadi ia menyuruh Hong Ah berhenti tapi Hong Ah malah kesal, kenapa? ia juga punya kebebasan untuk protes.


Hyun Soo akhirnya berhasil menghentikan Hong Ah saat Jung Woo tepat berhenti di depan mereka. Hyun Soo saling mengenalkan mereka berdua.

"Annyenghaseyo. Anda seorang CEO, tapi Anda sangat muda dan tampan."

"Yaa!" Tegur Hyun Soo pelan.

Jung Woo tidak begitu menanggapi, ia permisi. Tapi Hong Ah malah meminta Jung Woo mentraktirnya makan siang. Hyun Soo makin panik.

Jung Woo menjawab ia ada urusan, jadi lain kali saja mentraktirnya. Hong Ah tidak masalah.


Setelah Jung Woo pergi, Hyun Soo langsung memprotes sikap Hong Ah tadi.

"Aku ingin menguji pria seperti apa dia karena sepertinya dia menyukaimu. Aku ingin kakak bertemu dengan pria yang baik." Alasan Hong Ah.

"Kau benar-benar salah. Dia tidak menyukaiku."

"Kau harus mendapatkan pria itu. Dia tipe orang yang tidak peduli tentang hal lain selain tujuannya. Jika tidak, dia sudah goyah ketika aku mulai menggodanya tadi."

"Bukan waktu yang tepat untuk tertarik pada pria sekarang. Aku sudah berjuang untuk bertahan hidup, sampai sampai kepalaku sakit. Kau dan aku berada di situasi yang berbeda."


Setelah jam kerjanya usai, Hyun Soo mendaftarkan naskahnya dalam kontes, naskah "Pria Pemakan Steik Mentah".


Setelahnya, Hyun Soo kembali menghubungi nomor Jung Sun, tapi nomornya tetap tidak aktif, tidak tersedia lebih tepatnya. Kali ini Hyun Soo merasa aneh, kenapa nomor Jung Sun tidak tersedia?


Hyun Soo menoleh ke atas dan melihat Jung Woo masih bekerja, benar-benar workaholic.


Tiba-tiba Jung Woo menelfonnya. Hyun Soo bergumam, apa tadi Jung Woo mendengarnya?

"Ya, Daepyonim (CEO Park)." Jawab Hyun Soo.

"Kenapa kau belum pulang?"

"Aku baru saja mau pulang."

"Sampai jumpa~"

Hyun Soo bergumam, kenapa mendadak sopan begitu?


Hyun Soo mendatangi rumah Jung Sun. Sebelumnya, ia menegaskan pada diri sendiri bahwa alasannya melakukan itu karena ia tidak suka berhutang budi kepada orang, karena Jung Sun sering datang ke rumahnya, jadi ia harus datang ke rumah Jung Sun setidaknya sekali.


Hyun Soo memencet bel, tapi bukan Jung Sun yang membuka pintu. Hyun Soo heran, bertanya apa disana bukan rumah Ohn Jung Sun?

"Oh.. Jika Anda mencari penyewa sebelumnya, Anda harus bertanya kepada pemilik rumah."


Hyun Soo pulang dengan tidak bersemangat. Hyun Yi sampe heran, mereka kan akan pindah besok, tapi kenapa Hyun Soo sama sekali belum beres-beres?

"Kau pasti senang mendapat pekerjaan. Aku ingin tahu berapa lama kontrakmu akan bertahan."


Hyun Soo tiba-tiba bangun, "Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku? Bagaimana bisa dia menghilang seperti ini?"

"Kau pasti sudah gila sekarang. Baiklah, gila lah. Itulah satu-satunya cara agar kau mampu bertahan."

Hyun Soo mengerti kenapa Jung Sun menghilang, Jung Sun pergi ke Paris karena e-mail Alain Passard, ia berteriak sebal, menyesal.


Hyun Yi terkejut+takut, Hyun Soo ini kenapa sih? Hyun Soo akan menangis. Ia teringat apa yang dikatakannya malam kemarin,

"Semua hubunganku sebelumnya berakhir ketika aku ingin mereka yang mengakhirinya. Cinta tidak terlalu spesial buatku."

Hyun Soo menyesal, amat sangat menyesal, ia sampai tak bisa menangis

==Desember 2012==


Hyun Soo kembali bekerja smpai larut. Jung Woo memperhatikannya dari atas.


Hyun Soo sampai butuh obat tetes mata karena matanya terlalu sering menatap layar komputer.

Tiba-tiba Jung Woo mendekatinya. Jung Woo mengembalikan tulisan Hyun Soo, "Analisis Daya Saing untuk "Cheese In The Trap". Jung Woo bilang ia sudah membacanya dan memuji Hyun Soo yang sudah menulisnya dengan baik.

"Aku masih menulis naskah "Misaeng". Aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Kata Hyun Soo.

"Kau tidak perlu menulisnya. perusahaan lain sudah membeli hak publikasi untuk itu."

"Ya."

"Jangan bekerja di perusahaan sampai larut. Kau akan meningkatkan biaya tagihan listrik."

"Anda juga selalu di sini sampai larut malam."

"Aku membayar atas apa yang aku gunakan."

"Ya, baiklah."

"Kau mau makan?"

"Tidak mau."


Jung Woo kembali menatapnya dengan tatapan maut. Hyun Soo langsung mengubah jawabannya, ia mau makan.

"Oke, mari kita pergi."

"Aku bilang, aku mau makan!"

"Karena itu kita harus pergi."

Hyun Soo garik-garuk belakang telinganya, bingung. Jung Woo melanjutkan, jangan coba coba menggunakan trik padanya. Jung Woo lalu bertanya, apa Hyun Soo melakukan itu karena ia suka memaksanya melakukan yang sebaliknya?

"Iya."

Jung Woo tersenyum, "Pilihan pertama, kau tidak lapar. Pilihan kedua, kau tidak ingin makan denganku. Yang mana?"

"Yang pertama."

"Setelah bersih-bersih, pulanglah."


Hyun Soo tiba-tiba berkata ia mau makan sekarang. Jung Woo berbalik, berkacak pinggang.

"Aku terkadang memang selalu berubah-ubah." Jelas Hyun SOo sambil tersenyum. Jung Woo luluh dan membalas senyum Hyun Soo.


Jung Woo membawa Hyun Soo makan sup daging. Hyun Soo mencoba satu suap dan ia teringat pada Jung Sun.

"Apa tidak enak?" Tanya Jung Woo karena Hyun Soo tiba-tiba murung.

"Tidak, enak kok."

Jung Woo pun akan makan, ia meniupnya tapi kemudian menyadari kalau Hyun Soo melamun.


Hyun Soo kembali teringat Jung Sun. Waktu itu ia mengatakan apa yang ia rasakan bahwa Jung Sun terus memasak sup bukan untuk mengembangkan menu tapi Jung Sun memasak sup untuknya karena ia menyukainya.

"Kenapa?" Tanya Jung Soo.

Hyun Soo menoleh sebentar, tapi teringat lagi dengan Jung Sun, ia ingat jawaban Jung Sun waktu itu.

"Apa tebakanmu selalu benar?"

"Tidak."

"Kau salah lagi kali ini."



Hyun Soo akhirnya menjawab, tidak ada apa-apa, tapi tiba-tiba meletakkan sendoknya.

"sepertinya aku tidak bisa makan ini. Aku cenderung sering berubah pikiran. Anda bisa lanjut makan."


Di rumahnya, Jung Woo sedang berpikir, lalu Joon Ha datang. Kebetulan Joon Ha ada pengambilan gambar di dekat rumah Jung Woo jadi ia akan menginap.

"Ambilkan aku sekaleng bir di kulkas." Pinta Jung Woo.

"Ahh, padahal aku baru saja kembali bekerja bersama sutradara. Kau benar-benar kejam."

"Kau tidak mau?"

"Tidak~ Aku mau tentunya. Suatu kehormatan bagiku menerima perintah darimu."

Joon Ha pun menuju kulkas.


Joon Ha kemudian bertanya, apa Hyun Soo bekerja dengan baik. Jung Woo mengiyakan, tentu saja.

"Dia lumayan, kan?"

"Tidak. Dia luar biasa."

"Apa maksudmu?"

"Aku menyukainya."

"Apa Hyun Soo tahu itu?"

"Dia akan segera tahu. Aku akan mengungkapkan perasaanku."


Joon Ha batu-batuk karena terkejut. Jika Jung Woo hanya main-main, Joon Ha memintanya untuk melupakannya saja. Hyun Soo itu orang yang sangat serius, sama sekali bukan tipe Jung Woo.

"Apa kau pikir aku meminta wanita berkencan.. hanya untuk dijadikan teman kencan?"

"Tidak. Kau pebisnis berdarah dingin, Karena itu kau sangat berhati-hati."


"Aku selalu mengawasinya. Aku sudah cukup mengamatinya. Dia adalah wanitaku."


Pagi-pagi Hyun Soo mendapat telfon dari SBC, mengabarinya kalau naskahnya terpilih dan Upacara penghargaan akan diselenggarakan tanggal 15 Oktober.

"Terima kasih." Jawab Hyun Soo sama sekali tidak bersemangat.

Bahkan setelah menutup telfon pun Hyun Soo masih tidak bersemangat.


Malamnya, Hong Ah menghubungi Hyun Soo, sudah dengarkah? Pemenang kontes dibubungi hari ini.

"Aku tahu." Jawab Hyun Soo.

"Apa yang harus kita lakukan? Aku sih baik-baik saja, tapi apa yang harus Unnie lakukan? Aku masih punya banyak waktu untuk mencoba."


Hyun Soo mengaku, ia mendapat telfon tadi pagi. Hong Ah langsung merubah nada suaranya, ia gembira.

"Jadi Unnie yang dipilih? Kenapa kau baru mengatakan ini sekarang? Aku jadi malu. Kau seharusnya mengatakan kepadaku sebelumnya."

"Maaf, tadinya aku mau bilang, tapi aku tidak yakin."

"Selamat Unnie. Kau harus mentraktirku makan. Kau dimana sekarang?"

"Aku dalam perjalanan bertemu dengan Daepyonim."

"Kau sungguh populer Unnie~ Aku dirumah sekarang. Hubungi aku kalau kau sudah selesai."

"Baiklah."


Jung Woo datang duluan ke tempat janjian. Beberapa detik kemudian Hyun Soo menyusulnya.

"Aku tidak terlambat. Anda lah yang datang ke sini lebih awal." Kata Hyun Soo tapi Jung Woo tidak menanggapinya.


Hyun Soo pun bertanya, apa yang ingin Jung Woo katakan dan kenapa mengajaknya kesana?

"Aku suka gedung pencakar langit. Aku suka melihat ke bawah dari tempat tinggi. Ayahku seorang pengusaha yang gagal. Kegagalan yang pertama, Dia kehilangan ibuku. Lalu dia sakit-sakitan. Dia takut hidupku akan seperti itu. Dia memberiku semua kekayaannya untuk pergi ke Amerika. Dia berpikir dunia yang besar akan mencetak orang yang hebat. Aku berhasil dan mendapat banyak uang. Tapi Ayahku tidak ada di sini. Dia meninggal sebelum dia bisa menyaksikan keberhasilanku. Seperti Komandan Yi Sun Sin, Dia bilang kepada orang lain aku tidak boleh mencari tahu tentang kematiannya."


Kemudian Jung Woo mengatakan kalau ia ingin membuat sebuah keluarga. Sekarang Keluargalah yang menjadi pilihannya.

"Kupikir... Aku bisa hidup bahagia denganmu."

Tapi saat Jung Woo menoleh, Hyun Soo sudah berkaca-kaca, siap menangis.

"Kenapa? Apa ceritaku sangat sedih? Kau sangat pandai dalam berempati."


Hyun Soo mengakui, ia memenangkan kontes, ia mendapat telepon hari ini. Jung Woo mengucapkan selamat, kerja bagus!

"Tapi... Aku tidak senang. Itu hal yang benar-benar aku inginkan. Aku sudah mati-matian berlari menggapai tujuan ini. Tapi aku tidak senang."


Hyun Soo melanjutkan, "Ada seorang pria yang ku cintai. Tapi aku sadar kalau itu terlambat. Aku baru menyadari apa itu cinta.. setelah dia menghilang dari pandanganku. Dia hidupku--"

Jung Woo sadar kemana arah pembicaraan Hyun Soo, ia ditolak, "Kau... Apa kau sadar apa yang kau padaku?"

"Dia menyuruhku untuk menunggunya. Dia menelponku. Tapi aku tidak bisa mengangkat teleponnya karena aku bersama Anda. Itu telfon terakhirnya. Aku seharusnya mengangkat telponnya. Seharusnya aku mengangkatnya. Kemana lagi aku harus melihat dia sekarang?""


Hyun Soo akhirnya menumpahkan tangisnya. Jung Woo malah ketawa, lalu ia merangkul Hyun Soo.


Jung Woo menepuk-nepuk bahu Hyun Soo untuk menenangkannya.

==5 tahun kemudian, 2017==


Saat Hyun Soo bertengkar dengan sutradara karena Sutradara mengubah naskahnya. Sutradara meminta persetujuan staff, apa ada yang setuju dengan Hyun Soo?

Lalu Jung Sun mengangkat tangan, ia setuju.


Hyun Soo terkejut melihat Jung Sun. Lalu Jung Sun perlahan mendekatinya.

Sutradara: Kau siapa? Kau kan bukan staf kami.

Jung Sun: Aku stafmu untuk hari ini.

"Aku bertemu lagi dengannya.. Selalu pada saat saat yang memalukan. Aku tidak akan pernah lupa tentangnya, bahkan satu momen pun. Walaupun sekedar takdir.. sekali lagi aku putus asa dan melihat dia lagi. Dia.. cinta pertamaku yang menghilang pada masa mudaku di usia 29 tahun."


Hyun Soo tiba-tiba berlari dan Jung Sun mengejarnya.


Tapi Jung Sun berhenti, "Aku tidak akan mengikutimu, jadi jangan lari. Kau bisa jatuh nanti! Aku tahu kau mudah sekali jatuh."


"Aku dengar penulis tidak akan muncul di lokasi syuting. Lee Hyun Soo-ssi, yang memiliki pacar dan sekarang jadi penulis, tiba-tiba muncul."


Hyun Soo akhirnya berhenti dan ia bertemu dengan Hong Ah dan Kyung.

Hong Ah: Kami tidak bisa menunggu lebih lama. Apa kau benar-benar melihat syuting nya?

Kyung: Apa kau membuat keributan?

Hyun Soo: Tidak, bukan itu masalahnya.

Kyung: Lalu apa?


Staff memanggil Jung Sun untuk kembali syuting lagi. Jung Sun menolaknya, ia tidak akan melakukannya karena penulis tidak setuju dengan adegan ini.

"Kau tidak bisa melakukan ini. Daepyonim akan marah nanti." Kata Staff, tapi Jung Sun tidak peduli.

6 komentar

Hwaiting unnie. Jatuh cinta banget sma drama ini

Uuuuuuh... Seruuuu... C4 dtunggu mbak...

WOOOW,I like this. Hwaiting unnie ..

Seru.... lanjut . Suka banget sama yang romance. Aku aja sampe nangis pas baca part Hyun soo nangis2 pas inget Jung sun

Suka suka suka.... Kim jae wok😍

Psyco ganteng ada di drama ini 😍😍 okee banget ❤

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon