Thursday, September 28, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 1


Sumber Gambar: SBS


Waktu berjalan mundur, salju yang harusnya turun dari langit menjadi naik kembali ke langit. Lalu terlihatlah Nam Hong Joo (Bae Suzy) berjalan ke arah Jung Jae Chan (Lee Jong Suk), mereka berdua sama-sama terluka. Ikat rambut Hong Joo terlepas saat kakinya mulai melangkah.


Hong Joo tiba-tiba memeluk Jae Chan. Jae Chan awalnya menatap lurus kedepan, tapi kemudian menatap bahu Hong Joo.

"Aku.. percaya kepadamu. Karena ini aku, aku bisa memercayaimu." Kata Hong Joo, lalu Hong Joo menutup matanya dan airmatanya keluar.


Yeah! Itu cuma mimpi Hong Joo. Saat ia terbangun, ia langsung mencatat mimpinya itu sambil menggerutu.

"Tidak mungkin. Ini gila. Astaga. Aku tidak percaya ini. Astaga."


Ibu Hong Joo masuk dan membuka tirai jendela. Ibu memarahi Hong Joo yang malah menyalakan lilin bukannya membuka jendela biar udara bisa masuk.

"Astaga, kamarmu seperti kapal pecah."


Ibu langsung menoyor kepalanya, "Apa yang gila? Lihat kamarmu ini. Benar-benar seperti kapal pecah. Ibu bahkan tidak bisa makan daging karena kamu seperti binatang."

"Bukan itu, Bu. Dalam mimpiku, aku memeluk pria tidak dikenal. Aku yang memeluknya lebih dahulu. Ibu tahu aku bukan tipe wanita yang mendekati pria lebih dahulu."

"Tentu ibu tahu. Bagaimana kamu bisa mendekati pria dengan penampilan seperti itu? Itu jika kamu sadar."

"Ibu, apa Ibu benar ibuku?"

"Bisakah kamu membunyikan lonceng untuk ibumu? Ini, Ernest Hemingway." Kata Ibu sambil melemparkan buku "Ernest Hemingway" pada Hong Joo.


Selanjutnya, Hong Joo ke dapur, ia mengambil daging sisa di kulkas dan lucunya, Hong Joo menyusun tulang daging setelah memakannya kemarin menjadi seperti sebelum dimakan.

"Seperti apa dia? Tampan?" Tanya Ibu.

"Apa pentingnya?  Ibu tahu aku punya pacar."

"Hei, kamu baru bertemu dia dua kali sejak kencan buta. Kamu akan menikah dengannya jika kalian bertemu lagi?"

"Aku benci orang yang selingkuh. Jadi, jangan membahas pria di mimpiku. Jangan pernah!"

"Dia akan hadir dalam hidupmu meskipun kamu tidak mau. Kamu tahu semua mimpimu menjadi kenyataan."

"Itu tidak benar!"


Hong Joo melotot saat ia melihat ke luar jendela, ia lalu mengintip diam-diam. Ibu juga ikutan, ternyata ada yang pindah di depan rumah mereka. Dua orang pria ganteng. Jung Jae Chan dan adiknya.

"Astaga. Kakak-beradik yang tampan. Mereka sungguh kakak-beradik?" Gumam Ibu.


Adik Jung Jae Chan diperankan oleh Shin Jae Ha, tapi gak dituliskan namanya siapa di Asianwiki, panggil Adik Jung saja sementara..

Adik Jung meminta Jae Chan mengantarkan kue beras ke rumah Hong Joo. Jae Chan menolaknya, jaman sekarang tidak ada orang yang memberi kue beras saat pindahan, kuno!

"Ini tidak kuno. Ini untuk menunjukkan kebaikan." Jawab Adik Jung dan tetap memaksa Jae Chan melakukannya.


Hong Joo panik, ia berkata pada ibunya kalau Jae Chan lah yang ia peluk dalam mimpi. Ibu juga terkejut, apa?


Jae Chan memencet bel dan saat intercom menyala ia menunjukkan seyum manisnya dan memperkenalkan diri sebagai tetangga baru di depan. Tapi Hong Joo tidak mau membukakan pintu, malah menyuruhnya pergi.

"Pergilah. Jangan datang tanpa pemberitahuan seperti ini. Kami tidak memerlukan salam atau keramahtamahan. Maaf."


Jae Chan Shock dengan kata-kata kasar Hong Joo itu.

"Astaga, dia kenapa?"


Ia kemudian memarahi adiknya, sudah ia bilang tadi ia tak mau. Adik Jung membentak, pasti tadi jae Chan tidak senyum.

"Ishh! Sudah. Aku sudah tersenyum lebar seperti orang bodoh."

"Benarkah? Siapa yang tidak sopan seperti itu? Apakah wanita?"

"Ya!"

"Kencani dia. Kalian akan cocok."

"Enak saja!"


Jae Chan melihat ke arah jendela rumah Hong Joo, dimana Hong Joo sedang melihatnya juga. Tapi Hong Joo cepat-cepat menutup tirainya.


Jae Chan menendang Adik Jung kesal, lalu memberikan kue berasnya.


Hong Joo menelfon ibunya di halte bis karena ibunya memakai mobil tanpa memberitahu, ia kan bisa telat nanti. Hong Joo menoleh ke kanan, ia melihat Jae Chan jalan kearahnya.

Hong Joo lalu berbisik pada ibunya, "Ibu.. Pria itu ada di sini. Pria yang kulihat dalam mimpiku."


Seorang siswa memanggilnya, memintanya untuk geser sedikit, ia dan teman-temannya mau duduk, tapi Hong Joo tidak mendengarnya.


Namun, Jae Chan malah duduk disampingnya. Hong Joo beepikir, kenapa Jae Chan duduk disampingnya? padahal di kirinya masih muat untuk tiga orang dan di kanannya untuk dua orang.


"Dia berusaha mendekatiku? Tidak! Aku tidak boleh asal menyimpulkan kecuali ingin mempermalukan diri sendiri." Batin Hong Joo.


Hong Joo pun geser ke kiri dan Jae Chan mengikutinya. Hong Joo semakin yakin, ia tidak asal menyimpulkan atau sedang berkhayal.

Hong Joo geser lagi dan Jae Chan masih tetap mengikutinya.

"Dia mengikutiku lagi, lagi! Jika aku lengah, tetangga bisa menjadi teman, lalu teman bisa menjadi pacar."


Hong Joon berdiri bersamaan dengan Jae Chan. Mereka juga sama-sama bicara.

Hong Joo: Aku tidak tertarik kepadamu.

Jae Chan: Kalian bisa duduk di sini.


Jae Chan menoleh pada Hong Joo, tidak tertarik apa? Dan itu membuat para siswa berkomentar, ia yakin Hong Joo mengira Jae Chan mencoba mendekatinya, memalukan sekali.


Hong Joo bersikap tenang, kebetulan ada bis berhenti, ia pun segera masuk. Ahjusshi supir memberitahu Hong Joo untuk naik bis yang diseberang jalan karena pemberhentian berikutnya adalah pemberhentian terakhir.

"Aku tahu. Aku tidak boleh naik bus ke pemberhentian terakhir?!" Balas Hong Joo.

Jae Chan tersenyum melihatnya.


Jae Chan tiba-tiba teringat suara wanita yang menolak kue berasnya kemarin. Jae Chan heboh sendiri.

"Tu-tu-tunggu. Kau... Itu suara yang kudengar di interkom. Kau gadis tidak sopan itu!"


Hong Joo mengatakan pada dirinya sendiri, tidak apa-apa, jangan khawatir, tadi tidak memalukan sama sekali.

"Kau sudah melakukan yang terbaik!" Lanjut Hong Joo sambil menepuk pundaknya sendiri, bangga.


Hong Joo membantu Ibunya di restoran, ia berkata, sepertinya mimpi itu akan menjadi kenyataan.

"Kau sudah jatuh cinta dengan pria itu? Memangnya hatimu pintu otomatis? Bisa terbuka bahkan sebelum orang mengetuk."

"Bukan itu maksudku. Pria itu jatuh cinta kepadaku."

"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"

"Apa lagi alasan dia duduk di sebelahku seperti itu?"

"Katamu dia melakukan itu agar siswa-siswa itu bisa duduk."

"Dia benar-benar profesional. Dia handal."

"Ibu rasa kau hanya tidak memahami pria!"


Seseorang pria selesai makan dan hendak membayar. Hong Joo tidak asing dengan korek pria itu, juga plaster dijarinya. Hong Joo terus memperhatikan pria itu sampai pria itu keluar restoran.


Hong Joo bilang pada ibunya, dalam mimpinya tiga bulan lalu, ia melihat pria tadi. Saat itu turun salju dan begitu pria itu menyalakan korek untuk merokok, dia terbakar.

"Kapan? Di mana?" Ibu panik.

"Aku tidak tahu. Dia menyalakan korek dengan plaster di tangannya."

"Berarti sebentar lagi. Omo-mo-mo-mo."


Ibu dan Hong Joo lalu keluar, ibu meminta korek dan rokok pria itu. Tapi tentu saja pria itu menolak, apalagi alasan Ibu karena merokok tidak baik untuk kesehatannya.

"Apa pedulimu? Itu bukan urusanmu. Awas. Minggir."


Hong Joo ikutan bicara, bahwa Pria itu akan meninggal jika merokok. Tapi pria itu malah marah dan mendorong mereka berdua.


Hong Joo tidak menyerah, walau sudah didorong sampai jatuh, ia tetap memperingatkan pria itu.

"Ahjusshi! Dengarkan aku. Anda akan meninggal jika merokok! Anda tidak akan rugi apa pun. Dengarkan aku!"

Pria itu sama sekali tidak percaya, ia menganggap Hong Joo tidak waras.


Ibu mendekati Hong Joo dan menunjukkan korek yang ia ambil dari pria itu tadi. Ibu bertanya, apa dengan itu saja sudah cukup?

"Lupakan saja. Tidak ada gunanya. Itu pilihan dan hidupnya."

"Apa maksudmu? Kita harus mengubahnya jika tahu."


Tiba-tiba hujan salju. Hong Joo menjawab ibunya, mereka tidak bisa megubah apapun, siapa coba yang akan percaya dengan omong kosong gila darinya?


Pria tadi mencari-cari koreknya dan ternyata ia masih memiliki satu di mobil. Kemudian ia berhenti di pom bensin karena BBM-nya habis.

Narasi Hong Joo: Aku melihat Anda dalam mimpiku. Yang kulihat dalam mimpiku selalu menjadi kenyataan. Jadi, jika ingin hidup, Anda harus mendengarkanku. Orang akan berpikir ini tidak masuk akal. Bahkan Ayah meninggal seperti itu karena tidak memercayaiku.


Pria tadi menyalakan korek untuk merokok saat di pom bensi dan tiba-tiba apinya membesar, menimbulkan ledakan kencang.

Narasi Hong Joo: Masa depan tidak bisa diubah. Mengetahui yang akan terjadi tidak mengubah apa pun.

-=EPISODE 1=-
While You Were Sleeping


Moon Hyang Mi (Park Jin Joo) memutuskan membeli kue, ia juga membeli lilin. Rekannya yang rambut pendek bertanya, ada yang berulang tahun?

"Hei, ini hari pertama Jaksa Jung. Kita harus merayakannya." Jawab Hyang Mi.

"Merayakan apa? kau berlebihan."


Tapi setelah Hyang Mi menunjukkan foto Jaksa Jung Jae Chan, rekannya itu langsung berubah, mereka memang harus merayakannya. Mari rayakan!

"Jadikan hari ini hari libur nasional!" Lanjutnya.

Rekannya yang satu lagi, Min Jung Ha berkomentar, Jae Chan terlihat cerdas. Hyang Mi sangat setuju dengan hal itu.

"Aku sangat menyukainya." Aku Hyang Mi.


Tiba-tiba Lee Yoo Beom (Lee Sang Yeob) menyahut dari belakang, ia sangat kecewa dengan Hyang Mi. Dulu Hyang Mi sangat bersemangat saat memanggil namanya saat mereka masih berkerja bersama, tapi sekarang Hyang Mi malah sudah menyebut nama Jae Chan seperti menyebut namanya.

"Astaga. Jaksa Lee. Tidak, Pengacara Lee!" Jawab Hyang Mi.

Yoo Beom kemudian membayari kue yang dibeli Hyang Mi itu. Hyang Mi melarangnya melakukan itu. Yoo Beom merasa harus, karena hari ini hari pertama Jae Chan, muridnya dulu.


Semua tidak percaya karena tampang Jae Chan seperti orang yang tidak butuh seorang tutor dalam hidupnya. Yoo Beom membeberkan, Jae Chan itu selalu mendapatkan nilai terendah di sekolah.

==13 tahun lalu==


Yoo Beom menyuruh Jae Chan mengartikan ka ta "Justice". Dan Jae Chan mengartikannya secara terpisah. "Just" artinya "sekarang" dan "Ice" seperti dalam "batu es", Jika digabung menjadi "just ice", artinya, "membeku sekarang". LOL

==Saat Ini, 2016==


Hyang Mi masih belum percaya, sampai ia melihat sendiri buktinya. Mereka tak sengaja melihat Jae Chan berfoto selfie di depan ruangannya.

"Aku sungguh tidak menyukainya." Kata Hyang Mi.


Yoo Beom lalu memanggil Jae Chan, "Yaa! Jung-pro!"

Jae Chan terkejut, ia baru sadar kalau ada orang. Yoo Beom pun tersenyum karena itu lucu.

"kau Yoo Beom?" Tanya Jae Chan.


Yoo Beom masuk ke ruangan Jae Chan dan staff disana membersihkan mantel yang Yoo Beom letakkan. jae Chan aneh melihat itu.

Yoo Beom menjelaskan, "Apa dua tahun lalu ya? Karena mengerjakan skandal korupsi dan kasus pembunuhan berantai itu, aku mendapatkan penghargaan dari Jaksa Penuntut Umum. Aku hanya meletakkan sendok di atas meja yang telah dirapikan Pak Choi, tapi malah mendapat penghargaan."


Pak Choi yang dimaksud Yoo Beom itu adalah orang yang membersihkan mantelnya, nama lengkapnya Choi Dam Dong. Pak Choi merendah, kata-kata Yoo Beom tadi tidak benar.

Pak Choi kemudian mengenalkan dirinya pada Jae Chan, ia adalah Penyidik di tim Jae Chan.


Yoo Beom akan mengenalkan Hyang Mi, tai Hyang Mi malah mendahuluinya. Jae Chan mengulurkan tangannya untuk mengajak salaman tapi Hyang Mi mengacuhkannya. Jae Chan terpaksa menarik tangannya lagi, *kacian~


Jae Chan bertanya pada Yoo Beom, ngapain Yoo Beom dikantor kejaksaan?

"Menurutmu apa? kau kembali dengan gemilang sebagai seorang jaksa. Tentu saja aku harus memberimu selamat."

Hyang Mi bertanya, "jadi.. Kalian berdua pertama bertemu sebagai mentor dan murid, dan kini bertemu lagi sebagai pengacara dan jaksa."

Yoo Beom menjawab, "Bisa dibilang begitu. Aku hanya ingin menyapa. Kurasa kita bisa saling membantu. kau tahu, Win-win (hubungan yang saling menguntungkan)."


Yoo Beom ada telfon dan mengangkatnya disana, selama itu, Jae Chan menyobek kertas kecil-kecil lalu menggulungnya dengan Ibu jari dan jari telunjuk.

==13 Tahun Lalu==


Yoo Beom juga sering menggulung kertas seperti dirinya saat ini. Saat itu Yoo Beom bertanya padanya apa ia tahu arti 'win-win' atau tidak.

" "Win-win"? Itu bahasa Mandarin?" Tanya Jae Chan.

"Akan kuberi tahu. Ayahmu bilang dia akan menaikkan bayaranku 10 dolar setiap kali peringkatmu naik."

"Menyerahlah saja. Nilaiku tidak akan meningkat."

"Kita bisa memalsukan nilai di buku rapormu."

"Astaga, ayahku polisi. Bagaimana jika kita ketahuan? Dia pasti akan memenjarakan kita."


Yoo Beom meyakinkan Jae Chan, mereka bisa membuatnya untuk tidak ketahuan. Bayangkan saja, jika Jae Chan naik 30 tingkat, Yoo Beom akan mendapatkan 300 dolar.

"Aku akan memberimu separuhnya. Katamu kau ingin motor. Kapan kau bisa membelinya dengan uang sakumu? Aku bisa mendapat uang lebih banyak dan kau bisa membeli motor. Nilaimu yang meningkat juga akan membuat ayahmu senang. Semua pihak yang terlibat akan puas. Itu namanya situasi 'win-win'." Bujuk Yoo Beom.

==Saat Ini, 2016==


Yoo Beom pamit setelah menutup telfon, ia meminta Jae Chan menyempatkan waktu untuknya, nanti ia akan traktir ke restoran sushi yang enak.


Jae Chan kembali ke tempat duduknya. Ia baru sadar kalau tadi ia menggulung kertas, ia pun membersihkannya dari atas meja.


Ada pohon natal dan terlihat Hong Joo sedang membaca surat tulisan tangan, ia dirawat di rumah sakit.

"Jadi.. Ibu meninggal karena aku? Karena.. kecelakaan yang kusebabkan?" Tanya Hong Joo pasa seseorang.

"Hong Joo-ya~"

"Katakan ini hanya mimpi. Kumohon. Tolong bangunkan aku!"

"Sadarlah."


Itu semua adalah mimpi Hong Joo. Ia terbangun dan menangis.

"Aku harus bagaimana?"


Hong Joo tetap menuliskan mimpinya, "Bibi, Ibu. Karena kecelakaan yang kusebabkan, Ibu..."

Hong Joo tidak sanggup melanjutkannya, ia tumbang.


Hong Joo keluar dan ibu meminta untuk sarapan. Tapi ibu menyadari mata Hong Joo sembab? Hong Joo habis menangis? Hong Joo membantahnya, ia hanya makan ramyeon sebelum tidur semalam.


Hong Joo akan mandi tapi ibu menyuruhnya makan duluan. Dan Hong Joo berhenti, bukan karena ibu tapi karena berita di TV, memberitakan soal ledakan di pom bensin semalam, sama persis dengan mimpi Hong Joo.

Ibu: yaa, bukankah itu pria yang kemarin? kau melarang dia merokok, bukan?


Hong Joo mengambil gunting di laci dan buru-buru membawanya ke toilet. Disana, Hong Joo memotong rambutnya. Ibu bingung dan segera merebut gunting itu dari Hong Joo.

"Hei, lepaskan! Lepaskan ini! Berikan kepada ibu! Ada apa denganmu?"


Hong Joo menangis karena mimpinya menjadi kenyataan lagi, pria itu tewas persis seperti mimpinya.

"Ibu tahu, tapi kau tidak bisa berbuat apa-apa."

"Masa depan tidak berubah! Aku harus bagaimana, Bu? Ibu, kita harus bagaimana?"

Dan Hong Joo tiba-tiba memeluk ibunya. ibu semakin bingung, kenapa dengan Hong Joo ini?


Hong Joo akhirnya menceritakan mimpinya tadi pada Ibu. Tapi Ibu malah bercanda, mengatakan Hong Joo butuh bunga untuk diletakkan dikepalanya.

"Ibu pikir ini lucu? Ibu menganggap situasi ini lucu? Ibu melihat pria itu tewas seperti yang terjadi dalam mimpiku. Mimpiku tidak pernah salah!"

"Karena itukah kau memotong rambutmu seperti ini? kau pikir mengubah model rambutmu bisa mengubah yang kau lihat?"

"Aku tidak akan pernah memanjangkan rambutku. Rambutku panjang di mimpi itu."

"Ibu tidak tahu, kau cantik karena rambutmu."

"Ibu!"


Ibu kembali tersenyum, jangan khawatir, Ibu tidak akan mati seperti itu.

"Hanya Ibu yang kumiliki di dunia ini. Jadi, jangan tinggalkan aku. Mengerti?" Pinta Hong Joo.

"Aigoo, Sayang~"


Ibu kemudian menulis surat dan ia meletakkannya kedalam amplop beserta buku tabungan dan stempelnya. Ibu sudah menyiapkan segalanya.


Malam itu, tanggal 13 Februari 2016.


Besoknya, tanggal 14 Februari 2016, Yoo Beom membeli bunga cantik. Sepertinya ia mau kencan.


Sementara itu, di depan sebuah restoran, Jae Chan sedang berfoto, tapi Yoo Beom tiba-tiba ikutan.


Jae Chan terkejut dan segera menjauh. Yoo Beom bertanya, apa Jae Chan juga mau kencan juga! Jae Chan membenarkan.

"Astaga, kau membeli mobil baru?" Kata Yoo Beom.

"Ada perlu apa kemari?"

"Aku ada kencan. Kalau kau?"

"Apa? Aku juga."


Ternyata teman kencan Yoo Bem adalah Hong Joo. Baik Jae Chan dan Hong Joo sama-sama terkejut karena melihat satu sama lain.

"Kalian saling mengenal?" Tanya Yoo Beom.

"Ya, begitulah." Jawab Hong Joo, lalu bertanya bagaimana Yoo Beom bisa mengenal Jae Chan.

"Tunggu, kalian berpacaran?" Tanya Jae Chan.

Yoo Beom membenarkan dan Hong Joo menyetujui pernyataan Yoo Beom itu.


Yoo Beom menawari Jae Chan untuk double date tapi baik Jae Chan maupun Hong Joo menolaknya. Hong Joo lalu mengajak Yoo Beom masuk karena di luar dingin.

Yoo Beom memuji Jae Chan yang sudah dewasa, sudah mampu membeli mobil. Yoo Beom lalu menjelaskanpada Hong Joo kalau Jae Chan berhasil membeli motor saat SMP berkat dirinya.

Jae Chan mendesah mendengar itu.

==Musim Dingin 2003, 13 Tahun lalu==


Jae Chan dan motornya dibawa ke kantor polisi. Ayah Jae Chan menanyai Jae Chan sendiri. Ayah menuduh Jae Chan mencuri motor itu. Jae Chan membantahnya, ia membelinya kok.

"Ayah tidak pernah memberimu uang saku sebanyak itu."

"Aku mendapatkannya."

"Dari mana? Bagaimana caranya?"


Bawahan Ayah Jae Chan menyarankan agar mereka saja yang menanyai Jae Chan, tapi ayah tidakmerespon.


Ayah membentak, kenapa Jae Chan tidak menjawab, apa Jae Chan mencuri uangnya?

"Tidak, aku hanya menggunakan buku raporku..."

"Apa? Buku rapormu?"

"Aku mengubah buku raporku. Yoo Beom Hyung bilang dia bisa menaikkan bayarannya jika kami melakukan itu. Kami membagi uangnya."

Rekan Ayah menyuruh Jae Chan agar cepat minta maaf, karena selama ini Ayah sudah membanggakan Jae Chan dengan nilai-nilai itu.

"Tapi Ayah, kecelakaan ini..."

Ayah sangat shok mendengarnya, ia langsung membuang rapor Jae Chan yang sebelumnya ia bingkai ke tong sampah.
==Musim Dingin 2016, 14 Februari==


Jae Chan sedih kala mengingat kejadian itu dan tiba-tiba turun salju.


Hong Joo tidak tenang di dalam, ia terus melihat ponselnya. Yoo Beom akhirnya bertanya, apa terjadi sesuatu?

"Sepertinya aku harus pulang lebih awal hari ini. Ibuku tidak membalas pesanku." Kata Hong Joo.

"Dia sakit?"

"Tidak. Aku hanya memiliki firasat buruk."


Hong Joo mengingat apa yang ia lakukan tadi sebelum berangkat, ia udah mematikan lilin dan kompor. Tapi ia lupa satu hal, mengunci pintu.

Hong Joo langsung berdiri, ia harus pulang!


Hong Joo menuju mobilnya sambil menelfon Ibu tapi Ibu tidak menjawabnya. Yoo Beom mengikutinya keluar karena khawatir, apa Hong Joo pernah menyetir sebelumnya saat turun salju seperti sekarang?

"Belum pernah. Astaga, aku harus bagaimana? Apa sebaiknya naik taksi? Bisakah aku mendapatkan taksi?"

Yoo Beom langsung membuang bunganya untuk meminta kunci mobil Hong Joo, ia yang akan menyetir, ia sudah berpengalaman.


Sementara itu, Ibu sedang diikuti oleh seseorang dalam perjalanan pulang, tapi Ibu tidak sadar.


Ibu baru sadar saat akan membuka pintu gerbang karena orang yang mengikutinya memanggil dari belakang.


Dalam perjalanan, Hong Joo menghubungi ibunya tapi ibunya masih belum menjawab, Hong Joo berpikir, haruskah ia menghubungi polisi.

"Aku yakin dia baik-baik saja." Yoo Beom menenangkan.


Sampai akhirnya ibu menjawab. Ibu mengatakan kalau ponselnya ketinggalan di kafe tadi makanya tidak menjawab telfon Hong Joo. Dan beruntung ada seorang pemuda baik menemukannya dan mengembalikannya kepada ibu.

"Jangan meninggalkan ponsel Ibu, dan pastikan langsung menjawab. Baiklah, sebentar lagi aku sampai di rumah." Kata Hong Joo.


Yoo Beom bertanya, apa Hong Joo selalu mencemaskan ibunya seperti sekarang? Hong Joo bilang tidak sambil ketawa.

"Yoo Beom-ssi. Jika... Jika aku menyebabkan kecelakaan, akankah kau menyelamatkan ibuku?"

"Apa maksudmu? Kecelakaan apa?"

"Maksudku bukan sekarang. Hal seperti itu bisa terjadi di masa depan."

"Baiklah. Apa pun yang terjadi, aku pasti akan melindungimu dan ibumu. Sudah tenang? Omong-omong, kau sungguh baik-baik saja? Wajahmu pucat."


Yoo Beom tidak sadar ada orang menyeberang di depan mobil dan ia menghantamnya. Mobil berputar hingga menabrak tiang lampu jalan.

Orang yang ditabrak terlempar dan berdarah. Orang itu adalah orang yang mengembalikan ponsel ibu.


Hong Joo dan Yoo Beom juga terluka.


Kemudian kita diperlihatkan saat Hong Joo di rumah sakit. Hong Joo membuka matanya tapi ia belum sadar betul. Orang-orang yang ada di ruang itu ribut.

Hong Joo melihat samar-samar dan mendengar juga samar-samar, ia bertanya dimana ibunya, kenapa ia tidak melihatnya?

Cuma ada bibi disana dan Hong Joo memejamkan mata lagi.


Hong Joo kali ini benar-benar terbangun, tapi rambutnya sudah oanjang lagi, ia terkejut.


Hong Joo bertanya pada bibi, tanggal berapa sekarang? Bibi mengatakan hari ini adalah malam natal. Hong Joo heran, bukannya natal sudah lewat? Tiga bulan lalu kan?

Ibu-ibu yang ada disana memberitahu Hong Joo, kalau Hong Joo sudah koma selama 10 bulan.


Hong Joo menanyakan dimana Ibu, kenapa ia tidak melihatnya?

"Bibi akan memberitahumu nanti. Bibi akan memberitahumu saat kau sudah membaik."

"Aku sudah membaik. Katakan saja sekarang."

"Andai kau siuman lebih awal. Ibumu berusaha bertahan untuk melihatmu siuman."

"Apa maksud Bibi? Ibu kenapa?"


Bibi: Karena kecelakaan yang kau sebabkan, seseorang meninggal. Dia harus membayar biaya ganti rugi dan tagihan rumah sakitmu, jadi, dia menjual semuanya, termasuk rumah dan restoran.


Bibi: Dia bekerja keras sampai tidak sempat tidur. Dia hanya memikirkan kesembuhanmu. Lalu suatu hari, dia...

Ibu pingsan dan jatuh dari tangga.


Hong Joo menyimpulkan, Ibu.. meninggal? Bibi mengiyakan dengan sedih.


Hong Joo membaca surat Ibunya,

"Anak ibu, Hong Joo. Ada 25.000 dan 15.000 dolar di tabungan ibu. Ibu juga mempunyai asuransi jiwa yang bisa kau klaim. Jangan menyalahkan dirimu."


Hong Joo histeris, ini pasti mimpi, ia sedang bermimpi, bukan?

"Katakan kepadaku ini mimpi. Kumohon. Aku harus terbangun dari mimpi buruk ini. Kenapa aku tidak bisa bangun? Katakan ini mimpi. Kumohon."

"Hong Joo-ya~"

"Aku benci mimpi ini. Bibi~~"

"Tenangkan dirimu. kau harus menghadiri sidang."

"Apa maksud Bibi? Kenapa aku harus menghadiri sidang? Aku bahkan tidak menyetir. Kenapa?"

"Bukan kau yang menyetir?"

"Kenapa Bibi terus berkata aku yang menyebabkan kecelakaan itu? Bukan aku yang menyetir. Kecelakaan itu.. bukan salahku!"

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon