Friday, September 29, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 4


Sumber Gambar: SBS


So Yoon menepi karena hujan tiba-tiba turun dan Adik Jung menghampirinya. Adik Jung bertanya, So Yoon baru dari Rumah Sakit Ibunya? So Yoon terkejut, lalu membenarkan.

"Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja?"

"Sudah kubilang, berpura-puralah tidak tahu apa-apa."

"Aku bertanya karena cemas."


Adik Jung lalu melepas manteknya dan memakaikannya pada So Yoon, ia berjanji akan merahasiakannya, Sungguh!

"Kau.. Siapa namamu?"

"Kau tidak tahu namaku? Aku sekelas denganmu tahun lalu."

"Aku harus tahu nama semua orang di kelasku?"

"Tentu saja! Itu adalah tugas dan kesopanan sebagai teman sekelas!!"

"Aku tidak tahu punya tugas semacam itu."


Tapi So Yoon tersenyum saat berlari pergi. Sementara Adik Jung menggerutu sebal.


Hyang Mi menyarankan untuk meminta pinjam lemari sama Hee Min saja, soalnya Hee Min menyelesaikan kasus dengan cepat sehingga tidak ada yang tersisa. Ada banyak ruang di lemarinya.

"Aku juga cepat." Bantah Jae Chan, tapi Hyang Mi sama seklai tidak percaya.


Pak Choi mengingatkan, apa Jae Chan sudah memesan makan siang untuk mereka nanti? Itu tugas Jae Chan soalnya.

"Hendak kulakukan." Jawab Jae Chan.

"Di mana?"

"Itu tidak penting."

"Itu penting. Konon, penilaian kinerja para junior bergantung pada cara memesan restoran, bukan menyelesaikan kasus. Anda harus sangat berhati-hati dalam memilih restoran."

"Aku akan meminta saran Shin Pro dan memutuskannya dengan bijak."

"Dia akan memberitahumu?"

"Tentu, kami sangat dekat karena satu kampus."


Jae Chan lalu ke ruangan Hee Min, ia memanggil-manggil tapi Hee Min sama sekali tidak menoleh, malah menutup pintu di depannya.

"Hee Min-ah. Yaa, Shin Hee Min. Yaa, Shin Pro. Shin Pro yaa!"

"Pendengarannya kurang baik?" Gumam Jae Chan.


Yoo Beom dan Kepala Jaksa menghampiri. Yoo Beom memberitahu kalau Jae Chan harusnya memanggil Min Hee dengan panggilan formal, Jaksa Shin Hee Min (Shin Hee Min Geomsa-nim), tidak boleh memanggil informal seperti Jae Chan tadi. Jae Chan harus bersikap formal karena Hee min adalah senior.


Jae Chan tidak mempedulikan Yoo Beom, ia hanya memberi salam pada Kepala Jaksa. Kepala Jaksa bertanya, kenapa Jae Chan sangat ingin memanggil Hee Min?

"Kabarnya, sebelum saya, dia yang bertugas memesan restoran. Jadi, saya ingin meminta sarannya."

Yoo Beom yang menjelaskan, "Hei, ingatlah ini. Para Jaksa Senior di sini tidak suka daging basah. Hindari shabu-shabu. Kepala Jaksa tidak suka daging mentah. Hindari sashimi. Asisten Jaksa memiliki masalah bau kaki, jadi, dia tidak suka membuka sepatunya. Shin Pro tidak suka masakan Italia, jadi, ingatlah."

"Seharusnya kau tidak memberi tahu dia kiat yang sulit didapat itu." Tanggapan kepala Jaksa.

"Anda benar, Pak. Dia seharusnya membayarku untuk ini."


Yoo Beom akan memukul kepala Jae Chan, akrab. Tapi Jae Chan menahan tangannya. Jae Chan sama sekali tidak bicara pada Yoo Beom, ia pamit pada Kepala Jaksa.


Kepala Jaksa bertanya pada Yoo Beom, kenapa Jae Chan tadi begitu pada Yoo Beom?

"Saya pernah membimbing Jung Pro. Dia mungkin merasa diperlakukan seperti muridku."

"Meski begitu, kau pasti malu."

"Tidak apa-apa. Saya seharusnya lebih berhati-hati. Ini salah saya."


Sang putri bicara pada ayahnya, ia rasa tentara yang naik bis adalah tentara yang dimaksud di berita. Putri mulai panik, bagaimana kalau mereka meninggal seperti dalam mimpinya?

"Jangan khawatir. Tidak akan ada yang mati hari ini. Ayah akan menurunkan para penumpang dengan alasan busnya mogok."

Ayah pun menghentikan bis dengan alasan mogok dan meminta semua penumpang turun.


Sang putri juga ikut turun, ia menjauhkan pemumpang dari bis sambil menangis kencang, frustasi.

Sementara di dalam ayah mendekati tentara. Ayah pura-pura meminta tentara itu untuk membantunya mengganti ban. Ayah menoleh pada putrinya, menataopnya dengan tatapan meyakinkan bahwa ia sudah siap. Dan sang anak menangis semakin keras.


Ayah mendekati tentara lagi dan tentara mengayunkan ranselnya pada ayah. Ayah menangkisnya, mereka bergelut di dalam dan beberapa saat kemudian terjadi ledakan besar di dalam bis.

Sang putri menoleh, "AYAH!!!!!!!! AAAAAAAAAAAA!!!! Aaaaaaa!!!!! Ayah!!" Sang Putri teriak dengan frustasi.


Hong Joo terbangun dari mimpinya, ia lalu menuliskan apa yang ia mimpikan tadi.

"18 Februari 2016, Seung Won akan menjadi pembunuh karena Hyung-nya"

Hong Joo bertanya, Siapa Seung Won? Siapa yang akan dia bunuh? Siapa Hyung-nya?


Hong Joo lalu menempelkan catatannya itu, tapi ia teringat kata-kata Jae Chan untuk mengabaikan semua mimpinya. Hong Joo pun membuang catatannya ke tong sampah.


Adik Jung menghampiri So Yoon yang sedang berjalan dengan teman-temannya. Adik Jung kelihatan buru-buru, ia mengajak So Yoon bicara berdua.


Teman-teman So Yoon bisik-bisik, mengira Adik Jung sedang  menggoda So Yoon. So Yoon kesal dan menyuruh Adik Jung mengikutinya.

So Yoon membawa adik Jung ke aula, disana kosong. So Yoon memukuli Adik Jung karena tidak menepati janjinya.

"Sudah kubilang, jangan berlagak kau mengetahuinya. Sudah kubilang, jangan buka mulutmu!"

"Aku melihatmu meneliti semua itu di lab komputer."

So Yoon pun diam.


Adik Jung melanjutkan, kenapa So Yoon mencari tahu hukuman bagi pembunuh ayah? Kenapa So Yoon mencari tahu cara membeli potasium sianida dan dosis yang cukup untuk membunuh?

"Apa yang kau pikirkan? kau akan.. membunuh ayahmu?"

"Aku ingin menyelamatkan ibuku. Ayahku harus mati agar ibuku bisa terus hidup."

"Kenapa kau harus melakukan itu? kau sudah melapor polisi? Jaksa seharusnya sudah menangani kasus itu. Ayahmu akan diadili dan dipenjara. Jadi, kau tidak perlu--"


"Bagaimana jika dia tidak bisa dituntut?" Tanya So Yoon.

"Kenapa tidak bisa? DIa melanggar."

"Dia tidak bisa dituntut. Ayahku tidak akan pernah diadili karena para jaksa itu bodoh dan para pengacara itu licik."


Yoo Beom datang ke kantor Jae Chan sebagai pengacara park Jun Mo (Ayah So Yoon). Jae Chan bertanya, Park Jun Mo yang terdakwa dalam kasus kekerasan rumah tangga itu?

"Benar. Dia klien tetapku. Ah.. kau pasti tahu pianis Park So Yoon. Pria itu ayahnya."

"Begitu rupanya. Tampaknya ini kasus kekerasan rumah tangga biasa."

"kau sudah selesai meninjau catatannya?"

"Ya. Dia menendang istrinya saat memakai sepatu. Dia mematahkan enam tulang rusuk istrinya. Ini kasus pencederaan."

"Itu seharusnya ditindak sebagai penyerangan."


So Yoon melanjutkan, Pengacara licik itu akan menjadikan kasusnya sebagai penyerangan, bukan pencederaan.

"Apa bedanya antara pencederaan dan penyerangan?" Tanya Adik Jung.

"Jika dia tidak terluka, itu penyerangan. Jika dia terluka, itu kasus pencederaan."

"Tapi ibumu terluka. Tulang rusuknya patah. Jadi, itu pasti kasus pencederaan, bukan?"


Yoo Beom memberi Jae Chan laporan medis Nyonya Do Geum Sook. Beberapa tulang rusuknya patah dan ada luka memar. Jae Chan heran, bagaimana itu termasuk kasus penyerangan, padahal ada laporan medis?

"Hei, kau sebaiknya memeriksa tanggalnya. Peristiwa itu terjadi tanggal 14 Februari. Catatan medisnya ditulis tanggal 10 Februari."


Pak Choi bertanya, "Berarti Park Jun Mo bukan penyebab patah tulang rusuk itu?"

Yoo Beom membenarkan. Lalu Hyang Mi bertanya bagaimana bisa itu terjadi?


Yoo Beom memberi Jae Chan catatan kartu kredit Nyonya Dong Geum Sook.

"Lihatlah pengeluarannya pada tanggal 10 Februari. Dia naik gondola dan menyewa peralatan ski di Resor Chungyeon. Itu artinya tulang rusuknya patah bukan karena Park Jun Mo-ssi. Tulang rusuknya patah saat Do Geum Sook-ssi bermain ski."



Tapi Nyonya Do menolak melanjutkan kasus, ia tidak ingin suaminya dihukum. Memang benar ia terluka di resor ski, tidak ada hubungannya dengan suaminya.


Tuan Park lalu membelai rambut Nyonya Do membuat Nyonya Do ketakutan.

"Seperti yang selalu dia lakukan, ibuku tidak akan mau ayahku dihukum." Kata So Yoon.

"Kenapa tidak?"

"Ibu.. lebih takut kepada ayahku daripada hukum.



Jae Chan tak menyangka kasusnya akan terselesaikan dengan sangat cepat.


Jae Chan penasaran, Yoo Beom bilang Tuan Park adalah klien tetap kan? Bagaimana bisa direktur institusi pendidikan menjadi klien Yoo Beom?

"Apa yang dia lakukan untuk menjadikanmu pengacaranya padahal kau belum setahun? Dari penampilan, kau tampak jauh berubah. Kenapa kau mengambil kasus yang sudah jelas ini? Aku penasaran, tapi kini aku mengerti."

"Apa maksudmu?"

"kau selalu melakukan ini? Mengubah kasus pencederaan menjadi kasus penyerangan dengan membuat dokumen baru, mengancam korban tidak menuntut, dan membuat mereka menandatangani lembar persetujuan? kau membersihkan kejahatannya agar dia bisa menjadi klienmu. Berapa kali dia harus mengunjungimu sampai menjadi klien tetapmu?"


Hyang Mi berbisik pada Pak Choi, haruskah mereka menginterupsi agar mereka berhenti? Pak Choi lalu berdiri, mengingatkan Jae Chan bahwa sudah kelewatan. Tapi Yoo Beom menahannya.


Yoo Beom lalu duduk, ia mengerti Jae Chan dendam kepadanya akan sesuatu yang terjadi 13 tahun lalu. Tapi itu seharusnya dilampiaskan kepadanya, kenapa Jae Chan kesal kepada kliennya?

"Kesal?" Ulang Jae Chan.

"Atau.. kau punya penjelasan lain tentang perbuatanmu kepadaku selama beberapa hari ini? Aku hanya bisa memahaminya dengan kata "kesal". Dengar. Pertama, kenapa kau menggoda pacarku dan menyuruhnya berhenti menemuiku?"

Hyang Mi balik berbisik pada Pak Choi, daebak!! Lalu ia mulai mengetik di komputernya.

Yoo Beom melanjutkan, "Kedua. Kenapa kau menabrak mobilku? Ketiga. Kenapa kau menggangguku dengan kasus yang sudah jelas? Kenapa kau mencoba memulai perdebatan?"

"Jangan konyol. Semua itu tidak ada kaitannya."

"Baiklah. Tapi kurasa ketiga peristiwa itu mengarah pada satu alasan. kau membalas dendam."


Hyang Mi menyebarkan berita itu pada semua asisten Jaksa. Asisten pertama yang menerimanya adalah Asisten Jaksa Lee Ji Gwang.

"Ini gila. Jaksa Jung sengaja menabrak mobil Jaksa Lee."


Kedua adalah Asisten Jaksa Son Woo Joo.

"Mereka bicara soal balas dendam. Mereka pasti punya cerita masa lalu yang tidak kita ketahui."


Dan terakhir, Asisten Hee Min.

"Mereka bilang Jaksa Jung mencuri pacar Jaksa Lee. Mungkin ini berhubungan dengan perselingkuhan!"

"Perselingkuhan? Betapa liar dan kacau." Komentar Hee Min.


Yoo Beom melanjutkan, "kau tidak perlu melakukan keajaiban hanya karena aku mengenalmu. Aku bahkan tidak memintamu agar tidak menghukum dia. Aku hanya memintamu menaati hukum dan prinsip yang kita pelajari. Minta persetujuan Kepala Jaksa agar ini tidak bisa diproses. Jangan kesal kepada klienku. Taati hukum, mengerti? Aku permisi. Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Sikapmu terlalu kekanak-kanakan untuk bisa kutangani. Aku permisi. Sampai jumpa."


So Yoon: Jaksa bodoh itu tidak akan pernah menyelamatkan ibuku. Begitulah yang selalu terjadi.

Adik Jung: Pasti ada cara lain.

So Yoon: Pepatah tidak pernah salah. "Di mana genderang bertabuh, di situ hukum terdiam."


Hee Min datang belakangan untuk makan bersama, Jae Chan memanggilnya, masih dengan tidak formal dan Hee Min sama sekali tidak merespon.

"Sebenarnya dia bisa mendengarmu. Panggil dia Shin Geomsa-nim." Saran Ji Gwang.

Jae Chan tidak peduli, ia malah mengencangkan suaranya, Shi Pro!! Shin Pro!!

Tapi begitu jaksa senior memanggilnya, Shin Pro! Hee Min langsung berbalik dan menuju meja mereka.


Hee Min minta maaf, ia kesasar karena papannya terlalu kecil. Kepala Jaksa lalu bertanya pada Jae Chan mengenai agamanya. Jae Chan menjawab kalau ia atheis, tidak beragama.

Semua orang terdiam, terkejut. Jae Chan tidak mengerti, kenapa?

"Tidak. Hanya saja agama kami sama. Kami bergantian berdoa sebelum makan. Abaikan saja kami dan silakan makan lebih dahulu." Jelas Kepala Jaksa.


Jae Chan pun makan duluan seperti yang diperintahkan, sementara Kepala Jaksa menyuruh yang lain berdoa. Mereka berdia sambil memejamkan mata dan tangan bergandengan membentuk longkaran.

Ji Gwang: Terima kasih atas makanan ini. Berkatilah mereka yang tidak percaya kepada-Mu. Bimbinglah Jaksa Jung agar menemukan restoran dengan papan nama yang lebih besar supaya kami mudah mencarinya.

Jae Chan yang akan menyuapkan makanan ke mulutnya tidak jadi dan meletakkannya kembali.

Hee Min: Di organisasi ini kesopanan dan tata tertib itu penting. Ajarilah domba-domba malang itu bahwa tata tertib dan kesopanan lebih penting daripada usia. Tolong berkati mereka.

Woo Joo: Kasus menumpuk di ruangan Jaksa Jung. Tolong beri dia bimbingan untuk cepat mengurusnya agar para korban tidak perlu meneteskan air mata lagi. Tolong bantu jiwa yang mempermalukan semua jaksa dengan pakaian salah. Bimbinglah dia agar memilih pakaian yang tepat.

Kepala Jaksa: Dunia ini dipenuhi kecemburuan dan kemarahan. Karena itu banyak yang tidak bisa melupakan masa lalu dan mendendam. Terkadang mereka tidak bisa mengerjakan kasus dengan adil.

Jae Chan: Itu karena--

Kepala Jaksa: Meskipun marah dengan dendam, kami harus menyelesaikan kasus dengan pikiran rasional. Tolong bimbing mereka untuk menjaga prinsip jaksa. Aku mendoakan mereka.

"Amiin." Ucap semuanya.


Kepala Jaksa heran kenapa Jae Chan belum mulai makan? Jae Chan tergagap. Kepala Jaksa lalu mengambilkan lauk untuk Jae Chan.


Jae Chan tiba-tiba mengambil kasus sangat banyak di almari. Hyang Mi saja sampai heran.

"Bukankah terlalu berlebihan jika menyelesaikan hari ini?" Tanya Pak Choi.

"Aku akan bergadang jika perlu. Aku bisa mengosongkan lemari itu dalam sehari jika berusaha."

Jae Chan mengambil kasus Park Jun Mo. Pas sekali, ada laporan medis dan lembar persetujuannya. ia bisa menyelesaikannya jika kasusnya tidak bisa diproses. Hanya lima menit.

"Baiklah. Terdakwa, Park Jun Mo. Dia dituduh melakukan penyerangan. Pihak terluka tidak menginginkan terdakwa dihukum. Maka, kasus ini tidak bisa diproses. Selesai!"

Jae Chan selesai mengetik, ia melihat jam tangannya, WOW! Bahkan kurang dari lima menit. Kalau begini, ia tidak perlu bergadang. Lalu ia mulai membuka kasus yang lain-lain.


Hyang Mi berbisik pada Pak Choi, kenapa Jae Chan itu? Ia sungguh tidak terbiasa.

"Dia benar-benar mabuk." Kata Pak Choi.

"Kita akan pulang cepat hari ini?"


Pemakaman Ayah dan Tentara itu diliput, banyak reporter disana.

"Saya berada di rumah duka Inspektur Jun Il Seung dan sopir bus Nam Chul Du yang menyelamatkan orang dari tentara pelarian. Para politikus meminta mereka diberikan penghargaan nasional dan dijadikan martir atas keberanian mereka menyelamatkan warga."


Dua reporter heran karena tidak melihat putra ayah, mereka harus mewawancarainya karena mendengar putra ayah mengevakuasi seluruh penumpang bis.

Lalu dua orang, seorang wanita dan seorang pria, menghampiri mereka dan memberikan kopi. Si pria bertanya, dimana anak korban? Anggota Kongres ingin mengucapkan bela sungkawa. Si Wanita bertanya, apa reporter itu sudah memotret anggota kongres?

"Ya. Sudah!" Lalu mereka pergi.


Sang putri muncul, masih dengan pakaian baseball-nya, padahal seharusnya menggunakan pakaian berduka, hanbok warna hitam.


Sementara Pak Choi dan Hyang Mi bekerja, Jae Chan malah ketiduran.

"Dia kelelahan. Sudah kuduga itu terlalu berat untuknya." Kata Pak Choi.


Tapi tiba-tiba Jae Chan bangun, "TIDAAk!!"

Pak Choi dan Hyang Mi terkejut. Pak Choi bertanya, apa Jae Chan bermimpi buruk? Jae Chan mengelaknya, ia tidak tidur kok!

"Sepertinya kau menangis." Ujar Hyang Mi.

Jae Chan kembali membantahnya dan keluar.


Chae Chan tampak gelisah, ia menyentuh bibirnya.


Jadi di mimpinya itu adiknya ditangkap polisi. Adik Jung sangat ketakutan dan terus berkata bukan dia yang melakukannya.


Jae Chan menghubungi Adik Jung, menanyakan keberadaannya sekarang. Adik Jung masih disekolah. Jae Chan bertanya, apa sesuatu terjadi? Adik Jung sakit atau terluka?

"Oh.. Tidak ada yang terjadi. Kenapa?"

"Baiklah. Itu saja. Pukul berapa kau pulang?"

"Entahlah. Mungkin pukul 22.00."

"Jangan pergi ke mana pun dan langsung pulang. Mengerti?"

"Hyung pikir aku siapa? Tidak ada tempat untuk kudatangi. Baiklah."


Adik Jung melihat So Yoon dibawah, sedang berjalan pulang. Ia teringat kata-kata So Yoon yang ingin membunuh ayahnya untuk menyelamatkan ibunya.


Jae Chan meyakinkan diri sendiri bahwa semua itu hanya mimpi, tidak nyata. Tapi Jae Chan ingat kelanjutan mimpinya.


Saat ia akan mengejar mobil polisi yang membawa adiknya, iamelihat Hong Joo dibelakangnya.

Hong Joo meneteskan airmata, "Sudah kubilang, percayalah kepadaku. Jika percaya kepadaku, kau bisa menghentikannya."

Jae Chan makin galau.


Sang Putri ke ruangan sepi, disana ia duduk sambil memandangi bola baseball-nya. Bola itu lusuh karena ledakan bis. Sebelumnya ayah meletakkan bola itu di dashbor bis bersama foto keluarga, tapi yang kelihatan di episode 3 cuma ia dan ayahnya.


ia teringat saat Ayahnya menyuruhnya untuk mengavakuasi semua penumpang bis. Ia mengajak ayahnya kabur bersama saja, soalnya semua yang terjadi benar-benar seperti mimpinya.

"Ayah bertanggung jawab di bus ini. Ayah tidak bisa meninggalkan mereka."

"Ayah, kumohon."

"Anak nakal. Anggaplah penangkap menghindari bola. Wasit akan terluka dan pertandingan menjadi kacau."

"Aku akan memanjangkan rambutku. Aku tahu itu keinginan Ayah. Aku akan menumbuhkan rambut, jadi, pergilah bersamaku."

"Benarkah?"

"Baiklah. Ayah pasti akan melihatmu dengan rambut panjang. kau turun lebih dahulu, mengerti?"


Si Putri menangis tersedu dan ia membuang bola itu.


Hong Joo sedang olahraga, tapi ia tidak tenang. Ia terus melihat tong sampah.


Akhirnya ia mengambil kertas yang tadi pagi dibuangnya dan menempelkannya lagi.


Anggota Kongres mendapat kabar, anak Ayah bukan seorang Putra, melainkan seorang putri.

Mereka lalu bertanya pada Ibu, dimana sang putri?


Ibu menoleh, "Hong Joo.. tidak ada di sini sekarang."

Omo! Jadi sang putri itu adalah Hong Joo dan semua itu cerita Hong Joo bersama keluarganya.


Hong Joo keluar gerbang rumahnya dan ternyata sudah ada Jae Chan disana. Hong Joo sampai terlonjak kaget. Hong Joo lalu bertanya Jae Chan ada apa kerumahnya malam-malam.


Jae Chan menegaskan, ia kesana bukan karena berubah pikiran. Ia keana untuk menjelaskan alasannya tidak memercayai ucapan Hong Joo.

"Katakanlah!"

"Aku seorang jaksa. Tugasku adalah menuntut orang saat kejahatan terjadi. Tugasku bukan mencegah kejahatan. Tidak ada yang bisa kulakukan meski kau menceritakan mimpimu. Aku tidak peduli siapa yang mati di mimpimu. Aku tidak perlu menderita karena hal itu. Tapi.."


Hong Joo: kau merasa seperti penangkap bola, bukan? Bola dilempar dengan kecepatan 160 kilometer per jam. kau terlalu takut untuk menangkapnya. Tapi kau tidak bisa menghindarinya karena pertandingan akan kacau. Benar?

Jae Chan: kau benar. Aku tidak bisa mengabaikannya meski tidak mau memercayainya. Karena aku juga memimpikan hal seperti itu. Kenapa kau mengirimkannya kepadaku? Kenapa aku?

Hong Joo: Aku juga tidak tahu kenapa kau. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku mulai memimpikan hal itu.

Jae Chan: Tapi pasti ada alasannya kenapa harus kita.


Sebabnya adalah.. Karena Jae Chan yang mengambil bola basball yang Hong Joo lemparkan diruangan kosong itu. Jae Chan mengambilnya, lalu memberikannya kembali pada Hong Joo.


Tapi Hong Joo masih tidak tahu apa sebabnya, tapi bagaimana jika ada alasannya? lalu kenapa? Jae Chan tidak bisa mencegahnya karena kau seorang jaksa, dan Jae Chan tidak mau memercayai perkataanku.

"kau menyalahkan semua ini kepadaku? Itu alasanmu kemari?!" Bentak Hong Joo.

"Tolong aku~ kau muncul di mimpiku. kau marah kepadaku karena tidak mendengarkan ucapanmu. Seung Won naik mobil polisi atau ambulans dan menghilang. Mimpi macam apa itu?"


Hong Joo mengulangi, Seung Won.. Siapa Seung Won? Jae Chan mengatakan kalau Seung Won itu adalah adiknya, kenapa?

"Di mimpiku, pria bernama Seung Won membunuh seseorang." kata Hong Joo.

"Apa?"


So Yoon di depan rak potasium sianida, ia siap mengambilnya. Seung Won datang dan menghentikannya.

"Seung Won-ah~"

"Hei, kau ingat namaku."


Hong Joo melanjutkan, lalu Seung Won menyalahkan Hyung-nya atas pembunuhan itu.

"kau Hyung-nya, bukan?"


So Yoon takut, Seung Won mengikutinya?

"Ya, ayo pergi bersama. Aku akan mengantarmu pulang."


Kita diperlihatkan peesemayaman abu mendiang Nam Nam Chul Du, ayah Nam Hong Joo. Seiring berjalannya waktu, kotak itu dipenuhi foto Hong Joo ketika remaja sampai ia dewasa. Juga ada bola baseball itu.

***


Dari awal aku udah heran kenapa nama adik Jae Chan tidak disebutkan diawal, padahal dia peran yang penting, bahkan sampai episode 3 pun masih belum disebut. Ternyata...

5 komentar

aq rasa.. perwira polisi yg meninggal krn d tembak tentara itu.. ayah nya Jae Chan deehh.. mk nya mereka ktmu d tmpt pemakaman yg sma...

Bola basbol yg dpjang k shoot kok bak td d eps 3,, ad gmbrnya bak diana... Bdtuggu yg hospital ship jg... Maksih...

Butuh konsentrasi nonton drama ini, dg alur yg maju mundur. syukurlah ada sinopsis yg membantu.. Tetap smgat melanjutkan sinopnya.

Semangat kak diana.. bikin penasaran setiap episodenya..
ditunggu next episode nya kak..

Jadi jae chan juga bisa ngeliat masa depan..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon