Sunday, October 15, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 21


Sinopsis Hospital Ship Episode 21

Sumber Gambar: MBC


Ayah Eun Jae ingin bertemu Hyun karena ingin meminta bantuan Hyun tanpa sepengetahuan Eun Jae. Dan karena Hyun sudah menyelamatkan hidupnya, bisakah Hyun membantunya sedikit lagi?

"Apa maksud Anda?" Tanya Hyun.

Eun Jae akan ke ruangan ayahnya. Perawat yang berjaga di depan mengatakan kalau kondisi ayah Eun Jae sudah jauh lebih baik. Eun Jae mengangguk berterimakasih.

Namun Eun Jae tidak masuk karena mendnegar ayahnya bicara dengan Hyun. Eun Jae mendengarkannya di luar.


Ayah menjelaskan kalau ia mendaftar program asuransi kanker sebulan lalu. Jika ia didiagnosis mengidap kanker dalam waktu 90 hari setelah mendaftar, ia akan dibayar 15.000 dolar.

"Aku punya 10 rencana. Sebelum 90 hari, jangan sampai ada catatan soal diagnosis itu."

"Aku tidak mengerti maksud Anda."

"Fakta bahwa hari ini aku didiagnosis mengidap kanker harus dihapuskan.

"Jadi.. Anda memintaku..."


Eun Jae masuk saat itu dan ia menjawab Hyun, mengatakan kalau ayahnya menyuruh Hyun merekayasa rekam medisnya. Ayah menyuruh Eun Jae keluar tapi Eun Jae menyuruh Hyun keluar dan jangan dengarkan omong kosong Ayahnya.

"Ayah hanya memutar otak. Ah.. Kapan kau akan dewasa?"

"Apa?"

"Umurmu sudah lebih dari 30 tahun. kau harus lebih fleksibel. Bukan begitu, Dokter? Permintaanku berlebihan? Aku hanya memintamu menghapus rekam medisku diam-diam. Siapa yang akan rugi? Tidak ada. Tapi aku bisa mendapatkan 15.000 dolar--"

"Cukup! Bukankah sudah cukup menipu orang-orang? Ayah menjadikanku dan semua yang kita miliki sebagai jaminan. Kini Ayah ingin menipu perusahaan asuransi dengan hidup Ayah?"

"Woo Jae! Ayah menginvestasikan semua uang kuliahnya demi peluang ini. Jangan merusaknya. Diam saja!"

"Tidak akan."

"Ini kesempatan terakhir ayah."

"Mungkin tidak ada kesempatan lagi."

"Ayah tidak peduli!"

"Tidakkah Ayah mengerti maksudku?"

Ayah hanya menghela nafas, Eun Jae bertanya lagi, apa Ayah tahu?

"Ayah tahu. Tapi tetap saja.. Ayah tidak peduli."

Eun Jae menahan tangisnya.


Di luar, ternyata ada Woo Jae, ia shock mendengarnya.


Saat Eun Jae keluar, Woo Jae memintanya menjelaskan apa maksud ayahnya tadi? Namun EUn Jae tak menjawabnya, malah pergi. Hyun menahan Woo Jae, ia lalu mengikuti Eun Jae.


Woo Jae masuk ke kamar ayah, marah, apa ayah sudah gila? Ayah tidak menanggapi Woo Jae malah menyuruh Woo Jae duduk disampingnya.

"Ayah gila?!" Teriak Woo Jae sambil menangis.

"Berhentilah menangis dan duduklah. Kau akan menjadi kepala keluarga begitu ayah pergi. Mana bisa kau menjaga Noonamu jika lemah begitu?"


Eun Jae terus berjalan dan Hyun masih mengikutinya. Pikiran Eun Jae gak karuan, sampai ia tidak bisa membuka pintu. Hyun tanpa mengatakan apapun membantunya membuka pintu itu. Dan Eun Jae tanpa mengatakan apapun melewati pintu.


AKhirnya Eun Jae berhenti, nafasnya berat sekali, ia ngos-ngosan. Ia akan mencoba menjelaskan pada Hyun kalau ia--.

Tapi Hyun memotongnya, "Hentikan. Jangan memaksakan diri. Keluarkan kemarahanmu. Berteriaklah jika ingin. Jika ingin menangis, menangislah sepuasnya."


Eun Jae langsung berbalik menatap Hyun, kenapa? Kenapa ia harus melakukannya? Untuk apa? Kenapa ia harus menunjukkan keadaan terburuknya kepada Hyun?

"Karena kau manusia. Karena kau.. manusia, bukan mesin."


EUn Jae balik membelakangi Hyun lagi. Hyun maju beberapa langkah, ia memegang kedua lengan Eun Jae.

"Berbagilah denganku. Tidak setiap saat juga, hanya saat kau kesulitan seperti ini."

Eun Jae mengeluarkan airmatanya, tapi ia menolak tawaran Hyun dan dengan tegas ia mengatakan kalau ia tidak membutuhkan Hyun, jadi Hyun jangan berurusan dengan keluarganya lagi mulai sekarang.

"Walau adikku menghubungimu, ayahku sekarat, atau aku sekarat, jangan pernah.. ikut campur."

Dan Eun Jae pergi, Hyun mematung disana.


Eun Jae berhenti dibalik tembok yang sepi dan gelap, disana ia menghapus airmatanya sebelum melanjutkan jalan.


Ayah meminta Woo Jae untuk membujuk Hyun sekuat tenaga agar mau menghapus rekam medisnya. Woo Jae mengingatkan, konsekuensinya Ayah bisa bisa meninggal.

"Setelah operasi pun, mungkin ayah akan mati. Ayah sudah menanyai banyak orang. Walau menjalani operasi, peluang hidup ayah kurang dari 20 persen. Delapan dari 10 orang meninggal. Tidak ada yang bisa menjamin ayah bukan satu dari delapan orang yang meninggal."

"Ada Noona. Dia akan berbuat sesuatu."

"Noonamu.. sudah membantu lebih dari cukup. Karena ayah.. dia bersusah payah membereskan kekacauan yang ayah buat. Sudah bertahun-tahun."

"Ayah, dia hampir melunasi semua utang di bank."

"Ayah juga meminjam dari lintah darat."

"Apa?"

"Ayah ingin bangkit kembali, melunasi utang, dan membayar Noonamu beberapa kali lipat. Ayah sangat sial. Utang ayah menggunung. Dengar ayah baik-baik, Woo Jae-ya. Ayah tidak berguna dan pecundang, tapi ayah tetaplah ayahmu. Mungkin ayah tidak mampu meninggalkan warisan untukmu, tapi ayah tidak mau membebanimu dengan utang. Biarkan ayah melakukannya. Ya? Woo Jae-ya."


Woo Jae ke UGD dan disana ia melihat Noonanya bekerja dengan sangat keras, berlari kesana kemari untuk menangani pasien.


Sementara itu, Hyun main basket sendirian. Tapi pikirannya tidak fokus pada permainannya, ia hanya mencari pelampiasan.


Young Eun akhirnya menghubunginya. Hyun langsung mengangkatnya dan dengan cemas menanyakan dimana Young Eun saat ini. Young Eun menjawab ia kembali

"Kusewa studio di sekitar sini. Aku akan tinggal di sini sementara."

"Bagaimana dengan kemoterapi?"

"Tidak mau. Aku tidak mau melakukannya."

"Kau ini kenapa?"

"Aku akan terlihat buruk dan rambutku akan rontok."

"Young Eun-ah."

"Aku tidak akan sembuh. Itu hanya untuk mengulur waktu."

"Jika mengulur waktu, kau bisa menemukan donor."

"Itu tidak pasti. Aku tidak mau bergantung pada harapan palsu dan hidup menyedihkan. Lagi pula, aku tidak punya banyak impian."

Young Eun tiba-tiba menutup telfon tanpa memberitahu. Hyun menelfon balik tai ponselYoung Eun sudah tidak aktif.


Young Eun sedang melukis, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Ia membukanya dan yang datang ternyata Hyun. Young Eun terkejut melihat Hyun ada disana, kenapa?

"Ayo bicara. Pakai mantel. Di luar cukup dingin."


Young Eun memulai pembicaraan. Ia cukup menyedihkan. Hyun bergegas datang kemari dari jauh, padahal ia tahu Hyun tidak merindukan atau menyukainya. Tapi ia tetap merasa senang walau mengetahui semua itu. Kedatangan Hyun cukup membuatku bahagia.

"Jalanilah pengobatan." Kata Hyun.

"Aku tidak mau."

"Kenapa kau sangat keras kepala?"

"Itu sia-sia."

"kau tidak memikirkan orang yang akan sedih jika kehilanganmu?!"


Young Eun kemudian bertanya, apa Hyun sedih jika ia meninggal? Jika Hyun tetap bersamanya tanpa mencintai orang lain.. Jika Hyun berjanji untuk berada di sisinya, ia akan menjalani pengobatan. Hyun tidak mau?

Hyun menghela nafas.


Sampai di asrama, Hyun langsung membaringkan tubuhnya, ia berpikir.


Woo Jae menunggu Eun Jae sampai selesai karena ia tahu Eun Jae belum makan. Ia mengajak Eun Jae makan bersama, ia yang akan traktir.


Jadi mereka makan di toserba terdekat. Eun Jae menyiapkan ramyeon untuknya juga untuk Woo Jae. Woo Jae menghela nafas, lalu ia mengajak Eun Jae untuk merekayasa rekam medis AYah, setelah itu keluarkan Ayah dari rumah sakit. Biarkan Ayah berbuat sesukanya. Toh mereka baik-baik saja tanpanya sejauh ini.

"Sebenarnya, ini sama saja dia sudah tiada."

"Woo Jae-ya!"


Woo Jae menjelaskan kalau ayah hanya ingin melindungi Eun Jae.Jadi biarkan dia berperan sebagai ayah untuk kali terakhir. Dia ingin melunasi utangnya dan tidak ada yang bisa dia berikan sebagai warisan. Dia tidak mau membebani Eun Jae dengan utang.


Eun Jae memalingkanwajahnya. Woo Jae juga akan makan, tapi ia tidak sanggup menahan tangisnya, ia terisak.

"Maaf, Noona. Aku tahu apa yang Noona pikirkan tentangnya. Aku kasihan kepadanya. Aku sangat kasihan kepadanya. Maafkan aku, Noona."


Eun Jae kembali ke ruangannya dan disana ia mendapat telfon dari seniornya.

"Aku sudah meninjau ulang diagnosis yang kau kirimkan. Ini tidak akan mudah." Kata Senior.

"Tapi masih bisa diselamatkan dengan operasi, bukan?"

"Memang benar ada peluang selamat. Namun, operasinya tidak bisa dilakukan oleh sebarang dokter. Operasinya mustahil, kecuali dilakukan tiga dokter terbaik yang berspesialisasi dalam sistem empedu. Ada Kim Young Gyu dan Lee Seung Yoon. kau tahu siapa dokter ketiga?"

"Ya, aku tahu."

"Seandainya operasinya lebih mudah, aku mau melakukannya. Maafkan aku, Eun Jae. Padahal ayahku selamat karena kau. Maaf karena aku tidak dapat membantumu."

"Tidak, Anda sudah sangat membantu."

"Baiklah, terima kasih telah berkata begitu."


Direktur Kim pagi-pagi sudah datang, ia melihat rekam medis. Dokter Jang menyapanya, kenapa Direktur Kim datang pagi-pagi sekali?

"Ayahmu berada di UGD. kau akan senang jika direkturnya masih tidur?"

"Aigoo.. Kenapa Anda mengungkitnya?"

"Bagaimana keadaan Dokter Song?"

"Aku menyuruh dia menemani ayahnya, tapi dia tidak mau menurut. Dia sudah bekerja dan berjaga semalaman."

"Pantaskah kau disebut atasannya? Tidak bisakah kau memimpin dengan lebih baik?!"


Direktur Kim langsung berdiri dan berjalan keluar. Kebetulan di depan lift, ia bertemu dengan Eun Jae. Direktur Kim bertanya bagaimana kondisi ayah EUn Jae, ia baru akan menjenguknya.

"Ada yang ingin kusampaikan." Kata Eun Jae.

"Sekarang?"

"Ya."

"Baiklah."


Eun Jae meminta Direktur Kim membuka ruang operasi, ia yang akan menjalankan operasi. Direktur Kim tak mengerti, dalam sejarah tidak ada dokter yang mengoperasi keluarganya sendiri.

"Setahuku, itu tidak ilegal."

"Operasinya berisiko. Itu operasi pengangkatan kanker saluran empedu. Bukankah kau paham sesulit apa operasi ini?"

"Aku paham."

"Lalu kenapa kau menawarkan diri untuk melakukannya? Jangan membantah. Cari dokter lain saja."

"Aku memutuskan setelah riset menyeluruh. Kankernya parah dan lokasinya sulit dijangkau. Bagaimanapun pengalaman dokternya, tingkat kesuksesan operasinya kurang dari 30 persen."

"Benar, dan kau masih mau menjalankan operasinya sendiri?"

"Ya."

"Apa alasannya? Aku ingin tahu."

"Tidak ada dokter yang mau melakukannya. Kecuali dilakukan oleh satu dari tiga dokter terbaik, operasinya tidak akan berhasil."

"Sungguh angkuh. Maksudmu, kau dokter terbaik?"

"Tiga dokter terbaik tidak bisa menjalankan operasinya. Karena itulah aku akan melakukannya. Aku harus.. menyelamatkan ayahku."


Direktur Kim menghela nafas, bertanya siapa saja tiga dokter terbaik itu? Eun Jae sempat terkejut sebelum ia menjawab.

Eun Jae: Dokter Kim Young Gyu dari Rumah Sakit Sewoon sedang berlibur ke luar negeri. Dokter Lee Seung Yoon dari Rumah Sakit Gyeongsang didiagnosis mengidap kanker hati. Dia dirawat di rumah sakit. Lalu...

Direktur Kim: Kenapa kau berhenti bicara? Siapa dokter yang terakhir? Siapa?

Eun Jae: Profesor Kim Do Hoon dari Rumah Sakit Daehan Seoul.

Direktur Kim: Lalu?

Eun Jae: Dia tidak akan mau menjalankan operasinya.

Direktur Kim: Dari mana kau tahu?

Eun Jae: Kurasa Anda sudah mengetahui alasannya.

Direktur Kim: Apa maksudmu? Mintalah kepadanya.

Eun Jae: Direktur!

Direktur Kim: Temui dia sekarang juga. Berlututlah di hadapannya jika perlu. Berlutut dan minta dia menyelamatkan hidup ayahmu.

Eun Jae: Aku tidak bisa.

Direktur Kim: Kenapa? Karena harga diri? Harga dirimu lebih penting dari hidup ayahmu?

Eun Jae tidak menjawabnya, ia memilih pamit.


Di luar Eun Jae ragu, antara menelfon atau tidak, antara hidup ayahnya atau harga dirinya.


Di Rumah Sakit Daehan Seoul, Kepala Kim dan yang lain sibuk bangets sepeninggal Eun Jae. Apalagi saat ini ada donor, lalu kepala Kim menugaskan bawahannya untuk segera bersiap.


Saat semuanya bergerak, Direktur Kim menghubungi Kepala Kim. Kepala Kim menyebut nama Eun Jae dan Dokter Kim serta seorang erawat mendengarnya. Mereka heran, apa yang terjadi?

Tapi mereka tidak bisa mendengarkan lagi karena tugas harus dijalankan.


Direktur Kim akan mengirimkan hasil tes ayah Eun Jae tapi Kepala Kim melarangnya.

"Tampaknya dia tidak cemas. Kenapa kau melakukan ini untuknya?" Heran Kepala Kim.

"Tentu saja dia cemas."

"Jika cemas, seharusnya dia menghubungiku lebih dahulu."

"Dia ingin, tapi tidak bisa."

"Kenapa?"

"kau tahu alasannya. Yang kutahu, Eun Jae bilang hanya kau dokter yang bisa menjalankan operasi rumit itu di Korea."

"Benarkah dia mengatakan itu?"

"Ya. Dan setelah mengetahuinya kau masih enggan melihat hasil tesnya?"


Hyun menjemput Young Eun ke studionya. Young Eun bertanya, apa maksudnya?

"Aku sudah bicara dengan Dokter Ko. Akan kuatur jadwal operasimu setelah liburan."

"Apa maksudmu? Artinya kau akan fokus merawatku?"

"Tidak ada..orang lain."

"kau akan.. berada di sisiku?"

Hyun mengagguk, tapi ada syarat, ia tidak bisa menjdai pria Young Eun, hanya sebatas dokter saja. Young EUn tidak masalah apapun statusnya selama Hyun ada di sisinya.


Won Gong, Perawat Pyo dan Jae Geol pergi ke suatu tempat. Won Gong heran, kenapa ramai sekali padahal bukan akhir pekan?

"Pikiranmu pasti teralihkan akhir-akhir ini. Mungkin kau sedang jatuh cinta." Kata Peratwa Pyoi yang dibantah WOn Gong.

"Lalu kenapa kau tidak tahu ini hari apa? Ini Chuseok." Kata Perawat Pyo lagi.


Mereka melihat Kapten Bang dan ternyata disana itu tempat memeriksa mobil. Kapten Bang juga memeriksakan mobilnya dan ternyata ada yang tidak beres, sekalian saja Kapten Bang membetulkannya.


Di RS kapal, Ah Rim terus menghela nafas. Perawat Pyo bertanya, kenapa Ah Rim kesal padahal masih pagi?

"Kurasa Seniman Choi dan Hyun Saem berpacaran lagi." Kata Ah Rim.

"Apa? Kenapa?"

"Entahlah. Tadi kulihat mereka di tempat parkir dan mereka seperti dua sejoli."

"Benarkah?"

"Ya!"

Perawat Pyo menghela nafas.


Eun Jae masih saja mempelajari kasus ayahnya. Ia pusing. Tiba-tiba perawat Pyo masuk dan ia cepat-cepat mematikan layar komputernya.


Perawat Pyo bertanya, apa Eun Jae sakit? EUn Jae menjawab tidak. Perawat Pyo bertanya lagi, apa ada yang mengusik pikiran Eun Jae? Eun Jae menjawab kepalnya pusing.

"Kurasa aku akan beristirahat selama sejam." Pinta Eun Jae.

"Dua jam saja. Tidak akan ada pasien sampai dua jam lagi." Kata Perawat Pyo.


Eun Jae lalu pergi ke ruang istirahat, disana ia membaringkan tubuhnya.


Semua makan ramyeon bersama, sementara Young Eun mulai menggambar lagi. Kapten Bang menawari untuk makan bersama tapi Young Eun menolaknya.


Lalu teman Young Eun menelfon, Young Eun sudah gila ya!! Harus sampai sejauh mana baru Young Eun mau berhenti?!

Young Eun takut ada yang mendengar jadi ia memutus telfon dan bilang akan menelfon di tempat sepi. Ah Rim curiga sepertinya.


Young Eun diam-diam masuk ke ruang istirahat. Teman Young Eun, Jeong Rim mengatakan kalau Hyun menelfonnya lagi.

"Apa? Dia menghubungimu lagi?"

"Kapan kau akan berhenti membohonginya? Jadi Hyun belum tahu?"

"Belum. Aku tidak bisa membohonginya terus. Tapi aku hanya perlu membuatnya menyukaiku dahulu. Harus kupastikan dia tidak akan lari dariku sebelum dia tahu aku tidak mengidap leukemia."

Usai menelfon, Young Eun keluar dari sana tanpa tahu kalau Eun Jae berbaring dibalik tirai itu, kira-kira Eun Jae dengar gak ya?

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon