Sunday, October 15, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 24


Sinopsis Hospital Ship Episode 24

Sumber Gambar: MBC


Kepala Kim menyuruh Eun Jae keluar dan memerintahkan Dokter Kim masuk.

"Profesor~"

"kau tidak dengar? Kenapa wali pasien berada di dekat ruang operasi? Song Eun Jae. kau tidak dengaraku menyuruhmu keluar? Kurasa dokter bodoh ini tidak tahu lokasi ruang tunggu. Direktur, bisa tunjukkan jalannya?"

"Ya. Tentu saja."


Lalu Direktur Kim mengajak Eun Jae keluar  bersamanya. Eun Jae mengucapkan terimakasih dan memohon agar Kepala Kim menangai ayahnya dengan baik. Eun Jae pun keluar diikuti yang lain.


Operasi dimulai dibawah pimpinan Kepala Kim.

"Kita akan memulai operasi reseksi Song Jae Joon. Lemaskan otot bahu dan leher kalian. Ini pembedahan yang kita lakukan setiap hari. Jangan resah karena ini ayah Dokter Song."


Woo Jae cemas menunggu di luar operasi, tapi lebih cemas lagi saat melihat Eun Jae berjalan keluar. Apa terjadi sesuatu dengan ayah?

"Tidak. Operasinya dilaksanakan sesuai rencana."

"Tapi kenapa Noona di sini?"

"Ceritanya panjang."

Lalu EUn Jae duduk disana.


Hyun mengajak ayahnya mengadakan peringatan kematian nenek dan kakeknya. Tapi ayahnya terus makan bahkan saat upacara belum dimulai. Hyun pun melarang ayahnya makan, tapi ayahnya tidak mau karena ia lapar, tidak ada yang memberinya makan.

Hyun menghela nafas, ayahnya kembali kehilangan ingatannya.


Hyun kemudian bercerita kalau ayah Eun Jae sedang menjalani operasi sekarang ini, tapi ayahnya tidak merespon. 

Hyun melanjutkan, "Seandainya tidak sakit, Ayah pasti setuju menjalankan operasinya. Maka Dokter Song tidak akan secemas itu. Bukankah begitu?"

Ayahnya kembali tidak merespon, hanya sibuk makan dari tadi.


Keluarga Jae Geol juga melakukan upacara peringatan hari kematian Kakak Jae Geol, Kim Jae Min.

Ibu menyuruh Jae Geom mendekat untuk memberikan bunga yang Jae Geol bawa, juga sapalah Jae Min karena Jae Geolsama sekali belum pernah kesana setelah Jae Min meninggal.

Ayah juga menyuruhnya kesana, ia yakin Jae Min sangat merindukan Jae Geol.


Maka Jae Geol mementapkan kakinya untuk maju, ia masih sangat sedih. Akhirnya ia tak mampu memberikannya, ia pergi. Ibu akan mengejarnya tapi ayah menahan.


Ayah mendekati Jae Geol yang menyendiri. Jae Geol membenarkan perkataan ayahnya selama ini, ia yang membunuh Jae Min, ia membunuhnya.

"Tidak." Bantah Ayah.

"Andaikan aku tidak menghubunginya. Andaikan aku tidak memintanya menjemputku di bandara saat hujan itu. Andaikan aku tidak bertamasya ke tempat seperti India hanya untuk memamerkannya."

"Siapa yang membuatmu ingin meninggalkan rumah dan Korea? Siapa yang membandingkanmu dengan Jae Min dan membuatmu minder?"


Ayah melanjutkan, lalu ia melampiaskan kemarahan kepada Jae Geol. Itu juga salah. Ayah marah karena kehilangan Jae Min secara tiba-tiba begitu membuat ayah murka. Ayah tidak tahan, jadi harus melampiaskan kemarahannya agar bisa bertahan.

"Tapi.. Seharusnya ayah tidak memperlakukanmu seperti itu. Ayah telah salah melakukan itu kepada putra sendiri."

"Tidak. Itu sudah sepantasnya. Jae Min meninggal karena aku. Jadi, Ayah..."


Ayah membentak Jae Geol untuk berhenti. "Dokter Kim. Berikan opinimu sebagai dokter. Apa penyebab kematian Kim Jae Min?"

"Ayah!"

"Hyungmu. Jangan berbicara dengan ayah sebagai adiknya. Sebagai dokter terakhir yang mendiagnosis pasien sekarat, berikan opinimu. Apa penyebab kematiannya?"

"Akibat kecelakaan lalu lintas, beberapa tulangnya patah dan dia mengalami pendarahan otak karena luka luar." Jawab Jae Geolsetelah beberapa detik.

Ayah membenarkan, ia sependapat dengan kata Jae Geol itu jadi, mulai sekarang, jangan lupa. Jae Min meninggal bukan karenanya!


Jae Geol menangis dan ayahnya memegang pundaknya lalu meninggalkanya sendiri. Jae Geol melegakan hatinya saat ini berkat ayahnya.


Won Gong buru-buru ke rumahsakit, disana ia bertemu Perawat Pyo. Perawat Pyo mengatakan kalau operasi ayah Eun Jae baru saja di mulai, jadi perjalanan 12 jam yang melelahkan baruu saja dimulai.

"12 jam?" Won Gong terkejut.

"Tergantung kondisi pasien."

Namun, Perawat Pyo heran, kenapa Won Gong ada disana, bukannya Won Gong mau menemui anaka-anak? Won Gong hanya menghembuskan nafas berat.

Kilas Balik..


Won Gong datang ke rumah mantan istrinya untuk menemui anak-anaknya karena ini hari Chuseok. Namun sang mantan istri mengatakan kalau anak-anak mereka tidak ada di rumah, mereka di perpustakaan, belajar untuk UTS.

"Tidak bisakah kau membiarkan mereka beristirahat saat liburan? Pelajar harus beristirahat agar--"

"Bagaimana jika mereka istirahat? Kita bercerai dan tidak mampu membiayai kursus privat atau bimbingan belajar untuk mereka. Akan menjadi apa mereka jika tidak belajar?"

"Sayang."

"Jangan panggil aku begitu. Kita menandatangani surat cerai tujuh tahun silam. Bukan hanya kering, tintanya pun sudah memudar. Jika kau ingin berkunjung sesekali dan berlagak menjadi ayah yang perhatian tanpa punya hal lain, lebih baik tidak usah datang."

"Aku hanya--"

"Saat mereka dewasa, anak-anak akan mencarimu walau kularang. Jadi, jangan membingungkan mereka dengan kemari."

Won Gong mengerti, ia lalu memberikan amplop uang untuk anak-anak. Mantan Istrinya menerimanya dengan kasar dan membanting pintu.

Kilas Balik selesai..


Perawat pyo menasehati, harusnya Won Gong tidak perlu bekerja sekeras itu. Harusnya tinggalkan rumah sakit kapal setelah 10 tahun.

"Aku pernah mempertimbangkannya, tapi saat waktunya tiba, aku tidak ingin pergi."

"Bukannya tidak ingin, tapi kau tidak bisa. Ada pasien yang harus kau rawat dan dokter muda untuk dididik. kau tidak sempat meninggalkannya. Kini kau membawakan kami seorang dokter bedah. Apa pun kata orang, kapal kita bisa sesukses ini berkat kau. Kapal kita bisa saja karam dahulu sekali."

"Tidak masuk akal."


Kemudian ponsel Won Gong bunyi. Perawat Pyo menyuruhnya memeriksa karena sudah bunyi sejak tadi. Won Gong memerikanya dan itu semua pesan dari staf RS kapal yang menanyakan ayah Eun Jae.

"Lihat? Itu yang mereka suka. Mereka pergi berlibur dan beranggapan kau berada di rumah sakit. Jika kau kecewa, coba lupakan dan cerialah. Pengikutmu banyak sekali."

Won Gong akhirnya bisa ketawa.


Direktur Kim baru bergabung dengan Dokter Jang setelah dari pemakaman, ia bertanya bagaimana operasinya. DOkter Jang mengatakan kalau operasinya berjalan lancar meskipun susah.


Sementara itu, Eun Jae dan Woo Jae masih menunggu di luar. Daritadi Eun Jae meondar mandir terus. Woo Jae bertanya, apa Eun Jae cemas? Eun Jae membantahnya.

"Duduklah. Ini baru enam jam. Noona bilang operasinya membutuhkan waktu 10 jam."

"Ada masalah? Tunggu di sini. Akan Noona periksa."

"Sudah kukatakan ini baru enam jam. Inikah yang Hyun cemaskan? Dia menyuruhku menjaga Noona. Katanya, ini bisa lebih buruk bagi Noona. Dia juga mengatakan ini. "Jika kau tidak dipanggil pada saat operasi, berarti operasinya lancar. Jadi, jangan cemas dan tunggulah.". kau tahu itu, bukan? Duduklah. Mari beristirahat."


Woo Jae kemudian memberikan minuman untuk Eun Jae, ia khusus memilihkan itu untuk Eun Jae.

"kau sudah dewasa."


Ada masalah saat operasi, pendarahan. Dokter Kim tampak panik. Kepala Kim membentaknya untuk fokus, apa Dokter Kim mau disalahkah jika pasien meninggal karena pendarahan?!

Mereka tidak bisa menemukan sumber pendarahannya, jadinya tekanan darah pasien terus menurun.


Sampai akhirnya dokter keluar dari ruang operasi, rayt wajah mereka terlihat tidak bersemangan. Woo jae bertanya, bagaimana hasilnya?

Dokter Moon menghela nafas, Eun Jae menundukkan kepalanya frustasi. Lalu Dokter mengatakan kalau operasinya berjalan sangat lancar.

"Kita harus menunggu untuk sekarang, tapi tumornya telah diangkat seluruhnya." Tambah dokter.

Woo Jae dan Eun Jae lega mendengarnya.


Lalu Woo Jae dan Eun Jae masuk ke ruangan pemulihan untuk menemui ayah mereka. Ayah sadar  dan bisa menggenggam tangan Woo Jae.

Eun Jae: Ayah hebat.

Woo Jae: Ayah berhasil.


Selanjutnya, Eun Jae menemui Kepala Kim di ruang operasi, ia membawakan kopi.

"Profesor masih minum kopi manis setelah operasi?"

"Tentu saja. Setelah itu, barulah semuanya selesai."

"Dua sendok teh kopi, gula, dan krim. Tambahan gula?"

"Kenapa tidak sekalian menguburku dengan gula?"

"Kopiku diberi gula tiga sendok teh."

"Apa?"


Kepala Kim mengenang saat-saat dulu, mereka duduk bersebelahan sambil meminum kopi manis setelah sekian banyak operasi.

"Kita juga bekerja berhadapan di banyak operasi." Tambah Eun Jae.

"Kita kompak saat bekerja sama."

"Karena Profesor adalah pemimpin yang hebat. Maafkan aku. Aku merusak hari libur Profesor dengan meminta bantuan Profesor."

"Tidak apa-apa. Sejak kapan kita punya hari libur?"

"Aku tahu apa yang ingin kau sampaikan. kau tidak perlu memaksakan diri."

"Profesor~ Terima kasih."


"Aku yang harus berterima kasih. kau membuat keputusan yang lebih sulit. Terima kasih. Telah memercayaiku sebagai dokter bedahnya. Terima kasih. Maafkan aku. Ketika dokter bedah membuat kesalahan di ruang operasi.. sejujurnya, walau pasien dan keluarga enggan menerimanya, kesalahan dan kecelakaan bisa terjadi saat operasi. Bagaimanapun, dokter adalah manusia. Aku mendesak dokter bimbinganku untuk menutupi kesalahanku dan menyembunyikan kebenarannya. Itu salah. Entah kenapa aku melakukan itu.

Mungkin aku takut. Aku hanya bisa memikirkan kerugianku. Kecaman dan serangan. Reputasiku yang hancur. Jabatan dan gelarku bisa dicabut. Inilah yang menarik. Baik orang lain mengakuiku atau tidak, aku berlagak bisa menyaingi dewa dengan bersenjatakan pisau bedah dan berjuang semalaman di sebuah ruangan untuk menolong pasien. Lalu aku menikmati secangkir kopi manis dan murah. Kukira ini sudah lebih dari cukup untuk memotivasiku.

Terima kasih atas kopinya. Sudah lama aku tidak minum kopi seenak ini. Semoga aku bisa lebih sering menikmati ini ke depannya."


Kepala Kim juga menyuruh Eun Jae kembali, ia tahu Eun Jae sudah banyak menderita sejak ia memecatnya. Jadi ia rasa Eun Jae harus kembali.

"Jang Sung Ho Bujang ingin kau kembali. Direktur rumah sakit pun merasa tertekan. kau bisa menjadi asisten profesor dengan mudah. Jadi--"

"Tidak. Aku ingin tetap bekerja di Rumah Sakit Kapal."

"kau mau tetap di sana? Kenapa?"

"Mungkin sama seperti Anda, aku ingin menyaingi dewa dengan bersenjatakan pisau bedah. Hanya aku dokter bedah di kapal. Aku mendapat banyak kesempatan."

"Apa?"

"Selain itu..."

"Apa? Ada lagi?"

Eun Jae menangguk malu.


Won Gong dan Perawat Pyo membongkar bekal mereka didepan Woo Jae. Woo Jae terkejut, apa semua itu? Perawat Pyo menyuruh Woo Jae mencicipinya, semua makanan itu dimasak oleh Won Gong.

Won Gong: Operasinya lancar. Kita harus merayakan Chuseok.

Perawat Pyo: Tentu saja.

Woo Jae: Terima kasih.


Yang lain juga datang, sama-sama membawa makanan. Pesta! Pesta!


Sementara itu, Eun Jae mengawasi kekeluargaan itu dari pintu, ia tersenyum lebar, manis sekali.


Ayah sudah diijinkan pulang, Woo Jae dan Eun Jae membawanya ke rumah persemayaman abu Ibu.

"Apa itu? Apa yang ada di samping foto ibu kalian?" Tanya ayah.

"Itu foto keluarga kita. Aku menaruhnya di sana untuk Ibu." Jawab Woo Jae.

"Kapan fotonya diambil?" Tanya ayah.

"Di taman hiburan, 100 hari setelah Woo Jae lahir." Jawab Eun Jae.

"Bagaimana kau bisa ingat?"

"Itu kali pertama kita pergi ke taman hiburan. Itu juga foto keluarga pertama kita. Kurasa itu foto pertama sekaligus terakhir."


Woo Jae membantahnya, itu bukan foto terakhir, mereka  akan berfoto setiap hari. Woo Jae lalu meminta ayahnya berputar, ayahnya juga.


Woo Jae menati seseorang. Lalu Hyun datang, ia minta maaf karena terlambat, ia harus mengambil kamera di Seoul.

"Kenapa kau jauh-jauh ke Seoul? Kamera apa pun tidak masalah." Kata Woo Jae.

"Tidak. Sudah lama kalian tidak mengambil foto keluarga."


Lalu Hyun menyuruh mereka berpose, ia akan memotret. Tapi Eun Jae malah tegang banget.

"Bisakah kau senyum? kau hendak bertempur? Suram sekali wajahmu." Pinta Hyun.

"Ayolah, Noona. Tersenyumlah." Kata Woo Jae.


Eun Jae pun akhirnya tersenyum. Hyun menghitung 1, 2, 3 cekrik!

1 komentar so far

Bak diana kejar tayang y...😅ud nyampe eps 28 tp blm sd yg ngpost.
Slma tmpilan yg berubh kmrin emg g ad updtan bru lg, skrg smpe lembur jam 2 dini hari ini ngpostnya... Mkasih y bak diana,, dtggu tak pantengin terus blognya.😊😂

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon