Thursday, October 26, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 34


Sinopsis Hospital Ship Episode 34

Sumber Gambar: MBC


Eun Jae tidak memberitahu Detektif kalau Hyun yang melakukan penyedotan. Ia bilang ia dokter yang melakukan penyedotan.

"Benarkah? Lalu kenapa Anda ragu, alih-alih menjelaskannya?!"


Eun Jae keluar dari kantor polisi tapi mungkin akan memanggil Anda lagi jik diperlukan selama investigasi. Selain masalah selama penyedotan, mengoperasi tanpa persetujuan orang tuanya adalah tindakan kriminal.

Eun Jae mengingat saat ia menjelaskan resikonya pada Ibu pasien dan Ibu pasien setuju ia melakukan operasi.

"Aku sudah menjelaskannya. Aku menguraikan semua risiko tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi informasinya. Sudah jelas aku mendapat persetujuannya. Lantas kenapa?"




Eun Jae ke rumah sakit untuk menemui Ibu Hwang tapi mereka menghandari Eun Jae. Eun Jae langsung berdiri di depan mereka agar mereka gak bisa jalan lagi.


Ibu Hwang berkata tidak ada yang ingin mereka katakan. Eun Jae bertanya bagaimana keadaan Ibu Hwang, ia prihatin bayi Hwang dalam kondisi kritis. Tapi para ahli pediatri dan ia akan mengusahakan yang terbaik demi kesembuhan Bayi Hwang.

"Sudah kubilang kami enggan bicara."

"Aku hanya perlu.. memastikan beberapa hal."

"Tidak. Jangan."

"Ini tidak akan lama."

Eun Jae selanjutnya bertanya pada Ibu pasien, bukankah ia sudah meminta persetujuan sebelum operasi? Sudah kubilang ia ini dokter bedah, bukan spesialis kandugan, tidak ingat?

"Entahlah. Aku tidak ingat pernah mendengarnya."

"Ibu wali."

"Hentikan. Berhentilah mendesak ibuku. Tidak ada yang ingin kami bicarakan. Selain itu, pengacara kami melarang kami bicara dengan Dokter."

Eun Jae terkejut mendengar Pengacara disebut-sebut. Mereka.. menyewa pengacara?


Eun Jae disapa oleh pengacara yang dimaksud Ibu Hwang. Nama Pengacara itu adalah Jo Seong Min.

"Dokter menemui Bu Hwang In Kyung, ya?" Tanya Pengacara Jo setelah memberikan kartu namanya pada Eun Jae.

"Lantas?"

"Tolong jangan mengganggu klienku lagi. Hubungi aku jika Anda perlu bicara dengannya. Aku kuasa hukumnya."

Eun Jae ketawa.


Sembari jalan, Eun Jae mengamati kartu nama Pengacara Jo.


Lalu Hyun menelfon, bertanya apa ia masih ada di kantor polisi. Eun Jae mengatakan semuanya sudah selesai dan saat ini ia ada di RS. 

"Rumah sakit? kau bekerja di UGD malam ini?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kau ke sana?"

"Aku perlu memastikan sesuatu."

"Tunggu aku. Aku segera ke sana."

"Baiklah."


Selanjutnya Eun Jae mencari Firma Hukum tempat Pengacara Jo bekerja dan ternyata itu Firma hukum terkemuka di Geoje. Eun Jae menemukan kalau Pengacara Jo itu spesialis hukum ketenagakerjaan. Heran tuh EUn Jae, lalu ngapain Pengacara Jo menangani gugatan medis?

Ia mencari lagi dan mendapati kalau Pengacara Jo terkait dengan Grup Doosung.


Tak berapa lama kemudian Hyun datang. Eun Jae berkata kalau ia lapar dan ia tahu dimana ia mau makan.

"kau memilih makanan sendiri?"

"Orang bisa berubah."


Staff RS Kapal melihat siaran yang direkam kemarin.

"Warga lanjut usia yang duduk di depan laptop mengukur tekanan darah dan kadar gula darah sendiri dengan sebuah perangkat. Dia mengirimkan hasil pemeriksaan kepada dokter yang dia mau dan dokter berkonsultasi dengannya lewat panggilan video."

Kemudian dokter memberi saran tentang apa yang harus dan yang tidak boleh dilakukan pasien. Sangat mudah (kelihatannya). Padahal sebelum syuting, nenek itu dibantu oleh staff.


Jae Geol berkomentar, bagus sekali suntingannya. Ia menjelaskan kalau Nenek Seo Soon Ae bahkan tidak bisa memakai pengendali jarak jauh, mana bisa dia memakai laptop?

"Tampaknya dia mengukur tekanan darah dan kadar gula darahnya sendiri. Jika mereka bisa melakukannya, kenapa Hyun begadang semalaman dan membantu mereka lewat telepon?" Lanjut Jae Geol.

Joon Young: Benar juga.

Ah Rim: Anggap saja karena keajaiban, warga lanjut usia bisa memakainya. Bisakah kita mendiagnosis pasien secara tepat dengan sistem itu?

Jae Geol: Tidak bisa.

Perawat: Kenapa mereka mendesak penggunaan layanan medis jarak jauh? Seluruh provinsi mencanangkannya.

Jae Geol: Pasti ada dalangnya.

Jung: Siapa misalnya?

Jae Geol: Orang yang ingin memanfaatkan bidang kesehatan demi uang.


Ketua Jang mengundang Direktur Kim makan malamberdua di kedai langganannya.


Direktur Kim menyampaikan ke kagumannya pada Ketua Jang yang tetap rendah hati meskipun menjadi pemimpin perusahaan terbesar di Korea.

"Pedagang sepertiku tidak berhak diberi hormat. Itu lebih pantas diterima dokter sepertimu. Tidak ada yang lebih dihormati daripada mengobati manusia."

"Terima kasih, Ketua."

"Selagi kita membahasnya... Kudengar ada insiden di rumah sakitmu."

"Insiden apa?"

"kau tahulah, Dokter Song Eun Jae, yang baru-baru ini kutemui. Ada tuduhan kriminal yang dilayangkan kepadanya."

"Masalah itu..."

"Aku juga mendengar dia mengoperasi pasien tanpa seizin wali pasien."

"Penjelasannya berbeda."

"Sudah pasti. Orang mati pun bisa mencari alasan dari kubur. Aku sangat tidak menyukai kekacauan. Ini terjadi kurang dari sepekan setelah kita menandatangani Nota Kesepahaman. Kini aku sangat ragu apakah aku harus berinvestasi di rumah sakitmu."

"Ketua."

"Aku tahu kau orang yang berhati-hati. Aku percaya kau akan membuat keputusan yang tepat."


Direktur Kim tampak berpikir setelah keluar dari kedai itu. Wajahnya tampak bingung banget.


Joon Young menemukan sesuatu di internet. Ia tidak mengerti maksudnya, lalu memberikannya pada Jae Geol.


Jae Geol membaca artikel itu yang intinya adalah Rumah Sakit Jeil menjadi pusat layanan medis jarak jauh. Joon Young menyimpulkan, berarti ayah Jae Geol juga memanfaatkan kesehatan demi mencari untung dong?


Saat itu juga, Jae Geol langsung mendatangi ayahnya. Jae Geol bertanya, apa ayahnya tidak sadar betapa berbahayanya Layanan medis jarak jauh itu?

"Kita akan mengurangi risikonya." Kata Direktur Kim.

"Caranya?"

"Ayah sudah meminta para kepala mencari solusi."

"Ayah."

"Ucapanmu tidak akan bisa mengubah keputusan Ayah. Keluarlah."

"Ini soal uang?"

"Ayah harus menyelamatkan UGD."

"Itu bisa mematikan rumah sakit kapal."

"Pasien bisa mati di jalan jika UGD ditutup! Jika kau.. harus memilih antara UGD kita dan rumah sakit kapal, mana yang kau pilih?"

"Ini bukan masalah pilihan."

"Ini masalah pilihan. Tidak ada yang bisa memuaskan kedua sisi di dunia ini. Kelak, kau harus membuat banyak keputusan kejam. Kini kau anggota dewan direksi."

"Ayah~"

"Berapa usiamu? Sudah 30-an. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Lihat dan pelajari. Inilah artinya menjadi dewasa."


Jae Geol punkembali tanpa bisa membujuk ayahnya.


Ternyata yang Eun Jae ingin makan adalah Ramyeon dan harus masakan Hyun. Hyun akan menambahkan air lagi tapi Eun Jae melarangnya, nanti rasanya hambar.

"Jangan memasaknya terlalu lama juga, nanti minya mekar."

"Kau lebih rewel daripada aku."

"Sepertinya lezat."


Setelah masak, Hyun tidak ikut makan, hanya ngelihatin EUn Jae saja yang makan dengan sangat lahap.

"Santai saja. kau amat lapar?"

"Aku.. sangat lapar hari itu."

"Kapan?"

"Hari pertamaku di rumah sakit kapal."


Eun Jae: Aku membaca data yang kau buat di rekam medis ibuku dan akhirnya aku tahu seberapa parah sakitnya. Saat aku duduk sendirian di sana, rasanya jantungku mau meledak. Itu membuatku gila. Aku merasa bersalah kepada ibuku.. dan merindukannya.


Hyun kemudian menggenggam tangan EunJae.

Eun Jae: Tahukah kau apa yang lucu? Saat itu, perutku bergemuruh keras sekali. Ibuku wafat begitu mendadak. Aku kehilangan pekerjaan di rumah sakit.

Hyun: Ruang operasinya kacau.

Eun Jae: Benar. Kebanyakan orang dalam situasi itu tidak akan memedulikan makanan. Tapi aku sangat lapar. Aku menemukan sebungkus ramen yang ditinggalkan seseorang.

Hyun: kau memasaknya?

Eun Jae: Tidak. Aku tidak bisa menemukan tombol untuk menyalakan kompor listriknya. Ramennya kumakan mentah-mentah. Dengan bumbunya.

Hyun: Menyedihkan sekali.

Eun Jae: Asing dan canggung. Aku merasa tidak diterima. Itu belum begitu lama, tapi hari itu, terasa sudah lama sekali.

Hyun: Kenapa? Karena kini kau betah di rumah sakit kapal? Juga memiliki pacar yang mau memasak untukmu kapan pun?

Eun Jae mengangguk.


Tapi Eun Jae merasa harus berhenti bekerja di rumah sakit kapal.

"Apa? Apa katamu?"

"Aku harus.. pergi dari kapal."

"Apa maksudmu?"

"Maafkan aku. Aku tidak menepati janjiku. Aku memberi tahu polisi bahwa akulah yang menyedot saluran napas bayi itu."

"Apa?"

"Itu cerita yang harus kau pakai nanti."

"Kenapa kau melakukannya?"

"Dengan begitu, kita bisa melindungi kapal."


Perawat Pyo melihat artikel tentang Eun Jae dan banyak komentar buruk tentangnya. Malppraktek itu dukaitkan dengan dipecatnya Eun Jae dari Rumah Sakir Seoul Daehan.

Perawat Pyo: Unsur negatif dari berita itu kini diarahkan ke kapal kita. Jika ini benar, maka rumah sakit kapal kita adalah tempat berbahaya tempat seorang dokter psikopat mengoperasi tanpa persetujuan wali.

Won Gong: Bukan hanya itu. Bagaimana jika dewan kota protes bahwa kita boros anggaran?

Kapten Bang: Kapan kita boros anggaran?

Won Gong: Kita mengoperasi pasien secara cuma-cuma. Itu hal pertama yang akan mereka katakan.

Perawat Pyo: Orang-orang sudah berkata begitu. "Maukah rumah sakit kapal mengangkat usus buntuku cuma-cuma?"

Won Gong: "Kalian memboroskan pajak. Berhenti mengobati orang secara cuma-cuma". Mereka berkata begitu?

Perawat Pyo: Kebanyakan berkata begitu.

Won Gong: Gubernur kita berbuat semaunya. Mungkin dia.. akan menutup rumah sakit kita.
 Itu salah.

Perawat Pyo: Kami semua juga tahu.

Kapten Bang: Kita harus menyusun rencana. Apa rencana kita? Ayo bicara.

Perawat Pyo: Ini kejam dikatakan, tapi saat ini, satu orang harus berkorban.

Kapten Bang: Satu orang? Siapa?

Won Gong: Maksudmu.. Dokter Song?

Perawat Pyo: Adakah.. cara lain? kau ingin melihat kapal kita dihancurkan?

Won Gong tidak bisa menjawabnya.


Eun Jae menjelaskan, Grup Doosung akan berusaha segenap tenaga untuk menutup rumah sakit kapal.

"Jangan sampai kita memberi mereka alasan untuk menutup rumah sakit. Untuk saat ini, pengunduran diriku dari tim adalah solusi terbaik. Mereka akan kehilangan pegangan setelah tidak memiliki alasan untuk menyerang."

"Dokter Song."

"Seseorang harus tinggal dan melindungi staf. Jika kau gagal, semua pasien yang kau rawat akan dipaksa memakai layanan jarak jauh. kau tahu betapa berbahayanya sistem itu. Bisakah kau menanganinya?"

"Beri aku waktu. Dua hari. Tidak, Satu hari saja. Aku butuh waktu berpikir. Mari putuskan nanti."

"Dokter Kwak."

"Kumohon."

Akhirnya Eun Jae pun mengangguk.


Hari berikutnya, Hyun kembali merawat pasien-pasiennya seperti biasa.


Ternyata Eun Jae menatap Hyun dari jendela.


Hyun menyendiri untuk berpikir.


Ia juga mengunjungi Bayi Hwang di rumah sakit.

"Halo. kau mengingatku? Ini berat, aku tahu. Aku melakukan sesuatu yang memperburuk keadaanmu? Kim Han Sol. Kini kau memiliki nama. Yang kuat, Han Sol. kau mungil, tapi berjuang bersama kami. kau bertahan hidup dan terus berjuang. Seperti itulah kau terlahir ke dunia ini. Berjuanglah. Sekali lagi saja. Tempat ini... Dunia kita terkadang sangat keras, tapi tetap saja, ini tempat yang layak ditinggali. Ada.. beberapa hal menakjubkan."


Eun Jae menunggu Hyun di luar, ia bertanya apa keputusan Hyun.

"Kita harus.. melindungi kapal."

Eun Jae mengangguk.


Hyun datang ke kantor polisi, ia menemui Detektif Kim.

"Aku Dokter Kwak Hyun dari rumah sakit kapal."

"Kenapa ingin bertemu denganku?"

"Hwang In Kyung. Beberapa fakta tentang operasi sesarnya harus diluruskan. Aku kemari.. untuk meluruskan faktanya."

2 komentar

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon