Saturday, October 28, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 36

Sinopsis Hospital Ship Episode 36

Sumber Gambar: MBC


Istri Wong dibawa ambulan ke rumah sakit.

Sementara di rumah sakit, Ibu Hwang melihat Eun Jae membawa barang-barangnya. Ibu Hwang bertanya pada Pengacara Jo, apa Eun Jae mau pergi? apa yang terjadi? Pengacara menjawab kalau Eun Jae dipecat.

"Apa itu salah kami?" Tanya Ibunya Ibu Hwang.

Ibu Hwang menegur Ibunya. Lalu pengacara bilang, mereka gak usah khawatir.


Eun Jae sampai di luar bertepatan dengan sampainya ambulan. Eun Jae terkejut melihat Won Gong, ia panik, apa ada yang sakit?

"Istriku. Aku tidak tahu ada apa." Kata Won Gong lalu ikut masuk.


Eun Jae pun masuk kembali, ia menitipkan barangnya di resepsionis, lalu ikut memeriksa istri Won Gong. Dokter Jang mengatakan kalau istri Won Gong sakit sakit kuning parah.

"Apa dia punya penyakit hati kronis?" Tnaya Eun Jae pada Won Gong.

"Tidak, dia tidak punya penyakit hati." Jawab Won Gong.


Istri Eun Jae mulai sadar, tapi ada yang aneh, ia berkata ia sedang berada di Seoul di tahun 1988.

"Kenapa dia melantur? Sayang." Panggil Won Gong.


Lalu Eun Jae meminta istri Won Gong merentangkan tangan dan ternyata dia gemetar hebat. Eun Jae pun menurunkannya kembali.


Eun Jae mengatakan pada Dokter Jang kalau itu Asteriksis. Gejala umum dari ensefalopati hepatik (Gejala gagal hati). Jika tidak ada penyakit kronis, mungkin saja insufisiensi hepatik.

"Karena dia muntah darah, panggil ahli gastroenterologi untuk mengobatinya dan..." Eun Jae mulai menginteruksikan tindakan.


Tapi Direktur Kim datang dan menghentikannya. Direktur Kim menyuruh Eun Jae keluar dan Dokter Myung masuk. Eun Jae mau protes tapi Direktur Kim malah memarahi Dokter Jang, jadinya Eun Jae pun keluar.


Dokter Myung menginteruksikan apa yang selanjutnya harus dikerjakan. Eun Jae kesal mendengarnya. Direktur Kim kembali ke ruangannya dan ia juga tampak kesal.


Won Gong bertanya pada Eun Jae, apa yang akan Eun Jae lakukan sekarang? Eun Jae melarang WOn Gong memikirkannya, soalnya sekarang kan istri WOn Gong sedang sakit parah.

"Menurutmu apa yang akan terjadi?" Tanya Won Gong.

"Kita harus menunggu hasil tesnya, tapi kurasa..."

"Katakan saja. Menurutmu apa yang akan terjadi?"

"Mari tunggu sampai hasil tesnya keluar. Lalu kita bicarakan lagi."


Eun Jae ada telfon, ia pun menjauh dari Won Gong untuk mengangkatnya dan ternyata itu telfon dari Perawat Pyo. Perawat Pyo menanyakan bagaimana keadaannya.

"Kami sedang menunggu hasil tes. Kurasa.. itu insufisiensi hepatik akut."

"Ya ampun."

"Anda tidak kemari?"

"Kapten dan aku.. harus mengurus sesuatu di sini. Jaga dirimu."



Kapten Bang lalu menanyakan apa yang Eun Jae katakan, apa Istri WOn Gong sakit parah? Perawat Pyo mengangguk. Kalau begitu Kapten Bang merasa mereka harus ke Rumah Sakit.

"Mari cengkeram kerah baju Gubernur jika diperlukan. Itu lebih membantu Pak Chu daripada bantuan morel apa pun." Kata Perawat Pyo.

"Besar sekali."

"Apa? Nyaliku?"

"Ya. Akan tampak memalukan jika kita hanya berdua. Perlukah kita memanggil semua dokter dan perawat, lalu meminta mereka bergabung?"

"Mereka semua sibuk."

"Benarkah? Sibuk apa?"


Para perawat mengikuti dokter yang akan ke pulau. Mereka senang dan pergi dengan riang.


Dokter Myung menjelaskan pada Won Gong kalau IStrinya menderita Insufisiensi hepatik akut (Gagal hati nonkronis). Won Gong terkejut, apa yang akan terjadi pada Istrinya sekarang?


Dokter Myung berhasil menstabilkannya untuk sekarang, tapi kondisinya bisa kritis. Mereka tidak bisa menjamin apa pun saat ini.

"Tidak bisa menjamin apa pun? Apa maksudnya? Dia akan meninggal atau bagaimana? Katakan sesuatu, Dokter Song!"


Eun Jae mengatakan kalau waktu istri Won Gong tinggal sebentar lagi. Jika ereka tidak bertindak sekarang, mungkin dia tidak akan bertahan hingga beberapa hari.

"Tadi dia baik-baik saja. Tidak ada masalah dengannya. Dia tampak sehat saat kami bertemu kala Chuseok." Won Gong tak percaya dengan pernyataan EUn Jae barusan.

"Para dokter gagal menentukan penyebabnya dalam lebih dari 30 persen kasus insufisiensi hepatik akut. Aku turut prihatin, Pak Chu."

"Kita.. harus bagaimana sekarang? Kita harus apa untuk menyembuhkannya?"

Dokter Myung yang menjawab, ia mengatakan kalau cangkok hati adalah obat terbaik. Won Gong sangat lega mendengarnya. Lalu Eun Jae menanyakan golongan darah mereka, sayangnya beda, Won Gong B dan Istrinya A.

Won Gong: Kenapa? Sekarang, organ bisa didonorkan walau golongan darah berbeda. kau yang memberitahuku...

Eun Jae: Itu hanya berlaku jika kondisi penerima donor stabil. Kondisi istrimu kritis. Donornya harus memiliki golongan darah yang sama.

Eun Jae lalu memerintahkan Dokter Myung untuk menghubungi pusat transplantasi hati.Eun Jae menjelaskan pada WOn Gong kalau Istri Won Gong akan menjadi prioritas utama, jadi--.


Belum sempat Eun Jae mengatakannya, istri Won Gong kembali mengalami gejala. Untungnya mereka langsung bisa menangani.

Eun Jae keluar tapi ia tidak melihat Won Gong, ia akan mencarinya tapi Dokter Myung mengajaknya bicara berdua.


Dokter Myung menyarankan untuk memindahkan istri Won Gong ke rumah sakit lain. Eun Jae merasa itu tidak mungkin, melihat kondisi pasien saat ini.

"Justru karena itulah dia harus dipindahkan." Kata Dokter Myung.

"Kenapa?"

"Tidak ada yang bisa mengoperasi. Kau mungkin bisa, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukan operasi cangkok hati dengan tim baru. Bukan hanya itu. Aku..."

"kau kenapa?"

"Aku belum pernah melakukannya. Aku selalu membantu Profesor. Aku tidak pernah mencangkokkan hati sebagai dokter bedah penanggung jawab."


Eun Jae masih mencari Won Gong, tapi ia malah bertemu dengan Perawat Pyo. Perawat Pyo bertanya, bagaimana keadaan Won Gong?

Eun Jae agak ragu sebelum menjawab, "Dia bilang mau mendonorkan hatinya, tapi kubilang tidak bisa karena golongan darahnya tidak sama. Lalu tiba-tiba saja kondisi istrinya memburuk dan..."

"Di mana dia?"

"Entahlah."

"kau tidak tahu?"

Eun Jae mengangguk.

"Baiklah. Aku akan mencarinya."

"Terima kasih."


Para Dokter dan Perawat sampai di Klinik Kesehatan Masyarakat. Perawat disana sangat lega. Hyun lalu menyuruhnya istirahat, mereka yang akan urus dari sekarang.

"Aku tidak bisa beristirahat. Aku akan memanggil pasien yang sudah pergi untuk kembali."

"Tidak usah. Biar kami yang pergi. Gawat jika para lansia terpeleset saat berjalan dalam gelap." Jawab Jae Geol.

"kau pengertian sekali, Dokter."

Jae Geol lalu menyuruh Hyun mengobati pasien yang ada disana, sementara ia akan ke rumah-rumah. Jika bisa diobati disana ya akan ia obati, tapi jika tidak akan ia antarkan ke klinik. Hyun setuju.

Ternyata Jae Geol tidak pergi sendiri, ia bersama Joon Young.


Hyun mencoba layanan medis jarak jauh, tapi dokternya tidak merespon.


Begitu pula di rumah yang didatangi Jae Geol.

"Anda bisa memakainya sebelumnya. Apa Anda lupa caranya?" Tanya Jae Geol.

"Aku tidak bisa sama sekali. Aku hanya menekan tombol yang mereka perintahkan. Tidak bisakah Dokter menyimpan laptopnya dan mendatangiku setiap hari?"

"Aku bisa menusukkan jarum setiap hari ke tubuh Anda, tapi bagaimana dengan obatnya? Anda butuh Dokter Kwak untuk itu."

"Kenapa rumit sekali?"


Jae Geol mendapat telfon dari Hyun yang berkata tidak ada dokter yang meresponnya. Hyun meminya nomor Kepala Internalis di Rumah Sakit Jeil pada Jae Geol.

"Baiklah. Biar kucari tahu." Jawab Jae Geol.


Jae Geol lalu keluar untuk menelfon. Ia akan menelfon ayahnya tapi ragu, ia mengingat pembicaraannya pada ayahnya kemarin kalau ayahnya melakukan semua ini demi kelangsungan UGD.


Jae Geol lalu menghubungi Dokter Jang untuk meminta Nomor Kepala Internalis. Ia menjelaskan kalau Ibu-ibu tidak dapat berkonsultasi dengan dokter karena tidak bisa memakai laptop.

"Kami berada di pulau, tapi tidak ada dokter yang merespons sistem." Lanjut Jae Geol.

"Lakukanlah besok siang."

"Bukankah kami juga harus bekerja? Kau pikir dokter kesehatan masyarakat... kau tahu bagaimana nasib kami jika tidak berada di pos kami nanti."

"Dia sudah selesai bekerja dan pulang untuk rehat. Aku tidak bisa menyuruhnya kembali bekerja."

"Apa dia harus berada di rumah sakit?"

"Dia harus memakai perangkat lunak di komputer kantor. Baiklah. Aku akan meneleponnya dahulu."

"Baiklah, mohon bantuannya."

"Tapi, Jae Geol-ah. Tahukah kau apa yang terjadi di sini tadi?"

"Ada apa?"

Kemungkinan Dokter Jang mengatakan masalah Eun Jae pada Jae Geol. Jae Geol kaget, apa? sungguh?


Hyun memeriksa seorang nenek dan ia rasa ada yang aneh dengan suara detak jantungnya.


Jae Geol menelfon, mengatakan untuk mencoba lagi karena sekarang sudah ada yang aktif.


Hyun menjelaskan kalau para lansia disana kesulitan menggunakan sistemnya. Jadi ia datang membantu. Apa dokter keberatan?

"Siapa kau?"

"Aku Dokter Kwak dari rumah sakit kapal."

"kau dokter? Bukan pembantu?"

"Anggap saja pembantu jika mau."

"Baiklah. Mari periksa pasiennya."


Dokter kemudian bertanya apa yang dikeluhkan pasien. Hyun menyuruh nenek itu menatap layar. Nenek lalu menjelaskan, "Aku pusing dan selalu berkeringat. Seluruh tubuhku juga pegal."

Dokter bertanya berapa suhu tubuh pasien. Hyun menjawab 37,5 derajat Celsius, tkanan darah, denyut nadi, dan napasnya normal, tapi dia memiliki banyak dahak. Ia mendengar suara kertak di bagian bawah paru-paru kanannya.

"Bisa jadi itu radang paru-paru. Dia butuh pemeriksaan darah dan pemindaian sinar-X. Bisakah kau melakukannya di sana?" Tanya Dokter.

"Di rumah sakit kapal bisa, tapi kami dilarang beroperasi sekarang."

"Ya ampun. Kalau begitu, kau harus membawa pasien tersebut ke rumah sakit kami."

"Dokter. Tidak ada perahu saat ini. Perlukah kita meminta Penjaga Pantai?"

"Ini gila. Kalau begitu, izinkan aku menelepon beberapa orang dan menghubungimu kembali nanti."


Dokter itu ternyata Dokter Kim dan kebetulan berpapasan dengan Dokter Jang. Dokter Jang bertanya, bagaimana? Sudah selesai memeriksa pasien?

"Aku baru memeriksa satu pasien. Masih ada satu barisan pasien."

"Apa?"

"Kenapa mereka menutup rumah sakit kapal? Perlukah kita menelepon Penjaga Pantai untuk pindai CT? Perlukah kita mengirim helikopter dari rumah sakit?"

"Apa?"

"Layanan medis jarak jauh. Apakah ini benar-benar perlu? Ada dua dokter penyakit dalam dari rumah sakit kapal dan dari rumah sakit umum. Mereka duduk di depan komputer bersama pasien. Apa-apaan ini?"

"Itu..."

"Mereka bisa mendiagnosis dan mengobati pasien dengan mudah. Ini sangat tidak efisien. Bekerja dari jarak jauh bisa membuat semuanya menggila. Astaga.."

Dokter Kim lalu pergi, meninggalkan Dokter Jang yang kesal karena ia melampiaskan semuanya pada DOkter Jang.


Semua pasien satu per satu mulai pulang. Hnaya tersisa nenek yang tadi. Jae Geol dan Joon Young juga sudah kembali.

"Bagaimana demamnya?" Tanya Jae Geol.

"Makin buruk."

"Ayo berangkat. Ada kapal memancing yang siap."

"Apa dia akan baik-baik saja? Udara dingin bisa memperburuk kondisinya."

"Kami akan meminta perahunya tetap hangat di dalam. Ayo pergi ke Pulau Geoje secepatnya."

"kau tampak pucat sekali. Ada masalah?"

"Sepertinya Pak Chu dalam masalah besar."


Won Gong menyendiri di taman yang sepi. Ponselnya berdering dari tadi tapi ia biarkan saja. Telfon dari Choon Ho.


Lalu perawat Pyo datang dan mengambil ponsel Won Gong yang ada ditana. "Kenapa kau tidak menjawab? Dia pengikutmu. Kenapa kau tidak masuk? Bukankah kau kemari untuk menjenguk anak-anakmu?"

"Aku terlalu malu." Jawab Won Gong.


Perawat Pyo kemudian duduk disamping Won Gong. Won Gong bercerita, saat istrinya melahirkan anak-anak, ia tidak pernah hadir. Seperti seorang janda, Istrinya menemui ahli kandungan sendirian. Dia melaluinya sendiri sampai anak-anak lahir.

"Kau bertugas di rumah sakit kapal?" Tnaya Perawat Pyo dan Won Gong mengangguk.

"Aku tidak bisa hadir di hari pertama sekolah atau wisuda. Aku benar-benar lupa tentang komite disiplin sekolah. Setelah melalaikan mereka selama bertahun-tahun, aku mengabarkan, "Ibu kalian sekarat. Berkemaslah dan keluarlah". Tetap saja, aku harus berpamitan untuk kali terakhir."

"Ini bukan yang terakhir. Ibu Dong Min tidak akan meninggal. Aku akan menyelamatkannya. Masuklah dan bawa anak-anakmu keluar. Ini bukan yang terakhir. Beri tahu mereka kita harus menyemangatinya sebelum operasi."

"Perawat Pyo~"

"Golongan darahku sama seperti istrimu. Aku cukup berani. Hatiku cukup besar untuk didonorkan. Heheh.. Aku akan menyelamatkan.. istrimu. Pak Chu. Bekerjalah lebih keras demi menolong rumah sakit kapal. 30 tahun di rumah sakit kapal. "Hidupku di kapal sia-sia dan tidak berarti". angan menyesalinya. Jika menyesal, aku akan memarahimu. Kenapa dianggap sia-sia? kau telah bertahan. Tahukah kau berapa nyawa yang kau selamatkan?"


Eun Jae berganti baju, ia memakai baju operasi, kemudian ia mendatangi ruangan Direktur Kim.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa pakaianmu seperti itu?"

"Salahkah jika seorang dokter bedah mengenakan seragam operasi?"

"Apa?"

"Buka ruang operasinya. Aku ingin menyelamatkan.. pasien bernama Kim Sung Hee."



Namun tiba-tiba Ketua Jang datang dan mengatakan kalau itu mustahil. Di Rumah Sakit Jeil, tidak ada ruang operasi untuk dokter yang berbahaya.

"Kau setuju, bukan, Direktur Kim?"

Eun Jae: Jika tidak membuka ruang operasi, pasiennya bisa meninggal malam ini.

Ketua Jang: Pindahkan pasiennya ke rumah sakit lain.


Eun Jae: Aku ingin menyelamatkan pasien itu, Direktur.

Ketua Jang: Ingatlah bantuan yang Grup Doosung janjikan.

Direktur Kim bingung, apa yang harus dilakukannya? Menyetujui permintaan Eun Jae atau mematuhi perintah Kepala Jang?

3 komentar

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon