Monday, October 30, 2017

Sinopsis Revolutionary Love Episode 5 Part 2

Sinopsis Revolutionary Love Episode 5 Part 2

Sumber Gambar: tvN


Hyuk sudah ada di depan mesin depan kantin tapi ia gak tahu gimana caranya. Lalu ada satu karyawan yang mau beli juga. Karyawan itu menggunakan kartu identitasnya.


Hyuk mencoba menggunakan mulinya juga tapi tidak bekerja.


Hyuk kemudian cerita pada yang lain. Ki Sub menjelaskan kalau mereka bukan pekerja etap jadi kuponnya gak akan mau keluar.

"Itu tidak adil. Kita bekerja di gedung yang sama." Kesal Hyuk.

"Kita bekerja untuk perusahaan jasa. Kita bukan pegawai Grup Gangsu." Jelas Tae Kyung.

"Jadi.. Hanya pegawai Grup Gangsu yang bisa makan di kantin Grup Gangsu. Hanya yang mempunyai kartu pegawai yang bisa membeli kupon makan. kau mengerti Tuan Muda?" Lanjut Mi Yeon.

Hyuk mengerti dan nampak punya ide bagus.


Hyuk diam-diam mencuri ID milik Je Hoon, tapi akhirnya ketahuan. Je Hoon bertanya, mau apa Hyuk dengan kartu ID-nya?


"Aku tidak akan melakukan apa pun. Aku hanya melihatnya. Aku hanya ingin melihat bentuknya. Aku iri. kau puas?"


Malamnya, saat Je Hoon tidur, Hyuk beraksi lagi, tapi Je Hoon nya sadar terus. Dan tap kali begitu, Hyuk selalu beralasan kalau ia mau ambil air, atau karena ia haus.


Je Hoon udah rapi pagi ini, ia menerogoh sakunya tapi tidak menemukan kartu ID-nya. Lalu ia mengambil seragam Hyuk yang sedang dipeluk Hyuk, disaku celana Hyuk, ia menemukan ID-nya. Je Hoon tidak mengerti, sebenarnya apa sih yang Hyuk ingin lakukan dengan ID-nya?


Je Hoon akan berangkat kerja dan tiba-tiba Joon menyapanya dan menanyakan dimana Hyuk. Je Hoon heran, kenapa nanya-nanya Hyuk?

"Kau tidak tahu? Dia membersihkan gedung bersamaku."

"Kini kau membersihkan gedung? Kenapa kau melakukan pekerjaan sulit? Seharusnya kau tetap mengantarkan jus sayuran seperti biasanya."

"Aku dipecat karena tidak memenuhi kuota penjualan. kau tidak mau saat kusuruh membeli dua botol. Apa pedulimu sekarang?"

"Berhenti bersikap bodoh, dan cari pekerjaan tetap. kau mau kucarikan?"

"Hentikan. Cukup."


Bagaimanapun juga Joon berterimakasih karena Je Hoon telah memberikan uang kepada ibunya. Tapi ia tak mengerti, meskipun Hyuk yang meminta, kenapa Je Hoon memberikan uang sebanyak itu? Soalny Je Hoon tidak biasanya seperti itu, kini bahkan Hyuk tidak bisa membayarnya.

"Dia akan membayarnya sepuluh kali lipat. Untuk jangka panjang, itu bukan investasi yang buruk." Jawab Je Hoon.

"Kurasa begitu. Ayahnya seorang pimpinan, dan kakaknya manajer. Kini dia seperti ini, tapi nanti dia akan mendapat posisi penting di perusahaan. kau sungguh cerdas, Je Hoon."


Joon lalu menendang pintu rumah Je Hoon untuk membangunkan Hyuk. Je Hoon cuma bisa menghela nafas kesal mendengar Joon berpendapat seperti itu.


Hyuk akhirnya bangun juga dan ia terkejut saat menyadari ia harus bekerja.


Keluarga Byun sarapan bersama. Nyonya Byun bertanya pada Woo Sung, apa Hyuk menghubunginya? Woo Sung sengaja tidak bilang pada CEO Byun karena takut ayahnya cemas, tapi.. Hyuk datang ke prusahaan untuk minta uang padanya.


Nyonya Byun bertanya, lalu gimana? Woo Sung memberinya uang? Seharusnya diberi dong? CEO Byun berdehem keras. Nyonya Byun menjawab, kalau sampai Hyuk meminta bantuan hyungnya itu berarti Hyuk sangat butuh uang, pasti sedang dalam masalah.

"Bukan begitu. Menurutku dia sedang menyukai seorang wanita." Jawab Woo Sung.

"Heol. Dia punya pacar?" Tanya Se Na.

Nyonya Byun bertanya, siapa wanita itu? Woo Sung menjawab ia tidak bertanya. Nyonya Byun menyesalkan, harusnya kan bertanya, siapa dia, cara mereka bertemu, dan seperti apa rupanya.

CEO Byun: Diamlah. Dia menyedihkan. Dalam situasi ini, malah berpacaran.

Woo Sung: Ayah. Kurasa dia membutuhkan waktu lebih lama untuk dewasa.

CEO Byun: Entahlah.


Hyuk siap menggunakan ID Je Hoon untuk membeli kupon makan, tapi ia baru sadar kalau ID itu tidak ada di sakunya. Lalu seorang karyawan memanggilnya.


Karyawan itu menyuruh Hyuk untuk membereskan sampah hancuran kertas yang menggunung. Hyuk pun melakukannya, walau dengan sangat terpaksa, tapi akhirnya semua selesai juga.


Hyuk kemudian laporan pada karyawan yang menyuruhnya kalau ia sudah selesai membersihkan semuanya. Tapi karywan itu bahkan tidak memandangnya saat bilang, "Ya, bagus."


Hyuk tersinggung, maka ia mendekati karyawan itu.

"Aku tahu pekerjaanku barusan mungkin tidak berarti  apa pun, tapi saat kau mengatakan, "bagus", setidaknya tataplah wajahku. Itu sopan santun dasar. kau dan aku dibayar untuk pekerjaan kita. Selain itu, kau harus membaca berita terkini."


Karyawan itu sepertinya merasa bersalah, jadi ia memanggil Hyuk untuk mengucapkan terimakasih.

"Kau bersungguh-sungguh? Kau sungguh berterima kasih?"

"Ya."

Hyuk meminta imbalan, ia meminta bantuan karyawan itu dan ia melirik ke ID caryawan itu.


Dengan ID karyawan itu, Hyuk berhasil mendapatkan 2 kupon makan utuknya dan untuk Joon. Hyuk lalu mengajak Joon makan bersama di kantin.


Semua karyawan mentap mereka saat mereka duduk di kantin. Joon bertanya, apa Je Hoon yang memberi Hyuk kupon itu? Hyuk jelas mengelaknya, ia menjelaskan kalau ia mendapatkan kupon itu setelah kerja keras.

"Tapi kau tidak perlu melakukan ini."

"Jangan khawatir. 00:45:20,479 --> 00:45:24,019
Kita memakai jubah tidak terlihat, jadi, mereka tidak akan melihat."

"Seharusnya kau membawa kupon untuk yang lainnya."

"Seharusnya begitu."

"Omong-omong, terima kasih."

Hyuk sangat senng melihat Joon makan dengan lahap, ia sampai lupa makan.


Kemudian Bapak pimpinan mereka datangdan marah-marah karena mereka berani makan dikantin. Hyuk meminta Bapak itu melepaskannya dan mengajak Joon makan saja, tidak usah dihiraukan.

"Berhenti bicara dan pergi jika mau tetap bekerja di sini. Ada telepon komplain karena kalian berdua."

"Telepon komplain? Siapa itu? Siapa yang komplain soal kami makan di sini?" Kesal Joon.


Bertepatan dengan itu, CEO Byun dan jajaran petinggi perusahaan sedang berjalan menuju ke kantin.


Mereka melihat Joon yang mendebat Bapak pimpinan. "Ada hukum yang menyatakan pekerja tidak boleh makan di kantin? Adakah? Jika ada, tunjukkan kepadaku."

"kau mau bertanggung jawab jika mereka membatalkan kontrak?"

"Mereka akan membatalkan kontrak karena ini? Itu tidak masuk akal. Mereka meminta kami membereskan kekacauan yang mereka buat. Tapi mereka tidak mau makan dengan kami. Siapa yang melapor?" Kesal Hyuk.


CEO Byun masuk, Hyuk sangat terkejut melihat ayahnya.

"Dasar berandal!"


Hyuk lalu menggandeng tangan Joon dan mengajaknya lari saat mereka ada kesempatan. CEO Byun memerintahkan ajudannya untuk menangkap Hyuk.


Mereka kejar-kejaran di dapur kantin, jadinya bahan masakan jadi lempar-lemparan. Tapi beruntung mereka punya kesempatan sembunyi.


Joon tidak mengerti, kenapa mereka harus lari? Hyuk mengatakan kalau ia tidak ingin Joon melihatnya dipukuli ayahnya.

"Kurasa ini tidak akan berhasil. Ayo berpencar." Kata Hyuk. Jadinya Hyuk ke kanan dan Joon kekiri.


Woo Sung mendapat kabar kalau Hyuk muncul di perusahaan.


Nyonya Byun juga mendapat kabar dari adiknya CEO Byun. Nyonya Byun tak percaya putranya akan bekerja disana. Adik CEO Byun menjelaskan detailnya dan merasa sangat malu.

Kemudian ada yang mengulurkan segulung tisu dari bawah pintu. Tapi tiap kai ia akan mengambilnya, orang itu menarik tisunya kembali.

"Siapa yang mengerjaiku?"

"Ini aku, Ayah."

"Hyuk, itu kau?"

"Ya, Ayah. Ini aku, Hyuk."

"Dasar berandal. Sedang apa kau di sini?"

Hyuk meminta ayahnya mendengarkannya dulu, lalu akan ia berikan hal yang sangat Ayah butuhkan, tisu toilet. AYah kesal dan menyuruh Hyuk segera mengatakannya.


"Ayah pernah bilang kepadaku. Ayah mengizinkanku hidup sebagai orang yang bebas, bukan putra Pimpinan Byun. Jadi, aku kemari untuk bekerja. Ini pekerjaan pertamaku."

"Tetap saja, bisa-bisanya kau bernegoisasi dengan tisu toilet saat ayahmu buang air."

"Ayah tidak berhak melarangku bekerja. Aku bekerja untuk perusahaan tenaga kerja. Ayah tidak bisa memecatku sembarangan, Pak Pimpinan."

"Jadi, maksudmu kau akan terus bekerja sebagai pembersih di perusahaan ayah? Di gedung ayah?"

"Ya, begitulah."

"Kenapa anak ini.. Baiklah. Berikan tisu toiletnya dahulu."

"Ayah memberiku izin?"

"Berikan tisu toiletnya dahulu, Berandal!"

"Maka kuanggap Ayah mengizinkan."

"Tunggu, ada satu hal lagi."

"Yang benar saja."

"Izinkan kami makan di kantin perusahaan."

"Apa? Makan di sini?"

"Ya."


Hyuk pun membagikan kupon pada teman-temannya. joon ikut senang dengan hal itu.


Hyuk menjelaskan pada Joon kalau ia membuat kesepakatan seperti yang Joon ajarkan. Ia melakukannya dengan baik, bukan?

"Ya, menyenangkan menjadi putra konglomerat."

"Tentu saja, ini cara memanfaatkan latar belakangmu. Aku akan mendukungmu.. kapan pun."


Joon jadi teringat kata-kata Yeon Hee kalau Hyuk melakukan semua itu demi dirinya. Dan Joon jadi kepikiran soal kata-kata Yeon Hee mengenai Hyuk yang menyukainya. Joon langsung geleng-geleng dan kabur.


Joon awalnya bingung, tapi lama-lama ia tersenyum juga mengingat kalau Hyuk melakukan semua itu untuknya. Perbuatannya tadi memang terpuji.


Woo Sung menentang ayahnya yang membiarlan Hyuk bekerja di perusahaan karena jaksa belum menutup insiden Hyuk, ada orang-orang yang memperhatikan. Tapi ayahnya tidak begitu menanggapi, malah senyum-senyum sambil memperhatikan tisu yang Hyuk berikan untuknya.

"Berandal itu. Makin dipikirkan, ini makin menyenangkan. Hyuk berusaha membuat kesepakatan menggunakan tisu toilet. Maksudnya, dia menawarkan kesepakatan. Beri tahu mereka agar ini tidak dipindahkan untuk sementara."


CEO Byun bahkan melakukan selfie dengan tisu itu dan meminta Woo Sung ikutan juga.

"Ayah rasa peramal itu tidak sepenuh bohong."


Sasaran kemarahan Woo Sung selanjutnya adalah Je Hoon. Ia memaksa Je Hoon jujur, tahu atau tidak soal Hyuk?

"Aku tidak tahu. Maafkan aku."

"Tidak ada yang bisa kukatakan lagi. Segera singkirkan Hyuk dari perusahaan. Tekan jasa pekerja itu atau batalkan kontraknya. Sekarang!"

"Akan kulakukan. Tapi.. Kurasa akan lebih baik untuk tetap berada di dekatnya dan memperhatikannya jika Anda ingin mengetahui niat Pimpinan."

"Apa?"

"Itu pendapatku, tapi aku akan mengikuti perintah Anda."


Je Hoon sudah akan pergi tapi Woo Sung memanggilnya. Woo Sung setuju dengan pemikiran Je Hoon.

"Baiklah, ini sudah terlanjur, mari awasi dia dari  dekat. Jangan sampai dia menusukku dari belakang."

"Baik. Akan kulakukan perintah Anda."


Saat keluar dari ruangan Woo SUng, Pak Seol melihat Je Hoon. Sepertinya Pak Seol berpikir yang tidak-tidak.


Hyuk mengeluhkan kakinya sakit setelah turun dari bis, lalu ia mengajak Joon bersuten, yang kalah harus menggendong.

"Bukankah itu menyenangkan?"

"Tidak sama sekali."

"Kau mau minum soju?"

Hyuk langsung tersenyum lebar.


Hyuk memuji Joon yang tampak sangat cantik saat minum soju. Joon lalu bertanya, kenapa Hyuk ingin menjadi pembersih?

"Karena aku ingin bersamamu. kau sudah mengetahui itu." Jawab Hyuk enteng.

"Ini ampela ayam. Joon, kau punya cita rasa yang luar biasa. Kenapa ada banyak sekali makanan yang belum pernah kucoba."

"Omong-omong, terima kasih untuk hari ini di kantin."

"Aku yang harus berterima kasih. Katamu aku bisa bebas mendapatkan rasa percaya diriku kembali. Karena itu, untuk kali pertama, aku bisa percaya diri menyampaikan kemauanku kepada ayahku. Setiap hari terasa baru bagiku.. saat bersamamu."


Joon akhirnya bertanya, apa Hyuk menyukainya dan Hyuk langsung menjawab 'iya'. Joon melarang Hyuk menyukainya soalnya ia tidak punya waktu untuk bermain-main dengan Hyuk. Ia bahkan kesulitan mencari uang. Aku tidak bebas seperti Hyuk.

"Aku tidak menyukaimu karena bebas. Aku serius."


Kebetulan Je Hoon juga mampir di warung tenda yang sama. Hyuk langsung heboh memanggil Je Hoon, tapi Je Hoon memilih duduk membelakangi mereka.

Joon: kau mengabaikanku sekarang? Kenapa dia selalu sulit dimengerti?

Hyuk: Itu pesonanya. kau tidak tahu nama panggilannya saat di sekolah?

Je Hoon: Hei.

Hyuk: Roti lilit.

Kemudian Hyuk dan Joon tertawa ngakak.


Joon: Hei, Roti Lilit. Traktir kami minum karena kau dipromosikan.

Hyuuk: Sungguh? kau kini bekerja di bagian perencanaan?

Joon: Aku iri. kau bisa sukses tanpa halangan. Kami selalu hanya membersihkan toilet.

Hyuk: Kenapa dengan membersihkan toilet? kau sudah mendengar ini? Ini estetika membersihkan toilet.

Joon: Estetika membersihkan toilet?

Hyuk: Ya. Itu bukan soal kekuatan. kau harus memegang alatnya dan memutar dengan pergelangan. Bersihkan ke kiri, kanan, kiri, kanan, bersihkan dan bersihkan. Percayakan semua toilet mampat kepadaku. Aku ahlinya membersihkan toilet mampat. Hahahaha


Joon menyinggung soal lampu kamar 301 yang menyala. Ia rasa ada yang pindah kesana. Joon harap dia pria tampan.

Hyuk: Kuharap dia pria... Apa?

Je Hoon: Kuharap itu wanita cantik. Para wanita yang tinggal di sini keras kepala.

Joon: Siapa yang kau sebut keras kepala? Hei, Roti Lilit.

Hyuk: Dia cukup keras kepala. Tunggu aku, Kawan-kawan.


Yang pindah kesana adalah pak polisi yang dulu ngejer-ngejer Hyuk itu.


Hyuk gak bisa tidur, ia memikirkan Joon terus-menerus.


Hyuk lalu bercerita pada Je Hoon kalau hari ini Joon memanggilnya dengan namanya untuk kali pertama, Joon memanggilnya Byun Hyuk. Selama ini Joon selalu memanggilnya Konglomerat Generasi Ketiga, akhirnya Joon memanggil namanya.


Sementara itu, Je Hoon mengingat perintah CEO Byun. CEO Byun menyuruh Je Hoon untuk mencaritahu soal Joon.

"Ada wanita yang bersih-bersih bersama Hyuk. Mereka tampak dekat karena lari sambil bergandengan tangan. Cari tahu siapa dan seperti apa dia. Cari tahu soal hubungannya dengan Hyuk."


Dan Joon, ia tak bisa berhenti memikirkan kata-kata Hyuk tadi,

"Setiap hari terasa baru bagiku.. saat bersamamu. Aku serius. Aku menyukaimu bukan karena bebas."


Jadi intinya mereka bertiga malam ini tidak bisa tidur, ada yang mengisi pikiran mereka masing-masing.

1 komentar so far

Makasih ya sinopsis y..aku suka bgt tulisan y mba diana serasa nonton langsung..
D tunggu kelanjutan y..😊😊

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon