Wednesday, October 4, 2017

Sinopsis Temperature of Love Episode 10


Sumber Gambar: SBS


Jung Sun melihat pembukuan restoran dan tampaknya hasilnya tidak baik.


Min Ho diam-diam mendekatinya. Jung Sun heran, kenapa Min Ho belum pulang?

"Chef tahu kalau aku kerja di sini karena dirimu?"

"Tahu."

"Aku harus menafkahi keluarga. Aku tak bisa kerja di sini kalau kebutuhan hidup dasarku tidak terpenuhi."

"Kita tak akan bangkrut. Kau pasti kurang kerjaan sampai berpikir yang tidak-tidak. Aku akan memberimu banyak pekerjaan."

"Ya, Chef!"

"Semuanya sudah pergi?"


Kyung Soo akan pulang tapi melihat Ha Sung berlatih memotong wortel. Kyung Soo menuduh Ha Sung menggunalan bahan dapur.

"Aku beli sendiri bahannya. Pulang! Kenapa ikut campur urusan orang."

"Berikan. Akan kuajarkan. Lihat dan belajar dari hyung."

"Hentikan omong kosongmu. Pergi sana. Kau kira kau hebat hanya karena pandai menggunakan pisau? Kau kelewat bodoh. Mau jadi chef fine dining."

"Lupakan. Tidak akan kubantu. Kau cuma lulusan CIA. Kau tidak tahu dasar dari memasak. Apaan itu! mau jadi chef fine dining?"

"Yaa!"


Jung Sun menghampiri setelah Kyung Soo pergi. Jung Sun menyuruh Ha Sung membuat wortel itu menjadi selai jika gagal dalam memotongnya.

"Ya, Chef."

"Rapikan sebelum pulang."

"Ya, Chef. Tapi, kau tahu kalau Minchelin Guide akan di umumkan bulan November? Aku memutuskan untuk bekerja bersama chef dengan satu alasan. Aku yakin restoramu akan mendapatkan Michelin star."

"Kalau tidak dapat?"

"Aku akan keluar tanpa penyesalan."

"Kau pasti sangat kompetitif. Baiklah. Aku akan percaya pada keyakinanmu juga."


Ayah dan Ibu menunggu di taman bermain apartemen Hyun Soo. Ibu kedinginan, maka ayah langsung mencopot mantelnya dan memakaikannya pada Ibu.

"Suhu tubuhku terus menurun. Sebentar panas, sebentar dingin. Menopause tidak menyenangkan."

"Haruskah kita menelpon Hyun Soo untuk meminta sandi?"

"Tidak. Dia memang putri kita, tapi kita harus hormati privasinya. Kita membesarkannya seperti itu. Agar hidup mandiri. Jadi tak bisa kita langgar."

"Kau sedang kedinginan."

"Tak apa. Kau ada di sisiku. Tubuhku akan membaik setelah menopause ini berlalu. Kita akan pensiun dan pergi naik kapal pesiar. Kita harus bertahan, untuk hari esok lebih baik."

"Setiap berpikir.. akan pergi naik kapal pesiar denganmu setelah pensiun, aku girang sekali."


Mereka melihat Hyun Soo pulang diantar oleh cowok. Ibu memutuskan untuk tidak mendekat karena akan mengganggu. Tapi Hyun Soo menyuruh Jung Woo pulang, tanpa mengundangnya masuk.

Ibu: Apa itu? Kukira Ia akan masuk dengannya. Payah sekali.

Ayah: Aigoo, Park Min Ah-ssi.


Ayah dan Ibu memanggil Hyun Soo, membuat Hyun Soo tersenyum lebar. Ibu berkata sudah melihat artikelnya. Mereka datang setelah melihatnya dan memutuskan untuk menginap.


Hyun Soo lalu memeluk Ibunya. Ayah protes, ia bagaimana? Hyun Soo menyuruh Ayah ikutan juga dan ayah memeluk keduanya.


Jung Sun bingung memikirkan pegawainya. Lalu ia menghubungi Jung Woo.

"Aku perlu bicara. Bisa datang besok?"

"Aku ke sana sekarang. Kalau kau ingin bicara, kapanpun, di manapun aku akan datang~"

"Aah, Hyung~~"

"Aku bicara begini demi pertemanan lama kita."


Jung Sun memberi Jung Woo teh. Jung Woo berkata ia sebenarnya ingin bir. Jung Sun mengingatkan, Jung Woo harus menyetir pulang.

"Aku cuma bilang ingin, siapa yang mau minum?"


Jung SUn masuk ke masalah yang igin ia bicarakan. Sudah 8 bulan sejak pembukaan restoran, tapi terus mengalami defisit. Dan hanya punya sisa waktu 4 bulan sampai waktu investasi selesai.

"Aku akan putuskan dalam 4 bulan.. apakah Chef Ohn Jung Sun akan melanjutkan Good Soup atau tidak."

"Aku putuskan kalau aku ingin melindungi keluaga Good Soup, maka harus melakukan yang tidak ingin kulakukan."

"Kau mau ikut siaran itu?"

"Kau pandai. Cepat tanggap sekali."

"Makanya aku menyukaimu. Kau realistis."


Ibu dan ayah memutuskan tidak pulang karena putri mereka sedang kesusahan, harus ditemani dong!

"Tentu saja. Ini gunanya keluarga." Ayah menyetujui.

Ibu menyahut, mereka tak perlu membahas soal pekerjaan. Hyun Soo atasi saja sendiri karena mereka tidak begitu mengerti.


"Siapa pria yang mengantarmu tadi? Dia tinggi dan tampan." Tanya Ibu.

"Dia CEO perusahaanku." Jawab Hyun Soo.

Ayah penasaran, "Dia CEO perusahaanmu? Masih muda. Waah, dia berbakat."

Ibu bertanya lagi, "Sudah menikah?"

"Tidak."

"Belum pernah sekalipun?"

"Belum sekalipun."

"Keluarganya? Apa pekerjaan orangtuanya? Mereka akur?"

"Orangtuanya sudah meninggal. AAku tidak tahu sebelumnya mereka bagaimana."

Ayah menganggapi, "Agigoo.. Hyun Soo memang jujur sekali. Kau menjawab semua pertanyaan kami."


Ayah tiba-tiba bertanya situasinya seburuk apa sampai Hyun Soo mengamuk, sebenarnya sejelek apa sikap sutradara itu?!

Hyun Soo akan mulai menangis. Ibu juga ikutan sedih, sudah dibilnag kan jangan dibahas, kenapa?

"Saat ini masalah terbesarnya adalah pekerjaan. Mana bisa kita abaikan? Dia perlu tempat untuk melepaskan semuanya." Alasan ayah.


Ayah: Hyun Soo-ya.. Ini gunanya orang tua.

Ibu: Dia jadi menangis. Aku tidak mau membahasnya karena tidak mau dia menangis.

Ayah: Kalau dengan kami, menangis saja. Kau tak bisa menangis di depan sutradara. Menangislah. Nangis sebanyak mungkin.

"Inilah keluarga yang kucintai. Yang menarik di sini.. meskipun aku menangis karena pekerjaan, yang kupikirkan hanyalah... satu pria."


Hyun Soo sedang jogging dan ia berpapasan dengan Jung Sun. Ia memanggilnya tapi Jung Sun tidak dengar, ia pun berteriak.

"Yaa, Ohn Jung Sun! Ohn Jung Sun!"


Jung Sun langsung menghentikan mobilnya, ia protes karena Hyun SOo memanggilnya sangat keras, kenapa memangnya?

"Supaya kau dengar."

"Aku dengar. Kenapa di sini?" *Jung Sun lalu keluar dari mobilnya.

"Kita harus bicara. Pembicaraan kita kemarin terputus. Sudah mau berangkat kerja?"

"Tidak. Aku tinggal di sini."


Hyun Soo mengikuti Jung Sun masuk padahal sudah dibilang untuk menunggu di luar. Hyun Soo menjawab ia bosan menunggu sendirian.


Jung Sun membuka ruang penyimpanan. Hyun Soo kagum, jadi begitu toh isinya?

"Rasa penasaranmu masih tetap ada." Tanggapan Jung Sun sambil meletakkan ikan dan lobster yang ia beli.


Hyun Soo mulai bicara, " "Kau punya kekasih hebat, dan mimpimu menjadi penulis sudah terwujud, Lee Hyun Soo-sii. Kenapa menyesal dan terluka?" Apa maksudmu?"

"Tidak ada maksud terselubung di sana. Sesuai dengan ucapanku."

"Tidak, tidak. Aku punya kekasih hebat? Aku saja tidak tahu kalau punya kekasih, bagaimana Jung Sun-ssi tahu?"

"Aku mendengarnya."

"Dari siapa? Siapa yang semangat sekali menyebar kebohongan? Aku tidak tahu kalau Jung Sun-ssi begitu tergesa-gesa. Harusnya tanyakan padaku. Kenapa percaya omongan orang?"

"Mana bisa kutanya kalau kau tidak mengangkat telponku?"

"Kapan aku tidak mengangkat telponmu? Anu... waktu itu aku punya alasan."

"Semua orang punya alasan, tapi tetap diangkat. Karena kepercayaan jauh lebih penting."


Jung Sun mendekati Hyun Soo dan Hyun SOo terlihat tegang. Hyun Soo bertanya, Kenapa? Jung Sun balik bertanya, Tidak pergi? Tidak dingin?

"Jangan bersikap baik. Aku tidak suka."

"Kau masih aneh seperti dulu."

"Apa benar kita tidak bisa keluar kalau pintunya tertutup? Di drama selalu begitu."


Jung Sun pelan-pelan mendekati wajah Hyun Soo. Tapi bukan apa-apa, ia hanya ingin membuka pintu dibelakang Hyun Soo.

"Kau tampak kecewa sekali." Komentar Jung Sun, "Kau ingin terkunci bersama di sini?"

"Aku tak punya kekasih hebat."

"Kau sudah mengatakannya."

"Sudah mengerti?"

"Ya."


Hyun Soo lalu bertanya, apa Jung Sun memiliki kekasih. Jung Sun bilang tidak. Hyun Soo bertanya lagi, kenapa tidak?

"Apa aku perlu alasan?"

"Karena aku tidak mengangkat telponku, kau marah sekali?"

"Aku belum pernah sekalipun marah pada Hyun-ssi. Aku tidak marah. Bisa kita keluar?"

"Ya."


Hyun Soo lalu memberi jalan Jung Sun, tapi HyunSoo tidak kunjung keluar.

"Tidak keluar? Suhu pendingin akan naik kalau kubiarkan terbuka. Bahan-bahan bisa rusak."


Hyun Soo mengikuti Jung Sun keluar. Hyun Soo kagum, Jung Sun masih seperti dulu, masih perduli dengan pemandangan di rumahmu melebihi apapun.


"Kenapa kau datang ke daerah sini?" Tanya Jung Sun sambil mengambil daun-daun herbal.

"Akhirnya kau tertarik juga denganku?"

"Saat ini siaranmu sepertinya sedang bermasalah."

"Maksudmu aku membuang waktu di sini? Tidak akan begitu kalau kita seperti dulu. Tapi pandanganku sudah berubah. Aku kira jika impianku tercapai.. semuanya akan jadi berbeda. Aku kira dunia baru akan terbuka di depanku. Tapi.. setelah impianku jadi nyata, hidupku sama persis dengan sebelumnya."


Hyun Soo menyesal dan terluka.. Demi mimpi ia melepaskan banyak hal. Tapi Jung Sun hanya diam saja.

Hyun Soo kembali bicara, ia juga tinggal di daerah sana. Kantornya di Yeouido. Ia datang karena berharap bisa berpapasan dengan Jung Sun.


"Aku ingin minta maaf. Setelah kupikir, mengungkapkan perasaan pada seseorang tidak mudah." Lanjut Hyun Soo.


Jung Sun melarang Hyun Soo memikirkan semua itu karena semua sudahmenjadi masa lalu. Waktu itu ia mengerti, sekarang juga mengerti. Ia menjadi chef pemilik restoran sesuai keinginannya. Saat ini yang ia pikirkan hanya Good Soup.

"Jangan merasa bersalah pada masa lalu. Masa kini jauh lebih penting. Kita cukup teguh pada kehidupan kita masing-masing."

"Kehidupan masing-masing? Kau kira aku ke sini untuk membahas kehidupan masing-masing? Aku bilang aku menyesal dan juga terluka. Kau paham artinya?"

"Aku bilang dulu aku mengerti, sekarang juga. Saat ini aku hanya memikirkan soal Good Soup. Kau paham apa artinya?"


Hyun Soo langsung saja, "Kau menolakku?"

"Tak salah lagi, Kau memang Lee Hyun Soo-ssi. Kau terus terang. Aku jadi kaget."

"Kau tidak pernah membiarkanku menang."

"Buat apa aku mengalah? Aku menolak!"


Hyun Soo sangat terkejut. Jung Sun tahu, Hyun Soo tidak menyangka ia akan menolak kan? Apa berkata kalau Hyun Soo menyesal dan terluka maka semuanya selesai? Bisakah ereka mengembalikan waktu? Kau kira selama ini ia senang?

"Kau menyimpan dendam rupanya." Kesimpulan Hyun Soo.

"Kau terlalu terlambat. "Mengungkapkan perasaan pada seseorang bukanlah hal mudah". Sekarang sudah mengerti?"


Jung Sun menasehati, Jangan berharap bisa mendapatkan pria yang bisa melayani. Itu hanya ada dalam fantasi wanita.

Hyun Soo membenarkan Jung Sun. Jung Sun senang Hyun Soo lekas sadar.

"Aku pria yang realistis, maka perlakukan aku seperti itu." Pinta Jung Sun.


Hyun Soo ikut duduk di depan Jung Sun, bertanya bagaimana  caranya memperlakukan pria yang realistis?

"Hyun Soo-ssi pikirkan saja sendiri. Kau pandai melakukannya. Kau pandai. Apa kau bisa berkencan denganku dalam situasi begini? Kau berkata kau berubah, tapi orang lain tidak berubah?"

"Hebat sekali kau."

"Makanya saat aku berkata cinta dan memohon padamu, harusnya kau terima."

"Kau tidak banyak memohon!"

"Kalau lebih dari itu aku bisa jadi penguntit. Kau mau dengan kriminal?"

"Lupakan!"


Jung Sun setuju, lalu menawari Hyun Soo sarapan. HyunSoo marah, kalau menolaknya ya lakukan dengan benar! Jangan beri ia harapan!

"Kau yakin?" Tanya Jung SUn

"Tidak..."


Lalu Kyung menelfon, memberitahu kalau naskah episode 8 di unggah padahal mereka belum mengirimnya, sudah ada penulis baru.

Hyun Soo memejamkan mata, "Aku akan kesana."


Jung Sun bertanya, ada masalah kah? Hyun SOo menjawab masalahnya banyak, lalu pamit. Hyun Soo berlari, Jung SUn melarangnya karena nanti Hyun Soo bisa jatuh.

"Tidak akan."

"Kalau kau melompat begitu, terlihat ceria."

"Aku memang ceria. Kau tidak menolakku untuk selamanya."


Saat keluar dari restoran, Hyun Soo bertemu dengan Won Joon. Hyun Soo heran, kenapa WOn Joon ada disana. Won Joon menjawab kalau ia bekerja disana, ia berkerja untuk Jung Sun.

"Kau ingin menjadi koki, akhirnya kau melakukannya?"

"Aku beruntung."

"Aku sedang sibuk, jadi tak bisa ngobrol. Aku akan datang lagi. Oh ya, kau punya nomorku?"

"Ya, ada."

"Bisa kirimkan aku nomor ponsel Jung Sun?"

"Baiklah."


Nyonya Yoo datang ke kantor Jung Woo untuk menemui Jung Woo. Sekretaris Jung Woo bertanya, sudahkan Nyonya Yoo membuat janji?

"Kau tak mengenalku? Buat apa bertanya? Mengganggu saja. Harusnya dalam bekerja lebih fleksibel."

"Anda tampak cantik hari ini."

"Itu sudah bawaan. Jangan membuang waktu."


Akhirnya Nyonya Yoo bisa menemui Jung Woo. tujuannya kesana adalah untuk memberitahu soal pameran bagus.

"Benarkah? Aku suka pameran."

"Profesor Min melangsungkan pameran solo."

Nyonya Yoo memberikan brosurnya, itu adalah pamerannya Daniel, Min Daniel. Nyonya Yoo terang-terangan meminta Jung Woo membeli lukisan itu.

"Aku sudah sering melihat lukisan Prof. Min sebelumnya."

"Tapi kau tidak membeli. Kau sangat dekat dengan Jung Sun seperti saudara. Aku punya penilaian bagus tentang dirimu."

"Ya, kalau begitu. Aku tidak bisa membeli lukisannya, katakan padaku kalau perlu sesuatu."

"Kami tak butuh apapun."

"Kalau begitu aku akan memilih sesuatu dan mengirimkan untukmu."

"Jangan katakan pada Jung Sun aku ke sini. Dia terlalu ketat. Menurutnya mendapatkan sesuatu dari orang adalah dosa. Kalau dia tahu bisa marah."

"Baiklah Eomonim. Jangan khawatir."

"Aku senang karena kau ada di sisi Jung Sun. Aku lega. Bukankah lukisan Prof. Min bagus? Bukankah mirip lukisan Vincent van Gogh?"

Jung Woo tidak begitu menanggapi.


Hyun Soo ada di sebuah tempat parkir, ia mengingat kata-kata Kyung tadi bahwa Soo Young menelfon untukminta maaf karena sudah menjadi penulis "Detektif Menyimpang". Dan Penulis Park Eun Sung menjadi proofreading (koreksi cetakan percobaan).


Hyun SOo lalu menghubungi Sutradara Min, ia ingin bertemu.

"Daripada bertemu aku, tuliskan naskah."

"Aku melihat naskah episode 8 yang kau unggah. Itu bukan tulisanku."

"Ah.. Asisten sutradara salah mengunggah."

"Apa asisten sutradara bisa mengunggah naskah yang tidak ada?"

"Kau sudah bicara dengan Hong Jin? Dia marah padaku."

"Ayo kita bicara."

"Aku tidak perlu bicara."

"Aku perlu."

Hyun Soo langsung menutup telfon dan keluar dari mobilnya.


Sutradara Min tak menynagka Hyun Soo akan mematikan telfonnya. Penulis Park menenangkan, begiru lebih baik, mengakui tulisan Soo Young lebih baik daripada menjadi penulis bayangan.

"Saat ini, bukan waktunya fokus pada pencapaian pribadimu. Penulis Park, bisa tidak membantuku?"

"Ya."


Lalu Produser menghubungi Sutradara Min, menanyakan keberadaannya saat ini, kan sudah ia bilang untuk ke kantor.

"Aku sedang kerja. Aku menyunting naskah. Penulisnya tidak menulis dengan benar, jadi kutulis ulang."

"Datang saja. Pokoknya datang ke sini."


Sutradara Min menggerutu karena Produser menutup telfon sebelum ia selesai bicara. Lihat apa yang terjadi karena ia salah memilih penulis?!

Penulis Park: Sutradara Min. Bagian mana di naskah kami yang tak kau sukai?

Sutradara Min: Buat apa Shin Ha Rim meminta bantuan di sini?

Bel pintu berbunyi dan ternyata yang datang adalah Hyun Soo. Penulis Park terkejut, Sutradara Min juga.

Penulis Park: Oh, serius. Aduh, kau benar. Aduh, jantungku. Situasi macam apa ini? Rasanya seperti tertangkap basah selingkuh.

Soo Young: Kau pernah selingkuh?

Penulis Park: Soo Young! Kenapa kau tidak mengerti apapun?! Buka saja pintunya!


Soo Young pun membukakan pintu untuk Hyun Soo. Hyun Soo menyapa Soo Young, lama tak ketemu, Eonni.

Sementara itu, Penulis Park malah berdebat dengan Sutradara Min.

"Sutradara, aku membantu karena kau memintanya, tapi harusnya kau mengatur segalanya."

"Aku punya banyak pengalaman bekerja dengan penulis, tapi pertama kalinya seperti ini. Aku tidak siap untuk ini. Mana bisa aku menyiapkan diri kalau dia tidak bisa ditebak?"

Hyun Soo menyela dengan mengucapkan salam pada Penulis Park. Penulis Park menyesalkan harusnya mereka bertemu untuk alasan bagus, tapi situasinya begini.

"Aku datang karena mau bicara dengan sutradara."

"Sebelum kau mulai, aku duluan."


Penulis Park: Sutradara Min. Aku mau membantumu, tapi sepertinya tidak bisa. Mana bisa aku menjegal jalan juniorku?

Sutradara Min: Baiklah. Lagipula episode 8 perlu diperbaiki. Itu tidak bagus.

Penulis Park: Omo, apa katamu? Aku kerja semalaman karena kau minta tolong padaku. Aku kerja...

Sutradara Min: Makasih, penulis Park.

Penulis Park: Omo!


Sutradara Min mengajak Hyun Soo keluar, bicara di luar saja. Penulis Park masih tidak terima pada perlakuan Sutradara Min, Apa-apaan ini? Begitu saja?!

"Nanti aku traktir kau minum!"

"Kau kira aku tergila-gila pada minuman?"

"Augh..."

"Sutradara Min!!"


AKhirnya Sutradara Min pergi juga. Penulis Park meminta Hyun Soo kembali karena suasanan sedang tidak baik.

"Penulis. Anda ingat perkataanmu padaku.. anda tak pernah melihat orang sejahat aku selama 10 tahun menulis?"

"Saat marah orang berkata seenaknya. Itu masa lalu. Kau sudah jadi penulis."

"Anda juga berkata begini. "Kau tidak akan jadi penulis, dari awal hanya orang jahat yang sukses di bidang ini"

"Kau menyimpan dendam?"

"Saat itu aku marah sekali...  karena aku terlalu baik. Aku bekerja sangat keras. Aku ingin berhasil menjadi penulis. Aku shock mendengar ini dari seorang yang sangat kuhormati. Tapi, sepertinya penulis pandai menilai orang. Memang benar aku ini jahat. Semoga kita tidak bertemu lagi."


Hyun Soo: Mulai hari ini, aku akan menyumpahi penulis.

Hyun Soo pun pergi dan Penulis Park menahan nafas saking shock-nya.


Jung Sun keluar untuk mengawasi reaksi pelanggan akan didangannya. Mereka memuji hidangan itu, juga membahas chef-nya yang tampan. Mereka kemudian memotretnya dan menggunggahnya di SNS.


Mereka menghabiskan hidangannya, bahkan menuliskan pesan pujian di piring, ada heart-nya juga.

Won Joon: Aey, manis sekali. Mereka pasti suka hidangan kita.

Ha Sung: Kau kekanakan sekali.

WOn Joon: Apanya?

Ha Sung: Kau memuji dirimu sendiri.


Min Ho akan mencuci piring-piring itu tapi Kyung Soo menahannya, mau di foto dulu.

Min Hoo: Aigoo, buruan potret

Won Joon: Maknae kita tak paham romantisme, ya?


Jung Sun masuk, semua bertanya, dihabiskan? Jung Sun tersenyum, pencuci mulut selesai. Semua berteriak gembira.

Jung Sun: Senang sekali?

Won Joon: Tentu saja! *dan yang lain manggut-manggut menyetujui

Jung Sun: Ada yang punya rencana sepulang kerja? Kalau tidak ada, ayo kita lari. Ini kerjasama tim.

Ha Sung: Ada yang mau di bicarakan?

Jung Sun: Ada. Aku putuskan untuk muncul di TV.

Min Ho: Daebak

Jung Sun: Mulai sekarang kalian harus fokus. Akan ada waktunya aku tidak ada di sini. Sous-chef dan kalian semua harus mengisi kekosonganku. Bisa dilakukan?

Semua: Kami bisa!


Mereka lari di lapangan, balapan. Kyung Soo yang pertama dan Ha Sung yang paling terakhir.


Mereka lari di lapangan, balapan. Kyung Soo yang pertama dan Ha Sung yang paling terakhir.

Kyung Soo: Cuma pandai bicara! Tubuhmu tidak fit

Ha Sung: Kau cuma bisa lari.

Won Joon: Kalian bertengkar lagi?

Jung Woo: Kalian mau lari lagi? *Ha Sung menggeleng.

Min Ho: Taruhan 10 dolar buat Kyung Soo

Won Joon: Aigoo, kapan kau belajar begitu?

Jung Sun: Tidak bisa. Kita semua harus lari lagi. Yang kalah, mencuci piring selama seminggu

Min Ho: Oke! Kalalu begini aku semangat untuk lari.


Mereka lari lagi dan urutannya masih sama.

Jung Sun: Good

Semua: Soup!

Jung Sun: Good.

Semua: Soup.

Jung Sun: Tidak kedengaran. Good Soup, fighting!

Semua: Fighting!


Hyun Soo datang ke lokasi syuting. Dimana Produser dan Sutradara Min bicara berdua.

Produser: Kau tidak mau syuting ini? Sudah gila?

Sutradara Min: Tidak, bukan naskah ini.

Produser: Lalu bagaimana lagi? Kau tidak suka tulisan penulis Lee, tulisan penulis lain juga tidak suka.

Sutradara Min: Tidak banyak penulis drama. Harusnya kutulis sendiri. Aku bisa menulis lebih baik menggunakan kakiku.


Produser mengancam, apa Sutradara Min mau keluar dari perusahaan sesudah ini? Sutradara Min bersikap sulit agar dinilai lebih tinggi?

"Aey, Hyung!"

"Cari jalan tengah saja dengan penulis Lee. Penulis Lee sudah menulis semuanya. semuanya konsisten. Harusnya bekerja dari situ. Kalau kau begini terus, jadwal kita bisa berantakan!"

"Penulisnya tidak mau mendengarkan aku."

"Aku belum pernah melihat penulis bagus yang patuh."

"Lalu bagaimana dengan Shin Ha Rim? Dia berlagak seolah dia sutradara di lokasi. Dia membuatku gila!"

"Siapa yang mempersulit dirimu? Kau sendiri yang mempersulit dirimu. Lalu, Penulis Lee beda dengan yang lain. Kau juga tahu dia bagaimana?"

"Aku tahu. Aku kira dia baik karena tampak rapuh dan sering senyum. Tidak kusangka akan membuat kekacauan."

"Tolong berhenti mempersulit aku, dan bekerja sama. Aku bisa mati karena dirimu. Petinggi sudah menekanku karena rating, mereka minta lebih banyak iklan. Aah!"

"Aku bisa gila. Besok pagi sudah harus syuting."


Hyun Soo lalu mendekat, mereka belum selesai?

Produser: Tidak, tidak. Kami sudah selesai. Kalian berdua bisa bicara. Aku sudah selesai.

Hyun Soo: Ada yang mau kukatakan pada Anda. Baguslah sutradara ada juga di sini. Kalau dengar dari orang lain kau akan merasa kesal.

Sutradara Min: Apa lagi ini?

Hyun Soo: Produser berkata padaku aku bisa cocok dengan Sutradara Min dan harus bekerja dengannya.


Hyun Soo: Tolong ganti sutradaranya.

Sutradara Min: Sikap seenaknya macam apa itu?!

Hyun Soo: Setidaknya aku tidak menusuk orang dari belakang.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon