Wednesday, October 4, 2017

Sinopsis Temperature of Love Episode 9


Sumber Gambar: SBS


Kembali ke tahun 2012, saat Hyun Soo mendapat telfon dari panitia kontes, bahwa ia menjadi salah satu pemenangnya. Saat itu Hong Ah menelfonnya dan di depannya Hong Ah tampak sangat ceria, namun setelah menutup telfon, ia mendesah berat.


Hong Ah kemudian menelfon Won Joon untuk datang ke Seoul, ia harus bermain dengan orang yang bisa ia jadikan pelampiasan amarah.

"Baiklah." Jawab Won Joon tanpa keberatan.


Won Joon sudah bersiap-siap dan Hong Ah menelfonnya lagi.

"Oppa, kenapa kau baik sekali seperti orang bodoh? Kau datang karena aku suruh datang? Kau mudah sekali diperalat."

"Aku hanya begini padamu."

"Kau sudah mulai melampiaskan amarahmu?"

"Oppa kenapa kau suka aku?"

"Bukan misteri kalau laki-laki menyukai perempuan."

"Aku mau sendiri."

"Ada masalah?"

"Aku gagal dalam kontes."

"Kau bisa mencoba lagi. Kau punya kemampuan membuat orang marah. Selama kau menggabungkan kepribadianmu dalam menulis maka akan berhasil."

"Itu hiburan dan pujian?"

"Aku bersikap menyedihkan, dengan berusaha keras di situasi seperti ini."


Hong Ah menghibur dirinya sendiri setelah bicara dengan Won Joon di telfon, bukan masalah besar kalau ia gagal dalam kontes.


Hong Ah melupakan kegagalannya dengan pergi clubbing.


Hong Ah di dekati dua orang pria, mereka tanya-tanya tentang Hong Ah, tapi kemudian Won Joon datang, Hong AH langsung meninggalkan mereka.


Won Joon menenangkan, gagal dalam kontes bukan apa-apa. Hong AH kan pasti juga tahu bahwa tidak mudah menjadi penulis.

"Akhirnya aku tahu kenapa aku merasa menderita." Kata Hong Ah.


Hong Ah mengaku, ia terganggu karena Hyun Soo berhasil sedangkan ia gagal. Itu menunjukan betapa pecundangnya dirinya.

"Aku menderita... menjadi pecundang."


Hyun Soo menepati janjinya dengan mentraktir Hong Ah makan di restoran tempat Jung Sun bekerja dulu. Hyun Soo menghirup aroma bunga dan makanan, ia merasa senang.

Hong Ah: Senang kan? Lolos kontes, artinya akan debut drama TV dan menjadi penulis.

Hyun Soo: Maksudku, aku senang bisa mentraktirmu makan di sini.

Hong Ah: Kau masih ingat?

Hyun Soo: Tentu saja. Dulu saat aku gagal kontes, kau ingin mentraktirku di sini. Saat itu aku sangat berterimakasih padamu.


Jung Woo dan Pak Produser juga akan makan disana dan mereka bertemu. Produser memuji drama Hyun Soo. Hyun Soo merendah, ia hanya tertolong oleh sutradara dan aktor yang bagus.

"Aigoo, kau terlalu rendah hati. Kau sedang berpura-pura?" Tanggapan Produser.

"Aku suka kalau dia kadang-kadang begitu. Ia sudah menandatangani kontrak di perusahaanku." Kata Jung WOo.

"Sungguh? Baguslah. Dia lolos kontes tahun ini." Jawab Produser.

Jung Woo lalu mengajak Produser untuk pergi ke meja mereka agar wanita-wanita itu bisa menikmati makanannya. Namun sebelumnya, Jung Woo berkata pada Hyun Soo akan membayari makanan Hyun Soo itu dan Hyun Soo tidak boleh menolaknya, kalau tidak, ia akan marah


Hyun Soo mengatakan pada Hong Ah kalau makanan hari ini tidak masuk hitungan karena bukan ia yang membayar, lain kali ia akan mentraktir lagi.

"Dia tergila-gila pada Eonni. Bagusnya, kau bisa berpacaran dengan CEO perusahaan produksi."

"Tidak benar."

"Kau bilang Ia melamarmu. Ditambah lagi kau tanda tangan kontrak dengannya. Bukankah CEO Park Jung Woo pangeran sempurna?"

"Aku bukan Cinderella. Aku tak punya pilihan selain bekerja dengannya. Ia orang pertama yang mengakui bakatku. Ini bukan hubungan pria dan wanita."

"Begitulah semuanya di mulai... cinta."


Lalu kita loncat ke Paris, 2013. Saat Hong Ah bertanya apa Jung Sun menyukai Hyun Soo. Jung Sun membenarkan, ia bukan suka lagi tapi mencintai Hyun Soo, walaupun akhirnya ia ditolak.

"Tentu saja Ia menolakmu. Eonni sedang berpacaran dengan pria hebat. Usia pria itu lebih tua dari eonni. Ia banyak uang, dan juga tampan. Ia hanya menyukai eonni. Dia tipe laki-laki idaman semua perempuan." Jelas Hong Ah.


Mendengar itu, Jung Sun diam saja. Hong Ah menebak, apa Jung Sun kaget? Jung Sun mengelaknya, ia sudah menyiapkan diri karena Hyun Soo itu cantik dan kepribadiannya bagus, jadi tidak mungkin melajang dalamwaktu lama.

"Biasanya aku yang sering dikatakan cantik dan baik hati untuk melajang terlalu lama. Eonni, tipe biasa dan sederhana."

"Kau percaya diri sekali dengan wajahmu. Aku tidak pernah menganggapmu cantik."

"Kau orang pertama yang memperlakukan aku begini. Tapi aku tak masalah. Aku merasa nyaman. Mau pacaran denganku?"


Mendengar itu, Jung Sun terkejut. Hong Ah menjelaskan, ia dan Jung Sun itu punya banyak kesamaan.

"Kau sungguh menyukai aku? Menurutku kita sama sekali tidak mirip. Pacaran saja dengan orang yang membuatmu berdebar. Aku tidak tepat buatmu." Tolak Jung Sun.

"Apa karena Hyun Soo eonni? Sudah kubilang Ia sudah berpacaran."

"Hanya karena wanita itu berpacaran dengan pria lain, bukan berarti aku harus pacaran juga."

"Kenapa kau bisa sekejam ini padaku? Kalau perempuan mengajakmu pacaran duluan, harusnya kau pura-pura mempertimbangkannya? Kenapa kau begitu tegas menolakku?"

"Kau harus bersikap tegas, dalam hubungan pria dan wanita."

"Bagus sekali. Dasar menyebalkan!"


Won Joon kembali saat itu, ia heran melihat keduanya tampak saling bertengkar.

"Aku sudah buat keputusan. Setelah wajib militer, aku akan jadi Koki." Kata Won Joon.

"Apa kau kira mudah mewujudkan impian?!" Bentak Hong Ah.


Hong Ah menonton drama pertama Hyun Soo, "Pria Pemakan Steik Mentah". Ia mem-pause videonya saat Penulis naskah disebut: Lee Hyun Soo.


Narasi Hyun Soo: Karena aku dan Hong Ah berbagi mimpi yang sama sebagai penulis, kami sering berbagi waktu dan emosi bersama. Aku menyayangi Hong Ah. Aku tak ingin tahu kenapa Hong Ah bersikap bermusuhan padaku. Terkadang meskipun kita tak ingin tahu, beberapa hal terungkap pada waktunya.

 
-=Temperature of Love=-
(2017)


Hyun Soo dan Jung Sun bertemu di depan restoran Jung Sun. Hyun Soo mengakyu, ia tidak bisa lupa saat ia tidak mengangkat telfon Jung Sun, ia menyesalinya dan terluka karenanya.

"Kenapa menyesal dan terluka? Kau punya kekasih hebat, dan dapat mewujudkan impianmu menjadi penulis. Kenapa menyesal dan terluka?"


Hyun Soo tidak sempat menjawabnya karena Jung Woo keluar lagi. Kenapa masih di luar? Kalau dilihat orang asing, mereka kira ini pertengkaran antara kekasih.

Jung Woo lalu memegang pundak Jung Sun, "Ini pria kesukaanku."

Selanjutnya ia memegnag pundak Hyun Soo, "Ini wanita kesukaanku."


"Karena aku bersama dengan 2 orang kesukaanku, aku merasa sangat senang. Ayo masuk."


Jung Woo meminta pendapat Hyun Soo mengenai restiran Jung Sun, bagaimana?

"Bagus." Jawab Hyun Soo.

"Jangan beri jawaban singkat. Tambahkan beberapa kata sifat dalam perasaanmu. Kau penulis tapi cuma bisa bilang "bagus" dan "tidak bagus"."

"Yah, memang bagus."


Kyung Soo memberitahu yang lain bahwa Daepyonim-mereka bersama wanita baru lagi. Ha Sung memprotesnya, karena orang seperti Kyung Soo lah banyak rumor bertebaran.

"Dia bukan wanita. Melainkan klien bisnis." Lanjut Ha Sung.

"Kau selalu saja protektif pada CEO. Apa kau berharap Ia akan memberimu investasi juga?!" Kesal Kyung Soo.

"Kau kebanyakan nonton drama. Makanya jadi bikin drama sendiri."


Min Ho juga mengintip ke luar.


Won Joon segera memisahkan Kyung Soo dan Ha Sung, gak bisakah mereka akur sebentar saja!

Min Ho bertanya, siapa pria yang bersama wanita itu? Dia agak mirip gigolo. CEO? CEO apa?

Kyung Soo hanya bisa mengelus dada. Lalu Won Joon berkata, "Maknae kalau bicara tidak punya saringan. Kau minta di pukul."


Kyung Soo hanya bisa mengelus dada. Lalu Won Joon berkata, "Maknae kalau bicara tidak punya saringan. Kau minta di pukul."

Kyung Soo: Penampilanmu mirip lulusan Amerika, tapi omonganmu murahan dan kuno, si imut kita! *Kyung Soo menepuk pantat Min Ho.

Min Ho kesal, menjijikkan sekali. Tapi Ha Sung malah menakukan hal yang sama. Min Ho dongkol sekali.

Won Joon lalu merangkul mereka berdua dengan kuat karena sudah menggodak Maknae tercinta. Min Ho membalas dendam dengan menusuki perut mereka dengan jari.


Jung Sun masuk, memerintahkan mereka untuk kembali ke posisi. Mereka tamu pertama. Saat Jung Sun sedang mengeluarkan barang yang ia beli, Won Joon memintanya bicara berdua.


Won Joon bertanya, Jung Sun bertemu Hyun Soo dimana? Di depan. Apa Hyun Soo menghindar lagi? Jung Sun menjelaskan kalau posisi Hyun Soo kali ini tak bisa menghindar, soalnya ada Jung Woo.

"Bagaimana CEO dan Hyun Soo bisa saling kenal?" Tanya Won Joon.

"Mungkin sama denganku. Pemberi kontrak dan yang di kontrak."

"Dia bilang apa? Kenapa dia kabur? Bukankah dia kabur karena masih punya perasaan padamu?"


Jung Sun balik bertanya, apa Won Joon tidak dengar perkataan Hong Ah? Jung Wun punya pacar, sepertinya mereka akan menikah. Hyun SOo bahagia dan dunia berada di tangannya. Ia harus melindunginya.

"Itu kan perkataan Hong Ah. Kau tidak dengar langsung dari Hyun Soo. Hong Ah nyaris tak pernah bertemu Hyun Soo sekarang. Bisa saja sekarang situasinya berbeda."

"Faktanya Ia sudah menolakku. Aku cuma masa lalu Hyun Soo-ssi, begitu juga aku. Kami tidak jodoh."

"Tapi kau masih punya perasaan padanya."


Jung Sun menjelaskan, saat ini ia yang bertugas mengatur semua orang di Good Soup. Sudah 8 bulan sejak pembukaan, tapi mereka masih defisit. Won Joon mendesah, Jung Woo itu sangat ketat dalam memisahkan hubungan pribadi dan pekerjaan.

"Setelah tahun pertama investasi, Ia akan memecat beberapa pegawai. Karena Ia tak bisa memecatmu." Lanjut Won Joon.

"Ia bisa memecat sebanyak yang dia mau, dia CEO."

"Kalau kau masuk TV, orang akan mulai membahas soal dirimu dan Good Soup akan dikenal. Tapi kau tak mau?"

"Tidak mau. Aku tidak suka mendapatkan perhatian selain dari memasak."

"Kau tegas sekali, Chef-nim. Apa Hyun Soo nuna tahu? Kalau kau masuk TV karena dia, padahal kau orang yang teguh pada pendirian?"

"Aku ingin bersikap suportif. Bukan demi alasan lain, jadi jangan mengarang cerita."

"Saat ini aku hanya memikirkan soal Good Soup."

"Kenapa orang tidak menghargai "fine dining"?Mereka menghabiskan ratusan dolar di restoran barbekyu."

"Protes begitu hanya milik amatir. Kita hanya belum bisa membuat orang terkesan dengan hidangan kita. Harus berusaha lebih keras."

"Yes, Chef."

"Ah, bawakan aku bubuk herbal yang kugerus tadi malam. Ada di rumahku."


Makan pertama mereka datang, tart Jamur. Hyun Soo mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan makanan itu. Ia awalnya sumringah sampai Jung Woo menyuruh Soo Jung untuk memanggil Jung Sun.

Selesai memotret, Jung Woo mengambil makannya duluan. Hyun Spp bertanya, "Tart jamur. Bagaimana rasanya?"

"Enak."

"Jangan menggodaku."


Won Joon ke rumah Jung Woo, ia menemukan herbal yang dimaksud. Tapi ada yang lebih menarik pernhatiannya, naskah drama Hyun Soo, Detektif Menyimpang.

Won Joon membukanya dan membaca kalau asisten penulisnya adalah Hong Ah.


Kyung memasak Ramyeon, ia menawari Hong Ah untuk ikutan makan dan Hong Ah menerimanya. Kyung malah sebal karena Hong Ah tidak pernah memasak, tapi tidak pernah menolak jika di ajak makan.

"Kau bertanya dan berharap aku tolak?"

"Tidak. Aku cuma ingin tahu kalau nasib orang sudah ditentukan. Kau sudah terbiasa dilayani oleh orang. Tapi sejak aku lahir, aku harus melakukan semuanya sendirian jika mau hidup. Kalau kita bersama, aku sudah seperti pelayanmu."

"Pada akhirnya, kita sama-sama asisten. Apa bedanya hidupku denganmu?"

"Benar juga."

"Aku yang lebih menderita. Aku lahir dilimpahi banyak hal dibandingkan dirimu. Tapi saat ini kita sama."

"Benar juga! Ini membuat perasaanku lebih baik! Makan yang banyak."

"Aish, mendadak aku kesal."


Won Joon menghubungi Hong Ah langsung, apa benar Hong AH asisten oenulis Hyun Soo? Hong Ah terkejut, ia langsung menjauh dari Kyung.

"Bagaimana kau tahu?"

"Ayo bicara."


Won Joon kemudian menutup telfon. Kyung bertanya, siapa?

"Hyun Soo eonni sedang makan malam dengan CEO setelah rapat. Dia penjual yang bagus."

"Penjual? Omonganmu mulai asal lagi."


Jung Woo berkomentar saat Hyun Soo makan. Ia sudah mengenal Hyun Soo selama 5 tahun, tapi Hyun Soo sama sekali tak berubah, tetap bahagia meskipun di jatuhkan.

"Aku bisa apa lagi? Aku harus hidup."

"Kau harus hidup."


Jung Sun kesana dan langsung bertanya, baik-baik saja? Jung Woo balik bertanya, apanya?

"Hidangannya." Jawab Jung Woo.

"Jangan tanya aku, tapi penulis Lee. Ia pertama kali makan di sini."

Jung Sun lalu menoleh pada Hyun Soo. Hyun Soo berkata pada Jung Sun, makanannya enak, ia menggunakan bahasa formal.

"Syukurlah." Jawab Jung Sun.

"Kenapa menggunakan cheondemal [bahasa formal]?" Gumam Hyun Soo.

"Kau yang lebih dulu menggunakannya."

Jung Woo heran, "Kalian berdua ini kenapa? Daritadi kenapa bermusuhan sekali?"

Jung Sun bertanya, apa yang ingin Jung Woo katakan. Tidak, Jung Woo menyuruh Jung SUn duduk. Jung Sun menjelaskan, di jam kerja ia tak bisa duduk di meja tamu, ini soal etiket.

"Etiket yang bagus... padahal kita begitu akrab."

"Hyung juga harus menerapkannya. Kenapa memanggilku kalau tidak mau mengatakan apapun?"

"Ah, maafkan saya, Chef Ohn. Saya pasti salah paham karena menganggap ANda adikku dan bukan chef."

"Ah, benarkah? Kalau begitu saya permisi."


Jung Woo kembali pada Hyun Soo, sampai dimana mereka tadi? Hyun Soo bertanya, Mau membahas soal naskah? Jung Woo bilang tidak.

"Kalau tidak soal naskah, aku tak mau bicara soal lainnya. Masalah bisnis adalah urusan CEO."

"Zaman sekarang penulis bukan cuma menulis naskah. Mereka juga belajar soal bisnis. Tentunya, kalau kau menandatangani kontrak seumur hidup denganku, tak masalah. Bagaimana menurutmu?"

Hyun Soo mengalihkan pembicaraan dengan bertanya wine apa yang disajikan itu.


Ha Sung bertugas menyiapkan makanan. Jung Sun memeriksanya dan ada posisi yang salah sedikit. Ia membetulkannya lalu memanggil pelayan.


Jung Sun tidak melihat Won Joon, ia bertanya pada Ha Sung kemana Won Joon pergi. Won Joon tadi pamit Ha SUng untuk bertemu teman sebentar.

"Sekarang jam kerja. Teman apa?" Tanya Jung Sun lagi.


Kyung Soo menyahut, lagipula tak ada tamu. Won Joon juga cuma sebentar--. Jung Sun menoleh pada Kyung Soo, semuanya terdiam, lalu menjelaskan bahwa meskipun tak ada tamu mereka harus tetap bekerja.

"Ya, Chef!" Jawab semuanya kompak.


Hong Ah datang dengan cepat, Won Joon tak menyangkanya. Hong Ah memperingati, jangan sinis, jangan berlagak seolah tahu kelemahannya.

"Apa menjadi asisten penulis Hyun Soo nuna adalah kelemahan yang sangat besar?" Tanya Won Joon.

"Bagaimana kau tahu?"

Won Joon lalu menunjukkan naskah Jung Sun.


Hong Ah bertanya, apa Jung Sun juga tahu? Won Joon balik bertanya, apa Hong Ah takut, Jung Sun tahu juga?

"Ya.. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku gadis yang jahat."

"Kau tidak mengira perbuatanmu buruk?"

"Tidak. Mungkin orang berpikir begitu, tapi aku hanya diam. Aku bukannya berbohong."

"Kau bicara seolah-olah jarang bertemu Hyun Soo nuna. Itu yang kami tahu. Kau berkata seolah Ia akan menikah. Itu perbuatan buruk."

"Apa ada yang menderita karena perbuatanku? Apa aku melukai orang lain?"

"Aku akan cerita ke Jung Sun soal ini. Kau tahu kalau Jung Sun dan Hyun Soo nuna, pernah saling menyukai."


Hong Ah mulai berkaca-kaca, ia malu! Hyun Soo dan dirinya mulai belajar jadi penulis sama-sama. Ia gagal dalam semua kontes. Dan Hyun Soo lebih dulu menang.

"Dia bilang kalau aku melihat proses produksi drama, maka akan membantuku dalam menulis drama. Ia tanya apa aku berminat? Aku ingin melakukan.. apapun yang aku mau.. untuk menjadi penulis."

"Tapi bukan begini caranya."

"Mana bisa aku memberitahunya?! aku bekerja pada wanita yang dulunya Ia cintai? Mana bisa aku mengatakan itu, padahal Ia pria yang aku inginkan?"


Won Joon tidak menjawab lagi, ia pergi. Hong Ah menyuruhnya tutup mata saja.

"Kau bodoh. Jadilah bodoh demi aku." Lanjut Hong Ah.


Jung Woo dan Hyun Soo menyelesaikan makannya, lalu Joon Ha menelfon Jung Woo. Nada bicara Joon Ha seperti mabuk.

"Kau mabuk?" Tanya Jung Woo.

"Ya, aku baru minum. Aku ke kantor Hyun Soo, tapi dia tak ada."


Kyung memberinya soda, tapi ia tak bisa membukanya. Kyung membukakannya dan muncrat kemana-mana. Joon Ha masoh santai, tetap melanjutkan bicaranya di telfon.

"Hyung, Yi Book ingin aku membantu staf utamanya dalam syuting. Bagaimana?"

"Lakukan saja. Kalau kau bergabung, Hyun Soo akan merasa lebih tenang."

"Tapi hyung... Yi Bok menyewa penulis lain. Harusnya aku tidak cerita ini, bagaimana ini?"

"Menyewa penulis lain?!" Kaget Kyung.

Jung Woo mengerti, Sutradara Min memang dramatis.


Hyun Soo menatap Jung Woo dengan tatapan bertanya. Jung Woo mengatakan tidak ada apa-apa dan mereka harus kembali bekerja.

"Semangat~"

"CEO juga semangat~"


Hyun Soo bilang malam ini akan tidur di rumahnya. Jung Woo akan mengantarnya ke rumah tapi Hyun Soo menolak, ia bisa jalan karena dekat. Ia ingin jalan sendiri dan mengosongkan pikiranku.

"Baiklah."

Hyun Soo menyuruh Jung WOo pergi duluan, tapi Hyun Soo juga menyuruhnya pergi duluan. Hyun Soo pun pergi duluan.


Jam buka Good Soup akhirnya berakhir malam ini. Jung Sun mengucapkan kerja bagus untuk mereka semua.


Jung Sun bertanya pada Min Ho, apa Min Ho bertahan. Min Ho menjawab, ia belum pernah menyerah pada keputusan yang ia buat.


Kyung Soo: Huu... Keren sekali, bocah! * Lalu meminta uang 10.000 won pada Ha Sung.

Won Joon bertanya lagi apa mereka itu. Kyung SOo menjelaskan, jika kurang dari seminggu Min Ho mengundurkan diri, Ha Sung bertaruh 10.000 won dengannya.


Min Ho merebut uang itu lalu melarikan diri, tapi ia malah menabrak Hong AH di pintu. Ha Sung dan Kyung Soo berlari ke arah pintu, mereka menyapa Hong Ah.

"Nuna.. lama tak ketemu."

"Ah, halo.."


Hong Ah bertanya siapa Min Ho, anak baru? Min Ho kesal karena Hong Ah menggunakan bahasa banmal. Ha Sung menyela, meminta Hong AH tidak usah mengabaian Min Ho karena minggu depan mungkin tidak akan disana lagi.


Min Ho: Kenapa hyung bicara begitu?

Kyung: Bercanda! Kau tak punya selera humor.

Min Ho: Kenapa sih? Sudah kubilang jangan terlalu nempel seperti perempuan.

Ha Sung: Aku tidak izinkan kau kasar


Hong Ah meletakkan di meja apa yang ia bawa. Semuanya mengambil jatah masing-masing, namun Won Joon hanya memandang Hong Ah.


Jung Sun memberikan bagian Won Joon dan Hong Ah.


Hong Ah menganggap Jung Sun perhatian padanya. Jung Sun mengoreksi, bukan perhatian, cuma memberi bagian Hong AH saja.

"Omonganmu tak manis. Apa berkata "terima kasih" membuatmu sakit?"

"Terima kasih."

"Kau cepat belajar. Aku tak bisa membencimu."

Hong Ah lalu meminta Jung Sun membantunya.


Jung Woo ternyata mengikuti Hyun Soo dengan mobilnya.

"Kau kira aku akan pergi begitu saja?"

Hyun Soo hanya tersenyum.

"Naiklah."

"Makasih, CEO."

"Kau pandai sekali membuat batasan. Selalu saja memanggilku CEO."

"Lalu harus memanggilmu apa?"

"Oppa?"

"Oppa~~"

"Jangan. Aku merinding."

Keduanya ketawa. Hyun Soo meminta Jung Woo mengikutinya, ia akan menunjukkan sesuatu.


Hong AH ikut masuk ke ruamh Jung Sun padahal Jung Sun berkata akan mengambilkan barang yang diminta Hong Ah itu.

"Aku tidak mau menunggu. Belakangan ini aku marah pada hidupku."

"Kau sudah marah begitu lama. Waktu kau datang dari Korea untuk menemui aku, kau sudah marah."

"Aku tak menyangka hidupku bisa jatuh serendah ini."

"Kalau kau berpikir begitu soal hidupmu, maka benaran jatuh."

"Yaa~"

"Kecanduan apapun itu tidak baik. Hanya karena aku membuatkanmu teh campuranku, kau tak boleh selalu mengandalkannya untuk bisa tidur."

"Hidupku tidak seburuk itu. Aku berbakat. Aku akan jadi penulis sebelum 30 tahun."

"Ini 8 campuran rooibos dan 2 campuran daun sereh. Bisa membuatmu rileks dan tidur seperti bayi."


Hong Ah menerimanya, tapi menggerutu, kenapa ia patuh sekali pada Jung Sun? Ia tak mengerti, padahal Jung SUn tidak bersikap baik padanya.

"Aku memberimu teh ku, apa maksudmu aku tidak bersikap baik?"

"Benar juga. Tapi kenapa aku merasa kau tidak bersikap baik padaku?"

Jung Sun hanya tersenyum.


Jung Sun membahas soal ia yang bertemu Hyun SOo tadi. Hong Ah bertanya, lantas kenapa? Jung Sun suka?

"Kau tidak akrab lagi dengan Hyun Soo-ssi? Selama 2 tahun ini kau jarang membicarakan soal dirinya."

"Hubungan Eonni dan aku bukan lagi hubungan akrab dan tidak akrab. Kami melalui jalan yang sama. Hanya karena jalan kami sama bukan berarti ikatan kami semakin kuat."


Hyun Soo mengajak Jung Woo jalan dan mereka sampai di jalan buntu. Hyun Soo menjelaskan, ia kesana bukan mencari jalan.

Hyun SOo lalu menyapa bunga yang tumbuh di sela batu. Ia mengatakan pada Jung Woo kalau bunga itu adalah pejuang.

"Di sini ada bunga cantik." Kata Jung Woo.

"Iya, kan? Cantik? Sudah 5 tahun sejak aku melihat bunga ini. Setiap tahun sekitar jam begini, Ia menyapaku dan bertanya "kau baik-baik saja, kan? Seperti aku". Lalu aku jawab... "Hmm.. Aku hidup dengan baik". Bukan berarti hidup dengan nyaman. Tapi aku hidup."


Jung Woo tiba-tiba meletakkan tangannya di sambing bunga itu, "Jadi ini penyebab kau tetap ceria meskipun sudah jatuh?"


Hyun Soo jadi teringat saat Jung SUn melakukan hal yang sama.


Hyun Soo menatap Jung Woo sekarang. Jung Woo meminta pengakuan,

"Bukankah aku bagus? Selama 5 tahun aku tetap bersikap baik pada wanita yang sudah menolakku."

"Terima kasih."

"Kenapa berterimakasih? Karena menyerah? Kalau soal itu masih terlalu dini untuk berterimakasih."

"Kau orang pertama yang mengakui bakatku dan percaya padaku selama ini."

"Kau membuat batasan lagi, sebagai CEO dan penulis. Batasan itu mau dibuat sampai kapan? Ini karena kau wanita-ku, bukan karena kau penulis. Aku tidak suka penulis. Mereka kebanyakan gila."

"Aku juga gila. Kau tak tahu?"


Jung Woo mendekatkan wajahnya kepada Hyun Soo dan Hyun Soo sontak menghindar.

"Tidak tahu. Kenapa kaget sekali?" Tanya Jung Woo.


Hyun Soo hanya tersenyum, lalu menanyakan apa yang Joon Ha katakan tadi. Katakan saja, ia ingin tahu apa yang harus kuhadapi.

"Mereka menyewa penulis lain."

Hyun Soo tampak shock.

"Bertahanlah seperti bunga ini."

"Ini terlalu sulit."

1 komentar so far

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon