Friday, October 13, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 11


Sinopsis While You Were Sleeping Episode 11

Sumber Gambar: SBS


Si pemilik resto ayam mengambil banyak uang di ATM, sampai orang-orang yang lewat memandanginya. Lalu Cho Hee menelfon tapi dia tidak menjawabnya.


Ternyata Cho Hee saat ini sedang bersama dua Detektif. Detektif satu menduga pemilik resto ayam tahu mereka mengejarnya, ia lalu memerintahkan rekannya melacak semua catatan telepon dan kartu kreditnya. Jika tidak ada hasilnya, jadikan dia tersangka.

Cho Hee terkejut, "Pak, tersangka? Kakakku tidak melakukan kesalahan."


Yoo Beom masuk kantor, ia diberitahu sekretarisnya kalau tamu Yoo Beom sudah menunggu di dalam.

"Tamu? Aku tidak ada janji temu hari ini."

"Tamu yang datang hari ini untuk kali pertama."


Yoo Beom mengerti dan masuk ke dalam. Ternyata tamu Yoo Beom adalah pemilik resto ayam. Yoo Beom keluar lagi, setelah meminta maaf pada pemilik resto ayam itu.


Yoo Beom bertanya pada Sekretarisnya, apakah kasus tamunya itu pro bono? Sekretaris menjawab tidak. Yoo Beom bertanya lagi, apa reputasinya sudah turun, hanya karena ia kalah dalam kasus Park Joon Mo?

"Tidak."

"Lalu kenapa klienku seperti itu?"

"Bicaralah lebih dahulu dengannya. Pasti ada alasan kenapa dia datang menemui Anda."

"Baiklah."


Yoo Beom masuk lagi dan ia mengenalkan diri. Pemilik resto ayam juga megenalkan diri, namanya Kang Dae Hee. Dae Hee meminta seorang pengacara yang pernah menjadi jaksa dan ia disarankan untuk menemui Yoo Beom.

"Anda benar. Silakan duduk." Kata Yoo Beom.


Yoo Beom menjelaskan, ia tidak menerima sembarang kasus. Ia harus mendengarkan kasus Dae Hee dulu dan memutuskan apakah bisa ia terima. Yoo Beom kembali mencopot jam tangannya.

Dae Hee lalu membuka tasnya di meja, menunjukkan uang banyak yang ia punya. Dae Hee berkata bisa membayar sebanyak yang Yoo Beom minta.

"Aku tidak bertaruh pada uang. Aku bertaruh pada peluang. Tolong beri tahu aku. Bagaimana aku bisa membantumu?"


Dae Hee mengaku kalau ia mendapatkan tuduhan palsu. Belum lama ini, ia terlibat dalam kecelakaan mobil, dan ia kehilangan adiknya. Polisi menuduhnya merekayasa kecelakaan itu demi asuransi adiknya. Surat perintah penangkapannya bahkan dikeluarkan.

"Apakah surat perintah itu menyatakan kau sengaja membunuh adikmu?"

"Tidak. Aku belum melihat isi surat perintah itu. Aku pergi saat polisi datang."

"Maka kau bahkan tidak tahu isi surat perintah itu."

"Tidak, bukan begitu."

"Baiklah. Jika aku masih seorang jaksa, kau baru membuat kesalahan besar." Yoo Beom berdiri dan menuju pintu, ia menutupnya dan menguncinya, "Tapi jangan khawatir. Kini aku seorang pengacara. Demi etika pengacara, aku tidak bisa membocorkan perkataan klienku."


Yoo Beom melanjutkan, jika Dae Hee mau hidup, berbohonglah kepada jaksa. Tapi katakanlah kepadanya apa kemauan Dae Hee. Tindakan Dae Hee sekarang bagaikan menabur garam di laut. Dae Hee kelihatan bingung.

"Maksudku.. kau harus berterus terang kepadaku. Jadi, aku bisa memperbaiki letak kesalahannya." Jelas Yoo Beom, lalu bertanya apa Dae Hee beneran membunuh adiknya?


Dae Hee mengangguk setelah berpikir beberapa detik. Ia lalu mencopot topinya.

"Apa yang kumau darimu adalah di pengadilan nanti, buat aku menjadi tidak bersalah."


Jae Chan bermimpi, ia dan Hong Joo memakai kaos pasangan, dan menonton berita. Jae Chan bertanya, kapan kasusunya ditayangkan?  Hong Joo lalu membesarkan volume TV-nya.


Hong Joo yang melaporkan kasus Jae Chan itu, kasus Kang Dae Hee.

"Kejaksaan Wilayah Seoul Hangang menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Kang, terdakwa berusia 37 tahun atas pembunuhan dan penipuan dalam sidang terakhir. Terdakwa Kang sengaja membunuh kedua adiknya demi santunan kematian karena kecelakaan yang didaftarkan sejak Juni 2015. Kang dipenjara dan diadili atas pembunuhan tersebut. Saya Nam Hong Joo, dari SBC News."


Jae Chan cemberut, harusnya Hong Joo menyebut namanya karena ia yang menuntut terdakwa, Kejaksaan Wilayah Hangang Seoul tidak melakukan apa pun.

"Jadi, menurutmu ini tidak adil?" Tanya Hong Joo.

"Aku hanya kasihan. Bukan berarti ini tidak adil."

"Begitukah? Aku hendak menghiburmu jika kau merasa ini tidak adil."


Hong Joo duduk agak menjauh. Jae Chan lalu menariknya mendekat lagi, ia tiduran di bahu Hong Joo.

"Setelah kupikir dua kali, ini agak tidak adil." Ralat Jae Chan.

"Katakanlah kepadaku. Apa yang tidak adil?"


Ternyata yang dipeluk Jae Chan adalah adiknya, Seung Won. Seung Won bertanya, apanya yang tidak adil? Katakanlah, apa yang tidak adil? Seung Won menepuk-nepuk bahu Jae Chan lembut. Itu membuat Jae Chan terbangun dan langsung meloncat menjauh sambil berteriak.


Jae Chan marah, kenapa Seung Won ada di kasurnya, huh? Seung Won hendak membangunkan Jae Chan, tapi Jae Chan menarik lengannya dengan keras dan mengatakan tidak adil.

"kau seharusnya mengelak! Dasar pria murahan! Ini menjijikkan. Apa yang kukatakan?"

"Benar. Hyung juga tidak tahu apa perkataan Hyung. Karena Hyung yang salah, dan Hyung memalukan."

"Diamlah. Isshhh."


Seung Won lalu bertanya, Jae Chan mau sarapan? Sereal atau mi? Jae Chan teringat saat Ibu Hong Joo menawarinya sarapan sebagai ganti ia harus melindungi Hong Joo.

"Jangan khawatir. Hyung akan sarapan di rumah tetangga mulai sekarang." Kata Jae Chan pada Seung Won.

"Mulai sekarang? Maksud Hyung setiap hari?"

"Tetangga sebelah ingin membuatkan sarapan untuk kita."

"Itu bagus sekali."


Jae Chan berjalan keluar untuk mengambil minum dan Seung Won mengikutinya. Seung Won mengatakan kalau sarapan di rumah tetangga seberang sangat enak.

"Memang kau pernah mencobanya?"

"Aku pernah mencobanya."

"Kapan? Tanpa Hyung?"

"Ya, saat Hyung tidak ada."

"Wah.. Hyung sangat tidak suka kepadamu hari ini."


Jae Chan bersiap menggelitik Seung Won. Seung Won bilang tidak mau tapi Jae Chan gak peduli.


Di kamar mandi, Hong Joo menyalakan musik keras-keras, lagunya BIGBANG-Fantastic Baby. Ia heboh deh pokoknya menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu.


Hong Joo kemudian mematikan lagunya, ia memanggil ibu menanyakan dimana pisu cukurnya. Ia lalu membuka pintu kamar madi untuk menunjukkan bulu kakinya yang semakin banyak.

"Ibu, kenapa bulu kakiku banyak sekali? Aku baru saja bercukur kemarin dan sudah tumbuh lebat sekali. Tumbuhnya cepat sekali bagaikan kilat. Dan ketiakku lebih parah--."


Hong Joo kemudian mendongakkan kepala dan ia melihat ada Jae Chan dan Seung Won di depannya. Mereka semua mematung, canggung.


Ibu menjelaskan, "Hei, Hong Joo, berilah salam. Kita akan sarapan bersama mulai sekarang. Dan ketiakmu... Maksudnya, pisau cukurnya ada di samping sampo. Carilah lagi."

"Baiklah."

Hong Joo bersikap biasan saja, ia mengucapkan salam lalu kembali lagi ke kamar mandi dengan anggun.


Hong Joo panik di dalam, ia menyayangkan alisnya yang hilang setengah, seperti Mona Lisa. Aaaaa... Kenapa ia tidak diberkahi alis yang lebih tebal seperti bulu kakinya?


Ibu membagikan lauk untuk Jae Chan dan Seung Won. Ibu juga menjelaskan kalau Hong Joo adalah gadis yang sangat rapi. Hong Joo tidak akan membiarkan sehelai bulu tertinggal di kakinya.

"Aku mengerti." Jawab Jae Chan. Tapi Seung Won terlihat menahan tawanya. Maka Jae Chan memukul kepalanya agar berhenti tertawa.


Jae Chan bertanya, apa Ibu selalu sarapan sebanyak ini setiap hari? Seung Won yang menjawabnya, mengatakan kalau semua itu tidak ada apa-apanya, sebelumnya Ibu membuat daging kukus iris lima bumbu.

"Shabu-shabu buatan Anda waktu itu adalah yang terbaik."

"Enak sekali. Akan kucoba membuatnya lagi lain kali."



Hong Joo akhirnya bergabung dengan mereka di meja makan. Hong Joo protes pada ibunya, harusnya memberitahunya kalau mereka ada tamu.

"Ibu sudah memberitahumu, tapi musikmu terlalu kencang. Tidak apa-apa, Hong Joo. Semua orang seperti itu di rumah. Jadilah dirimu sendiri di rumah."


"Tidak sampai seperti itu, Bu." Kata Jae Chan.

"Berhenti berbohong. Hyungku tidak seperti manusia saat di rumah." Sahut Seung Won yang mendapatkan hadiah injakan dari Jae Chan.


Hong Joo ternyata tahu bagaimana Jae Chan kalau di rumah. Semua heran, bagaimana Hong Joo bisa tahu? 

Hong Joo: Aku sering melihat rumahmu di mimpiku. kau pergi bekerja tanpa berkeramas berhari-hari, bukan?

Jae Chan: tidak, tidak.


Seung Won: kau benar. Aku khawatir akan ada kutu di rambutnya.

Hong Joo: kau melepaskan kaus kaki dan celana sesukau dan kau tidak pernah menaruhnya di mesin cuci. Kenapa kau buang air besar tanpa menutup pintu kamar kecil?

Seung Won: Benar. Yang lebih parahnya,

Seung Won dan Hong Joo: Dia tidak menyiramnya!

Seung Won: kau hebat sekali. Bagaimana kau tahu semua itu dari mimpimu?

Hong Joo: Aku cukup sering memimpikan Hyungmu belakangan ini. Aku tidak bermaksud melihat isi rumahmu, tapi itu harus.


Seung Won marah karena Jae Chan snak tapi bungkusnya berceceran dimana-mana. Ia memukuli Jae Chan karena tidak mungkin Jae Chan mau membersihkannya. Tapi Jae Chan malah memukulnya balik.


Dan masih banyak kejadian memalukan lain.


Jae Chan malu banget. Hong Joo melarangnya malu karena itu adalah kejadian yang tidak boleh dilewatkan. Dan juga ia masih menahan diri demi harga diri Jae Chan. Haruskah ia katakan lebih banyak?!

"Hei, Nam Hong Joo-ssi."

"Apa?!"

"Aku mengakui semuanya. Jadi, hentikanlah. Mari kita makan."


Jae Chan masih tidak mau melihat Hong Joo saat menunggu bis di halte.

"Aku sudah melihatmu di rumah. Jadilah dirimu sendiri sekarang. Jangan berlagak rapi. Lagi pula, adikmu akan memberitahuku yang sebenarnya."

Jae Chan kembali membunag muka. Hong Joo bertanya, apa Jae Chan marah?


Lalu bis Jae Chan datang tapi Jae Chan tidak naik. Hong Joo tanya lagi, kenapa?

"Aku harus mengantarmu lebih dahulu ke tempat kerjamu."

"Ini sungguhan?"

"Sudah kubilang ini sungguhan."


Hong Joo akan menggandeng tangan Jae Chan tapi ia ragu. Sampai Jae Chan menarik tangannya karena bisnya sudah datang.


Hong Joo sebal. Jae Chan lalu menghampiri Hong Joo lagi dan menggenggam tangannya.

"Kenapa diam saja? Kita akan terlambat."


Di bis, mereka duduk berdampingan. Saling lirik-lirikan.

-=EPISODE 11 =-
Kata Orang-Orang Buta



Reporter Bong memberi dua kotak kartu nama untuk Hong Joo. Hong Joo heran, kenapa banyak sekali?

"Semua anggota kejaksaan diganti saat kau pergi. kau sebaiknya menyapa mereka satu per satu. Dua kotak mungkin tidak cukup."

"Baik. Ah.. Aku sungguh-sungguh memulainya dari awal lagi."


Hong Joo bersiap pergi dan Reporter Bang kembali berkata,

"Aku akan mengawasi laporan yang kau bawa. Polisi, jaksa, pemadam kebakaran, dan patroli. Apa yang mereka selidiki dan daftar terpenting mereka, kau harus mengetahui setiap detailnya, paham?"

"Bahkan patroli?"

"Kau tidak mau?"

"Tidak, aku suka itu. Aku merasa jauh lebih muda seperti pemula. Haruskah aku melapor kepada Anda setiap dua jam?"

"Itu ide bagus."

"Heol, aku salah ngomong."


Woo Tak dan Kyung Han kembali ke Restoran ibu untuk makan. Ibu heran, mengatakan kalau Hong Joo tidak ada hari ini.

"Kami tidak mencari dia. Kami kemari untuk makan. Aku belum sarapan, jadi, aku harus makan berat untuk melewati hari." Jawab Woo Tak.


Kyung Han menambahi, mereka tidak akan meminta bukti pembayaran hari ini. Pria sejati tidak akan meminta tagihan atau stempel kupon. Mereka tidak akan meminta hal semacam itu. Mereka sudah muak dengan semua itu.

Tapi ibu malah kesal, "Apa salahnya meminta bukti pembayaran? Itu bukti perdagangan yang adil yang harus diketahui polisi. Polisi seharusnya tidak berkata hal seperti itu."


Saat Ibu menjauh, Kyung Han berbisik pada Woo Tak, bagaimana ini? Sepertinya ia berbuat kesalahan lagi. Woo Tak juga kesal dibuatnya.


Tapi diam-diam ibu tersenyum melihat mereka gelisah seperti itu.


Hong Joo datang ke kantor Woo Tak dan saat Woo Tak datang ia langsung memanggilnya. Rekan Woo Tak yang cewek itu bertanya, apa mereka saling kenal? Tapi tidak ada yang menjawab.

Woo Tak bertanya pada Hong Joo, apa Hong Joo mendapat pekerjaan baru?

"Tidak, aku kembali ke pekerjaan lamaku. Aku tidak bisa menjadi cantik seumur hidupku. Aku harus bekerja keras."

Hong Joo lalu memberikan kartu namanya pada Woo Tak. Woo Tak minta maaf, ia tidak tahu kalau Hong Joo adalah seorang reporter.


Rekan wanita itu bertanya pada Kyung Han, bagaimana Woo Tak dan Hong Joo bisa saling mengenal?

"Mereka tidak memiliki banyak kesamaan. Tunggu.. Tampaknya mereka saling mengenal dengan sangat baik." Jawab Kyung Han.

Rekan wanita itu tampak kecewa. Keliatan banget ia naksir Woo Tak.


Woo Tak lalu mengantar Hong Joo keluar. Hong Joo bertanya, apa tidak ada apa pun di daftar terpenting di kantor Woo Tak? Ia harus melapor ke seniornya nih! Tapi tidak ada yang bisa ia laporkan.

Dan tiba-tiba senior Hong Joo menelfon, Hong Joo bingung karena tidak ada yang bisa ia laporkan. Ia meminta Woo Tak memberinya kasus.

"Ada kasus kucing kampung dibunuh. Itu pembunuhan berantai. Jumlah kucing yang dibunuh sejauh ini sekitar seratus."

Hong Joo menyampaikan semua itu pada Seniornya dan seniornya tampak puas. Woo Tak juga tersenyum senang.


Saatnya rapat di kantor Jaksa, tapi Hee Min tidak ikutan. Jaksa Lee mengatakan kalau Hee Min pergi mengawasi kasus penipuan santunan kematian.

"Kasus penipuan santunan kematian?" Tanya Jae Chan.

"Ya, itu juga relevan dengan kasusmu.

"Aku?"

"Ya. Aku di sini saat kau bertugas pada malam itu. Ingat? Ada kecelakaan mobil pada malam itu. Aku pergi untuk memeriksa jasadnya."

"Ya, aku ingat."

"Itu bukan kecelakaan mobil biasa."


Jaksa Lee melanjutkan, Hyung korban menentang autopsi itu. Jadi, ia memerintahkan pemulangan jasad itu kepada keluarganya. Tapi saat ia selidiki kasus ini, Hyungnya telah mendaftarkan korban ke asuransi kematian 2,7 juta dolar.

"Aku merinding. Karena Hyungnya menangisi korban dengan tersedu-sedu. Tapi sebenarnya dia yang membunuhnya dan berpura-pura menangis." Lanjut Jaksa Lee.


Jaksa Son menanggapi, "Dia harus berpura-pura demi mendapat 2,7 juta dolar."

Kepala Park bertanya, "Kenapa dia tega membunuh orang demi uang? Lagi pula, itu adiknya."


Jae Chan teringat mimpinya semalam, dimana ia melihat berita tentang orang yang membunuh dua adik kandungnya sendiri demi uang.


Jae Chan kemudian bertanya, apakah nama terdakwanya Kang? Kepala Park membenarkan, namanya Kang Dae Hee. Jae Chan bertanya lagi, apakah Dae Hee membunuh kedua adiknya?

"Tidak, hanya adik lelakinya. Adik perempuannya masih hidup." Jawab Jaksa Lee.

"Adik perempuannya masih hidup?"

"Ya. Tapi bagaimana kau tahu dia punya adik perempuan? kau melihat catatannya?"


Jae Chan menjawab tidak,ia cuma memikirkan kasus lain. Lalu ia bertanya lagi apa mungkin ada peluang Dae Hee menjadi tidak bersalah?

"Tidak mungkin! Dia mengaku telah membunuhnya saat kami menyelidikinya." Jawab Jaksa Lee.


Jaksa Son heran, "Bukan penyangkalan, tapi pengakuan. Tapi kenapa kau melakukan penyelidikan langsung lainnya?"

"Pengacaranya adalah Lee Yoo Beom." Jawab Jaksa Lee.

Jae Chan langsung mendongak terkejut,


Yoo Beom memanggil Hee Min dan aisiten Hee Min, Pil Soon. Mereka akan melakukan sidang kali ini, dimana Hee Min adalah jaksa penuntutnya dan Yoo Beom pengacara terdakwa.

"kau mempersiapkan banyak hal untuk persidangan." Komentar Yoo Beom melihat dokumen yang Pil Soon bawa.

"Tentu saja, aku mempersiapkan banyak hal." Jawab Hee Min.


Yoo Beom menyayangkan, seharusnya Hee Min mengatakan tidak sebagai sopan santun. Hee Min membantah, mempersiapkan banyak hal saat harus melawan Yoo Beom adalah sopan santun.

"Persidangan hari ini agak unik. kau mau minuman kola?" Kata Yoo Beom.

"Ya, memang unik. Seorang Hakim wanita dan semua panelisnya juga wanita." Balas Hee Min.

"Kurasa ini kali pertama ada dua hakim wanita di persidangan." Imbuh Pil Soon.

Yoo Beom mengaku, rasanya agak tidak nyaman, tapi ini harus adil, bukan?


Lalu seorang wanita di belakang mereka menyahut, Apa yang membuat Yoo Beom tidak nyaman? Yoo Beom terkejut, maksudnya?

"Apa yang salah dengan hakim wanita?"


Hee Min menyapa wanita itu, "Anda Nona Kim Joo Young, Asisten Kepala Hakim?"

"Senang bertemu denganmu."


Yoo Beom langsung mengoreksi, bukannya tidak nyaman hanya agak unik saja. Biasanya, semua hakimnya pria.

"Benar. Saat semua hakimnya pria, kau tidak mengatakan soal adil. Kini kau mengatakan soal adil karena semua hakimnya wanita. Bukankah hakim pria lebih cenderung tidak adil daripada hakim wanita? Aku sungguh tidak memahamimu."

Lalu Hakim itu pergi setelah mengambil minumannya.


Hee Min merasa hakim tadi benar, jika semua hakimnya pria, bersikap adil seharusnya tidak perlu ditekankan kepada wanita.

Pil Soon: Bagaimana ini Pengacara Lee.. hakim sudah tidak menyukaimu.

Yoo Beom: Benar, Aku akan dikalahkan oleh Jaksa Shin hari ini.

Hee Min: Ei.. Kasus ini berbeda.


Di ruang sidang, Dae Hee bertanya pada Yoo Beom,

"Katamu, kau bertaruh pada peluang. Berapa besar peluangku?"

"Sekitar 99 persen."

"Apa kita satu persennya?"


Hakim masuk, semua hadirin dimohon berdiri. Hee Min tersenyum pada hakim, harapannya besar untuk sidang ini.


Yoo Beom menjawab Dae Hee, "Tegakkan bahumu. Kita yang 99 persen."


Jaksa Lee menjelaskan pada Jae Chan, peluang dinyatakan bersalah adalah 99 persen. Ia mengurangi satu persen karena Yoo Beom pengacaranya. Tapi kenyataannya, dia pasti seratus persen bersalah.

"Anda sungguh berpikir mustahil dia menjadi tidak bersalah?"

"Kenapa kau ragu dia dinyatakan bersalah? Ada sesuatu yang kau ketahui?"

"Tidak, tapi kita harus berhati-hati pada setiap hal kecil."

"kau tidak berhati-hati pada perasaanku. kau yang sebaiknya berhati-hati. Jika dia tidak bersalah, aku rela mati. Aku bahkan juga belum membedah jasadnya."

Jae Chan hanya bisa menghela nafas. Jaksa Lee membentaknya, melarangnya menghela nafas padanya.


Saatnya Hee Min menjelaskan tuduhannya pada terdakwa.

"Terdakwa Kang Dae Hee mendaftarkan kedua adiknya sebagai peserta asuransi sejak Juni 2015. Dia pun terdaftar sebagai penerima santunan lebih dari 31 asuransi. TerdakwaKang membayar lebih dari 4.000 dolar per bulan untuk semua asuransi itu. Sumber penghasilannya mengalami masalah saat investasi sahamnya bermasalah, lalu demi mendapatkan santunan kematian dari asuransi, dia memutuskan untuk merekayasa kecelakaan mobil yang mengakhiri nyawa adiknya."


"Pada 23 Maret pukul 21.00, terdakwa dalam perjalanan mengantar adiknya pulang dan dia sengaja menabrak pagar. Ini mengakibatkan kematian adiknya."


"Terlebih lagi, terdakwa telah melaporkan informasi palsu tentang kasus kecelakaan mobil itu kepada tujuh perusahaan asuransi dan mengklaim 2,7 juta dolar."


"Karena itu, berdasarkan KUHP pasal 250, terdakwa dituntut atas pembunuhan. KUHP pasal 374-1 menyertakan penipuan pada kejahatannya dan harus diadili."


Hakim lalu bertanya pada Yoo Beom, apa mengakui tuduhan Hee Min itu.

"Tidak, saya mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan. Terdakwa.. mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan."

Hee Min tak menyangka Yoo Beom akan menjawab itu.


Lalu setelah sidang usai, Hee Min dan yang lain makan siang bersama. Mereka membahas masalah Dae Hee yang mengaku tidak bersalah atas tuduhanya. Tapi Hee Min merasa lebih baik, karena ia khawatir Dae Hee akan memohon ampunan.

"Lee Yoo Beom gegabah kali ini. Ini kasus pengakuan. Kenapa repot-repot membaliknya?" komentar Jaksa Lee.

Jae Chan ikut berkomentar, "Bukankah menurutmu ada alasannya Pengacara Lee membuatnya mengaku? Saat pengakuan dibuat, penyelidikan menjadi berkurang."

Jaksa Lee menyela, ada apa dengan Jae Chan itu? Mulut besar Jae Chan mengatakan hal yang sama waktu itu.

Jaksa Son: Mulut besarnya terdengar masuk akal kali ini. Pengakuan bisa menjadi strategi yang pintar. Penyelidikan berkurang dan bisa buktikan lebih baik di persidangan.


Jae Chan langsung memberi Jaksa Son hati. Jaksa Lee kesal, kenapa Jaksa Son memihak Jae Chan. Jaksa Lee juga menyuruh Jae Chan menurunkan hati kecil itu.


Namun ada yang lebih menarik perhatian, Kepala Park berdoa sendiri. Jaksa Lee heran, kenapa begitu?

"Mulai sekarang.. Mari kini kita berdoa masing-masing." Dan untuk Hee Min, Kepala Park melarangnya mengabaikan saran Jae Chan.

"Tentu tidak, Pak."


Jae Chan akan mengambil lada bubuk tapi Hee Min menyerobotnya. Hee Min lalu menuangkan lada itu banyak-banyak ke supnya sambil bicara dengan penuh penekanan.

"Jaksa Jung, terima kasih banyak atas nasihat tulusmu. Kukira nasihat itu hanya bisa dibuat oleh jaksa berpengalaman lebih dari 20 tahun. Tapi kau baru beberapa bulan. Bagaimana bisa kau memberiku nasihat berpengalaman itu? Aku juga ingin belajar."


Jaksa Lee berbisik pada Jaksa Son, apa itu sungguh pujian? Jaksa Son melirik jaksa Lee kesal.


Di rumah, Jae Chan menggerutu pada adiknya kalau Hee Min sudah membuatku malu!

"Kenapa Hyung memutar kata-katanya? Mungkin dia sungguh ingin belajar."


Jae Chan kesal, ia sampai mengarahkan penyedot debunya pada Seung WOn. Maksudnya, Hee Min itu keterlaluan dan harus diam.

"Kau tidak bisa membedakan sarkasme? Berapa nilaimu di pelajaran sastra? Huh? Huh?

"Kenapa Hyung melampiaskan kekesalan kepadaku? Aisshh.."


Jae Chan kemudian iangat kalau Hong Joo selalu melihatnya dalam mimpi, ia pun kembali bersikap lembut.

"Hyung seharusnya tidak melampiaskannya kepadamu."

"Ada apa dengan Hyung? Apa ada orang di sini?"

"Tolong angkat kakimu. Hyung harus membersihkannya."

"Ada apa dengan rambut Hyung yang biasanya berantakan di rumah? Hyung juga memakai krim wajah."

"Tidak."

"Ya. Kenapa Hyung memakai krim wajah di rumah? Apa karena dia bisa melihat Hyung di mimpinya?"

"Tidak, tutup mulutmu sekarang, Berandal."

"Jadi, itu benar. Hyung melakukan pekerjaan rumah dan memakai pakaian bagus hanya karena dia melihat Hyung. Hyung sedang menebar pesona."

"Awas kau, Berandal!"


Jae Chan ingat lagi, Hong Joo juga bilang kalau sudah melihat semunaya jadi ia tidak perlu berlagak rapi.  Toh Seung Won akan memberitahu Hong Joo semuanya.

Jae Chan kesal, ia lalu membuang penyedot debunya, "Dia memimpikan ini juga. Dia seperti manusia kamera pengawas. Astaga, aku bisa gila!"

"Hyung membuatku takut."

"Aku benar-benar pusing."


Saat Rapat, Reporter Bong menanyakan perihal laporan Hong Joo tentang pembunuhan berantai kucing liar di Sanggu-dong?

"Saat kuselidiki, hanya satu atau dua kucing beberapa bulan lalu. Tapi sekarang skala pembunuhan berantai makin besar. Sejauh ini, lebih dari 100 kucing mati."

"Siapa yang membunuh kucing-kucing itu?"

"Kucing-kucing itu mati diracun. Tidak ada memar. Menurut polisi, pasti ada satu tersangka."

"Terus laporkan ini sampai tersangka ditangkap."

"Apa aku harus mengikuti kasus ini? Kurasa acara TV "Animal Farm" seharusnya menayangkan ini."

"Kenapa? Kurasa kasus ini memiliki cerita. Ini seperti peringatan dini sebelum pembunuhan berantai. Salah satu tanda khasnya adalah kekerasan terhadap hewan. Ini seperti latihan sebelum pembunuhan berantai manusia. Dia membunuh lebih dari 100 kucing. Siapa pelakunya? Seperti apa orangnya? Apa hanya aku yang peduli?"


Semua orang setuju dengan pendapat Reporter Bong. Hong Joo cemberut, kenapa semua orang berbuat begitu padanya, ia kan juga ingin meliput manusia, bukan kucing.


Hong Joo datang ke mimpi Jae Chan, ia ada dalam bahaya, ada Dae Hee disana. Terlebih tangan Dae Hee ada darahnya. Tapi Hong Joo tidak sendiri, ada dua pasang kaki, dimana salah satunya hanya memakai sepatu sebelah saja.

Hong Joo: Jika kau melihat kejadian ini di dalam mimpimu...


Hong Joo tiba-tiba berteriak.


Jae Chan terbangun dari mimpinya,

"Kang Dae Hee... Kenapa dia ada di sana?"

3 komentar

Aaaaah,,, c4 bnget y bacanya... Pdh yg ng recap lama y bak😅 mkasih....

Koq blom up yach min sinop ep 12'y...semangatt yAch nulis sinop'y, aq udah nunggu dr td sore nih..Hehehe

Aaaaah,,, c4 bnget y bacanya... Pdh yg ng recap lama y bak😅 mkasih....

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon