Friday, October 20, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 14


Sinopsis While You Were Sleeping Episode 14

Sumber Gambar: SBS


Seung Won melihat Jae Chan berdiri di depan jendela. Ia akan menyalakan lampu tapi Jae Chan melarangnya.

Kemudian Seung Won ikut melihat apa yang Jae Chan lihat. Ternyata Hong Joo, Ibu Hong Joo dan Woo Tak sedang berpesta barbeku.



Ibu kembali memasukkan Woo Tak dalam daftar calon menantu. Ia memberi satu poin untuk Woo Tak karena sudah menyelamatkan Hong Joo, besa satu poin sama Jae Chan.


Ibu berjanji akan merawat Woo Tak dengan sangat baik sampai Woo Tak sembuh total. Ibu jug menayakan apa makanan kesukaan Woo Tak. Woo Tak memiliki banyak makanan kesukaan dan akan menunjukkan laporannya pada Ibu nanti, ibu tak masalah.

Woo Tak melihat-lihat sayuran yang ada disana tapi ia tidak melihat daun perilla, padahal daging harus dimakan dengan itu.

"Makan selada saja. Ada salad daun bawang juga." Kata Hong Joo.

"Barbeku tidak akan lengkap  tanpa daun perilla." Jawab Woo Tak.


Woo Tak kemudian menelfon Jae Chan, bertanya apa Jae Chan memiliki daun perilla di rumah. Jae Chan menjawab tidak punya.

"Bisakah kau membelikannya untuk kami? Aku sungguh tidak bisa makan daging tanpa daun perilla."

Jae Chan sebenarnya enggan, tapi tentu saja ia tidak bisa menolak. Woo Tak sekalian nitip acar lobak juga.

"Tentu, daun perilla dan acar lobak. Baiklah." Kata Jae Chan.


Setelah menutup telfon, Jae Chan bicara pada Seung Won, tiba-tiba ia ingat kutipan dari sebuah puisi. "kau harus melihat dari jauh untuk melihat kecantikannya. Kau harus melihatnya sekilas agar bisa menganggapnya manis. Pria itu seperti itu".

Seung Won bingung, memang ada ya puisi semacam itu? Jae Chan tiba-tiba membentak, tentu saja tidak ada! Dasar bodoh!

Jae Chan kemudian menyuruh Seung Won membersihkan rumah, ia akan segera kembali.


Jae Chan keluar rumah dan Hong Joo juga ternyata. Hong Joo mengajak Jae Chan pergi bersama. Jae Chan merasa tidak perlu dua orang untuk membeli daun perilla.

Hong Joo menunjukkan kartu kredit yang ia bawa, "Banyak yang dia inginkan. Dia juga memintaku membeli kaus kaki dan piama."

"Berarti kau harus ke toko besar itu."


Woo Tak menyahut dari atas, ia tahu toko besar itu jauh, jadi ia menyarankan mereka untuk menggunakan mobilnya saja.

Woo Tak melemparkan kuncinya dari atas dan Jae Chan menangkapnya. Mereka pun pergi ke toko itu dengan mobil Woo Tak.


Selama mereka belanja, Woo Tak melakukan panggilan video, Woo tak ingin melihat apa yang mereka beli.

"Penguin itu lucu. Beli itu juga." Kata Woo Tak.

"kau aneh sekali. kau menyukai boneka seperti ini?" Tanya Hong Joo.

"Bukan, aku hanya berpikir boneka itu mirip denganmu."


Jae Chan setuju, boneka itu memang mirip Hong Joo. Bertangan dan berkaki pendek, bermata lebar, dan berbibir manyun.


Selanjutnya Woo Tak menyuruh mereka membeli penutup mata dan Jae Chan harus mencobanya karena Woo Tak harus melihat penampilannya sebelum memutuskan untuk membeli.

Jae Chan pun terpaksa mencoba beberapa, taoi jadinya lucu.


Bukan hanya itu, Woo Tak juga ingin mmebeli tongkat pijat. Disini ia ribet banget menentukan pilihan tapi jatuhnya memutuskan pilihan yang pertama, yang ayam saja.


Mereka terjebak macet. Hong Joo melihat jam dan merasa pesta makan-makan pasti sudah selesai. Hong Joo mengkhawatirkan Woo Tak yang tak bisa makan daun perilla, sementara Jae Chan kelihatan senang.

Hong Joo menoleh ke samping, disana tepat di kafe tempat Cho Hee bekerja dan sampai saat ini Cho Hee masih belum masuk. Mereka menghela nafas berat.


Akhirnya mereka sampai rumah juga. Jae Chan menyuruh Hong Joo diam saja, ia nanti yang akan membawa semuanya. Tapi Hong Joo tidak mau, ia tidak ingin terus merepotkan Jae Chan.

"Apa? Kau pikir kau merepotkanku?"

"Ya, kau terus membantuku, tapi aku tidak bisa membalasnya."

"Kau sungguh membenci itu?"

"Ya. Aku ingin membalas semua kebaikanmu, tapi tidak bisa. Aku bisa apa? Aku akan membalasmu sedikit demi sedikit."


Jae Chan tiba-tiba menatap Hong Joo sambil meminta, bisakah Hong Joo mengecualikan dirinya?

"Apa?" Hong Joo terkejut.

"Jangan merasa kau harus membalasku. Kau tidak perlu sungkan. Kau tidak bisa seperti itu?"

"Kenapa kau ingin dijadikan pengecualian? Kau ingin membantuku setiap kali bertemu denganku? kau ingin melindungiku? kau mencemaskanku?"

"Ya."


Hong Joo tak menduga Jae Chan akan menjawab iya, ia jadi gugup karena tadinya ia hanya bergurau. 

"Ada apa denganmu belakangan ini? Aku sedang bergurau. Kenapa kau terus bersikap sok romantis? Kau membuatku bingung saja. Jadilah dirimu sendiri, dirimu yang biasanya."

Hong Joo tiba-tiba merasa gerah dan mengipas-kipaskan tangannya. Jae Chan mendadak memegang tangannya itu dan membuatnya menatap Jae Chan.

"Setelah ini, kita bisa menganggapnya impas." Kata Jae Chan.

"Apa?"


Jae Chan melingkarkan tangannya ke kursi Hong Joo, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Hong Joo. Tapi ia tidak bisa terus dekat, sabuk pengaman menghalanginya untuk terus mendekat. Jae Chan terus berusaha tapi tetap tidak bisa.

Hong Joo menatao Jae Chan bingung, "kau... kau sedang apa?"


Jae Chan malu, ia bersikap seolah tidak ada yang akan terjadi, ia melepas sabuk pengamannya lalu keluar. Hong Joo pun mengikutinya keluar.


Di rumah, Woo Tak baru selesai mandi dan bel pintu berbunyi, ia heran, apa Ibu Hong Joo sedang keluar ya?


Yang membunyikan bel adalah Hong Joo. Ia bertanya-tanya, apa ibunya sudah tidur ya? Hong Joo lalu meminta Jae Chan membawa belanjaannya, semantara ia akan mencari kunci gerbang di sakunya.

"Cepatlah!" Kesal Jae Chan.

"Aku sedang berusaha mencari kunciku."

Akhirnya Hong Joo menemukan kuncinya dan berhasil membuka pintu gerbang.


Kemudian Hong Joo berbalik menatap Jae Chan lagi, ia bertanya apa yang tadi akan Jae Chan lakukan di dalam mobil?

"Astaga. Bisakah kau tidak membahasnya? Hal serupa juga terjadi waktu itu, saat kau melepaskan celemekku. Apa yang kulakukan saat itu? Aku hanya diam karena aku menghargai perasaanmu. Jadi, kau juga harus--"


Hong Joo tiba-tiba memegang wajah Jae Chan dan mengecup bibirnya. Jae Chan diam tak bergerak sedikitpun, ia sangat terkejut.

Hong Joo juga sama, "Bukankah ini yang ingin kau lakukan? Kurasa memang ini. Mungkin aku keliru. Anggap saja ini tidak pernah terjadi, setuju?"

Hong Joo malu jadinya, ia melangkah masuk tapi keluar lagi karena ingat belanjaannya masih dibawa Jae Chan.


Jae Chan juga bingung di luar, ia butuh beberapa detik untuk mampu bergerak dari sanakemudian menuju rumahnya.

Dan ternyata, Woo Tak melihat mereka dari intercom di dalam rumah. Lalu ia mendengar Hong joo membuka pintu, maka ia cepat-cepat masuk ke dalam.


Hong Joo terduduk lemas, "Aku pasti sudah gila. Aku terus bersikap agresif kepadanya. Bagaimana nasibku saat bertemu dengannya besok?"


Woo Tak keluar lagi dan itu membuat Hong Joo segera berdiri. Woo Tak bertanya, kok lama sekali? Hong Joo menjawab kalau mereka terjebak macet.

"Periksa dahulu yang kubeli. Aku bisa menukarkannya."

"Tidak perlu. Aku suka semua yang kau beli."

Woo Tak membawa semuanya lalu masuk ke kamarnya. Hong Joo heran, bahkan Woo Tak sama sekali tidak memeriksanya tapi bilang menyukai semunaya.


Sampai di rumah Jae Chan menunjukkan wajah biasa saja, tapi lama-lam Jae Chan juga malu-malu gitu, lucu deh..


Seung Won mendekatinya sambil menggendong Woo Bin, katanya Woo Bin buang kotoran lagi di dapur. Jae Chan sama sekali gak marah, malah manja-manjain Woo Bin. Seung Won heran, Jae Chan mabuk ya?

"Tidak." Jawab Jae Chan.

Lalu Woo Bin turun dari gendongan Jae Chan.


Seung Won berkata kalau mereka mendapatkannya lagi. Jae Chan gak ngerti, mendapatkan apa?

"Ahjusshi itu mengirimi kita uang lagi. Entah bagaimana, dia berhasil menemukan alamat baru kita. Dia telah mengirimi kita uang selama hampir 10 tahun. Tidak bisakah kita menggunakan uang itu sekarang?"

"Ak akan kembalikan saat kita menemukan dia. Di mana uangnya?"

"Di meja kerja Hyung. Aku tidak menyentuhnya."

"Bagus."


Jae Chan langsung ke kamarnya untuk melihat uang itu. Uang itu ditujukan atas nama Jae Chan.

Kilas Balik..


Saat upacara pemakaman ayah mereka, Jae Chan menarik Hong Joo untuk menghindari para reporter yang ingin mewawancarai. Mereka bersembunyi di sebuah ruangan dan reporter tidak menemukan mereka.


Kemudian reporter yang lain berdatangan.

"Kita tidak punya waktu untuk mencari putranya. Kabarnya, kakak prajurit yang kabur itu ada di sini. Bedebah itu membuat masalah saat hendak menemui kakaknya. Kakaknya polisi. Lebih baik bicara dengannya ketimbang dengan bocah-bocah itu."

Kemudian parareporter itu pergi untuk mencari polisi itu.


Jae Chan kemudian bertanya pada Hong Joo, apa Hong Joo putra mendiang sopir bus itu? Hong Joo bingung awalnya tapi kemudian mengiyakan saja.


Hong Joo bertanya, apa Ahjusshi itu yang dibicarakan para reporter tadi?

"Maafkan aku." Kata Ahjusshi.

"Yang membunuh ayahku adalah adik Anda?" Tanya Jae Chan.

"Aku juga tidak menyangka. Aku tidak menyangka adikku akan melakukan hal semacam itu."


Jae Chan langsung berteriak dan memojokkan Ahjusshi, ia teriak histeris, menangis. Ahjusshi kembali hanya bisa mengucapkan maaf, sungguh minta maaf.

"Anda bilang, aku punya banyak waktu. Anda bilang, aku bisa membuat ayahku terkesan mulai sekarang. Anda yang mengatakan itu. Banyak waktu apanya?! Dia telah tiada. Ayahku telah pergi. Bagaimana aku bisa membuatnya terkesan? Bagaimana?!"

Jae Chan meraung, Hong Joo juga menangis, Ahjusshi juga tak bisa menahan tangisnya.

Kilas Balik Selesai...


Jae Chan kemudian memasukkan amplop uang itu ke dalam laci bersama dengan tumpukan amplop-amplop sebelumnya.


Keesokan harinya, Jae Chan menunggu di depan rumah Hong Joo tapi Hong Joo nya gak keluar-keluar. Ternyata Hong Joo mengintip dari bawah pintu gergang, ia sampai tiduran gitu.


Lalu ada Ibu yang mau membuang sampah, ia memanggil Hong Joo, sedang apa? Hong Joo mendekati ibunya dan menyuruhnya diam. Ia lalu berbisik.

"Ibu, Jae Chan sedang menungguku di luar."

"Lalu?"

"Bilang kepadanya aku sudah berangkat."

"Baiklah."


Ibu pun keluar, dan apa yang dikatakannya pada Jae Chan?

Ibu: Hong Joo memintaku bilang kepadamu bahwa dia sudah berangkat. Ada masalah apa? Kalian bertengkar?

Hong Joo shock mendengarnya dari dalam. Sementara Jae Chan tersenyum lebar dan bilang kalau mereka tidak bertengkar sama sekali.


Jae Chan lalu memanggil Hong Joo untuk segera keluar karena nanti bisa terlambat. Hong Joo menggerutui ibunya, tapi ia tetap harus keluar.


Hong Joo bersikap biasa saja, ia minta maaf karena sudah terlambat. Hong Joo kemudian mengajak Jae Chan bergegas dan pamitan pada Ibu menggunakan bahasa formal, tidak seperti biasanya. Jae Chan juga pamit pada Ibu.


Selama perjalanan, Hong Joo terus saja menjauh dari Jae Chan. Jae Chan menariknya mendekat, bertanya apa Hong Joo menghindarinya karena kejadian kemarin?

"Kemarin? Memangnya kemarin ada apa? Memangnya kemarin kita bertemu? Aku lupa."


Hong Joo menjauh lagi dan Jae Chan kembali menariknya mendekat.

"Kalau begitu, anggap saja tidak terjadi apa-apa kemarin. Itukah maumu?" Tanya Jae Chan.

"Memangnya apa yang terjadi? Aku tidak mengerti maksudmu."


Jae Chan akhirnya memegang kedua bahu Hong joo untuk bicara dengan saling bertatapan.

Jae Chan: Tidak terjadi apa-apa kemarin. Setuju?

Hong Joo: Ya.

Jae Chan: Jadi, jangan saling menghindar. Berhentilah menghilang setiap kali aku mencarimu.

Hong Joo mengerti dan mereka melanjutkan jalan seperti biasa.


Atlet Yoo kembali memanggil Hak Young untuk memperbaiki kabel sambungan di rumahnya. Atlet Yoo agak kesal gitu karena bulan ini sudah tiga kali rusaknya.

"Saat ini sedang perubahan musim. Ini karena perusahaan lain terus menyentuh kabelnya. Perubahan musim hampir selesai, jadi, ini tidak akan terjadi lagi."

"Kau selalu mengatakan itu, tapi itu selalu rusak lagi."

"Kalau begitu, Anda bisa meneleponku lagi. Begini... Nona. Saat Anda menerima panggilan survei nanti, tolong beri penilaian bagus untukku."

"Hanya jika pekerjaanmu bagus."


Hak Young membujuk, ia akan membawa kardus-kardus itu saat keluar tapi Atlet Yoo masih tidak seramah saat pertama kali.


Kyung Han patroli bersama rekan wanitanya karena Woo Tak masih belum masuk.

"Sunbaenim, kapan Letnan Han kembali bekerja?" Tanya rekan wanita itu.

"Katanya, dia akan kembali pekan depan."

"Sungguh?"

"Ya."

"Bagaimana jika kita ajak dia makan malam?"

"Biarkan dia beristirahat dulu secukupnya. Lagi pula, kau sedang  berpatroli bersamaku. Kenapa kau ingin makan malam bersamanya?"

"Itulah alasannya. Karena aku sedang berpatroli bersamamu. Setidaknya, aku ingin bertemu dia saat makan malam."


Kemudian mereka mendapat perintah dari pusat, ada yang melaporkan lokasi kematian tidak wajar.

Mereka langsung meluncur dan ternyata yang melapor adalah Ahjumma yang kemarin di rumah Atlet Yoo.

"Aku... Aku seorang pelayan. Saat membuka pintu, aku melihat..."


Mereka lalu masuk ke dalam dan melihat Atlet Yoo sudah tidak bernyawa dengan darah dimana-mana.


Kejadian itu langsung menjadi berita hangat, "Pemanah peraih medali emas, Yoo Su Kyung, ditemukan tidak bernyawa pada tanggal 21. Bukti terkini mengungkapkan ada kemungkinan bunuh diri. Polisi secara terbuka mencari tersangka utama, Do Hak Young. Reporter Nam Hong Joo akan memberikan info lebih lanjut."


Hong Joo: Ratu panah, Yoo Su Kyung, ditemukan tewas di rumahnya pada tanggal 21. Menurut keterangan polisi, dia tewas karena kehabisan darah akibat luka di kepala bagian belakangnya.Polisi berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan karena gambar geometris yang dibuat dengan darahnya yang ditemukan di lokasi. Berdasarkan hasil autopsi,


Saat ini, semua sedang sarapan di rumah Hong Joo dan Jae Chan kelihatan serius melihat berita TV.

Hong Joo: polisi memperkirakan korban tewas pada tanggal 21 pagi. Satu-satunya orang yang berkunjung ke rumahnya dalam kurun waktu itu adalah teknisi internet berusia 29 tahun, Do Hak Young. Polisi telah mengeluarkan daftar pencarian orang untuk tersangka. Karena keluhannya...


Hong Joo bertanya, kenapa serius begitu? Apa Woo Tak mengenal pelakunya? Woo Tak membantahnya.


Woo Tak kemudian memberikan daftar makanan kesukaannyapada ibu. Ia juga minta ijin untuk membawa pulang beberapa lauknya, ia ingin memakannya di rumah.

"Astaga, tentu saja. Aku sudah menunggu daftar ini." Jawab Ibu.


Hong Joo bertanya, apa Woo Tak mau pulang? Woo Tak membenarkan, karena sebentar lagi ia kembali bekerja. Jae Chan sangat senang mendengarnya, sungguh?


Tapi kemudian Jae Chan sadar kalau reaksinya sudah berlebihan. Ia pun ikut-ikutan yanga lain, sedih mendengar Woo Tak sudah mau pulang.


Jae Chan dan Hong Joo membantu Woo Tak memasukkan barang-barangnya ke mobil. Woo Tak merasa barangnya jadi semakin banyak.

"Tentu saja. Ingatlah semua barang yang kami belikan. Kau juga meminta begitu banyak makanan."


Hong Joo tiba-tiba mencubit tangan Jae Chan. Jae Chan kesakitan tapi menahannya. Hong Joo selanjutnya bergumam,

"Kau bilang, kita harus membalas kebaikannya. Sampai kapan pun, jangan lupakan kejadian itu."

"Aku sedang melakukannya. Apa lagi yang bisa kulakukan?"

Jae Chan selanjutnya meyuruh Woo Tak masuk mobil, ia akan mengantar.


Selama perjalanan Jae Chan memastikan Woo Tak merasa nyaman. Woo Tak tersenyum, memuji Jae Chan yang adalah pengemudi hebat.


Hong Joo menoleh ke samping dan ia melihat Cho Hee sudah kembali bekerja seperti biasa, ia bersyukur. Jae Chan juga. Sementara Woo Tak, bergantian memandangi Hong Joo dan Jae Chan, kemudan ia tersenyum.


Setelah sampai di rumah Woo Tak, mereka membongkar barang-barang. Hong Joo membongkar makanan dan menjelaskan semuanya pada Woo Tak. Sementara Jae Chan dan Woo Tak membongkar barang-barang yang lain.


Hong Joo akan memasukkan makanan ke kulkas dan ia ia melihat isi kulkas Woo tak kosong melompong hanya ada bir dan minuman. 


Woo Tak akan menunjukkanya tapi Jae Chan segera memeluknya, khawatir Hong Joo lihat nanti.

"Tidak sakit, bukan?" Tnaya Jae Chan.

"Ya."

"Kuakui, pelukanmu erat sekali."



Setelah selesai semua, Woo Tak mengantar mereka sampai di depan lift. Hong Joo mengatakan pesan Ibunya bahwa Woo Tak harus mampir setiap hari untuk sarapan di rumahnya dan juga langsung kabari kalau kehabisan makanan!

"Baiklah." Jawab Woo tak.

"Hubungi aku jika butuh bantuan. Aku akan langsung datang." Kata Jae Chan.

"Tenang saja. kau sudah banyak membantuku. Berkat kalian, hari-hariku belakangan ini menjadi indah. Jadi, anggap saja kita impas. Kalian sudah tidak berutang apa pun."


Jae Chan tdak mengerti apa maksud Woo tak itu. Woo Tak membenarkan apa yang Jae Chan katakan. Ia tidak berniat membahas cederanya ataupun kesal kepada mereka. Ia hanya senang mereka baik-baik saja.

"Jadi, aku tidak ingin melihatmu sedetik pun menangis. Jangan menyalahkan dirimu juga, ya?" Lanjut Woo Tak sambil menatap Hong Joo.



Jae Chan dan Hong Joo heran, apa Woo Tak melihat mereka di taman waktu itu? Woo Tak tidak melihatnya disana, melainkan melihat mereka di mimpi.

"Itukah alasanmu membuat kami melakukan semua permintaanmu?" Tanya Jae Chan.

"Kau baru menyadarinya? Astaga, itu menyakiti perasaanku. Aku tidak akan pernah menyusahkan orang lain tanpa alasan."

Pintu lift terbuka dan Woo Tak menyuruh mereka masuk.


Hong Joo tak menyangka Woo Tak menyuruh mereka kemarin-kemarin itu agar mereka merasa tidak terbebani. Dan wajah Jae Chan kelihatan kesal, marah ya?

"Setelah membuat kita melalui semua itu, dia membuat dirinya terlihat keren hanya dengan satu ucapan. Jujur, itu tidak adil. Dia membuatku terlihat seperti orang paling hina." Jawab Jae Chan.

"Apa?"

"Astaga, tidak kusangka Woo Tak bisa seperti itu. Dia punya sisi misterius."

Hong Joo hanya tersenyum, lalu ia mengingat cerita Woo Tak soal Woo Tak yang anak semata wayang. Hong Joo kemudian membenarkan Jae Chan, ada sesuatu yang misterius pada diri Woo Tak.


Saat Woo Tak tidur, tiba-tiba Woo Bin bangun dan berjalan menuju pintu. Sepertinya ada yang datang.


Woo tak bermimpi, Jae Chan menanyainya di ruang interogasi.

"Apa hubunganmu dengan Do Hak Young?" Tanya Jae Chan.

"Kami satu SMA, dan dia teman kamarku satu setengah tahun lalu."

"Apa kau juga mengira bahwa dia mungkin pembunuhnya saat kali pertama mendengar kabar soal insiden itu?"

"Ya."



Hong Joo panik, apa Woo Tak baik-baik saja? Tidak ada yang terjadi kan? Woo Tak terkejut, memangnya kenapa?

"Aku baru saja memimpikanmu. Kau ingat buronan itu, Do Hak Young, bukan? Di mimpiku, pria itu menyusup ke rumahmu."

"Untuk apa dia ke rumahku?"

"Kau mengenalnya, bukan? Kau berpura-pura tidak mengenalnya, bukan?"

"Tidak, aku sungguh tidak mengenalnya. Kurasa mimpi itu tidak berarti apa pun."

"Kau sudah mengunci pintu? Kau harus segera menelepon polisi, Woo Tak."

"Untuk apa? Bukankah aku polisi?"

"Aku melihat dia mencengkeram dan mengancammu di mimpiku."

"Baiklah. Jangan khawatir. Akan kupastikan pintunya terkunci. Jadi, jangan cemas dan tidurlah. Selamat tidur."



Namun kemudian Woo Tak menyadari ada orang di rumahnya, Do Hak Young. Woo Tak bertanya, ngapain Hak Young disana?

"Kau belum mengganti sandinya. Bukankah aku sudah pindah dari sini satu tahun lalu? Anjing ini.. juga masih mengingatku."


Sementara itu, Hong Joo terus kepikiran, ia tidak bisa tenang. Ia pun memutuskan keluar.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa datang kemari?" Tanya Woo Tak.

"Woo Tak-ah. Aku telah menjadi seorang pembunuh."

"Aku melihatnya di berita. Polisi sedang mencarimu."

"Hei, aku sungguh tidak melakukannya. Aku memang datang ke rumahnya, tapi aku pergi setelah memperbaiki kabel internetnya. Mereka berpikir aku membunuhnya. Aku sungguh tidak melakukannya, tapi semua orang bilang aku membunuhnya. Astaga, aku tidak menyangka ini terjadi."

"Baiklah, kau harus menyerahkan diri dahulu. Aku akan ikut denganmu, ya?"

"Aku akan menyerahkan diri, tapi..."


Hak Young memastikan dulu, Woo Tak akan menolongnya kan? "kau orang terkompeten yang kukenal. kau punya koneksi karena kau polisi. kau pun cerdas. Itulah alasanku kemari. kau memercayaiku, bukan? kau akan membelaku, bukan?"

"Jika aku bilang aku memercayaimu, akankah kau menyerahkan diri?"




Hak Young langsung melepaskan Woo Tak,

Hak Young: Hei, jika... Jika putusan hakim menyatakanku bersalah, akan kuungkap rahasiamu kepada polisi.


Hong Joo sudah eluar rumahnya, ia semakin mantap.


Hak Young tahu Woo Tak pasti tidak akan mau, "Jadi, lakukan semua yang kau bisa untuk membuatku tidak bersalah."

2 komentar

mba diana ditunggu sinopsis episode selanjutnya..semangat nulis nya mba

Mungkinkah ayah woo tak itu yg ahjussi pengirim uang ke jae chan😕film ini emg sll bwt pnsaran...

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon