Thursday, October 12, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 10


Sinopsis While You Were Sleeping Episode 10

Sumber Gambar: SBS


Pemilik Restoran ayam memang sengaja mengambil satu potong ayam dan baru memberikannya pada tukang antar.


Tapi dia baik, dia memberikan potongan ayam yang ia ambil itu untuk kucing liar dijalanan. Hong Joo melihat itu semua.


Hong Joo memutuskan untuk diam, ia tidak akan memprotes pemilik itu lagi.


Sampai di rumah, Hong Joo memasang plaster di lukanya. Dan itu membuatnya teringat percakapannya dengan Woo Tak tadi. Woo Tak berkata bisa mengubah masa depannya sendiri, yang perlu dilakukan hanya mengubah semuanya.


Hong Joo lalu melirik ke catatan mimpinya. Disana tertulis, "Universitas Myunwon, Festival Lilin, 28 Maret, 20.00"


Jadi ceritanya itu adalah acara kejutan untuk nembak seseorang. Orang itu adalah penjaga kafe langganan Jae Chan. Ada banyak kembang api dan lilin, tapi semuanya berubah menjadi kobaran api dan membakar lengan kiri penjaga itu.


Hong Joo bertekad mengubah itu, ia lalu berdiri dan mengambil catatan itu.


Sementara itu, Jae Chan bermimpi Hong Joo dikejar sekelompok pria lalu dipukuli. Disana ada banner bertuliskan "Universitas Myunwon". Jae Chan juga melihat ada sekelompok pria yang sedang berlari memakai seragam senada.


Jae Chan terbangun dan ia mengumpat. Lalu menghela nafas.


Jae Chan akan ke runagan Seonbae-nya dan ia malah melihat Hee Min dan Jaksa Lee berdiri di depan pintu Jaksa Son. Jae Chan bergabung dengan mereka, bertanya mereka itu sedang apa?

Hee Min dan Jaksa Lee mengkodenya untuk diam.


Ternyata Jaksa Son sedang menginterogasi Pengemudi mobil yang menabrak anak itu. Pengemudi itu berkata kalau ia juga seorang ayah, ia menangis kencang saat mendengar anak kehilangan orang tuanya, tapi bukan ia yang menyetir. Ia hanya duduk di kursi penumpang. Ia tidak menyetir. Ia tidak menewaskan mereka.

"Anda tidak hanya duduk di kursi penumpang. Anda menyerahkan kunci mobil kepadanya dan bahkan menyuruh dia untuk menghindari polisi."

"Menyerahkan kunci kepadanya dianggap tindak kriminal? Lagi pula, orang lain akan memberikan kunci itu kepadanya. Walaupun kucegah, dia tetap akan menyetir malam itu. Jujur saja. Aku bukannya menarik kerah bajunya ataupun memukul dia untuk memaksa dia menyetir. Aku hanya melakukan ini. Itu dan sekadar menyarankan tidak bisa dijadikan alasan Anda memperlakukanku seperti kriminal!"


Kemudian mereka bertiga menjauh. Jaksa Lee mengeluh kalau semua itu sangat membingungkan. Sementara Hee Min berkomentar kalau Jaksa SOn sangat keras kepala, seharusnya dia mendengarkan Kepala Park dan menyudahi kasus itu. Tidak ia sangka dia memanggilnya lagi untuk interogasi.

"Omong-omong, kenapa kamu di sini? Kamu sudah memutuskan apakah dia harus didakwa?" Tanya Jaksa Lee pada Jae Chan.

"Ah.. Sebenarnya, aku ingin meminta bantuan Anda."

Hee Min langsung mencari alasan agar ia bisa pergi.


Jaksa Lee juga akan pergi, tapi ia tidak tega dengan Jae Chan, jadi ada apa? Jae Chan mengatakan ada urusan mendadak sore ini, ia meminta Jaksa Lee menggantikannyanya tugas malam hari ini.

"Aigoo. Ada kutukan yang diketahui semua orang di sini. Hal buruk terjadi setiap kita menggantikan shif orang lain. Sampai nanti."


Jae Chan terus membujuk, ia akan menggantikan Jaksa Lee saat akhir pekan, tapi Jaksa Lee tidak terbujuk. Malah menjelaskan saat ia menggantikan seseorang dulu ada ledakan di bar karaoke.

"Aku akan menggantikanmu saat liburan." Jae Chan tidak menyerah.

"Banyak orang mati. Dari autopsi sampai pemeriksaan posmortem, banyak yang harus dilaporkan. Akhirnya, kerjaanku menumpuk hanya karena menggantikan orang."

"Kalau begitu, aku akan mengenalkanmu dengan gadis cantik."

Jaksa Lee langsung berbalik dan mengulurkan tangan, "Hari ini, bukan?"

Jae Chan membenarkan lalu menjabat balik tangan Jaksa Lee. Jae Chan sebenarnya agak ragu, tapi ia tersenyum juga.


Woo Tak bermimpi, Jae Chan dan Hong Joo dikejar sekelompok pria. Mereka berhasil menangkap Hong Joo dan menghajar Jae Chan. Jae Chan awalnya bisa melawan tapi ia kalah jumlah. Hong Joo hanya bisa berteriak histeris karena keuda tangannya dipegangi.


Woo Tak terbangun karena mimpi itu. Kyung Han mengajaknya makan, ada bar tenda di dekat sana. Sosis sundae gorengnya sangat enak. Mau?

"Bagaimana jika kita patroli di sekitar Universitas Myungwon?" Usul Woo Tak.

"Baik. Kalau begitu, kita makan sosis sundae dulu lalu ke Universitas Myungwon."

Woo Tak melihat jam tangannya. Ia lalu mengusulkan untuk menyetir, dan mereka akan patroli ke Universitas dulu baru makan. Kyung Han pun terpaksa menyetujui usul itu.


Hong Joo membawa keluar tabung pemadam kebakaran kecil. Ibu menahannya, bertanya akan kemana membawa-bawa tabung itu?

"Ibu, aku mungkin akan pulang larut. Jangan menungguku."

"kau mau ke mana? Dan kenapa membawa ini?"

"Aku ingin menyelamatkan seseorang yang kulihat cedera di mimpiku. Ibu! berjanjilah kepadaku. Jika kali ini aku tidak bisa mengubah yang kulihat di mimpiku, dan menyelamatkan orang itu, pertimbangkan kembali aku ingin kembali bekerja, ya?"


Acara kejutan itu dimulai. Jadi penjaga kafe itu namanya Cho Hee, tapi ia tidak tampak gembira.


Lalu Hong Joo datang, ia langsung menyemprotkan pemadam kebakaran tanpa aba-aba. Semua terkejut karena kabut putih tiba-tiba menyelimuti mereka. Semua kesal.


Cho Hee kesal padapria itu, ia kabur.


Hong Joo bisa tersenyum lega, tai tidak dengan cowok-cowok itu. Mereka sangat kesal pada Hong Joo.

"Maaf, sungguh. Kalian tidak akan percaya, tapi aku baru mencegah kecelakaan."

"Apa maksudmu?"

"Siapa wanita ini?"

"kau tahu berapa lama kami menyiapkan ini? kau tahu seberat apa usaha kami untuk ini? Apa kau tahu?"


Hong Joo tidak bisa menjawab ia memilih lari. Dan di tengah jalan ada yang menariknya untuk bersembunyi. Jadi ia bisa lolos dari kejaran kelompok pria itu.


Yang menarik Hong Joo ternyata adalah Jae Chan. Hong Joo heran, kenapa Jae Chan ada disana? Jae Chan menyuruhnya untuk diam.


Hong Joo akan berdiri tapi Jae Chan menekan kepalanya agar ia tetap jongkok. Kelompok pria itu memutuskan bergerak untuk mencari Hong Joo.

Jae Chan lalu menggandeng Hong Joo untuk melarikan diri. Tapi di tengah pelarian mereka melihat kelpmpok pria itu.


Jae Chan punya ide, ia menarik Hong Joo untuk ikut berlari dengan kelompok pria berseragam senada, jadi mereka tidak kelihatan.


Mereka yakin sudah aman, jadi mereka berjalan santai. Hong Joo bercerita, ia melihat seorang gadis terbakar di festival lilin dalam mimpinya, jadi, ia menyemprot pemadam api dan menyelamatkannya. Tapi kemudian ia sadar kalau dia... Astaga.

"Kau tahu gadis di kafe itu, bukan? Itu dia. Kebetulan sekali, ya?"


Hong Joo terus bicara, Jae Chan datnag karena melihatnya di mimpi kan? Hong Joo juga mengatakan apa yang Woo tak bilang kalau Jae Chan sering memimpikan dirinya.

"Kenapa, ya? Apa kita seperti kutub magnet yang berlawanan? Apa kita saling menarik karena alasan yang tidak bisa dijelaskan? Seperti takdir?"


Tapi Jae Chan tiba-tiba bicara serius, ia mengucapkan maaf pada Hong Joo soal hari itu, dan ia sangat berterimakasih.

"Hari itu? Kapan?"

"kau membelaku di depan kolegaku saat di restoran."

"Ah.. Itu. Aku tidak membelamu. Aku hanya berkata jujur."

"Kalau begitu, tidak jadi."


Hong Joo kemudian bertanya, apa Jae Chan sudah memutuskan? Apakah pria yang dihasut menyetir saat mabuk harus didakwa? Atau dibebaskan saja?

"Dia harus didakwa." Jawab Jae Chan.

"Kenapa? Dia tidak menyetir. Hanya karena dia menyerahkan kunci mobil itu?"

"Itu kriminal karena bukan masalah besar. Tidak memberinya kunci juga bukan masalah besar. Seperti dia menghasut menyetir mabuk hanya dengan beberapa kata, dia juga bisa mencegahnya hanya dengan beberapa kata. Dia bisa saja menyelamatkan nyawa jika menganggap serius aksinya itu. Dia tidak melakukan hal yang tepat karena tahu itu mudah, maka itu kriminal. Tindakannya sepele, itu yang menjadikannya tindak kriminal."

Hong Joo tersenyum karena Jae Chan berubah. Jae Chan balas tersenyum, mengatakan ia berubah karena seseorang. Senyum Hong Joo makin lebar mendengar itu. Kemudian mereka lanjut jalan lagi.


Pria tadi melihat Hong Joo, ia mengajak yang lain untuk memberinya pelajaran. Namun tiba-tiba ada mobil polisi mendekat. Itu adalah Woo Tak dan Kyung Han.

"Permisi. Saya Letnan Han Woo dari Polsek Sangku. Anda menyeberang dengan sembrono dan melanggar Pasal 10 Bab 2."

"Apa maksudmu? Kami bahkan tidak menyeberang. Kami menunggu lampunya berubah warna."


Kyung Han turun, ia menggebrak mobi, "Aku mendengar semuanya, ya? Siapa wanita itu? Kalian bilang dia akan merasakan akibatnya. Berandal, kalian mau memukuli orang, ya?"

"Tidak. Sama sekali tidak."

"Jangan berkeliaran seperti dubuk mencari daging busuk. Memukul orang itu tidak baik. Ikut aku. Ayo!"


Woo Tak tersenyum melihat Jae Chan dan Hong Joo terhindar dari kejadian buruk.


Cho Hee menyentuh tangannya, aneh, tangan sesara terbakar.

Lalu seseorang menelfonnya.


Pemilik resto ayam banyak memakai perban, kepalanya terluka juga lehernya juga. Ia menangisi seseorang yang terbujur kaku di salah satu meja.

"Apa... Apa yang terjadi? Hah? Oppa?" Tanya Cho Hee.

"Cho Hee-ya, apa yang harus kita lakukan? Dia tidak bangun."

"Oppa, ini tidak benar-benar terjadi, bukan? Apa yang terjadi?!"


Sebetulnya yang bertugas menangangi kasus itu adalah Jae Chan, tapi karena ia meminta Jaksa Lee menggangikannya jadi Jaksa Lee yang berada disana bersama Pak Choi dan satu penyidik lagi.

Jaksa Lee mengeluh, ini karena ia menggantikan Jae Chan, jadi ia harus melalui semua ini. Pak Choi berkomentar, lagi-lagi kutukan itu terbukti benar.

Penyidik menjelaskan pada Jaksa Lee, Korban (Adiknya) tidak mengenakan sabuk pengaman dan benturan itu menyebabkan tengkoraknya retak dan lehernya patah.

"Aigoo.. kenapa dia tidak memakai sabuk pengamannya?" Gumam Jaksa Lee.


Pak Choi memeriksa korban dan heran karena untuk ukuran kecelakaan besar, darah korban tidak banyak. Jaksa Lee bertanya, haruskah mereka melakukan otopsi sekarang?

"Tidak. Tidak, jangan lakukan autopsi." Larang Pemilik resto ayam.

"Agar tahu penyebab pasti kematian..."

"Jangan, kumohon. Aku yang menyebabkan dia mati. Dia bisa saja naik bus, tapi aku... Aku menyetir, dan menewaskan dia."

Jadi Jaksa Lee memutuskan untuk membatalkan otopsinya karena permintaan keluarga korban. Tapi Pak Choi seperti melihat sesuatu yang janggal. Saat semua keluar, Pak Choi mengamati korban dan kakaknya itu.


Hong Joo pulang saat ibu membersihkan kepiting. Hong Joo ikut membantu sambil bercerita, ia menyelamatkan orang itu, gadis yang ada di mimpinya.

"Jadi, sesuai janji Ibu--."

"Ibu tidak menjanjikan apa-apa. Itu hanya asumsimu saja."


Hong Joo menjelaskan, Ibu pasti tahu kan ia suka menulis di buku harian. Ia tidak bisa tidur satu jam pun selama masa percobaannya, tapi ia tetap menulis di buku harian setiap hari. Ia terbiasa mengisi belasan lembar dengan hal jahat tentang seniornya. Tapi belakangan ini, ia hanya menulis enam kata. "Hari ini tidak berbeda dari kemarin". Ia bahkan bisa menulis lebih dulu, besok juga tidak akan berbeda. Yang ia tulis sepanjang tahun lalu kurang dari yang biasa ia tulis dalam sehari.


"Apa maksudmu?" Tanya Ibu.

"Ibu, aku hanya ingin hari ini sedikit lebih baik. Aku tidak ingin menyia-nyiakan hidup hanya karena takut akan mimpiku."

"Lantas? Maksudmu, kau ingin kembali bekerja? Setelah melihat dirimu sendiri mati sebagai reporter dalam mimpimu?"

"Aku tidak akan mati. Aku hanya perlu mengubah yang kulihat dalam mimpi itu. Aku bisa mengubah mimpiku sejak bertemu Jae Chan dan Woo Tak. Maksudku, hari ini juga. Itu memberiku pencerahan. "Ah.. Ada satu hal yang aku tahu pasti tentang hidup"."

"Apa itu?"

"Bahwa tidak ada yang tidak bisa diubah dalam hidup."


"Aigoo.. Jadi, kau sebenarnya bukan meminta izin ibu. kau hanya memberi tahu ibu."

"Tidak. Aku tidak akan kembali bekerja jika tidak Ibu izinkan."


Woo Tak menuang susu di gelas, tapi susunya basi. Ia memanggang roti tapi gosong. Ia hanya bisa menghela nafas.


Lalu ia melirik anjingnya yang sedang lahap menyantap makanan. Woo Tak tidak mungkin mencurnya lagi, jadi ia memutuskan keluar setelah membuang roti dan susunya ke tempat sampah.


Jae Chan bangun dan ia terkejut melihat asap dimana-mana. Lalu ia ke dapur. ternyata disana ada Seung Won yang sedang memanggang ikan sambil menelfon So Yoon.

"Aku koki andal. Aku akan memanggang makerel untukmu saat kau ke rumah saat kau libur. Aku tahu cara memanggang makerel dengan sempurna." Aku Seung Won.

Tapi kenyataannya ikannya gosong sampai menimbulkan asap tebal.


Jae Chan langsung bicara dekat-dekat di ponsel Seung Won, "So Yoon-ah, itu bohong! Minta dia mengubahnya ke panggilan video!"

Seung Won kesal, ia melempari Jae Chan dengan sandal, menyuruh kakaknya itu tidak ikut campur. Jae Chan malah sok teriak ketakutan.

"Kebakaran! Kebakaran!"


Jae Chan sarapan di luar dan tak sengaja ia bertemu dengan Woo Tak.


Woo Tak mengatakan kalau ia memanggang roti tapi gosong jadi ia memutuskan sarapan di luar, kalu Jae Chan?

"Pagi hariku sama sepertimu." Jawab Jae Chan.

"Ya, ada yang ingin kutanyakan. Soal kecelakaan itu. Menurutku itu sangat aneh."


"kau jelas menyelamatkan aku, tapi anehnya, aku merasa seperti tertabrak mobil dan mati saat itu. Rasanya... Rasanya seperti mimpi."


Woo Tak heran, apa hal seperti itu pernah terjadi pada Jae Chan? Seolah Jae Chan kembali hidup setelah nyaris mati.

"Aku juga pernah merasakannya."

"Sungguh? Kapan?"

"Saat aku masih sangat muda. Aku terjatuh ke dalam air, dan seseorang menyelamatkan aku."


Hong Joo lah yang menyelamatkan Jae Chan.


Jae Chan selamat berkat anak itu, tapi anehnya, ia merasa seperti tenggelam. Itu terasa sangat nyata.


Woo Tak sudah menduganya. Anak yang menyelamatkan Jae Chan itu.. Nam Hong Joo, kan? Jae Chan terkejut mendengar kesimpulan Woo Tak itu.

"Baiklah. Dengarkan hipotesisku, ya? Aku sangat berterima kasih kepadamu karena perasaan itu. Aku berpikir, "Aku bisa saja mati". "Aku ingin membalas budi kepadamu karena telah menyelamatkanku". Pemikiran itu pasti."

"Apa?"


"yang memulai mimpi-mimpi itu. Mimpi di mana aku bisa melihat masa depan penyelamatku. kau terus melihat Hong Joo di mimpimu, jadi, pasti dialah yang menyelamatkanmu. Bagaimana menurutmu?"

"Itu sungguh tidak masuk akal."

"Kenapa?"

"Anak yang menyelamatkanku anak lelaki, bukan Hong Joo."

"kau yakin?"

"Ya, aku yakin. Aku memanggilnya Kastanye, yaitu anak lelaki yang suka bisbol. Anak lelaki kuat dan berani."


Hong Joo pulang tapi Ibu sepertinya tidak di rumah. Hong Joo lalu masuk ke kamarnya dan ia seperti terkejut melihat sesuatu. Ia sampai menutupi mulutnya dengan tangan. Apakah itu?

Oh ya.. dikamar Hong Joo kita diperlihatkan foto Hong Joo bersama Ayahnya, juga perlengkapan baseball, sarung tangan, bola dan pemukulnya ada semua.


Jae Chan sedang mendaur ulang sampah. Ia memasukkan ikan makarel gosong ke dalam platik, tapi ia ragu, apa itu bisa dikategorikan kompos ya?


Bertepatan dengan itu, Ibu keluar. Ibu bertanya, apa itu adalah ikan yang ia berikan?

"A.. A-A.. Bukan. Ini.. Memanggang ikan ternyata lebih sulit dari yang kuduga. Mengontrol panasnya juga sulit."

"Aigoo.. Bagaimana jika kalian datang setiap pagi untuk sarapan?"

"Astaga, tidak usah."


Ibu memaksa, ia ingin meminta bantuan Jae Chan sebagai gantinya. Soal Hong Joo.

"kau tidak tahu alasan dia memutuskan cuti, bukan?"


Ibu menjelaskan kalau Hong Joo memimpikan dirinya sendiri meninggal saat bertugas sebagai reporter.

"Karena itu aku meminta dia untuk segera berhenti kerja. kau tahu, bukan? Mimpi-mimpinya agak istimewa."

"Ya, aku tahu."

"Tapi dia malah ingin kembali bekerja. Seharusnya aku tidak termakan bujukannya."


Hong Joo terkejut karena melihat ada dua setelan jas kerja lengkap dengan dua pasang sepatu di ranjangnya.


Hong Joo sampai berkaca-kaca karenanya.


Ibu memutuskan untuk membiarkan Hong Joo karena ia kasihan kepadanya. Ibu sedih melihat Hong Joo menahan diri melakukan yang dia inginkan. Jae Chan diam saja.

Lalu Ibu bertanya, Jae Chan suka makan apa? Korea, Tiongkok, atau Barat. Sebut saja. Ibu mengelola banyak restoran, yang semuanya bangkrut. Jadi, ia bisa membuat segala macam makanan.

"kau hanya perlu memberitahuku apa yang kau dan adikmu suka. Aku akan membuatkan sarapan untuk kalian setiap hari. Gratis, tidak perlu bayar."

"Astaga. Kenapa Anda tiba-tiba menawarkan membuatkan sarapan?"

"kau tahu, aku hanya ingin berterima kasih. Kudengar kau beberapa kali menyelamatkan purtiku. Aku ingin membalas budi."


Ibu: Selain itu, seandainya kau membantunya lagi. Seandainya... Jangan sampai itu terjadi. Tapi jika hal seperti itu terjadi, tolong lindungi Hong Joo.


Jae Chan kembali ke rumahnya, ia teringat saat Hong Joo bertanya padanya haruskah Hong Joo kembali bekerja atau tidak?

"Bukan karena dia tidak mau kembali. Dia ingin kembali bekerja, tapi dia takut."


Hong Joo terus memandangi baju yang Ibunya siapkan itu. Perlahan-lahan ia tersenyum.


Jae Chan melihat Hong Joo di halte. Disana Hong Joo kelihatan sangat bersemangat.

"Ekspresi wajah bisa menipu. Terkadang, kita bisa membaca suasana hati, pikiran, dan perasaan orang dari ekspresi wajahnya seperti membuka buku."


Bis datang, Hong Joo naik duluan dan Jae Chan mengikutinya. Tapi Hong Joo tidak sadar karena ia telfonan sama Ibu.

"Tapi sebagian orang bisa.. menggunakan ekspresi wajahnya sebagai topeng untuk menutupi suasana hati, pikiran, dan perasaan mereka."


Hong Joo lagi-lagi hanya berdiri di seberang, ia tidak mampu menyeberang. Sementara Jae Chan masih mengawasinya dari jauh.

"Tapi ada saat-saat yang.."


Adegan beralih pada Pemilik resto ayam dan Cho Hee yang menyaksikan saudara mereka dikremasi. Ekspresi pemilik resto ayam bercampur, antara menangis dan ketawa, pokoknya gak sama sama ekspresi Cho Hee.

"..meruntuhkan batasan antara tipuan itu dan kebenaran."


Kucing-kucing yang pemilik resto ayam itu kasih makan mati semua dijalanan.

"Kebenaran yang tidak dapat dilihat siapa pun. Hal-hal yang kau tidak ingin orang ketahui."


"Ada saat-saat di mana mereka ditampakkan pada dunia. Jangan memejamkan mata jika kita menghadapi saat-saat itu."

Jae Chan lalu mendekati Hong Joo dan menggenggam tangannya.

"Jangan berpura-pura tidak melihatnya. Jangan menghindarinya. Hadapilah dengan ikhlas."


Jae Chan lalu menarik Hong Joo untuk menyeberang.


Hong Joo pun masuk ke kantor dan semua menyambutnya ramah dan senang. Reporter Bong adalag Seonbae Hong Joo. Saat ini ia subuk menyambung kertas, dimejanya ada setumpuk.

"Seobae, Aku kembali!"

"Aku menaruh seragammu di meja sebelah sana."

Hong Joo mengamati seragam barunya, ia iangat dimimpinya ia meninggal memakai seragam itu.


"Kita mendapat desain seragam baru. Aku bosan dengan warna ungu. Cobalah. Lihat apakah cocok." Jelas Reporter Bong.


Sebelum Hong Joo masuk ke sana, ia berbincang dulu dengan Jae Chandi luar. Jae Chan bertanya, apa menyeberang jalan sulit bagi Hong Joo?

"Ya, bukan? Apa karena aku sudah lama tidak kemari? Semua terasa berat, dan entah kenapa aku gugup."

"Lalu kenapa? Mau kuantar ke kantor?"

"Kenapa kau seperti ini? Aku akan salah paham lagi. Aku akan mengikutimu dan memintamu mengantarku ke kantor setiap hari. Aku juga akan memaksamu untuk melindungiku."

"Kita bisa melakukan itu."

"Apa?"


Jae Chan: Mintalah aku melindungimu, hampiri dan ganggulah aku. Mintalah aku mengantarmu pulang dan mengantarmu ke tempat kerja. Aku akan mencobanya. Itu... Aku akan melakukannya jika itu bisa membuatmu lega.

Hong Joo memalingkan wajahnya, ia menangis.

Hong Joo: Kenapa kau seperti ini kepadaku? kau terdengar sungguh-sungguh.

Jae Chan: Aku memang sungguh-sungguh. kau tidak percaya? Karena itukah kau menangis?

Hong Joo: Aku menangis karena memercayaimu, karena aku merasa lega. Aku sangat ingin mendengar itu. Karena itu aku menangis.


Hong Joo melihat wajahnya dari layar ponsel, ternyata riasannya rusak gara-gara ia menangis. Ia lalu menggunakan dasi Jae Chan untuk mengusap airmatanya.

"Hei, hentikan. Apa yang kau lakukan?"

"Katamu kau akan melindungiku. Ini saja tidak bisa?"

Maka Jae Chan pun membiarkannya.


Hong Joo tiba-tiba menyandarkan kepalanya pada Jae Chan. "Jangan menghindariku hari ini."


Jae Chan agak canggung, tapi kemudian ia mengangkat tangannya untuk menepuk-nepuk punggung Hong Joo. Hong Joo memejamkan matanya.


Kembali ke kantor. Reporter Bong bertanya, apa Hong Joo tidak suka?

"Aku suka. Sangat suka."


Di luar, Jae Chan memandangi gedung kantor Hong Joo. lalu ia melihat ujung dasinya, ada noda disana, tapi ia malah tersenyum.

Ia memandang gedung lagi sambil tersenyum.

==K O M E N T A R==
 
 Jae Chan akhirnya memutuskan mengijinkan seseorang untuk bergantung padanya. Ia memutuskan menjadi pria Hong Joo dan mengesampingkan ketakutannya. Disini Jae Chan dan Ibu berperan penting dalam kelanjutan karir Hong Joo, mereka bekerja sama untuk mendukung Hong Joo. Terlebih, Hong Joo sepertinya lebih kompeten dibanding Jae Chan dibidang masing-masing.
 
Hipotesis Woo Tak menjawab tentang mimpi itu, walaupun belum bisa menjawab penyebab kenapa Hong Joo mulai bermimpi. Setidaknya itu menjelaskan kenapa Jae Chan memimpikan Hong Joo dan kenapa Woo Tak memimpikan Jae Chan. Jawabannya adalah karena mereka penyelamat hidup masing-masing.
 
== P R E V I E W==


Yo Beom menjadi pengacara Pemilik resto ayam itu, ia bertanya, apa benar pemilik resto itu sengaja membunuh adiknya sendiri?


Si pemilik resto ayam mengakui, ia sengaja menabrakkan mobil agar adiknya tewas, sepertinya ia melakukan semua itu demi uang.


Jaksa Lee memberitahu Jae Chan kalau pengacara di pemilik resto itu adalah Yoo Beom.


Di persidangan, jaksa yang bertugas adalah Hee Min, ia perang argumen dengan Yoo Beom.


Sepertinya pemilik resto ayam itu berhasil bebas dan Jae Chan mengngonfrontasi Yoo Beom. Apa Yoo Beom mau tanggung jawab jika dia melakukan tindak kejahatan lagi? melakukan pembunuhan lagi?



Yoo Beom menjawab Jae Chan, semua ini bukan salahnya, jaksa lah yang harus bertanggung jawab karena membebaskan terdakwa.


Hong Joo berteriak memanggil Jae Chan. Sepertinya orang yang sama yang melakukan penusukan pada Woo Tak akan melukai Hong Joo juga. Orang itu tangannya penuh dengan darah.

Dan Jae Chan membuka matanya, iaterbangun.

6 komentar

Dari kemarin bak diana kemana y?? Aq nyasar k blog lain dg nama sama, tp kebih lawas tmpilnnya,, dtggu klnjutannya bak...

Ya mbk kok tampilannya bda tadi ada gmbarnya dan skrang g da du uc mini

Kemarin2 nyoba pake tampilan baru, tapi gak srek aja, jadi kembali ke tampilan sebelumnya..
Tampilan yang ini emang gak bisa muncul gambar kalo pake UC, pake crome aja..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon