Thursday, October 26, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 17


Sinopsis While You Were Sleeping Episode 17

Sumber Gambar: SBS


Yoo Beom berjalan masuk bersama sekretarisnya. Ia bertanya, apa Reporter dan Jurnalis foto juga datang? Sekretarisnya membenarkan.


Yoo Beom bahkan meminta sekretarisnya memberinya pasta air mata, ia harus menangis nanti.


Yoo Beom bahkan meminta sekretarisnya memberinya pasta air mata, ia harus menangis nanti.

Yoo Beom bener-bener langsung berubah sedih saat masuk ruang konferensi pers. Ia minta maaf pada semuanya karena datang terlambat, ia beralasan harus menjenguk Ayah ATlet Yoo di rumah sakit.

"Ayahnya sakit?" Tanya Seonbae-nya Hong Joo.

"Ya, dia mengidap kanker pankreas stadium akhir. Dia jatuh sakit saat mendengar bahwa Do Hak Young dibebaskan. Seperti yang kalian sadari, dia adalah satu-satunya saksi dalam kasus pembunuhan Atlet Yoo. Bahkan aku tidak mengerti kenapa mereka menyidiknya tanpa menahannya. Bayangkan perasaan mereka yang berduka."

"Kudengar, kejaksaan berpendapat bahwa itu mungkin saja kecelakaan, bukan pembunuhan. Tidak ada luka pertahanan diri atau tanda-tanda pembunuhan."


Yoo Beom: Anda pikir tidak ada luka pertahanan berarti bukan pembunuhan? Banyak laporan kasus pembunuhan tanpa adanya luka pertahanan diri. Itu disebut "serangan bombardir". Jika serangannya mendadak, tidak mungkin ada luka pertahanan.

Seonbae: Berarti, menurut Anda itu mungkin bahwa pelaku bisa membuat pola darah itu di lantai dalam 13 menit?

Yoo Beom: Itu sulit. Aku telah mencoba menyimulasikan situasinya, tapi itu memang sulit. Tapi tahukah Anda, Reporter Bong? Mana yang terdengar lebih logis? Membuat pola darah itu di lantai dalam 13 menit? Atau gambar itu muncul sendiri tanpa ada siapa pun di sana? Jelas, penyidikan ini tidak diselesaikan dengan benar. Aku tahu yang akan terjadi saat ketertarikan masyarakat pudar. Kejaksaan akan memutuskan untuk tidak mendakwanya. Untuk memastikan bahwa pembunuhnya pantas mendapatkan ganjarannya, kalian semua harus terus menunjukkan ketertarikan kalian dalam kasus ini dan mendesak kejaksaan untuk menyidiknya dengan benar.


Seung Won keluar kamarnya dan ia melihat Jae Chan tertidur di sofa. Seung Won tanya, kapan Jae Chan pulang. tapi tidak ada jawaban.

"Wah, dia sangat kelelahan karena begadang semalaman."


Seung Won membangunkan Jae Chan untuk menyuruhnya tidur di kamarnya saja, tapi Jae Chan malah mengigau menyebut nama Pak Choi, Hak Young dan Yoo Beom. Seung Won memutuskan untuk membopongnya tapi tidak kuat. Akan menggendongnya di punggung tapi malah didorong. Akhirnya ia biarkan saja kakanya tidur di sofa, ia selimuti kemudian.


Hong Joo terbangun karena mimpi buruk itu dan ia langsung menangis sesnggukan. Kemudian Hong Joo keluar dari kamarnya.


Seseorang membunyikan bel secara beruntun di rumah Jae Chan. Jae Chan cuma menggeliat saja karena sudah larut (3:12 dini hari). Seung Won melihat di intercom dan ternyata yang datang adalah Hong Joo.

Mendengar nama Hong Joo, Jae Chan langsung keluar membukakkan pintu. Ia bertanya apa dapa, tapi Hong Joo melewatinya begitu saja dan langsung masuk ke dalam.


Hong Joo menerobos masuk ke kamar Jae Chan, ia mengeluarkan jas dan jelana Jae Chan yang berwarna hitam. Jae Chan menghentikan Hong Joo, ada apa?!


Hong Joo langsung terduduk lemas, "Jae Chan-ssi. Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan, Jae Chan-ssi? Di mimpiku, kau... kau... Aku melihatmu berdarah akibat luka serius. Apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Jae Chan langsung memeluk Hong Joo, "Tidak apa-apa."


Hong Joo sudah agak tenang, Jae Chan kemudian meminta Seung Won masuk kamar.


Hong Joo: Lakukan apa pun sebisamu agar tidak terlibat dalam situasi semacam itu, ya? Jangan memakai jas. kau memakai jas saat terluka, dan jangan pernah menyeberang jalan di zebra cross. Tidak, sebaiknya jangan pernah temui aku. Saat itu, kau hendak menemuiku... kau hendak menemuiku saat itu terjadi. Jadi, mulai sekarang, kita sebaiknya...


Jae Chan tidak mau melakukan itu. Ia lalu memberi Hong Joo minum. Ia menjelaskan bahwa dirinya adalah jaksa, iaharus mengenakan jas, dan ia terlihat keren saat mengenakan jas.

"Lalu, maksudmu aku harus selalu menyeberang sembarangan? Itu gila. Dan kau mau aku menghindarimu? Itu sangat gila. Kita tidak akan bisa mencegahnya dengan trik-trik licik itu. kau pun tahu itu."


Jae Chan lalu meminta Hong Joo menceritakan detail mimpi Hong Joo, ia ingin tahu kenapa itu terjadi.

"Ayo kita ulas setiap detailnya agar kita mengetahui alasannya. Hanya itu caranya agar kita bisa mencegahnya. Benar, bukan?"

Hong Joo mulai bercerita, "Aku sedang berdiri di depan zebra cross. Aku bisa melihat lentera di belakangmu. kau sedang berdiri di antara kerumunan orang-orang. Lalu seorang pria berpakaian serba hitam mendekatimu."


Si kucing muncul lagi..


Seung Won bangun pagi ini, tapi ia melihat kakaknya dan Hong Joo masih tidur di sofa, jadi ia masuk kamar lagi dan berusaha tidak menimbulkan suara.


Hong Joo bangun lebih dulu, ia bicara dalam hati, "Kali ini giliran aku menjagamu. Mampukah aku melakukannya?"


Hong Joo menyentuh rambut Jae Chan. Tiba-tiab Jae Chan berkata dengan mata masih tertutup, "Jangan khawatir."

Jae Chan kemudian menggenggam tangan Hong Joo. Ia melanjutkan, "Yang kau lihat di mimpimu tidak akan pernah terjadi."

"Kumohon. Jangan terluka."

"Baiklah."

"Aku menyukaimu."


Waktu sarapan tidak ada yang menyentuh makanannya kecuali Jae Chan, mereka semua melihat Jae Chan yang makan dengan lahap.

"Astaga, kenapa kalian bersikap seperti ini? Kalian membuatku merasa seperti aku benar-benar akan mati. Ayo kita makan, ya? Ayo sarapan. Makanlah."


Ibu bertanyapada Hong Joo, siapa yang menikam Jae Chan, Hong Joo melihat wajahnya?

"Tidak, aku tidak lihat. Yang kutahu pasti dia pasti ada kaitannya dengan Do Hak Young."


Woo Tak terkejut, dengan Hak Young? Kenapa berpikir begitu?

"Mimpiku berubah setelah dia dibebaskan. Di mimpi pertamaku, dia menyeberang tanpa ada masalah. Tapi di hari Do Hak Young dibebaskan, aku bermimpi Jae Chan belum selesai menyeberang dan pingsan meskipun tempat dan situasinya sama. Sesuatu pasti berubah karena Do Hak Young bebas."


Jae Chan tiba-tiba di telfon Kepala Park pagi ini. Kepala Park menyuruhnya nonton berita.


Mereka kemudian menyalakan TV dan menonton berita yang dimaksud. Itu berita tentang pembebasan Do Hak Young dan Konferensi pers Yoo Beom.

Yoo Beom: Dahulu, Pak Do pernah didakwa atas penyerangan dan pencurian. Jika mereka membebaskannya karena kurang bukti, mungkin dia akan melakukan tindakan kriminal lainnya kelak, yang tentunya akan memakan korban lainnya. Kejaksaan harus bertanggung jawab atas masalah ini.

Ibu mengonfirmasinya pada Woo Tak, benar Do Hak Young punya catatan kriminal? Atas penyerangan dan pencurian?

"Gugatan pencurian itu... Dia mencuri tanda tangan g.o.d dari sebuah kedai camilan. Dia ingin memajangnya di kedai gimbap ibunya."

"Mencuri tanda tangan? Apakah itu dianggap pencurian?"

"Ya, keadaan yang memaksanya melakukannya. Lalu pemilik kedai camilan itu membuat keributan di kedai ibunya, dan dia mencoba menghentikannya. Itulah kenapa dia akhirnya digugat atas tindakan penyerangan. Kejadiannya sudah 10 tahun lalu."


Ada masalah lagi, Seung Won menemukan bahwa informasi pribadi Jae Chan sudah tersebar luas di internet. Orang-orang berkata Jae Chan tidak becus menyidiknya.

"SMP Ilyoo, SMA Donggang, Universitas Hankook"
"Para jaksa begitu menyedihkan. Apakah adiknya baik-baik saja?"

Narasi Hong Joo: Aku tidak tahu siapa yang menikam Jae Chan di mimpiku, tapi aku bisa menebak. Pasti seseorang yang marah karena mendengar beritanya. 


Dalam Unjuk Rasa di depan kantor kejaksaan, ada seorang yang berpakaian serba hitam menjadi sorotan.

Narasi Hong Joo: Bisa jadi, penggemarnya yang berduka karena kehilangan bintang tercintanya.


Di jalan, Hak Young masih dikucilkan, ia tetap dicap sebagai orang yang membunuh Atlet Yoo Su Kyung.

Narasi Hong Joo: Bisa jadi, seseorang yang harus menerima amukan orang-orang yang tidak adil terhadap dirinya.


Orang tua Atlet Yoo sangat sedih, mereka kasihan padaputri mereka karena Hak Young dibebaskan. Yoo Beom ada disana, ia mengulurkan sapu tangan untuk Ibu Atlet Yoo.

Narasi Hong Joo: Atau bisa jadi seseorang yang tidak bisa menghukum siapa pun atas kematian putri tersayangnya.


Hong Joo menggenggam tangan Jae Chan.

Narasi Hong Joo: Yang terpenting, untuk mencegah hal mengerikan yang terjadi di mimpiku, kita harus mencegah bertambahnya amukan akibat kesalahpahaman dan kemurkaan ini agar tidak menjadi pisau yang siap menikam korbannya. Kita harus mengubah jalannya waktu.

Jadi kemungkinan yang menusuk Jae Chan itu adalah Ahjussi yang ikut unjuk rasa, Hak Young, atau Ayah Atlet Yoo.


-=EPISODE 17=- 
Tersangka yang Tidak Biasa


Hong Joo memprotes Seonbaenya, apa itu pastas disebut artikel? Asal tahu ya.. Hak Young itu mencuri tanda tangan g.o.d dari sebuah kedai camilan, dan kejadiannya 11 tahun lalu.

"Lantas apa? Apa hanya mencuri uang yang dianggap sebagai pencurian? Tahukah kau betapa bernilainya tanda tangan g.o.d 11 tahun lalu? Jelas, itu pencurian!"

"Apa hubungannya itu dengan kasus Yoo Su Kyung? Apa dia membunuhnya karena Atlet Yoo menolak memberi dia tanda tangannya?"

"Astaga. Orang-orang akan berpikir kau pengawasku."

"Untunglah kau pengawasku. Andai jabatanku lebih tinggi daripada kau... (sayat leher dengan jari)."

Hong Joo lalu keluar dengan kesal.


Hong Joo menghubungi Jae Chan untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

"Halo? kau sudah sampai di kantor dengan selamat?"

"Ya, aku hampir tiba di sana."

"Segalanya baik-baik saja, bukan?"

"Ya, tidak ada yang terjadi."

"Kabarnya, Kantor Kejaksaan Wilayah Hangang dikepung oleh pengunjuk rasa. Mereka mengenali wajahmu, jadi, kau sebaiknya masuk lewat pintu belakang atau menyamar."

"Astaga, aku tidak salah apa-apa. Mereka boleh menghampiriku semau mereka. Aku berani, baik berkelahi maupun berdebat. Baiklah, jangan khawatir."


Kenyataannya, Jae Chan akan masuk melalui pagar, tapi ia gak bisa naiknya.


Tiba-tiab jaksa Lee mamanggil. Jae Chan malu, jadi ia pasang senyum lebar terus di depan Jaksa Lee, tapi dibelakangnya, ia malu baget.


Jaksa Lee sadar kalau Jae Chan butuh bantuan karena melihat banyaknya pengunjuk rasa di depan gerbang. Jaksa Lee kemudian memakaikan kacamatanya pada Jae Chan, bukan hanya itu, Jaksa Lee juga mengajak Jae Chan bertukar tanda pengenal.

"Jika mereka menangkapmu, bilang saja kau Lee Ji Kwang, ya?"

"Terima kasih, Seonbae-nim."

"Hei, jika mau berterima kasih, jangan lupa soal kencan butanya."

"Baiklah."


Mereka melewati para pengunjuk rasa dengan biasa saja, tapi kemudian mereka mengenali Jae Chan. Jaksa Lee mengajak Jae Chan berlari, tapi malahan Jaksa Lee yang ditangkap karena dikira dia yang Jaksa Jung Jae Chan.

Jaksa Lee membantah, ia bukan Jaksa Jung, lihat saja foto di artikel kalau gak percaya. Tapi mereka semua yakin foto yang diartikel mirip dengan Jaksa Lee.

"Katakan sesuatu! Kenapa kau membebaskan Do Hak Young?"

"Dengar. Aku tidak membebaskan dia."

"kau ini bicara apa? kau berbohong."

"Dilarang protes dalam radius 100 m dari kantor pemerintah!"

"Diam! Kenapa kau membebaskan Hak Young?"

"Jika ada yang menyentuhku sedikit saja, kalian akan ditangkap karena menghalangi keadilan."

Tapi mereka semua gak percaya. Akhirnya Jaksa Lee mengatakan Jae Chan yang sebenarnya adalah orang yang berdiri di depan berkacamata itu. Namun tetap saja, semua tidak ada yang percaya.


Jae Chan akan membantu Jaksa Lee, tapi Pak Choi tiba-tiba menariknya.

"Aku sudah menelepon sekuriti, jadi, dia pasti akan baik-baik saja. Jika ke sana sekarang, kau akan dalam masalah besar."

"Tapi Seonbae-nim--"

"Biarkan saja dia. kau tidak akan bisa menolongnya meskipun kau ke sana."


Jaksa Lee terus mengatakan kalau ia bukan Jae Chan dan memberitahu kalau Jae Chan bersama Pak Choi.

Kemudian Pak Choi mengangkat tangan sambil berkata kalau ia adalah Jaksa Jung Jae Chan, sayangnya tidak ada yang percaya.

Mereka tetap percaya Jaksa Lee adalah Jae Chan dan sama sekali tidak akan membiarkan Jaksa Lee bebas, malahan sekarang yang terlihat hanya tangan jaksa Lee doang.


Tapi Ahjusshi itu kayaknya tahu Jae Chan yang sebenarnya yang dimana.


Anak-anak disekolah Seung Won juga membicarakan mengenai pembebasan Hak Young oleh Jae Chan. Mereka menyimpulkan Jae Chan tidak kompeten atau telah disogok.

"Soal jaksa bodoh itu.. Bukankah dia kakak Seung Won?"

"kau benar! Dia pernah begitu membanggakan kakaknya yang berprofesi jaksa."

"Pasti dia, Jung Jae Chan."

"Astaga, ini gila."


Lalu Seung WOn masuk dan semuanya sontak diam. Mereka membuat group kelas dan Seung Won satu-satunya yang tidak diikut sertakan.

"Ayo bicara di ruang obrolan. Jika dia merekam perbincangan kita dan memberikannya kepada kakaknya, kita akan dipenjara."
"Tenang saja. Kita akan dibebaskan. Maksudku, bukankah kakaknya membebaskan semua pelaku kriminal?"

Seung Won sadar kalau mereka membentuk group tanpa dirinya. Ia berkomentar, tapi tak ada satupun temannya yang menyahut.


Jaksa Lee akhirnya bisa bebas juga dari masa. Hee Min heran, bagaimana masa bisa mengira Jaksa Lee adalah Jae Chan, maksudnya, Jaksa Lee sama sekali tidak mirip dengan Jae Chan.

"Mereka menangkapku karena tahu bahwa Pak Jung tampan. Semua ini karena aku tampan. Rupanya, menjadi tampan itu dosa. Aku pendosa. Masuk akal, bukan? Astaga."

Hee Min menutup telinga saat Jaksa Lee mengatakan itu.

Jaksa Son: Jelas, itu tidak masuk akal. Mereka mengadang pria berjas, dan menganggap mereka jaksa. Hati-hati, ya?


Jae Chan melihat mereka keluar bersama, ia mau ikut karena tmapkanya mereka akan makan siang bersama. Tapi mereka melarangnya dengan alasan demi keselamatannya.


Jae Chan kemudian melihat Pak Choi, ia langsung mengajaknya makan siang bersama. Pak Choi mau-mau saja dan Jae Chan langsung merangkul lengannya senang.


Dalam perjalanan ke pintu gerbang, Pak Choi bertanya, mengingat kasus Do Hak Young akan segera selesai, apa yang Jae Chan pikirkan? Sudah memutuskan kah?

"Pak Choi, aku harus bagaimana?"

"Kenapa? kau takut dikritik jika dia tidak didakwa?"

"Aku juga manusia. Tentu saja aku takut.. Sebenarnya, aku tidak takut. Aku akan mendakwanya jika dia terbukti bersalah, tapi tidak jika dia tidak bersalah. Aku akan mengikuti peraturan."

"Kenapa tiba-tiba kau bersikap begini?"


Jawabannya adalah karena Jae Chan melihat ada Yoo Beom. Yoo Beom meberitahu, Jae Chan harus mendakwanya jika ingin mengikuti peraturan. Jae Chan adalah seorang jaksa. Bukankah seharusnya mengutamakan korban? Biarkan saja pengacaranya mencemaskan dia. Jika jaksa memihak tersangka, siapa akan membela korban?

Jae Chan: Sejak kapan pekerjaan jaksa membela?

Pak Choi: Astaga, sudahlah. Kalian selalu adu mulut setiap kali bertemu.


Lalu Pak Choi bertanya, kenapa Yoo Beom datang kesana? Yoo Beom bertanya, apa Pak Choi ingat Hyun Woo dari kantor Yeonju, bukan? dahulu dia asisten mereka.

Pak Choi: Tentu. Aku sangat mengenalnya... Ah benar. Dia mengirim pesan tempo hari dan bilang bahwa dia akan menikah.

Yoo Beom: Pernikahannya hari ini. Aku kemari untuk menjemputmu, takutnya kau lupa.

Pak Choi: Sungguh? Aku harus pergi bersamamu.


Jae Chan jelas menahan Pak Choi karena tadi Pak Choi sudah janji mau makan bersamanya. Pak Choi memilih makan di acara pernikahan saja, tapi Jae Chan tetap menahan tangan Pak Choi.

Yoo Beom turun tangan, ia menyingkirkan tangan Jae Chan dari Pak Choi, berkata kalau Jae Chan kekanakan. Tapi Jae Chan tidak menyerah.

Pak Choi membentak dan menarik tangannya dari Jae Chan serta Yoo Beom. Pak Choi meminta Yoo Beim menunggu. Jae Chan udah senyum, merasa menang.

Pak Choi kemudian meminjam 50 ribu won pada Jae Chan. Jae Chan menyuruh Pak Choi mengambil uang tunai di perjalanan saja.

Pak Choi: Aku tidak mau membayar biaya ATM.

Yoo Beom: Aku akan meminjamkanmu uang. Ayo.

Pak Choi: Baiklah.


Dalam perjalanan, Pak Choi mengagumi mobil Yoo Beom. Yoo Beom bertanya apa yang akan dilakukan Jae Chan, mendakwanya atau tidak?

"Mana kutahu? Memangnya, aku bisa masuk ke otaknya dan tahu isi pikirannya? Astaga, mobil ini luar biasa."

"kau tahu pria bernama Han Woo Tak? Tampaknya dia dan Jae Chan sangat dekat."


Dalam perjalanan, Pak Choi mengagumi mobil Yoo Beom. Yoo Beom bertanya apa yang akan dilakukan Jae Chan, mendakwanya atau tidak?

"Mana kutahu? Memangnya, aku bisa masuk ke otaknya dan tahu isi pikirannya? Astaga, mobil ini luar biasa."

"kau tahu pria bernama Han Woo Tak? Tampaknya dia dan Jae Chan sangat dekat."

Yoo Beom mengakui kalau ia melakukan penelitian. Ternyata, Han Woo Tak dan Do Hak Young pernah menjadi teman satu kamar.

"Pengacara Lee, kau tidak berniat menyambungkan ketiganya, bukan? Hubungan mereka tidak ada kaitannya dengan kasus ini."

"Astaga, tentu tidak. Aku tahu betapa tulus dan bersihnya Jae Chan dalam hal itu. Aku juga khawatir. Jika reporter atau keluarga korban tahu mereka akan berpikir lain. Jika Jae Chan membiarkan Do Hak Young bebas, orang-orang akan berasumsi bahwa mereka berteman."

"Pengacara Lee!"

"Jadi, kau harus membujuk Jae Chan untuk mendakwanya. Seseorang telah mati. Bisa-bisanya dia dibebaskan. Aku tidak peduli apakah dia harus memanipulasi laporan atau mengarang bukti. Dia harus mendakwanya! Tolong bujuk dia~ Jika tidak, aku akan memberi tahu reporter soal Han Woo Tak."

"Itu akan membuat Pak Jung terancam."

"Itulah alasanku meminta bantuanmu. Aku tidak ingin melihat Jae Chan terancam."


Woo Tak ke kedai Tteoppoki Ibu Hak Young dan disana ia melihat Hak Young sedang menghapus tulisan jahat di dinding kaca.

Kilas Balik..


Woo Tak mengajak Hong Joo bicara berdua tadi pagi, ia meminta Hong Joo menyebutkan ciri=ciri orang yang menusuk Jae Chan.

"Aku tidak begitu yakin karena hanya melihatnya dari belakang. Kurasa tingginya sekitar 180 cm. Dia berpakaian serba hitam, dan juga memakai topi hitam."

Kilas Balik Selesai..

dan ciri yang disebutkan Hong Joo itu mirip sekali dengan Hak Young.


Hak Young membanting lapnya kesal karena sudah ia gosok dengan keras tapi tulisannya tidak mau hilang. Woo Tak lalu mendekat, ia menunjukkan cairan yang bisa menghapus tulisan itu.

"Dasar tukang pamer. kau tahu segalanya, bukan?"

"Omong-omong, aku lega melihatmu dibebaskan."

"Ini tidak mengubah apa pun. Semuanya tetap menindasku dan menyebutku pembunuh."


Hari berikutnya Hong Joo menunggu Jae Chan keluar di depan rumah. Hong Joo marah melihat Jae Chan masih saja mengenakan jas.

"Sudah kuduga kau akan seperti ini. Kudengar, kau nyaris bermasalah dengan pengunjuk rasa. Apa ini? Kenapa kau memakai jas lagi setelah melihat kejadian kemarin? Hei, JungSeung Won. kau seharusnya mengingatkan dia.

"Ya, aku..." Seung Won akan menjawab.

"Ganti pakaian. Sekarang!!"

Jae Chan pun kembali masuk dengan patuh, Seung Won mengikutinya, ia bilang punya baju hagat di kamarnya.


Jae Chan tidak suka dandanannya, ia yakin Kepala Park akan marah melihatnya nanti.

"kau bisa berganti pakaian saat tiba di kantor. Dimarahi jauh lebih baik ketimbang diserang." Kata Hong Joo lalu menarik Jae Chan ke halte bis.


Hong Joo bertanya, kapan kasus Do Hak Young akan selesai?

"Aku harus menentukan harus apa setelah mewawancarai saksi hari ini. Aku tidak bisa mengadili seenaknya."


Hong Joo melihat ke depan dan ada beberapa petugas yang sedang memasang lampion. Hong Joo kembali mengingat mimpinya, malam itu juga menyala lampion yang sama.


Hong Joo meminta Jae Chan mendakwa Hak Young saja, karenaia rasa cuma itu caranya untuk memastikan Jae Chan baik-baik saja. Tapi kemudian Hong Joo menarik kata-katanya itu, ia tidak bersungguh-sungguh.


Jae Chan lalu menggenggam tangan Hong Joo dan tersenyu pada Hong Joo.


Ahjusshi itu masih ikut unjuk rasa dan ia melihat Jae Chan masuk ke dalam gedung dengan riang.


Jaksa Lee sudah menyamar, tapi ia tetap ketahuan juga dan tetap diserang.


Para asisten sedang bersama. Asisten Hee Min melihat makin banyak yang berunjuk rasa. Asisten Kepala Park membenarkan, artinya Jae Chan akan dalam masalah dan jika seperti ini terus, Jae Chan akan punya jutaan musuh dalam sekejap.

Asisten Hee Min: Disini ada satu.

Hyang Mi: Astaga! Hentikan!


Jae Chan masuk dengan dandanan barunya dan itu membuat Hyang Mi melotot terpesona, apalagi saat Jae Chan menyibak rambutnya.

Hyang Mi: Jaksa Jung, kau memakai...

Jae Chan: Ya, ini agak mendesak. Aku akan segera berganti pakaian.


Asisten Hee Min: Astaga, Kita selalu melihat dia mengenakan jas. Gaya itu...

Asisten kepala Park: Sungguh menyegarkan.

Hyang Mi: Aku senang ada jaksa yang berpenampilan menarik. Tidakkah kau merasakan begitu? Dia manis sekali.

Asisten Kepala Park: kau bilang, dia tipe pria yang memuakkan untuk wanita.

Hyang Mi: Tipe pria yang ingin kau pacari sampai kau muak dengannya.


Asisten Rumah Tangga Atlet Yoo datang, ia mau ketemu Jae Chan. Hyang Mi bertanya, kenapa dia ingin menemui Jae Chan?

"Aku kemari untuk wawancara dengannya. Aku Kim Song Ja."

"Ya, Anda bekerja di apartemen Atlet Yoo sebagai PRT, bukan?"

"Benar."

"Bagus. Silakan ikuti aku. Jaksa Jung akan segera datang, jadi tunggu saja di kantornya."


Asisten Hee Min bertanya pada Asisten Kepala Park, siapa Bu Kim itu? Asisten Kepala Park menjawab kalau Bu Kim adalah orang pertama yang menemukan tubuh Yoo Kyung Su.

"Oh, aku tahu. Dia pasti menjadi tersangka utama."

"Ya, dia hanya saksi."

"Oh, begitu. Dia hanya saksi."


Hong Joo membuka artikel yang Seonbae-nya tulis dan komantarnya mencapai 9.783.

"Seonbae, soal cerita yang kau tulis.. Cerita yang mengkritik kejaksaan. Orang-orang sudah mengunggah lebih dari 9.000 komentar saja. Selamat. Apa rahasiamu?"

"Astaga. kau benar-benar akan membahas itu?"


Hong Joo lalu membaca sekilas semua komentar itu, "Mereka pikir bisa mengetik adalah hal yang bisa dibanggakan? Apakah menjadi warganet artinya mereka boleh membongkar informasi pribadi seseorang?"


Ada satu komantar yang membuat Hong Joo tidak tahan untuk membalasnya.

"Aku bisa memahami Jaksa Jung Jae Chan. Dia sendiri saja sampah. Bagaimana dia bisa menghukum sampah lainnya?"

"kau bisa dituntut atas pencemaran nama baik karena berkomentar jahat." Balas Hong Joo.

"Itu sama sekali tidak membuatku takut. Aku bilang begitu karena dia payah dalam menyidik kasus tersebut."

"kau punya bukti bahwa dia tidak menyidik dengan benar?"

"Jaksa Jung, kau tidak boleh melakukan ini di sini."
"Dia pasti punya banyak waktu."
"Selesaikan pekerjaanmu jika kau punya waktu untuk berkomentar."

Hong Joo: Dasar para kecoak. Aku ingin mematahkan jari mereka.


Hong Joo mencari lagi dan ia menemukan sebuah foto yang berjudul "Pola darah di TKP mengingatkanku pada sebuah foto"


Hong Joo langsung memanggil seonbae-nya.

"Ada apa lagi?" Si Seonbae kesal.

1 komentar so far

ditunggu sinopais ep selanjutnya.semangat nulisnya mba

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon