Friday, October 27, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 19

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 19

Sumber Gambar: SBS



Ketua Yoo memantapkan hatinya untuk membalas dendam pada Jae Chan adalah karena ucapan Yoo Beom.

"Anda sudah melihat foto-foto yang kukirim tempo hari? Dia Letnan Han Woo Tak. Teman dekat Jaksa Jung. Ternyata Letnan Han dan Do Hak Young pernah menjadi teman satu kamar. Aku berharap Jaksa Jung tidak melakukan hal serendah itu, tapi kenyataannya, dia membebaskannya."

Akhirnya ia pun mengisi senapannya dengan peluru.


Kemudian mendekati Jae Chan dan langsung menembaknya. Hong Joo panik, ia meminta orang-orang untuk menghubungi ambulan.


Namun, balas dendam Ketua Yoo masih belum selesai, ada Woo Tak dan Hak Young.


Woo Tak dan Hak Young selesai minum-minum dan Hak Young mengajak Woo Tak pergi minum lagi untuk meredakan pengar.

"Kenapa kamu mengajak minum lagi jika ingin meredakan pengar.?" Tanya Woo Tak.

"Bukan begitu. Ada kedai yang menjual sundae lezat di dekat sini."


Ambulan datang, Jae Chan langsung dimasukkan ke dalam. Kemudian polisi datang. Kyung Han terkejut, apa yang terjadi?

Hong Joo: Pelat nomornya 65 C 4390. Kita harus menemukan mobil itu. Pengemudinya memiliki senapan gentel.


Ketua Yoo menemukan Woo Tak dan Hak Young. Ia akan menabrak mereka yang sedang menyeberang dengan mobilnya. Untungnya Woo Tak sadar, jadi ia melompat dan mendorong Hak Young untuk menghindari laju mobil.


Namun, Ketua Yoo tidak menyerah, ia memutar balik mobilnya untuk menabrak mereka yang kali ini sudah tidak bisa bergerak.

Beruntung polisi tiba tepat waktu dan bisa mengepung laju mobil Ketua Yoo. Hak Young dan Woo Tak pun selamat.


Kyung Han keluar dari salah satu mobil polisi, ia bertanya pada Woo Tak, baik-baik saja kan? Woo Tak mengiyakan.


Kemudian salah satu polisi dengan hati-hati membuka pintu mobil Ketua Yoo dan ia mendapati Ketua Yoo dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Jae Chan sempat membuka matanya dalam perjalanan menuju UGD. Ia melihat Hong Joo, tapi hanya sebentar lalu ia menutup matanya lagi dan airmatanya menetes.


Selama Jae Chan menjalani perawatan, Hong Joo berdiri disampingnya, menangis sambil berdoa mungkin.

Jae Chan kembali membuka matanya, saat ia melihat Hong Joo, ia teringat masa kecil mereka.


Narasi Jae Chan: Jadi, kau adalah Kastanye. Kenapa aku tidak mengenalimu? Aku mau mengatakan sesuatu kepadamu. Bukan mengatakan aku tidak bisa melupakan hari 13 tahun lalu itu. Bukan juga mengatakan senang bertemu denganmu lagi. Ada yang lebih ingin kukatakan kepadamu.


Jae Chan mengingat perkataannya pada Hong Joo di stasiun kereta waktu itu, "Aku tidak memercayai kata-katamu."


"Maafkan aku." Batin Jae Chan dan tiba-tiba detak jantungnya berhenti.

Hong Joo histeris, dokter lalu melakukan sebisanya untuk mengembalikan detak jantung Jae Chan.

"Aku seharusnya tidak mengucapkan kata-kata itu."

Kata yang ia ucapkan di stasiun kereta itu: "Aku harus menyelamatkanmu jika memercayai kata-katamu. Jika tidak bisa, semua itu salahku, dan akan kusalahkan diriku sendiri. Bagaimana aku menjalani semua itu?"


Hong Joo hampir putus asa.

"Kata-kataku pasti menyakitimu. kau pasti menyalahkan dirimu atas semua yang tidak bisa kau tangani. Aku berkata kejam kepadamu. Aku sangat menyesal. Jika ini yang terakhir, kau akan menyalahkan dirimu karena aku. Aku mencemaskanmu. Dahulu, aku seharusnya diam saja dan mengambil payungmu. 

Aku tidak bisa menahannya. Aku harus.. meminta maaf kepadamu."

Akhirnya detak jantung Jae Chan kembali. Dokter kemudian memindahkannya ke ruang operasi. Hong Joo mampu berdiri lagi, tangisnya berhenti.


-=EPISODE 19=- 
Seorang Lelaki Bertemu dengan Seorang Gadis


Ibu melihat berita di TV dan ia langsung teringat putrinya Hong Joo.  Ibu sampai menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Ia langsung berlari ke rumah sakit.


Yoo Beom juga melihat berita itu,


Seung Won, Woo Tak dan Hong Joo menunggu di depan ruang operasi. Seung Won mondar mandir cemas sejak tadi, sementara Hong Joo duduk dengan pandangan kosong dan Woo Tak berdiri disamping Hong Joo.

Tiba-tiba seorang perawat terburu-buru masuk dengan membawa banyak kantung darah. Seung WOn panik, kenapa lama sekali? Ini sudah lebih dari empat jam!

Woo Tak: Duduk dan tunggulah. Dokter bilang operasinya tidak akan lama.

Seung Won: Ini membuatku gila. Kenapa lama sekali?


Hong Joo kemudian berdiri dan menarik Seung Eon untuk duduk. Hong Joo yakin Jae Chan akan terkejut melihat wajah Seung Won nantinya, ia menyuruh Seung WOn duduk dan menunggu, ia akan mengambilkan plester.


Hong Joo masuk kembali ke rumah sakit setelah membeli plaster. Ia melihat lengan bajunya yang penuh darah Jae Chan.

Ia jadi teringat percakapannya dengan Ibu, dimanaia kekeh bilang kalau ia bisa menyelamatkan orang lain seperti Jae Chan menyelamatkannya dan Ibu.

Saat itu Ibu membentak, "kau tidak bisa! Masa depan tidak akan berubah."


Hong Joo gemetar, lalu Ibu datang. Hong Joo langsung menangis.

"Hong Joo-ya, kau baik-baik saja?"

"Ibu benar. Aku tidak bisa mengubah masa depan. Tidak, maksudku, aku berusaha mengubahnya, tapi malah menjadi makin buruk. Bagaimana jika hal buruk terjadi kepada Jae Chan? Apa yang harus kulakukan? Jika hal buruk terjadi kepadanya seperti Ayah, aku tidak bisa.."


Ibu langsung memeluk putrinya itu, "Tidak, jangan bilang begitu. Tidak akan terjadi hal buruk. Jangan bilang begitu."

"Operasinya tidak akan selesai. Ini sudah empat jam. Operasinya masih berjalan."


Woo Tak berlari menghampiri Hong Joo dan Ibu, menyampaikan kalau operasinay selesai. Baru saja selesai. Operasinya berjalan lancar. Hasilnya pun bagus.

Hong Joo: kau yakin? kau tidak berbohong?

Woo Tak: Aku mendengarnya sendiri dari dokter. Kini dia baik-baik saja.


Hong Joo sangat lega mendengarnya, sampai ia pingsan. Woo Tak lalu membopongnya ke dalam.



Para asisten berkumpul di ruangan Jae Chan, mereka menjalankan tugas sambil membicarakan soal Jae Chan. Ada yang heran kenapa Ketua Yoo bisa memiliki senjata api, memangnya di Amerrika apa?

Asisten Kepala Park menjelaskan kalau Ketua Yoo punya izin kepemilikan senjata. Dia menggunakan senapan gentel dari pom bensin.

Jadi mereka disana itu untuk mengambil kasus Jae Chan. Kepala membagikan tugas Jae Chan pada Jaksa yang lain karena Jae Chan sementara waktu tidak bisa bekerja.

Hyang Mi malah menangis, tapi menangis karena bahagia. Semua kasus selesai dan pekerjaan tepat waktu. Ia bahagia sekali. Ia bahagia sekali karena tidak perlu melihat Jaksa Jung yang banyak kasusnya tidak selesai. Ia menangis karena bahagia. Puas?! Puas?!

Hyang Mi lalu keluar dengan kesal.


Asisten Hee Min tidak mengerti dengan Hyang Mi tadi, ia kira Hyang Mi tidak menyukai Jaksa Jung. Tapi sekarang ia bisa tahu Hyang Mi sangat menyukai Jaksa Jung. Sangat mencintainya.

Asisten Kepala Park: Itu konyol. Dia akan segera membenci Jaksa Jung.



Hong Joo dibawa pulang ternyata.

Ibu: Anak nakal. kau menangis seperti itu saat ayahmu meninggal.


Hong Joo membuka matanya dan ia langsung duduk, ia bertanya dimana Jae Chan?

"Operasinya berhasil. Sekarang dia di ruang ICU. Seung Won menelepon ibu tadi."

Hong Joo akan pergi kesana tapi ibu melarang, Hong Joo tidak mungkin bisa menemui Jae Chan meski kesana sekarang soalnya ICU memiliki waktu kunjung terbatas.

"Tapi aku harus..."

"kau harus makan dahulu. kau tidak akan terlambat meski ke sana setelah makan."


Hong Joo pun makan sesuai perintah ibunya. Hong Joo bertanya kapan waktu kunjungannya. Ibu menjawab pukul 11 jadi Hong Joo bisa makan dengan tenang.

Ibu lalu memberikan kotak cincin pada Hong Joo, itu titipan dari Seung Won. Hong Joo bertanya apa itu.

"Jae Chan ingin menemuimu semalam untuk memberimu ini. Tapi, Bagaimana Jae Chan tahu kau dipanggil Kastanye?"

"Apa maksud Ibu?"

"Dia tiba-tiba menemui ibu dan menanyakan itu. kau tidak memberi tahu dia tentang itu?"

"Tidak. Bagaimana dia tahu? Ini sudah lebih dari sepuluh tahun."


Hong Joo membuka kotak cincin itu dan ada catatan itu didalamnya. Hong Joo jadi ingat siapa Jae Chan.


Jae Chan membuka matanya, ia ingat saat ia masih kecil, dimana Hong Joo juga masih kecil. Jae Chan mengusap airmata Hong Joo yang mulai mengalir.

"Kastanye. Kenapa aku tidak mengenalimu?"

"Benar."


Lalu kita diperlihatkan bersi mereka yang saat ini. Jae Chan bertanya, apa Hong Joo mengingatnya? Hong Joo mengiyakan, ia ingat.

"Aku merindukanmu. Sudah lama sekali." Kata Jae Chan.

"Aku mencemaskanmu. Aku takut kau tidak akan bangun untuk selamanya."

"Aku khawatir kau akan menyalahkan dirimu.. atas semua ucapanku di kereta bawah tanah. Maafkan aku."

"kau tidak perlu minta maaf."


Tapi ternyata yang Jae Chan sentuh itu adalah kepala Park, bukan Hong Joo. Jae Chan berkata kalau ia tidak sadar Hong Joo itu seorang gadis.

"Seorang gadis? Apa maksudmu?"

"Kukira kau anak lelaki."

"Aku memang seorang lelaki. Ada apa dengan kakakku? Dia melantur."

Jaksa Sin menjelaskan kalau Jae Chan menunjukkan gejala halusinasi. Tapi tenang saja, keadaan itu hanya sementara setelah operasi. Jae Chan akan kembali sadar setelah satu atau dua hari. Apa pun yang Jae Chan ucapkan tidak ada artinya. Jangan khawatir. Jae Chan tidak akan mengingat apa yang barusan dkatakan.

Kepala Park mengerti dan ia akan pergi tapi Jae Chan menahannya. Jaksa Son menyuruh Kepala Park diam saja dan dengarkan saja apa yang akan Jae Chan katakan. Kepala Park pun menurut.


Hee Min dan Jaksa Lee menunggu di luar. Saat Kepala Park mendekati mereka, Hee Min bertanya, bagaimana keadaan Jae Chan? Sudah siuman?

"Sudah, tapi belum sepenuhnya. Dia tidak bisa membedakan jenis kelamin orang. Dia menyebutku seorang gadis."

"Apakah otaknya juga cedera?" Tnaya Hee Min terkejut.

Jaksa Lee kemudian menjelaskan, tidak seperti itu. Itu hanya efek samping kecil dari obat bius. Ia pernah dioperasi sewaktu SMA. Ia mengajak ayahnya merokok saat ia siuman. Sampai ayahnya hampir membunuhnya.

Kepala Park: Intinya, dia butuh satu bulan untuk pulih.

Jaksa Lee: Omong-omong, Jaksa Son tidak di sini?


Detektif mengecek keruangan Ketua Yoo dan masih belum sadar. Ia lalu keluar lagi untuk menemui rekannya.

"Dia mengidap kanker pankreas stadium akhir." Kata Detektif Pria.

"Dia bisa meninggal sebelum diadili."

"Dia mungkin juga ingin balas dendam saat sekarat."


Kemudian ada seorang anakkecil yang mendekat, bertanya mereka berdua itu polisi kan?

"Bagaimana kau tahu, Nak?"

"Aku tahu semua polisi dan jaksa di Korea. Kenapa Anda berdua berjaga di sini? Apakah ada orang jahat di dalam?"

"Ya. Ada orang yang sangat jahat, tapi dia sakit parah."

"Jadi, dia dalam penyidikan tanpa penahanan kan?"

Kedua detektif itu kagum, lalu anak kecil itu pamit.


Anak kecil itu naik lift kemudian ada seorang pemuda yang ikut masuk juga, Anak itu bertanya, mau ke lantai berapa?

"Lantai 13." Jawab pemuda itu, lalu anak itu memencet tombol 13.

"Kakak kecelakaan mobil? Atau terjatuh?" Tanya anak itu.

"Kakak dihajar oleh dosen kakak."

"Kakak bisa menuntut dia atas kasus penganiayaan. Kakak mau kulaporkan ini kepada polisi?"

"Tidak, biar kakak saja."

"Jangan lupa melaporkannya. Kakak harus melaporkannya." Kata Anak itu saat keluar dari lift.


Ternyata anak itu adalah putra Jaksa Son, namanya Chan Woo. Jaksa Son tampak sangat lega menemukan Chan Woo. Mereka kemudian tisa dan berpelukan.


Teman-teman yang kemarin menjauhi Seung Won sekarang malah mendekatinya lagi setelah melihat berita.

"Kakakmu ditembak, ya? Dia baik-baik saja?"
"Ayahnya Yoo Su Kyung benar-benar gila."
"Ceritakan. Bagaimana dia ditembak?"


Tapi Seung Eon tidak menanggapi mereka, ia malah pindah dan memilih duduk bersama teman yang ayahnya dipenjara itu. Tapi ia duduk disana juga cuma makan tidak bicara apapun.


Woo Tak ke kantor kejaksaan dan disana ia berpapasan dengan Yoo Beom. Yoo Beom menebak, pasti Woo Tak ke sana untuk menghadiri penyidikan Jaksa Shin Hee Min kan?

"Ya." Jawab Woo Tak.

"Aku juga. Jaksa Shin ingin memeriksa kita untuk penyidikan."


Jadi.. mereka disidik bersamaan. Hee Min tidak sendiri, ia bersama Pak Choi. Yoo Beom bertanya, bagaimana keadaan Jae Chan? Sudah boleh dijenguk?

"Dia sudah keluar dari ICU. kau bisa menjenguknya hari ini. Dia pulih dengan cepat." Kata Hee Min.

"Syukurlah."

Kemudian Hee Min mengajak PakChoi untuk segera memulai. Pak Choi menunjukkan foto yang ia dapat dari Istri Ketua Yoo (selanjutnya aku sebut Nyonya Yoo), katanya itu dari Yoo Beom. Bisa dibuktikan dari amplopnya. Yoo Beom pun membenarkan bahwa ia yang mengirimnya.


Hee Min menjelaskan, foto itu membuat Ketua Yoo marah sehingga menembak Jae Chan. Ketua Yoo salah mengira bahwa Woo tak dan Jae Chan berhubungan dengan Do Hak Young.

Yoo Beom: Salah mengira? Apakah itu salah perkiraan? Pak Han Woo Tak, bukankah kau dekat dengan Jaksa Jung?

Woo Tak: Ya.

Yoo Beom: Lihat? Ini bukan salah perkiraan. Ini kecurigaan. Karena mereka dekat, dia bisa meminta sesuatu kepada Jung. Kecurigaan yang sangat beralasan. Dia bisa saja meminta Jae Chan menjaga teman dekatnya.

Hee Min: Apa dia meminta sesuatu kepada Jaksa Jung?

Woo Tak: Saat bertemu dengannya, kubilang Hak Young tidak mungkin membunuh.

Yoo Beom: Lihat? Dia melakukannya.

Woo Tak: Lalu Jaksa Jung mengatakan ini.


Waktu itu Jae Chan bilang, "Bagaimana kau bisa sangat yakin? kau tidak bisa memastikan sesuatu sampai penyidikan berakhir. Entah dia bersalah atau tidak."


Woo Tak melanjutkan, "Dia sangat berterus terang sehingga aku agak tersinggung."

"Aku sangat mengenal Jae Chan. Terkadang dia agak kasar, tapi dia baik hati. Jadi, meski dia berkata demikian, itu pasti mengusiknya. Mari pertimbangkan perspektif Yoo Man Ho-ssi juga. Putri kesayangannya tiba-tiba meninggal. Putrinya meninggal dan jaksa itu tidak berbuat apa pun. Do Hak Young, tersangka utamanya, ada di sini. Lalu jaksa itu membebaskan tuduhannya, tapi ternyata, teman jaksa dan tersangka itu berhubungan erat. Teman tersangka meminta jaksa itu menjaganya. Ini membuat Pak Yoo marah. Dia akan benar-benar marah, bukan?" Kata Yoo Beom panjang.


Pak Choi meluruskan, Hak Young tidak dibebaskan dari tuduhan begitu saja, bukti menunjukkan bahwa itu robot vakum. Darah Yoo Su Kyung ditemukan di robot vakum itu.


Yoo Beom: Seseorang bisa saja merekayasanya. Mudah sekali membebaskan seseorang jika jaksa membantu memalsukan beberapa dokumen dengan polisi. Bukan begitu?

Woo Tak langsung bertanya pada Yoo Beom, apakah mungkin merekayasanya? Yoo Beom mengangguk, jaksa bisa melakukannya jika mau.

Yoo Beom kemudian bertanya pada Hee Min, Apa benar Jaksa bisa memalsukan dokumen jika mau?


Hee Min menjawab tidak pernah, itu tidak mungkin. Hee Min kemudian bertanya pada Yoo Beom, apa pernah memalsukan dokumen saat menjadi jaksa dahulu?

Yoo Beom ketawa. Woo tak mencecarnya, apa itu sebabnya Yoo Beom mengirim foto itu? Yoo Beom pikir Jae Chan memalsukan dokumen dan bukti seperti saat Yoo Beom menjadi jaksa.


Yoo Beom tidak bisa menjawab lagi. Kemudian Pak Choi menyodorkan foto itu.

Yoo Beom: Wah.. Musuhku ada di mana-mana. Hei, Shin Geomsa-ya. Bukan, maksudku, Shin Geomsa-nim. Apakah ini benar-benar pemeriksaan saksi? Kenapa semuanya memeriksaku atas kejahatan Yoo Man Ho? Aku yang menembak dia? Aku bersekongkol dengan pelaku? kau mau menuntutku atas apa?

Hee Min: Tidak ada. kau tidak bersalah menurut hukum.

Yoo Beom: Lalu kenapa aku diperiksa seperti ini? Orang yang menembaknya akan segera meninggal. Hak angketnya tidak sah. Lalu jaksa akan dikeluarkan. Kenapa? Kenapa kalian memeriksaku?! Kenapa kalian sangat mengusikku? Geomsa-nim.

Hee Min: Seorang lelaki nyaris dibunuh dengan senjata. Seorang jaksa tidak bisa diam saja. Kenapa Yoo Man Ho menembak dia? Aku harus mencatat pengacara seperti apa dirimu. Itu sebabnya.. aku memeriksamu.


Kepala Park dan yang lain menyaksikan di ruangan sebelah. Kepala Park mengatakan kalau Yoo Beom itu orang yang menakutkan.

Jaksa Son: Yoo Man Ho yang menembaknya. Tapi Pengacara Lee tampak bersalah.


Yoo Beom akan masuk mobilnya, tapi Pak Choi lari-lari dari dalam memanggilnya. Ternyata ponsel Yoo Beom ketinggalan.

"Terima kasih untuk hari ini. Hati-hati di jalan."

"Pak Choi. kau mau melamar untuk posisi manajer di kantorku?"

"Ah.. Tidak. kau mau kurekomendasikan orang lain?"

"Jangan orang lain. Aku mau kau. Aku terus merasa seperti orang jahat saat bertemu denganmu di sini. kau selalu membantuku saat kita bekerja bersama. Katamu, aku tidak pernah membuat kesalahan dalam menangani kasus."

"kau benar. Itu sebabnya kini aku takut. Aku penasaran apakah dahulu aku melupakan sesuatu. Aku khawatir ternyata begitu."


Ternyata Woo Tak melihat mereka berdua bicara. *Jangan-jangan masalah Woo Tak itu sama mereka berdua, waktu Yoo Beom masih menjadi Jaksa dulu.


Hong Joo ke ruang perawatan Jae Chan tapi Jae Chan tidk ada disana. Perawat bilang Jae Chan mungkin sedang olah raga.


Hong Joo pun menunggu disana, tapi ia baru sadar kalau ia lupa memakai riasan, lalu ia mengeluarkan maskara dari dalam tasnya. Namun baru memakainya disebelah mata, terdengarlah suara Jae Chan semakin mendekat.

"Dia tidak boleh masuk sekarang. Riasan mataku belum selesai." Kata Hong Joo, ia lalu sembunyi dibalik gorden.


Jae Chan ternyata bersama Hee Min dan Seung Woo. Mereka membahas perihal Jae Chan yang menganggap Kepala Park seorang gadis. Jae Chan jelas membantahnya.

Hee Min: kau membelai wajah Pak Kepala. Lalu kau meminta maaf kepadanya.

Jae Chan: Tidak mungkin. Bagaimana mungkin kukatakan itu?

Seung WOn: Tapi itu faktanya. Kukira Kakak jatuh cinta kepada bos Kakak.

Jae Chan: Yaa! Berhenti mengatakan hal menjijikkan.



Hee Min menyarankan untuk pindah ke Rumah Sakit lain. Jae Chan tidak mengerti, kenapa? Isa suka disana kok!

"Yoo Man Ho-ssi, yang menembakmu... Dia juga dirawat di rumah sakit ini." Kata Hee Min.

Seung Won dan Jae Chan jelas terkejut, Hong Joo juga sampai berhenti memakai maskara. Seung Won bertanya, kenapa harus di rumah sakit ini?

Hee Min: Keadaannya ricuh saat kejadian itu, jadi, mereka berdua dilarikan ke rumah sakit yang sama.

Seung Wo: Hyung~ Ayo pindah.

Tapi Jae Chan tidak mau, lebih baik begini. Jae Chan malah bertanya berapa nomor kamar Ketua Yoo, ia harus bertanya kepadanya.

Hee Min: Kini dia bahkan tidak bisa bicara. Apa yang akan kau tanyakan? Yoo Man Hoo-ssi dalam keadaan kritis sehingga bisa meninggal kapan saja.

Jae Chan: Benarkah? Kalau begitu, aku harus menemuinya hari ini atau besok. Aku harus menanyakan alasannya menembakku.

Hee Min: kau tahu alasannya. Karena kau membebaskan tuduhan terhadap Do Hak Young...

Jae Chan: Do Hak Young bukan tersangka.

Hee Min: Tapi Yoo Man Ho tidak tahu soal itu. Dia marah...

Jae Chan: Apakah itu membenarkan penembakannya? kau berhak membunuh orang jika marah? Aku harus menemui Yoo Man Ho. Aku harus memberi tahu dia bahwa kemarahan tidak bisa membenarkan pembunuhan sebelum dia mati.


Mendengar itu, Young Joo jadi ingat Jae Chan yang dulu, iangat kembali bagaimana pertemuan mereka dulu.


Woo Tak ke rumah sakit dan ia melihat Hong Joo yang sedang melaum sambil menuruni eskalatot. Lalu Hong Joo berpindah menaiki eskalator yang membawnaya naik. Woo Tak memutuskan untuk menghampiri Hong Joo.


"Hei, Woo Tak-ah. kau mengunjungi Jae Chan juga?"

"Ya, Tapi kenapa kau tidak ke kamarnya?"

"Tidak apa-apa. Woo Tak-ah. Orang bilang ketidaktahuan adalah anugerah. Jika benar begitu, haruskah aku berlagak tidak tahu apa pun dan berbohong?"

"kau yakin bisa berbohong sampai mati?"

"Aku tidak yakin. Mungkin."


Mereka kemudian berpindah menuju eskalator turun. Woo Tak menjelaskan, jika bisa merahasiakan sesuatu sampai mati, itu bukan kebohongan. Jadi, bersikaplah seolah-olah tidak tahu apa-apa.

Hong Joo: Aku terkejut, kupikir kau akan menyarankan sebaliknya.

Woo Tak: Kenapa?

Hong Joo: Karena semua orang setuju kau memiliki citra anak baik. Baik dan jujur.

Woo Tak: Itu benar sekali.

Hong Joo: Terima kasih karena selalu mengatakan hal yang ingin kudengar.

Woo Tak: Benarkah?


Hong Joo kemudian mengajak Woo Tak pergi bersama saja ke kamar Jae Chan. Tapi Woo Tak tidak mau, orang-orang berpikir ia dan Jae Chan dekat, dan mengira Jae Chan membebaskan Hak Young dengan mudah.

"Sebaiknya aku tidak menemui Jae Chan untuk sementara. Pergilah sendiri. Sampaikan salamku kepadanya."

"Baik. Sampai nanti."

"Ya."


Woo Tak mendorong Hong Joo untuk pergi sendiri. Ia melihat punggung Hong Joo yang makin menjauh


Sebelum masuk kamar Jae Chan, Hong Joo melihat jarinya yang memakai cincin itu. Tapi kemudian ia melepasnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon