Friday, October 13, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 12


Sinopsis While You Were Sleeping Episode 12

Sumber Gambar: SBS






Jae Chan langsung cerita pada Hong Joo kalau pria yang bernama Dae Hee itu menyerang Hong Joo di dalam mimpinya. Jae Chan bertanya apa kasus yang sedang Hong Joo liput? Kasus berbahaya atau mungkin yang menimbulkan dendam? Sesuatu yang berkaitan dengan asuransi kematian karena kecelakaan?

"Tidak sama sekali. Aku meliput kucing, bahkan bukan manusia. Kucing liar."

"Kucing liar?"

"Ya. Ada yang membunuh kucing-kucing ini dengan racun kalium. Mereka memintaku meliput berita ini."

"Syukurlah."

"Apanya yang syukurlah? Aku diperlakukan seperti orang baru karena baru kembali bekerja."

"Bukankah itu lebih baik daripada melakukan hal berbahaya? Kenapa kau mengeluhkan itu? kau tidak takut aku bermimpi kau sekarat sebagai reporter? Mungkin inilah mimpi itu."

"Setidaknya bukan mimpi ini. Di mana tempatnya? Apa di gunung?"


Hong Joo bertanya sambil mengingat mimpinya. Jae Chan menjawab bukan. Hong Joo bertanya lagi, apa Jae Chan melihat payung hijau? Jae Chan kembali menjawab tidak.

"Kubilang apa? Bukan mimpi itu. Mimpi apa pun tidak masalah, kecuali mimpi itu." Kata Hong Joo.


Hong Joo kemudian menggenggam tangan Jae Chan, "Juga.. saat aku menyeberang jalan sambil memegang tanganmu, kulepaskan ketakutan, kecemasan, dan semuanya. Jika tidak, aku tidak mungkin menjadi reporter."

Jae Chan tersenyum, "kau berubah."

"Karena siapa dulu?"


Hong Joo pun melepaskannya untuk minum. Jae Chan menjelaskan, Kang Dae Hee sedang disidang dan jaksa cerdas bernama Shin Hee Min yang menanganinya. Ia yakin Kang Dae Hee tidak akan bebas, jadi Hong Joo tidak perlu khawatir.

"Tapi berjanjilah kepadaku, Nam Hong Joo-ssi."

"Janji?"


Hee Min menjatuhkan berkasnya sebelum sidang. Ia menggerutu kesal, menjatuhkan berkas sebelum persidangan berarti hal buruk.

Pil Soon: Lupakan saja. Itu bisa saja makin buruk.

Hee Min: Semua karena Jaksa Jung. Dia bermulut besar.


Jae Chan kebetulan lewat, ia lalu jongkok untuk membantu sambil minta maaf karena sudah bermulut besar. Tapi Hee Min malah merebahkan tubuhnya ditumpukkan dokumen itu,

"Apa lagi? kau ingin melihat berkasnya dan mengkritiknya?"

"Aku tahu kau akan hebat hari ini, tapi lakukan yang terbaik."

"Apa? kau sedang mengejekku? Konyol sekali."

"Hanya menyemangatimu sebagai junior. Aku serius."


Jae Chan lalu berdiri, ia mengulurkan tangan untuk membantu Hee Min berdiri, "Tolong nyatakan Kang Dae Hee bersalah. Jaksa Shin Hee Min."

Hee Min menerima uluran tangan Jae Chan, "Baiklah."


Tapi saat Hee Min akan berdiri, ternyata Jae Chan menginjak jubah Hee Min, jadinya Hee Min kembali jatuh dan jubahnya robek.

Hee Min makin kesal, Jae Chan pasti sengaja melakukannya! Jae Chan panik, gak kok, ia tulus mau menolong Hee Min tadi.

"Pergi!!"


Hee Min gak bawa jubah ganti, jadi ia terpaksa men-staples bagian yang robek itu. Parahnya semua orang melihatnya saat ia berjalan menuju ruang sidang. Poor Hee Min.


Hujan turun dan seseorang turun dari mobil sambil membuka payung berwarna hijau. Orang itu adalah Yoo Beom.

*Jadi Yoo Beom pemilik payung hijau yang ada di mimpi Hong Joo, ada apa ini?


Jae Chan menyaksikan sidang Hee Min bersama Pil Soon dan tiba-tiba Jaksa Lee menyusul mereka.

"Kenapa Anda kemari?" Tanya Pil Soon.

"Aku punya waktu sebentar." Jawab Jaksa Lee.

"Anda datang karena takut dia tidak akan mendapat hukuman." Kesimpulan Jae Chan.

"Apa maksudmu? Aku percaya kepada Min Hee."


Hee Min membacakan dakwaannya, "Terdakwa Kang Dae Hee, pada hari kematian adiknya, mencari hal-hal berikut di ponselnya. Saat kami menghubungkan semua kata-kata pencariannya, kita bisa melihat motif kenapa dia membunuh dan jalannya juga. Terdakwa menabrak Terowongan Domun dengan sengaja dan membunuh adiknya. Lalu dia mencari saksi di TKP. Dia takut motifnya akan terungkap jika jasad korban diautopsi. Jadi, dia mencari cara menghindarinya. Dia segera melakukan kremasi. Saat pemakaman, dia mencari "Cara mengklaim asuransi kematian". Akhirnya, dia mendapatkan 2,7 juta dolar, harga untuk adiknya yang meninggal."


Jaksa Lee berkomentar, "Jahat sekali. Dasar tidak berguna."


Yoo Beom membantah semua tuduhan Hee Min itu sambil menunjukkan poin-poinnya.

"Jika Anda berasumsi dia membunuhnya dan menghubungkan kata kunci ini, itu menjadi rencana pembunuhan. Tapi jika dia tidak membunuhnya... Lihat lagi kata kuncinya, ceritanya berbeda. Terdakwa tidak mau merusak jenazah. Dia ingin menghormati adiknya. Itu sebabnya dia mencari, "Bagaimana agar tidak melakukan autopsi".

Karena alasan keuangan, pemakaman tidak bisa diadakan lama. Jadi, dia harus mempersingkatnya karena lebih murah dan mencari "Bagaimana cara melakukan kremasi". Duka karena kehilangan adiknya tidak lebih penting dari kelelahan karena tidak punya uang.

Dia memikirkan asuransi dan berpikir itu kado terakhirnya. Itu sebabnya dia mencari kata-kata kunci ini. Ini juga masuk akal."


"Itu tidak masuk akal." Jae Chan keceplosan dan semuanya jadi memandangnya. Jae Chan pun menundukkan kepalanya dan duduk merosot, malu.


Hee Min: Ekonominya yang sulit tidak mengalahkan duka kehilangan adiknya. Bagaimana dia membayar 4.000 dolar per bulan untuk asuransi itu? Terdakwa sering ditilang karena tidak memakai sabuk pengaman. Tapi pada hari kecelakaan, hanya Kang yang memakainya. Adiknya tidak memakainya. Apa ini kebetulan?

Yoo Beom: Dia sering ditilang karena itu. Jadi, dia memakainya hari itu.

Hee Min: Dia membayar tilang bahkan setelah kecelakaan mobil. Bagaimana Anda menjelaskan ini?


Jaksa Lee kembali menyela, "Ehem-ehem, Hebat!!"

Semua orang memandangnya, Jaksa Lee minta maaf sambil pura-pura sakit tenggorokan.


Cho Hee ternyata hadir disana. Hee Min lalu memutar rekaman blackbox mobil. Terdengar percakapan antara Dae Hee dan adiknya.

Dae Hee: kau mengantuk?

Adik: Ya, Hyung. Aku ingin tidur. Pekerjaanku berat hari ini. Aku lelah.

Dae Hee: Tidurlah. Hyung akan membangunkanmu nanti.

Cho Hee meneteskan airmata.


Hee Min menjelaskan, "Seperti yang bisa kita lihat, kamera blackbox di dalam mobil dipindahkan menghadap ke depan. Apa yang tidak mau dia rekam?"

"Jika dia tidak mau merekam, seharusnya dia menyingkirkannya. Seperti yang bisa kita dengar dari rekaman, adik-beradik ini memiliki hubungan yang baik."

Kilas Balik..


Yoo Beom kembali bicara dengan menggulung sobekan kertas. Yoo Beom heran, kenapa Dae Hee tidak mau melakukan autopsi? Jika itu kecelakaan mobil, Dae Hee tidak perlu menolak autopsi.

"Tentu saja aku punya alasan."

"Apa?"

"Dia tidak meninggal dalam kecelakaan mobil."

Kilas Balik selesai...

Hee Min menghadirkan saksi, seorang petugas penyelamat. Hee Min bertanya, apa etugas itu yang pertama datang ke TKP? Hee Min lalu meminta petugas menjelaskan keadaannya saat petugas menyelamatkan mereka.

"Kursi pengemudi baik-baik saja. Tapi kursi penumpang benar-benar hancur karena menabrak gerbang. Jadi, aku tidak tahu pasti."

"Pengemudi, terdakwa yang duduk di sana. Apa dia sadar?"

"Ya."

"Apa dia meminta adiknya diselamatkan?"

"Tidak."

Hee Min selesai dengan pemeriksaannya, lalu giliran Yoo Beom yang melakukan pemeriksaan silang.


Yoo Beom berkata ia sudah membaca rekam medisnya dan tertulis tidak terlalu banyak darah. Jika kursi penumpang benar-benar hancur, bukankah aneh korban tidak berdarah?


Jaksa Lee lalu ingat saat Pak Choi merasa aneh karena  tidak ada banyak darah padahal kecelakaan mobilnya parah. Ia mulai cemas.


Yoo Beom: Apa artinya ada luka, tapi tidak ada darah?

Petugas: Mungkin luka dibuat setelah kematian.

Hee Min: Yang Mulia, pembela membuat pernyataan hipotetis.

Yoo Beom: Saya hanya menunjukkan bahwa korban tidak tewas karena kecelakaan. Saya hanya mendukung pernyataan saya.


Hakim: Maksud Anda korban tidak tewas karena kecelakaan mobil?

Yoo Beom: Bagi kami, pernyataan Jaksa bahwa korban tewas dalam kecelakaan mobil lebih seperti pernyataan hipotetis daripada yang sebenarnya.

Hakim: Kalau begitu, berikan bukti pernyataan Anda.


Yoo Beom: Suhu tubuh korban setelah kecelakaan adalah 35 derajat Celsius. Bukankah itu terlalu rendah untuk dianggap suhu setelah kematian?

Petugas: Ya, saat seseorang meninggal, suhu turun 1,5 derajat Celsius per jam.

Yoo Beom: Artinya perbedaannya lebih dari 1,5 derajat Celsius. Artinya sudah lebih dari satu jam sejak kematiannya?

Petugas: Ya.

Yoo Beom: Ditulis bahwa kadar oksigen nol. Apa angka itu wajar?

Petugas: Tidak, itu ganjil setelah kematian. Seharusnya butuh lebih dari satu jam untuk mencapai tingkat nol.

Yoo Beom: Semua dokumen ini membuktikan bahwa korban meninggal sebelum kecelakaan mobil. Dokumen ini membuktikan fakta itu. Ini bukan pernyataan hipotetis.


Jae Chan hanya bisa menghela nafas.


Hyang Mi saling mengirim pesan dengan Pil Soon mengenai hasil sidang. Hyang Mi mengatakan pada Pak Choi soal Yoo Beom yang menyatakan korban tidak tewas dalam kecelakaan mobil, melanikan korban sudah meninggal sebelum kecelakaan.

"Benarkah?"

"Ya, Pak. Bukankah kau juga memeriksanya?"

"Ya."

"kau bilang itu kecelakaan biasa."

"Memang kecelakaan mobil biasa, tapi korban tidak banyak berdarah. Astaga. Pengacara Lee menggunakan itu."

"Dia tewas dalam kecelakaan mobil atau tidak, korban dibunuh demi santunan kematian, bukan?"

"Tidak. Sekarang ceritanya berbeda. Astaga, lihat! Jaksa sudah menuntutnya atas pembunuhan dalam kecelakaan mobil. Jika korban tidak tewas dalam kecelakaan mobil, bagaimanapun cara kematian korban, terdakwa akan dibebaskan."

"Tidak, anggap saja korban meninggal karena hal lain. Korban ada di mobil sebelum dan setelahnya. Hanya ada korban dan kakaknya di mobil itu. Maka hanya ada satu orang yang mungkin membunuh yang lain. Bagaimana bisa dia dinyatakan tidak bersalah?"


Yoo Beom melanjutkan, katanya korban bisa meninggal karena serangan jantung. Saat kejadian, korban kelelahan setelah mengantarkan surat. Saat tidur, korban bisa saja meninggal karena serangan jantung. Setelah kematiannya, kecelakaan itu terjadi.

"Itu tidak masuk akal." Bantah Hee Min.

"Itu masuk akal. Saya juga ingin tahu bagaimana korban meninggal."


Yoo Beom: Sangat disayangkan. Jika kita melakukan autopsi, kita pasti sudah mendapatkan bukti kuat. Tapi kedua pihak tidak memilikinya. Bukti tidak langsung tidak boleh bertentangan. Suhu tubuh korban, tingkat saturasi oksigen, dan pernyataan petugas penyelamat 119 bertentangan dengan pernyataan Jaksa. Tentu saja, kejadian itu mungkin memberi kesan terdakwa membunuh adiknya. Namun, meskipun ada 99 persen keyakinan, jika ada satu persen peluang korban meninggal karena serangan jantung, terdakwa tidak bersalah.

Semua mendesah pasrah, lalu Yoo Beom kembali duduk disamping Dae Hee.

Kilas Balik..


Yoo Bem bertanya bagaimana cara Dae Hee membunuh adiknya itu.

"Racun kalium sianida. Awalnya, kucing liar sangat berisik. Jadi, aku memberikannya kepada kucing-kucing itu sampai mati. Hasilnya cepat. 100 persen."

"Kenapa kau melakukan ini kepada adikmu?"

"Kecelakaan mobil tidak menjamin 100 persen. Jika dia sadar, aku akan mendapat masalah. Jadi, aku menggunakan racun kalium sianida. Hasilnya 100 persen."

"Polisi tidak tahu soal ini?"

"Ya, mereka tidak tahu. Mereka tidak akan tahu karena jenazahnya dikremasi."

*Terjawab sudah apa hubungan Dae Hee dengan Hong Joo, karena ksus pembunuhan kucing liar itu. Hong Joo akan menyelidiki kasus itu dan nantinya sampai pada Dae Hee.

Kilas Balik selesai..


Sidang disudahi dan para Jaksa mengadakan rapat. Jae Chan mengatakan kalau Dae Hee jelas membunuh adiknya, jadi apa mereka harus menerima putusannya?

Jaksa Son: Sejak awal kita salah menuntutnya. Jika bukan kecelakaan mobil, lalu apa?


Hee Min tahu seharusnya tidak mengatakan ini sekarang. Ia menoleh pada Jaksa Lee, kenapa Jaksa Lee tidak melakukan autopsi? Semua ini terjadi karena Jaksa Lee tidak melakukan autopsi.

"Itu karena... Ah.." Jaksa Lee pasrah.


Jaksa Son menjelaskan, semua dokter dan polisi berkata itu kecelakaan mobil dan keluarga korban menangis dalam kesedihan. Bagaimana bisa berkata akan membedah jasad? Meminta hal itu kepada keluarga adalah tugas tersulit.


Jae Chan bertanya, apa tidak bisa meminta surat penangkapan lain saat Dae Hee bebas? Jika Dae Hee dibebaskan seperti ini, kejahatannya akan lebih besar.

"Surat penangkapan untuk apa? Kita tidak tahu penyebab dia tewas." Jawab Kepala Park.


Jae Chan dan Jaksa Choi memprotes Kepala Park. Kepala Park menjelaskan, ia juga tidak mau membebaskan tersangka, tapi mereka juga tidak bisa mengabaikan hukum dan meminta surat penangkapan lagi. Mereka tidak bisa asal menangkapnya.

Jaksa Son: Ini masalah besar. Jika kita tidak tahu penyebabnya, tersangka pasti tidak bersalah.


Persidangan kembali digelar, kali ini untuk membacakan putusan.

"Pengadilan Negeri Hangang Seoul. Unit Penyelidikan Kejahatan Dua akan membacakan putusan. 2016, nomor kasus 2029. Terdakwa Kang Dae Hee, terhadap kasus pembunuhannya, idak dituntut atas pemalsuan pembunuhan kecelakaan mobil, tapi menyatakan bahwa korban meninggal sebelum kecelakaan. Dia menyangkal tuduhan telah membunuh korban. Berdasarkan bukti yang diberikan jaksa, terdakwa memberikan asuransi berjumlah besar kepada korban.

Meskipun kondisi keuangannya sulit, dia membayar asuransi berjumlah besar setiap bulan. Dia mendapatkan jumlah besar asuransi ini. Dia juga mendapatkan santunan kematian saat pemakaman adiknya. Fakta yang dipertimbangkan itu ada dalam asumsi tidak langsung."


Kejadian sebenarnya adalah.. Dae Hee menghadakan kamera blackbox ke depan. Adiknya masuk mobil, lalu ia memberikan jamu herbal yang sudah ia campur racun. Adiknya meminumnya tanpa curinga.

Lalu setelah adiknya meninggal, Dae Hee melepaskan sabuk pengaman adiknya dan ia menabrakkan mobil.

Terlebih ia ketawa tapi menangis saat jasad adiknya itu dikremasi.


Hakim melanjutkan, "Namun, dalam kasus ini, kami tidak yakin apa korban dibunuh dalam kecelakaan mobil. Kami juga tidak yakin dengan kejelasan motif terdakwa. Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab. Dengan asumsi tidak langsung di atas, tuntutan tidak memiliki cukup bukti. Selain itu, tidak ada bukti langsung untuk membuktikan kasus ini. Tuntutan atas kasus ini hanya berlaku saat kejahatan tidak punya bukti lain.

Dengan bagian berikutnya dari KUHP pasal 325, terdakwa dinyatakan tidak bersalah."


Dae Hee pun menanggalkan baju tahanannya, lalu ia menjawab tangan Yoo Beom, bentuk terimakasih.


Setelah itu, Yoo Beom mencuci tangannya dengan kasar, harus bersih pokonya, sampai ia menggores jadrinya.

"Aku harus menjabat tangannya dengan senyuman. kau berubah banyak, Lee Yoo Beom."


Jae Chan melihat Yoo Beom ke toilet, jadi ia mengikutinya.

"Kang Dae Hee dibebaskan. kau selesai dengan kasus ini. Jadi, tolong katakan kepadaku. Jika bukan karena kecelakaan mobil, bagaimana dia membunuh adiknya? kau mengetahuinya, bukan?"

Yoo Beom tidak menjawabnya. Ia malah melankah keluar.


Jae Chan kembali mengikut Yoo Beom, kali ini ia menghentikan Yoo Beom.

"Hyung, kumohon. Katakan bagaimana dia membunuh adiknya. Aku harus tahu agar bisa mengajukan surat penangkapan baru."

"Kenapa kau bertanya kepadaku? kau harus mencari tahu sendiri. Kenapa menanyaiku?"

"Hyung!"

Kebetulan Hee Min ada tak jauh dari mereka dan ia berhenti untuk mendengarkan percakapan mereka.


Yoo Beom menepis tangan Jae Chan yang menahanya. Ini sudah berakhir.

"Kang Dae Hee bedebah itu juga membayar asuransi besar untuk adik perempuannya. Jika kita membebaskannya, adiknya akan tewas. Jika dia membunuh orang lagi, kau yang disalahkan!"

"Aku? Kenapa aku? Meskipun dia membunuh orang lain, tidak ada hubungannya denganku. Itu salah jaksa yang tidak bisa memberikan cukup bukti! Jadi, siapa yang menyuruh kalian menduganya sebelum punya bukti? Kalian seharusnya punya bukti untuk membuktikan dia bersalah! Aku sudah menjalankan tugasku sebagai pengacaranya. Apa pun yang terjadi selanjutnya, tidak ada hubungannya denganku. Itu tugas jaksa. Jadi, belajarlah dari itu."

Hee Min hampir menangis mendengarnya, sementara Jae Chan hanya bisa menghela nafas berat.


Hyang Mi tidak mengerti kenapa Jae Chan sangat terobsesi dengan kasus Hee Min.

"Aku seharusnya tidak mengatakan ini sekarang, tapi mungkin Jaksa Jung menyukai Jaksa Shin."

"Benar, kau seharusnya tidak mengatakan ini sekarang." Jawab Pak Choi lalu mendorong kursi Hyang Mi menjauhinya.


Jae Chan terus berpikir soal mimpinya, ia tidak tenang.


Jae Chan menghubungi Hong Joo, ia menamai nomor Hong Joo dengan "Anjing kecil". Sementara Hong Joo menamai nomor Jae Chan "Kepiting Youngdeok".

"Aigoo Jaksa Jung, ada apa? kau tidak pernah meneleponku."

"kau di mana?"

"Aku di Pos Patroli Tiga, menyelidiki kasus kucing liar."

"Tidak terjadi apa-apa, bukan?"

"Semoga tidak ada masalah agar aku bisa melaporkan sesuatu."

"Jika ada masalah, cepat hubungi aku."

"Baik, Pak."


Setelah menutup telfon, Hong Joo minta maaf pada Woo Tak karena ia sudah terlalu banyak menyita waktu Woo Tak. Woo Tak menggeleng, tak apa-apa kok, ia lalu akan mengantar Hong Joo pulang.


Woo Tak merasa tidak berguna untuk Hong Joo karena belakangan ini cukup sepi, tidak ada yang bisa ia ceritakan.

"kau sudah menanyai orang-orang?" Tanya Hong Joo.

"Ya, anak-anak kecil berkata mereka melihat seorang pria memberi kucing ayam. Tapi kami tidak bisa menyimpulkan satu orang spesifik."

"Ayam? Ah.. Aku pernah melihat seorang pria memberikan ayam kepada kucing juga."

"Benarkah? kau tahu orang ini?"

"Ya."


Jae Chan terus berpikir keras, kenapa Dae Hee menyerang Hong Joo disaat mereka tidak ada hubungan apapun.


Jae Chan terus berpikir keras, kenapa Dae Hee menyerang Hong Joo disaat mereka tidak ada hubungan apapun.

Lalu ia teringat mimpinya saat menonton berita, ada wadah jamu herbal itu. Ia juga ingat kata Hong Joo soal racun kalium yang digunakan pada pembunuhan kucing liar.


Jae Chan lalu memanggil Pak Choi tepat saat Pak Choi sedang membaca pesan. Pak Choi terlonjak kaget, ia buru-buru mejelaskan kalau ia hanya membaca pesan spam, bukan sedang mengirim pesan. Jae Chan tidak peduli.

"Saat kau memeriksa jasad korban untuk kasus Kang Dae Hee, apa ada kemungkinan dia diracun?" Tanya Jae Chan.

"Entahlah. Aku bahkan tidak memikirkannya."


Tapi tiba-tiba Pak Choi histeris, sampai membuat Hyang Mi takut.


Pak Choi: Ada yang terlintas di benakku saat kau mengatakan "racun". Warna darahnya! Biasanya warna darah adalah merah kebiruan. Tapi warna darah korban lebih ke merah muda, nyaris jingga.

Hyang Mi: Apa maksudnya?

Pak Choi: Itu gejala orang yang terinfeksi racun. Racun itu. Racun yang digunakan untuk membunuh orang zaman dahulu.

Jae Chan: Kalium sianida?

Pak Choi: Ya! Darah berubah menjadi hijau jika kita meminumnya!

Jae Chan langsung menyambar jasnya dan pergi dari sana.


Dae Hee kembali ke restiran ayamnya dan disana ternyata sudah ada Cho Hee.

"Cho Hee-ya. kau di sini~ kau mencemaskan Oppa, bukan?"

Dae Hee akan menyentuh Cho Hee tapi Sho Hee malah menjauh.


"Tadinya aku memihak Oppa. Apa pun yang dikatakan jaksa, aku berkata tidak mungkin Oppaku melakukan itu. Oppa juga tahu, bukan?"

"Tentu saja. Oppa ada di sini karena perkataanmu."

"Aku datang ke persidangan Oppa."

"Kenapa? Sudah Oppa bilang jangan."

"Suara dari kamera dasbor Oppa. Itu bukan suaranya. Dua-duanya adalah suara Oppa."


Cho Hee benar, percakapan itu cuma rekayasa Dae Hee, karena saat itu si adik sudah meninggal. Jadi Dae Hee berbicara sendiri, tapi menggunakan dua intonasi berbesa.


Cho Hee shock, apa benar Dae Hee membunuhnya? Dae Hee tidak menjawab, tapi pandanganya jadi menakutkan.


Hong Joo dan Woo Tak sampai di depan restoran itu. Hong Joo mengatakan kalau pemilik restoran itu selalu memberikan ayam kepada kucing.

Woo Tak lalu meminta Hong Joo menunggu diluar. Hubungi polisi jika terjadi sesuatu!


Woo Tak lalu masuk ke dalam, "Sajang-nim, Anda baik-baik saja? Anda baik-baik saja? Sajang-nim?"



Dae Hee berbalik pada Woo Tak, ia menatapnya. Sementara itu diluar, Hong Joo bersiap menghubungi polisi. Namu tiba-tiba Dae Hee menusukkan pisau ke perut Woo Tak. Darah mengucur, Dae Hee lalu mencabut pisaunya dan menendang Woo tak sampai tersungkur ke lantai.

Cho Hee yang menyaksikan itu teriak shock.


Hong Joo pun masuk, ia memukul punggung Dae Hee dengan tasnya saat dae Hee akan menyerang Woo Tak kembali.

"Woo Tak-ah!"


Dae Hee bangkit, ia akan menyerang Hong Joo tapi Woo Tak bisa memegangi tangannya. Woo Tak menyuruh Hong Joo berlari, cepat!


Hong Joo tidak punya pilihan, ia lalu menarik Cho Hee berlari ke atas. *Kenapa gak lari keluar saja sih!


Woo Tak terus menghalangi Dae Hee sebisa mungkin, tapi Dae Hee benar-benar kejam, masa ia menginjak kuat-kuat luka tusukan di perut Woo Tak.

Dan saat Woo Tak tidak bisa melawan lagi, ia meninggalkannya untuk mengejar Hong Joo dan adiknya.


Hong Joo dan Cho Hee terus menaiki tangga, Dae Hee juga sudah menyusul mereka. Dan akhirnya mereka sampai di atap.

"kau membawa ponsel?" Tanya Hong Joo.

"Tidak, ada di kedai."

"Sial. Kita harus bagaimana?"

Lalu Hong Joo menarik Cho Hee untuk bersembunyi.


Hong Joo ternyata berhasil menelfon polisi dan ponselnya terjatuh di lantai dekat Woo Tak. Woo Tak akan mengatakan dimana lokasinya saat polisi bertanya, tapi ia tidak kuat, ia pingsan, atau... meninggal? *Tidaaaaakkkkk!!!!


Dae Hee terus mengejar mereka dan ia menemukan petunjuk, ada sebelah sepatu tertinggal, kalau bukan milik Hong Joo ya milik Cho Hee.


Mereka bersembunyi dibalik terpal.


Hong Joo ingat janji yang diminta Jae Chan. "Tapi berjanjilah kepadaku, Hong Joo-ssi. Jika terjadi hal berbahaya kepadamu, aku bisa melihatnya di mimpiku dahulu. Jika terjadi bahaya, beri tahu aku agar aku bisa menyelamatkanmu. Beri tahu aku waktu dan tempatnya, agar aku mengetahuinya di dalam mimpiku."

Hong Joo: Jae Chan-ssi Jika kau melihat ini di mimpimu... Tolong.. datanglah sebelum terlambat. Sanggu-dong, Suju Building. Di atap. Sekarang 11 April, Pukul 22.12.


Dae Hee berhasil menemukan dimana mereka dan membuka terpal itu. Hong Joo dan Cho Hee berteriak, Aaaaa!!!


Hong Joo memandang Dae Chan tajam, lalu ia meneriakkan nama Jae Chan.


Tiba-tiba secara ajaib lampu-lampu menyala satu persatu, jadi atap itu menjadi terang. Jae Chan melangkah mendekat dari depan. *Kereeeeennnnn!!!!! Jadi ingat Ahjusshi goblin sama malaikat maut.


Jae Chan memanggil nama Dae Hee lancang dengan background suara sirine polisi yang semakin mendekat.

Jae Chan mengeluarkan surat penangkapan, "kau ditangkap karena meracuni adikmu sampai tewas. kau memalsukan kecelakaan mobil untuk menutupi ini dan mengklaim asuransi palsu. kau ditangkap."


Hong Joo akhirnya lega, ia mampu tersenyum.

Tapi semuanya belum selesai.. nantikan episode selanjutnya..

10 komentar

Aaaaaaaa seru πŸ˜‚ makasih sinopsis nya πŸ’ž

Addduhh.. Wo tak jng kburu mati ya... Seru2 jg...

Seru banget.. Ditunggu next eps nya.. Makasih ya kaka

Ahhh legaaa,untung scene yg ini gk d potong.
Coba d potong,jd kpikiran 1mgg iniπŸ˜„πŸ˜„

aaa terharu, dan wotak kayak nya meninggal deh soalnya disebelumnya ada mimpi 2 orang dibunuh 😭 makasih yaa mbak buat sinopsis nya luv 😍

Aaa ditunggu2 banget ceritanya. Bikin penasaran 😍😍

Ahh baru baca nih, emm jadi deg degan sama kelanjutannya ��

Huuaaaa...jdi penasaran bnged nieh,,thx kakak sinopsisnya kereen ��

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon