Friday, October 6, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 8


Sumber Gambar: SBS


Jae Chan berjalan kembali ke ruangannya, ia menyiapkan mental. Sementara itu, Tuan Park dan Yoo Beom sudah sampai di depan.


Woo Tak menghubungi Kyung Han setelah Kyung han dari resepsionis. Woo Tak menyuruh Kyung Han kesuatu tempat.


Di belakang Kyung Han ada orang lain yang datang. DIa adalah Reporter yang melaporkan Tuan Park ke polisi saat Ibu Hong Joo pingsan. Namanya Bong Du Hyun dan datang kesana sebagai saksi.


Jae Chan bertanya pada Pak Choi, apa sudah memeriksa apa Tuan Park dan saksi dalam perjalanan? Pak Choi sudah melakukannya, ia dengar mereka tidak akan terlambat.

Jae Chan mengelus dadanya sambil meniup udara dari mulutnya. Ia cemas.


Kyung Han masuk ke ruangan Jae Chan. Hyang Mi disana heran, ada yang bisa dibantu? Kyung Han menjelaskan kalau dirinya adalah saksi.  

"Anda datang terlalu cepat. Bisa tunggu di luar? Aku akan memanggilmu nanti."


Kyung Han mengerti, tapi ia ada perlu dengan Jae Chan, ada yang ingin bicara dengan Jae Chan. 

"Dari Letnan Han Woo Tak. Dia bilang ini sangat mendesak." Lalu Kyung Han memberikan ponselnya pada Jae Chan.


Woo Tak melarang Jae Chan melakukan interogasi sendiri, suruh penyidik saja yang melakukannya.

"Apa? Kenapa?" Tanya Woo Tak sambil melihat Pak Choi yang kebetulan sedang menguap.


Hong Joo yang menjawab pertanyaan Jae Chan. Sebenarnya lebih ke memerintah sih bukan menjawab. Hong Joo menyuruh Jae Chan dengarkan lalu lakukan sa apa yang Woo Tak katakan.

"Aku juga tidak tahu alasannya, tapi kami bermimpi kau memeriksa Park Jun Mo. Di mimpiku, Park Jun Mo tidak dihukum apa pun, tapi di mimpi Woo Tak, dia diadili." Lanjut Hong Joo.

Jae Chan berkata itu tidak mungkin. Woo Tak menjelaskan, jadi mereka membandingkan mimpi mereka dan menyadari semuanya sama, kecuali satu hal.

"Dalam mimpi Hong Joo, kau memeriksa Park Jun Mo. Dalam mimpiku, penyidik yang melakukannya."


"kau tahu, penyidik yang mirip ikan, kan?" Tanya Woo Tak.

"Astaga, kau yakin? Mungkin kau salah."


Yoo Beom kemudian masuk dengan Tuan Park, ia menyapa Pak Choi ramah dan Hyang Mi juga, memuji-muji gitu. Pak Choi berbisik pada Yoo Beom kalau Jae Chan tidak mau mendengarkan.


Jae Chan bicara di telfon dengan berbisik, Pak Choi itu sangat dekat dengan Yoo Beom, mereka seperti keluarga.

"Tidak ada pilihan. Mimpi yang menunjukkannya. Park Jun Mo mengaku tidak bersalah." Jawab Hong Joo.


Jae Chan keceplosan meninggikan suaranya. "Apa? kau gila? Itu tidak mungkin!" Lalu ia sadar semua memandanginya jadi ia mengecilkan suaranya lagi, "Tidak mungkin dia mengaku tidak bersalah saat ada banyak bukti."

"Meskipun begitu, kau tidak akan mengalahkan Yoo Beom-ssi. Jadi, biarkan Pak Choi melakukan tugasnya."


Yoo Beom menyela Jae Chan, sudah selesai menelfonnya? Jae Chan lalu mematikan telfon dan menekan ponsel Kyung Han di meja, ia kesal. Kyung Han tak bisa melepaskan tatapannya dari ponselnya.

"Jika aku melakukan pemeriksaan, dia akan bebas. Jika Pak Choi yang melakukannya, Park Jun Mo akan diadili? Itu tidak masuk akal. Aku tidak bisa memercayai Pak Choi. Ya ampun."


Kyung Han memberanikan diri untuk meminta ponselnya kembali dan Jae Chan pun memberikannya.


Jae Chan memutuskan untuk melakukannya sesuai mimpi Woo Tak, ia memeinta Pak Choi yang melakukan interogasi. Yoo Beom tersenyum karenanya.


Hong Joo penasaran, kenapa mimpi mereka berbeda? Artinya salah satu dari mereka salah. Woo Tak bertanya, apa mimpi Hong Joo pernah salah?

"Tidak sampai aku bertemu dengan Jae Chan." Jawab Hong Joo.

"Bagaimana dengan setelahnya?"

"Mimpiku berubah berkat dia."

Woo Tak mencatat jawaban Hong Joo itu di bukunya. Ia berharap mimpi Hong Joo kali ini juga salah.


Pak Choi pun melakukan sesuai perintah. Pertama ia bertanya apa mereka sudah makan? Tuan Park menjawab ia sudah makan sesuatu.

Pak Choi: Nyonya Do Geum Sook, ingin Anda dihukum. Karena itu semuanya menjadi rumit. Seperti yang Anda tahu, meskipun ada luka, jika korban ingin--.

Tuan Park: Aku tidak pernah memukul istriku.

Batin Jae Chan, "Dia benar-benar mengaku tidak bersalah. Ini akan seperti mimpi Woo Tak?"

Reporter: Dengar. Omong kosong apa yang Anda bicarakan?

Pak Choi: Tunggu..Anda tidak mengaku telah memukul istri Anda?


Yoo Beom: Sebenarnya, aku memintanya mengaku. Mengingat kasus sebelumnya, aku ingin dia mengakuinya dahulu. Tapi saat kulihat kasusnya, dia hanya terjebak rencana istrinya.

Pak Choi: Rencana?

Yoo Beom menunjukkan janji yang Tuan Park buat dalam kasus sebelumnya. Disebutkan bahwa jika memukul istrinya lagi, dia akan memberinya 100 juta dolar.

"Jadi, istrinya memalsukan cederanya untuk mendapatkan uang itu?" Tanya Pak Choi.


Yoo Beom membenarkan dan ia memutar rekaman. Sebelum mulai pembicaraan di restoran Hong Joo, Yoo Beom menyalakan perekam di ponselnya.

Tapi yang Yoo Beom putar cuma pembicaraan Ibu Hong Joo.

Ibu Hong Joo: Benar. Aku juga tidak mau percaya. Pikirmu dia tidak bisa bertahan tanpa suaminya? Jangan takut. Setelah bercerai, akan ada pembagian properti dan nafkah anak darinya.
Ibu So Yoon: Benar. Dokumennya juga sudah siap.

Pak Choi mengerti, ia sudah menangani banyak kasus seperti ini, jadi, ia sudah hafal. Jae Chan mulai tidak tenang, ia khawatir padaPak Choi.

"Ini bukan hanya cerita yang bisa ditonton dalam drama. Ini juga terjadi di kenyataan. Anda memukul istri Anda dan menulis perjanjian yang akan menghancurkan Anda." Lanjut Pak Choi.


Jae Chan akan bangkit tapi kemudian eporter bicara, "Pemeriksaan macam apa ini? Bagaimana bisa disimpulkan setelah mendengar pernyataan pelaku? Aku melihatnya di hadapanku. Blus istrinya dipenuhi jejak kakinya karena dia diinjak."


Yoo Beom memiliki pembelaan untuk itu, "Itu bukan jejak kaki Tuan Park. Dalam laporan, disebutkan jejak kaki itu panjangnya 285 mm. Tapi ukuran Tuan Park adalah 260 mm."

Mereka membuktikannya dengan mengukur kaki Tuan Park dan semua itu cocok.

"kau menangkapnya tanpa memeriksa ukuran kakinya?" Tegur Pak Choi pada Kyung Han.

"Aku terlalu sibuk mengatur kerumunan sampai tidak sempat." Jawab Kyung Han.

"Meskipun sibuk, seharusnya kau melakukan tugasmu. Ukuran kaki saja menentukan hukuman seseorang. Ikuti SOP. Bagaimana mungkin kau tidak tahu dasar-dasarnya?"

"Hal pertama bagiku adalah menangkapnya. Lalu, penyidik TKP yang bertugas selanjutnya."

"Cukup. Diam."


Pak Choi bertanya pada Yoo Beom, bagaimana mereka akan menangani kasus ini?

"Sepertinya kasus ini harus ditangani seperti ini. Nyonya Du Geum Sook memanfaatkan janji dari kasus sebelumnya dan hendak memeras uangnya. Dia mencari kesempatan dan mematahkan rusuknya di resor ski. Dia memalsukan itu sebagai kasus penyerangan."

"Ah.. Itu sebabnya tanggal rekam medisnya salah."

"Saat konser, dia diam-diam menempelkan jejak kaki di blusnya. Dia memutuskan untuk pingsan saat banyak orang melihat."


Pak Choi mentatat semua itu hingga membuat Jae Chan memerapa kali harus menghela nafas melalui mulut, ia cemas. Kyung Han dan Reporter Juga tampak tidak setuju dengan Pak Choi.

"Ada apa dengan Pak Choi? Kenapa dia hanya mendengarkan omong kosongnya? Sial. Haruskah kupercaya mimpinya?"


Pak Choi mentatat semua itu hingga membuat Jae Chan memerapa kali harus menghela nafas melalui mulut, ia cemas. Kyung Han dan Reporter Juga tampak tidak setuju dengan Pak Choi.

"Ada apa dengan Pak Choi? Kenapa dia hanya mendengarkan omong kosongnya? Sial. Haruskah kupercaya mimpinya?"

Terakhir Tuan Park berkata kalau ia sangat mencintai istrinya. Yoo Beom menyimpulkan, Tuan Park tidak pernah melakukan penganiayaan sekali pun.

"Jadi, kau menangkapnya berdasarkan keadaan saat dia menyangkal penganiayaan itu?" Tanya Pak Choi.

"Siapa yang mau mengaku dalam keadaan seperti itu? kau pernah melihat ada pelaku yang mengaku?" Bantah Reporter.

"Astaga, jangan terlalu marah. Apa yang dikatakan Pak Park saat istrinya pingsan?"

"Ah.. Dia bilang dia tidak melakukannya."

"Bagaimana dengan saat dia ditangkap?"

"Dia juga berkata tidak melakukannya."

Pak Choi mendapatkan apa yang ia butuhkan, semuanya makin jelas.

1. Istrimu tercinta tiba-tiba pingsan.
2. Begitu dia pingsan, Anda menyangkal menganiayanya.
3. Lalu Anda ditangkap. Benar?


Pak Choi memanggil Jae Chan, hanya di saja kah yang berpikir ini aneh? Jae Chan tidak mengerti, apalagi Tuan Park.

Pak Choi lalu menjelaskan, ia tidak mengerti poin ke-2 dan ke-3. Jae Chan baru menyahut, ia juga berpikir itu aneh.


Jae Chan mengambil alih, menanyai Tuan Park, apa yang dikatakannya saat Nyonya Do pingsan?

"Ku-Kubilang aku tidak melakukannya."

"Anda mencintai istri Anda, bukan?"

"T-te-Tentu saja aku mencintainya."

Yoo Beom mengerti kemana arah pembicaraan ini, ia memanggil Tuan Park agar diam tapi Jae Chan malah meyuruhnya tidak ikut campur.

Jae Chan: Istri Anda tercinta tiba-tiba pingsan, dan hal pertama yang Anda katakan adalah "Aku tidak melakukannya"? Anda seharusnya bertanya apa dia baik-baik saja atau meminta tolong. Bukankah seharusnya Anda mengatakan itu?


Hyang Mi membuka mulutnya lebar-lebar, ia baru mengerti. Reporter juga membenarkan Jae Chan, itu yang seharusnya Tuan Park katakan.


Jae Chan melanjutkan, "Saat polisi datang, Anda seharusnya meminta mereka menangkap pelaku, bukan berdalih.

"Tentu saja, itu benar. Itu yang biasanya orang lakukan. Itu yang paling mencurigakan saat aku menangkapnya." Kata Kyung Han.

"Tidak, aku mengatakan itu karena semua orang berpikir aku memukulnya." Dalih Tuan Park.


Mereka kemudian memutar rekaman saat Nyonya Do pingsan. Tidak ada yang menuduh Tuan Park memukulnya seperti yang dikatakan Tuan Park tadi. Tuan Park malah sibuk menutupi jejak kaki itu seolah-olah ia yang menginjaknya.

"I-i-itu bukan jejak kakiku. kau sudah mengukurnya."

"Kenapa Anda melepaskan sepatu saat dia mengukurnya? Pengacara Lee pasti tahu ukuran sepatu dan kaki berbeda. Pakai sepatu Anda. Ayo ukur lagi."


Jae Chan menyuruhnya berdiri tapi Tuan Park tidak mau.

"Apa hanya jejak kaki, surat, dan rekaman yang Anda punya untuk membuktikan Anda tidak bersalah?" Tanya Jae Chan.


Lalu Jae Chan menyuruh Hyang Mi mengambilkan troli di pojokan.

"Wa.. Apa semua ini bukti?" Ucap Hyang Mi.


Jae Chan menekan, sepertinya Tuan Park mengambil jalan yang salah. Jika Tuan Park terus berbohong dengan bukti palsu, itu bisa merugikan Tuan Park nantinya.

"Aku hanya--"

"Jangan menjawabnya." Potong Yoo Beom. "Kita sudahi untuk hari ini."

Jae Chan menyuruh Tuan Park memilih, akan pergi begitu saja atau mengaku? Tuan Park akan mengaku tapi Yoo Beom kembali menyelanya untuk tidak mengatakan apapun.

"Anda tidak perlu menjawabku. Sikap Anda saat menjawab pertanyaan di sini, memalsukan rekam medis dan rekaman CCTV membuat kasus ini makin rumit. Kurasa itu cukup untuk mendakwanya. Sikap Anda saat penyelidikan akan menentukan apa Anda akan dihukum dan seberat apa hukumannya." Jelas Jae Chan.


Yoo Beom memeastikan, apa sekarang Jae Chan mengancamnya? Jae Chan membantah, hanya memberinya saran. Jae Chan memberinya pilihan untuk melompat dari mobil rusak atau bunuh diri di dalamnya.


Tuan Park langsung mengaku, "Aku berkeras mengakui kejahatanku, tapi pengacaraku mengatakan sebaliknya. Lembar persetujuan dan rekam medis dipalsukan olehnya. Aku bahkan tidak tahu apa itu."


Yoo Beom membentak Tuan Park dan Jae Chan membentaknya balik.

"Pengacara Lee! Aku akan membatasi keikutsertaanmu jika kau terus mengganggu. Itu juga berlaku jika kau mencoba menghancurkan, memalsukan, atau menyembunyikan bukti."

Tuan Park: Jaksa Jung, mohon maafkan aku. Aku tidak akan memukul istriku lagi. Mohon ampuni aku.

Jae Chan: Kita lihat kejahatan apa yang telah Anda lakukan. Lalu aku akan memikirkan hukuman Anda.

Pak Choi berdiri, ia memberikan kursinya untuk Jae Chan, supaya Jae Chan melanjutkan interogasinya.


Hyang Mi memberi jempol pada Pak Choi dan Pak Choi mengangguk.


Ibu So Yoon mendapat kabar dari Jae Chan. Ia berbagi kesenangan dengan Hong Joo dan Ibunya.


Woo Tak juga mendapat kabar, ia tak kalah senangnya.


Sementara So Yoon langsung memeluk Seung Won.

"Hei! Sudah selesai."

"Benarkah?"

"Ya!"

Seung Won langsung mengangkat So Yoon dan memutarnya. Semua anak-anak bersorak. *Cieeeee...


Pak Choi kembali dari membeli kopi dan ia berpapasan dengan Yoo Beom. Ia memberikan jatah Jae Chan pada Yoo Beom.

"Tapi.. Pak Choi, aku merasa agak kecewa hari ini. kau seharusnya memberitahuku jika punya banyak bukti."

"Ah.. Aku juga tidak tahu Jaksa Jung menyiapkan banyak. Dia berpura-pura bodoh."

"Kupikir kau akan memihakku selamanya. kau berubah."

"Aku tidak memihak siapa pun di bidang ini. Tidak saat bekerja denganmu dan bahkan sekarang."


Yoo Beom merenungkan kata Pak Choi sambil jalan.

"Tapi jika kau merasa aku berubah, bukankah itu berarti kau yang berubah?"

Yoo Beom langsung membuang kopi pemberian Pak Choi, ia tersenyum sinis.


Jae Chan bertemu dengan Pak Choi dan Hyang Mi di lorong. Mereka memuji Jae Chan.

"Pak Choi. Aku salah paham kepadamu selama ini. Kupikir kau memperlakukan Pengacara Lee dengan istimewa karena dia mantan jaksa." Kata Jaksa.


Saat itu, Kepala jaksa dan Jaksa yang lain mendekati mereka. Hyang Mi dan Pak Choi memberi sinyal tapi Jae Chan tidak menangkapnya.


Jae Chan melanjutkan, "Aku bahkan ragu apa kau menerima suap darinya. Aku penasaran apa kau minum dengannya saat pulang cepat. Aku penasaran apa kau minum terlalu banyak saat datang terlambat."

"Yang benar saja, aku tidak pulang secepat itu. Aku juga hanya terlambat sekali."

"kau sering mengirim pesan saat jam kerja sampai kupikir kau dekat dengannya."

"Itu dari bank yang memintaku membayar tagihan."

"Maaf sudah berpikir seperti itu tentang kau."

Jae Chan membungkik lalu pergi, tidak mendengarkan penjelaskan Pak Choi.


Kepala Jaksa menegur Kepala Choi,  cobalah jangan sering mengirim pesan saat bekerja.

"Kepala, itu bukan..."


Jaksa Lee: Pak Choi, kau berubah. Kau selalu memanfaatkan waktu dengan bijak.

"Itu tidak benar, Jaksa Lee."


Jaksa Son: Kudengar kondisi hatinya tidak baik. Berhenti minum!


Pak Choi berteriak setelah semuanya pergi.

"Semuanya salah paham! Semua yang dia katakan salah!"


Hee Min memanggil Jae Chan, ia mengajaknya bicara berdua. Hee Min memberi Jae Chan sebuah kartu nama. Apa itu, tanya Jae Chan.

"Dahulu dia bekerja denganku di divisi lain. Julukannya adalah Ular Berbisa. Dia baru membuka kantor pengacara setelah berhenti menjadi jaksa. Hanya Ular Berbisa yang bisa menangani Park Jun Mo yang menyembunyikan propertinya. Tingkat kemenangannya tinggi. Hubungi Nyonya Do. Itu akan membantu."

"Astaga~ aku tidak memikirkan ini."

"Tentu saja. kau terlalu fokus menangkap Park Jun Mo."

"Terima kasih. Aku bisa melihat kau lebih berpengalaman."


"Tentu saja. Begitu cara melakukannya. Aku bisa meninggalkan kesan baik." Kata Hee Min sambil menirukan gaya Jae Chan di ruang intergasi.

"kau melihatku melakukan itu?"

"Ya, di sini dengan semua orang."

Jae Chan langsung menjatuhkan kartu nama yang dipegangnya, shock.


Ibu Hong Joo, Ibu So Yoon, Woo Tak, So Yoon dan Seung Won makan bersama di restoran, mereka merayakan keberhasilan penangkapan Tuan Park.

Ibu memberi poin satu lagi untuk Jae Chan karena sangat mahir dalam pekerjaannya. Woo Tak akan mengintip tapi Ibu segera menyembunyikannya.


Ibu So Yoon, "Dia juga mengurus biaya pindah dan uang sekolah. Dia juga menyuruh suamiku menjauh dari kami."


Seung Won bertanya pada So Yoon, masihkah Soo Yon menganggap Hyeong-nya hanya jaksa bodoh biasa?

"Sepertinya tidak. Lihat, itu dia."


Woo Tak lalu keluar untuk membawanya masuk. So Yoon berkomentar, mereka berdua itu tidakkah  terlalu sering datang?

"Itu karena makanan di sini enak." Jawab Ibunya.

"Entahlah. Kurasa ada alasan lain."

"Alasan lain? Apa?" Tanya Seung Won.


"Kudengar kau menuntut Park Jun Mo. Bagus!" Puji Hong Joo.


"Itu bukan apa-apa. Bukankah itu tugasmu?" Kata Hong Joo cuek


"Benarkah? Sungguh? Hebat! Aku tidak tahu itu." Kata Hong Joo dengan Aegyo.


"Kemari. Aku akan memelukmu. Ayo. Kemari." Kata Hong Joo tegas.


Hong Joo ternyata mengatakan itu di halte, semua orang menatapnya aneh. Hong Joo sama sekali tidak peduli. Ia mengeluh, kenapa Jae Chan lama sekali? Apa ada makan malam tim? Atau dia lembur?


Bis datang, Hong Joo naik, sedankan jae Chan turun. Mereka tidak saling lihat.


Jae Chan menyapa seseorang yang ia kira Hong Joo, tapi ia salah.


Hong Joo datang ke kafe kemarin, ia bertanya apa pelayan ingat pria tinggi dengan lengan panjang? Dia datang?

"Tidak, dia tidak datang hari ini."


Jae Chan kesana setelah Hong Joo, memesan lalu bertanya apa pelayan ingat gadis yang datang setiap hari berambut pendek?

"Dia.. baru saja mencarimu. Kalian tidak punya nomor masing-masing?"

"Belum."


Jae Chan mengeluh, dasar Hong Joo, selalu tidak ada saat ia butuhkan. Tapi kemudian ia melihat Hong Joo sedang celingukan.


Hong Joo memeriksa setiap kafe dan jae Chan mengikutinya. Hong Joo tersenyum melihat jae Chan.

"kau mencari apa?" Tanya Jae Chan.

Hong Joo hanya tersenyum.


Mereka berjalan di bawah bunga sakura. Hong Joo memberikan kartu namanya dan meminta nomor Jae Chan, ia sangat frustrasi karena tidak bisa menghubungi Jae Chan.

"Apa ini?"

"Itu kartu namaku. Aku sedang istirahat bekerja, tapi nomorku sama. Hubungi aku dengan nomor itu."

Ternyata Hong Joo seorang reporter SBC.


Jae Chan bertanya, sudah mendengar soal kasus Park Jun Mo?

"Ya. Kudengar kau menuntutnya bahkan dengan tuntutan kasus sebelumnya. Aku lega mimpiku salah."

"Kenapa kau tidak mengatakannya pagi tadi?"

"Aku hanya ingin mendukungmu."

"Aku menolak dukunganmu."


Hong Joo bertanya, kenapa Jae Chan mencarinya? mau pamer?

"Aku tidak mencarimu. Aku langsung ke sini dari kantor."

"Lalu kenapa memakai celemek? Sepertinya kau pergi ke restorankuku. Itu gayamu? Atau itu membuatmu hangat?"

"Sial."


Jae Chan lalu berusaha melepas celemek itu.

"kau bilang dukunganku seperti ancaman bagimu karena aku bisa kecewa jika kau gagal, bukan?" Tanya Hong Joo.

"Benar. Aku tidak menyukainya."


Jae Chan kesulitan melepasnya, jadi Hong Joo menyuruhnya diam, ia saja yang melepaskannya.

"Aku tidak akan kecewa. Jika kau melakukannya dengan baik, aku akan bersyukur. Jika kau gagal, aku akan bersyukur karena kau sudah berusaha. Kenapa aku kecewa? Jadi, jangan menolak dukunganku. Semangat!"


Jae Chan seperti agak gugup, lalu ia mengucapkan terimakasih.


Hong Joo tiba-tiba memejamkan matanya. kemudian ia berjinjit. SUasanannya sudah pas sekali.


Tapi Jae Chan tampak bingung, jadi ia ikut berjinjit juga.

"Sedang apa kau?"

Hong Joo malu, ia langsung melepaskan Jae Chan dan bilang kalau ia cuma sedang melepaskan celemek Jae Chan.

Hong Joo menggerutu sebal sat berjalan menjauh, "Astaga, aku pasti sudah gila. Kenapa aku memejamkan mata?"


Jae Chan tetap disana, ia menatap langit lalu menatap punggung Hong Joo.


Seung Won ikut sarapan di rumah Hong Joo, So Yoon yang memanggilnya. Seung Won kagum melihat banyaknya makanan di meja, apa setiap hari begiyu?

"Ya, kami makan daging lima bumbu kemarin." Jawab So Yoon.


Ibu Hong Joo bertanya, bagaimana dengan sekolah So Yoon di luar negeri? Ibu So Yoon menjelaskan, mereka mendapat telepon persetujuan dari Yayasan Evan, mereka akan membiayainya.

"Baguslah." Kata Ibu lega.


Seung Won agak kecewa, ia mengonfirmasinya langsung, apa So Yoon beneran mau sekolah di luar?

"Ya, tapi jangan khawatir. Internet akan lancar, jadi, aku akan mengirim pesan kepadamu setiap hari."

"Setiap hari?"

"Tidak mau?"

"Mau." Jawab Seung Won dengan senyum lebar.


Hong Joo menggoda So Yoon, "kau sudah memeriksa tekanan air asrama itu? Untukmu, mereka membutuhkan tekanan air yang sangat kuat."

"Apa maksudnya? Ada apa dengan tekanan air?" Tnaya Seung Won.

So Yoon berbisik pada Hong Joo untuk diam.

"Jika toiletnya tersumbat seperti saat itu, kau mungkin harus pulang~"

"Kubilang, diam."


Ibu So Yoon mengaku, yang waktu itu adalah dirinya bukan So Yoon.

"Sungguh? Kenapa Ibu baru mengatakannya sekarang?" Protes So Yoon

"Ibu terlalu sibuk saat itu."

"Apa maksud Ibu? Seharusnya Ibu bilang saja."

"Ibu baru saja bilang."

"Mengecewakan sekali."

"Kenapa mengecewakan?"


Seung Won memuji sarapannya kali ini, ia sudah lama tidak sarapan dengan layak.

"Kenapa kau tidak mengajak Hyungmu?" Tanya Ibu.

"Hyung bilang harus pergi ke suatu tempat."

"Ke mana?" Tanya Hong Joo.


Jae Chan mengunjungi persemayaman abu ayahnya, ia metakkanfoto bersama saat di restoran Hong Joo disana, fotonya bersama Hong Joo, Ibu Hong Joo, So Yoon, Ibu So Yoon, Seung Won dan Woo Tak. Ia juga menempelkan bunga.

Jae Chan mengingat permintaan terakhir ayahnya yang ingin ia menjadi Jaksa.

"Ayah.. Aku menjadi jaksa seperti yang Ayah minta. Aku takut mengecewakan Ayah, jadi, aku berusaha sangat keras. Terkadang, aku ingin melarikan diri karena itu terlalu berat."


"Pasti aku.. sangat menyayangi Ayah."

Jae Chan melihat kartu nama Hong Joo, ia menyimpan nomornya.

"Kini ada seseorang yang menyemangatiku."


Sebenarnya saat tidur di bis itu, Jae Chan bermimpi dan ia tersenyum.


Mimpi JAe Chan sama dengan mimpi Hong Joo dan di mimpinya, semalam itu harusnya mereka berciuman.

"Aku melakukannya dengan baik atau tidak, dia berkata tidak apa-apa. Tapi.. aku ingin melakukannya dengan baik."


Jadi kata yang diucapakn Jae Chan itu, "terimakasih". Adalah kata yang ia ucapkan pada Hong Joo dalam mimpinya.

"Kini aku takut.. akan pikiran itu."


"Sebelum pikiran itu membuatku lelah dan menjadi kian besar, aku ingin melarikan diri."


Kamar Seung Won dipenuhi fotonya bersama So Yoon sekarang. Foto saat keduanya berkencan.


Saat hari kelulusan, Jae Chan datang ke sekolah. Mereka berfoto bersama tapi Seung Won malah memandangi So Yoon.

***

== K O M E N T A R ==
 
Jae Chan terlihat lebih suka diremehkan oleh orang lain. terlihat jelas ada tekanan dalam dirinya saat Seung Won, So Yoon dan Woo Tak menaruh harapan besar terhadapnya. Mereka berharap Jae Chan dapat mengubah semuanya menjadi lebih baik, padahal Jae Chan ini jaksa baru, ia belum banyak pengalaman di bidangnya. Jae Chan juga harus menjadi orang tua bagi adiknya. Ia harus menjadi contoh yang baik, yang dapat diteladani. Tapi masalahnya, ia juga seorang tulang punggung, jadi kesalahan kecil saja bisa membuat keuangan keluarga kacau, itu juga bisa berimbas pada adiknya. Jadi maklum jika ia bersikap begitu, sangat manusiawi.

Kedua, seneng juga mengetahui kalau Hong Joo punya pekerjaan, seorang reporter pula. Jadi Tiga Naga Terbang lengkap sudah, Jaksa-Reporter-Polisi. Mereka bisa menyelamatkan dunia walaupun tidak melalui mimpi, pekerjaan mereka sangat berhubungan untuk menyelamatkan orang-orang. 
 
== P R E V I E W ==

Intinya saja ya.. Hong Joo dulunya adalah seorang reporter. Ia sangat terkenal di bidangnya karena kecakapannya. Bahkan Kejaksaan tempat Jae Chan bekerja mengenal nama Hong Joo. Tapi Hong Joo menyerahkan kariernya karena mimpinya. Dalam mimpinya ia melihat dirinya meninggal saat menjadi Reporter, jadi ia berhenti.

Namun sepertinya saat ini Hong Joo akan mulai berkarier lagi.

5 komentar

Bagus y critanya ,, smg jd ad bumbu2 cintanya...

Salut sama penulis skenarionya,, jalan cerita nya unik.. Baguusss. Semoga sampai ending gak mengecewakan.. Fighting suzy

ditunggu episode selanjutnya mbak.. fighting n sehat terus biar gak telat update sinopsinya mba..

ditunggu episode selanjutnya mbak.. fighting n sehat terus biar gak telat update sinopsinya mba..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon