Thursday, November 2, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 21

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 21

Sumber Gambar: SBS


Yoo Beom berkendara saat hujan lebat dan ia ditelfon oleh seorang klien.

Klien: Apakah ini Pengacara Lee Yoo Beom? Pengacara yang membebaskan Kang Dae Hee.

Yoo Beom: Ya, ini siapa?

Klien: Kau merekam panggilan ini?

Yoo Beom: Tidak. Kenapa?

Klien: Kau tidak perlu tahu. Aku ingin berkonsultasi mengenai masalah penting.

Yoo Beom: Kalau begitu, buatlah janji temu untuk besok.

Klien: Besok sudah terlambat. Sempatkanlah waktu untukku sekarang.

Yoo Beom: Dengar! Anda pikir Anda siapa?

Klien: Ah.. Aku penulis Moon Tae Min.


Yoo Beom pun akhirnya menyempatkan waktunya untuk Penulis Moon. Yoo Beom berkata kalau ia memiliki empat novel Penulis Moon. Jika tahu akan bertemu Penulis Moon pasti ia bawa semua untuk mmeinta tanda tangan.

"Bagaimana jika langsung saja?" Tanya Yoo Beom.

"Aku mulai mengerjakan novel baru, dan aku butuh konsultasi pengacara."

"Astaga, itu suatu kehormatan."

"Apakah tokoh protagonisnya seorang pengacara?"

"Bukan. Seorang pembunuh."


Yoo Beom terkejut, Pembunuh? Apa pekerjaan pembunuh itu? Penulis Moon menjawab dia adalah penulis dan profesor.

"Penulis yang juga profesor. Seperti Anda, bukan?"

"Kenapa Kau berkata begitu?"

"Maaf. Baiklah. Tolong jelaskan alur ceritanya secara detil."

Yoo Beom kembali melepas jam tangannya dan mulai menggulung kertas.

Penulis Moon: Ceritanya dimulai di pesta peluncuran buku sang penulis.


Kilas Balik.. Hari itu adalah hari peluncuran buku terbarunya. Ada banyak tamu undangan dan para reporter yang datang. Kebetulan, Hong Joo memiliki kesempatan untuk mewawancarainya secara eksklusif.

Hong Joo: Esai ini tentang masa muda. Topik itu belum pernah Anda tulis sebelumnya. Ada hal khusus yang membuat Anda tertarik dengan topik itu?

Penulis Moon: Seperti Kau tahu, aku penulis, serta pengajar. Aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka yang belajar dalam situasi sulit. Jadi, aku memutuskan mendonasikan 100 persen hasil penjualan bukuku untuk beasiswa.

Kemudian ada seorang pemuda yang naik ke podium. Hong Joo merasa itu kejutan dari salah satu mahasiswa Penulis Moon.


Pemuda itu menjelaskan foto yang ditampilkannya di layar.

"Halo, aku berdiri di hadapan Anda hari ini untuk mengungkapkan kebenaran tentang tuan rumah istimewa kita hari ini, Profesor Moon Tae Min. Belum lama, foto ini dijadikan sampul majalan sekolah kami. Profesor Moon berkata ingin melompat bersama kami sampai lututnya putus.

Siang itu, kami harus membantunya pindah hingga lutut kami lemas. Ada lagi. Kami bahkan harus antar- jemput putranya ke sekolah dan menjadi petugas parkir di pernikahan putrinya. Menggunakan tesis sebagai.."

Pihak keamanan segera bertindak, mereka mengamankan pemuda itu. Pemuda itu masih teriak-teriak saat diseret pihak keamanan."


Penulis Moon menjelaskan pada Hong Joo, ia mengkritik tesis pemuda itu dengan cukup kasar, ia menduga pria itu dendam kepadanya.


Penulis Moon mendorong pria itu dengan keras sampai menabrak pintu lift.

"Kau mabuk? Tindakanmu itu tidak bisa kumaafkan meskipun Kau mabuk."

"Tidak, aku sangat sadar."

"Kurasa Kau tidak ingin dipublikasikan. Tampaknya Kau ingin meninggalkan bidang ini untuk selamanya."

"Benar. Aku tidak butuh dipublikasikan. Aku hanya belajar cara memoles sepatu dan mencuci mobil Anda. Apa gunanya menjadi penulis? Aku asisten dosen di sini, bukan budak Anda."

Penulis Moon sangat kesal. Pemuda itu lalu menunjukkan ponselnya, ternyata dari tadi ia merekam semuanya. Ia membebaskan Penulis Moon untuk mengancamnya seperti yang selalu Penulis Moon lakukan.


Penulis Moon nekat, ia mencekik leher pemuda itu sekuat tenaga sambil mengharapkan kematian pemuda itu. Pintu lift tidak mampu menahan dorongan yang sangat keras, akhirnya pemuda itu jatuh ke poros lift.


Yoo Beom bertanya, apa ada saksi mata. Penulis Moon tidak yakin, dia (seorang penulis itu) berpikir tidak ada yang melihat, tapi ada satu hal yang mengusiknya.

Setelah pemuda itu terjatuh ke poros lift, terdengar suara pintu tertutup di tangga darurat. Penulis Moon segera kesana dan cuma menemukan topi anak kecil berwarna kuning.

Penulis Moon: Dia menemukan topi anak di lantai, tapi dia tidak tahu apakah sudah ada di sana, atau ada yang menjatuhkannya saat insiden itu terjadi.

Yoo Beom: Apa yang terjadi kepada asisten dosen itu?


Pemuda itu koma karena kepanya terluka. Sekarang hanya bisa bernafas saja di ruang ICU Rumah Sakit, tidak bisa disebut masih hidup juga.


Yoo Beom bertanya, maksudnya mati otak kan? Penulis Moon mengangguk.

Yoo Beom: Mari luruskan terminologinya dahulu. Protagonis dari cerita ini bukanlah seorang pembunuh. KUHP tidak mengkategorikan mati otak sebagai kematian. Hanya kasus henti jantung yang dianggap kematian.

Penulis Moon: Benarkah?

Yoo Beom: Itu bisa dianggap cedera akibat kelalaian, tapi itu pun kurang tepat. Dia bisa dianggap tidak bersalah.

Penulis Moon: Tidak bersalah?

Yoo Beom: Ya. Jika protagonis dan pengacaranya menyusun rencana bagus bersama, dia bisa dianggap tidak bersalah.

Penulis Moon: Menurutmu begitu? Itu bagus. Tampaknya aku mendatangi orang yang tepat.

Penulis Moon ketapa lega, ia lalu minta kopi karena sudah merasa lega.


Yoo Beom mengatakan kalau semua staf-nya sudah pulang. Jadi mereka bisa pergi membeli kopi.

Penulis Yoo: Kita harus membangunkan otak kita demi menyusun rencana. Kau perlu meningkatkan layanan konsumen firmamu.

Yoo Beom ketawa, tapi mendadak wajahnya jadi serius, "Astaga, bagaimana aku bisa memberi layanan lebih baik dari ini?"

"Apa? Apa katamu?"

"Jujur saja, Anda menyelewengkan kekuasaan dan membunuh murid itu. Kini, Anda memintaku untuk membuat Anda bebas. Sadari posisi Anda karena kini Anda seorang kriminal. Beraninya Anda memintaku membawakan kopi?"

"Hei, Pengacara Lee."

"Hidup Anda kini ada di tanganku. Dengan kata lain, aku lebih berkuasa dari Anda. Perbaiki sikap Anda. Jika aku bicara dengan sopan, Anda juga harus begitu. Jangan lupa bahwa Anda kriminal dan jaga sikap Anda!"


Yoo Beom meminta Penulis Lee mengikuti apa yang ia katakan, "Kumohon tolong aku, Pengacara Lee". Penulis Moon pun mengikuti mau Yoo Beom itu.

"Bagus. Itu bagus. Kini, aku bersemangat menyusun rencana bersama Anda. Penulis Moon"


Hong Joo rapat bersama tim-nya. Kurasa penulis itu, Moon Tae Min, adalah orang yang sangat seram. Salah satu asistennya membuat onar di peluncuran bukunya. Dia berkata ingin membeberkan perbuatan bejat Moon. Tapi aku tahu persis apa yang telah terjadi. Dia mungkin sewenang-wenang terhadap asistennya menggunakan nilai sebagai alasan."


Seonbae snagat kecewa karena ia merupakan penggemar Penulis Moon. Kapten memuji Hong Joo, lalu bertanya Hong Joo sudah mewawancarai asistennya kan?

Hong Joo: Tadinya, tapi ada insiden.

Kapten: Insiden apa?

Hong Joo: Kudengar dia mabuk dan jatuh ke poros lift. Kini dia koma.

Seonbae: Pasti karena alkohol. Astaga.


Seonbae lalu memanggil Anak Baru untuk menyuruh sesuatu.

"Semua pasti lumayan lapar. Pergilah ke toserba dan beli kudapan yang kalian suka."

Hong Joo mengetuk meja, "Kuberi tahu, budaya hirarkis ini harus dihapuskan. Lebih tua bukan berarti lebih berkuasa. Kenapa Anda memperlakukan rekan kerja Anda seperti budak?"

Seonbae: Kau bicara kepadaku, bukan?

Hong Joo: Tidak, aku bicara dengan Penulis Moon. Kenapa? Apa aku terdengar seperti bicara dengan Anda? Anda merasa bersalah?

Seonbae: Tidak, untuk apa..

Lalu Seobae meminta kembali kartu kreditnya yang tadi ia berikan pada anak bari. Anak baru terselamatkan dan bisa kembali duduk.


Jae Chan bersiap-siap pulang. Hong Joo datang menjemputnya bersama Woo Tak.

"Kalian datang bersama." Kata Jae Chan.


Jae Chan memandangi jari Hong Joo dan cincin pemberiannya masih belum dipakai. Hong Joo menyadari itu dan ia menyembunyikan jarinya. Hong Joo menjelaskan kalau tadi ia dan Woo Tak berpapasan di depan.

Seung Won: Apa? Kalian sudah saling berbicara santai?

Jae Chan: Ya, begitulah.

Woo Tak: pa artinya kita juga boleh?

Jae Chan: Tidak.

Seung Won: Ini berdasarkan apa? Kalian (Jae Chan-Hong Joo) berdua bicara seperti teman, kalian (Hong Joo-Woo Tak) juga. Tapi kalian (Woo Tak-Jae Chan) berdua tidak bisa?

Jae Chan: Sudahlah. Kau membawakan kartu identitas kantorku, bukan?


Jae Chan menunjukkan kartu identitasnya pada Chan Ho. Chan lihat, bukan? Ia beneran seorang jaksa.

"Ya, benar." Jawab Chan Ho.

"Apa? Itu saja? Tidak ada yang mau Kau katakan kepadaku? "Maaf atas kesalahpahamannya. Maaf aku sudah meragukan Anda". Bukankah seharusnya Kau berkata begitu?"


Hong Joo malu dan menyuruh Jae Chan berhenti bersikap kekanakan begitu. Woo Tak setuju, ia juga malu karena Jae Chan. Seung Won manggut-manggut.

Chan Ho: Maaf aku sudah meragukan Anda. Tapi karena Anda seorang jaksa, Anda seharusnya tidak keliru mengenai ketetapan KUHP, atau memaksa orang agar percaya bahwa Anda jaksa saat Anda tidak membawa kartu identitas Anda.

Jae Chan: Memaksa... Beraninya kamu!

Chan Ho pergi dan Jae Chan akan mengejarnya tapi Seung Won manahan, "Astaga, sudahlah. Semua yang dia katakan benar."

Jae Chan: Benar. Dia mengingatkanku kepadamu. Dari tidak sopannya sampai wajahnya, dia seperti Kau waktu kecil.

Seung Won: Berhentilah bicara sembarangan!


Lalu tiba-tiba Chan Ho pingsan. Hong Joo yang pertama melihatnya dan langsung berlari mendekati Chan Ho diikuti yang lain. Mereka lalu memanggil dokter.


Mereka berempat menunggu sampai dokter keluar usai memeriksa Chan Ho. Mereka khawatir. Dokter menjelaskan kalau Chan Ho sedang cuci darah darurat, jadi, Chan Ho akan baik-baik saja.

Hong Joo: Cuci darah?

Dokter: Ya, dia menderita gagal ginjal akut. Dia telah menjalani cuci darah selama lima tahun. Kurasa tubuhnya mengandung banyak racun. Dia juga agak bengkak.

Woo Tak: Lima tahun? Tapi dia masih sangat kecil.

Dokter: Kami kehabisan pembuluh darah untuk ditusuk. Transplantasi adalah satu-satunya cara, tapi kami tidak menemukan donor. Ini sangat memusingkan.


Chan Ho ini satu ruangan dengan Asisten Penulis Moon dirawat.


Saat ini Penulis Moon berkunjung dan bicara dengan ayah asisten itu.

Penulis Moon: Seharusnya aku tidak membiarkan dia minum. Aku sungguh minta maaf. Dia tidak pernah membuat masalah saat mabuk dahulu. Entah bagaimana dia bisa mengalami insiden seperti ini.

Ayah: Astaga, tidak perlu meminta maaf. Anda sudah menyempatkan diri di jadwal sibuk Anda untuk kemari. Aku sungguh menghargai itu.

Penulis Moon: Jangan berkata begitu. Tentu aku harus membesuknya. Dia murid favoritku.

Ayah: Terima kasih.


Dokter datang, Penulis Moon langsung bertanya, operasi Hwan (nama asistennya) berjalan lancar kan?

"Otaknya sudah rusak parah saat dia tiba di sini. Dia bahkan tidak bisa bernapas sendiri. Anda harus menyiapkan mental untuk situasi terburuk." Kata Dokter.

Ayah hampir pingsan mendengarnya. Penulis Moon pura-pura khawatir, tapi ia tersenyum juga pada akhirnya.


Kemudian Jaksa Son datang untuk melihat Chan Ho. Ia tampak sangat khawatir.


-=EPISODE 21=-
Mati atau menjadi Jahat


Woo Tak mengantar Jae Chan pulang dengan mobilnya. Woo Tak lalu bertanya, Jae Chan akan tinggal dimana selama pemulihan, dirumahkan? Atau di rumah Hong Joo seperti dirinya?


Jae Chan akan menjawab tapi didului Seung Won. Seung Won mengatakan kalau kakaknya tantu saja harus dirumah. Kenapa juga harus merepotkan orang lain saat punya rumah sendiri? Lagi pula Jae Chan juga sudah sembuh.

Jae Chan membantah pernyataan terakhir Seung Won itu, ia masih merasa sakit di bekas jahitannya.


Hong Joo memutuskan, Jae Chan tinggal saja di rumahnya seperti Woo Tak. Ia akan merawat Jae chan. Jae Chan tersenyum bahagia, tapi Seung Won kembali menyela.

Seung Won: Astaga, tidak. Itu akan sangat memalukan. Woo Tak Hyung pantas dirawat olehmu. Tapi kakakku tidak.

Jae Chan: Kenapa?

Seung Won: Memang Kakak cedera saat berusaha  menyelamatkan Hong Joo seperti dia?

Jae Chan: Tidak, tapi kakak...


Seung Won: Apa Kakak tinggal sendiri seperti Woo Tak Hyung?

Jae Chan: Tidak, kakak tinggal bersamamu, tapi kakak.. Kau tidak berguna. Karena itu.

Woo Tak terlihat kesel banget sama Seung Won karena gak bisa membaca situasi. Dan Seung Won terus mendebat Jae Chan.


Seung Won menggandeng Jae Chan untuk masuk rumah, tapi kemudian Hong Joo melepaskan tangan Seung WOn dari Woo Tak dan menggandeng tangan Jae Chan.

"Ayo ke rumahku. Aku pernah mengalami ini, jadi, aku pasti lebih baik darimu (Seung Won)."

Hong Joo lalu bertanya pada Jae Chan, tidak keberatan menginap di rumahnya kan? Jae Chan menjawab malu-malu, kalau boleh ya hayuk!

Mereka berdua kemudian masuk ke rumah Hong Joo.


Seung Won tidak paham, kenapa kakaknya tidak mengerti juga? Woo Tak kemudian menjelaskan kalau sekarang ini Seung Won lah yang tidak mengerti.

"Apa salahku?" Tanya Seung Won.

"Mereka baru sadar bahwa sebenarnya mereka pernah bertemu 13 tahun lalu. Jangan ganggu mereka agar mereka bisa berbincang."


Ibu tidak seperti biasanya, ia agak cuek sama Jae Chan. Ibu bahkan menyuruh Hong Joo membersihkan kamarnya saja, semantara ia yang akan merawat Jae Chan.

"Dia harus minum obat dan--"

"Ibu akan memastikan dia minum obat. Cepat rapikan kamarmu. Jika dia melihat kamarmu, dia akan jijik dan pingsan."

"Kamarku tidak berantakan."


Ibu bertanya, berapa lama Jae Chan akan tinggal dirumahnya, dua hari cukup, bukan?

"Ya, itu cukup." Kata Jae Chan. Ibu lalu memberikan obat Jae Chan dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Hong Joo bukannya membersihkan kamarnya tapi mencari sesuatu, cincin pemberiak Jae Chan. Ia khawatir Jae Chan akan kecewa jika ia menghilangkan cincin itu. Tapi memang cincin itu tidakada dima-amana.

Lalu Jae Chan mengetuk pintu, boleh masukkah? Hong Joo menjawab boleh. Setelah masuk Jae Chan berkomentar kalau kamar Hong Joo lebih berantakan dari yang ia bayangkan.

"Tidak, biasanya tidak sekacau ini. Aku hanya mencari sesuatu."

"Apa?"

"Kau tidak perlu tahu. Duduklah di sini. Biar kuukur suhu tubuhmu."


Jae Chan bertanya, Hong Joo tidak suka cincin yang ia berikan ya? Hong Joo membantahnya, ia suka kok, sangat malah.

"Lalu kenapa tidak dipakai?" Tanya Jae Chan lagi.

"Aku mencemaskan anggapan rekan kerjaku, dan ibuku juga akan salah paham jika melihatnya. Aku akan memakainya jika hanya bersamamu."

"Berjanjilah kepadaku."

"Hemmm."

Hong Joo memeriksa suhu tubuh Jae Chan dan ternyata demam Jae Chan sudah turun, ia akan mengganti perban Jae Chan besok pagi.


Jae Chan berkomentar kalau Hong Joo terdengar seperti dokter. Hong Joo mengingatkan, ia sempat latihan dengan Woo Tak kemarin.

"Kau memeriksa suhu tubuhnya dan mengganti perbannya juga?"

"Ya. Kenapa? Kau merasa terganggu? Kau cemburu? Begitu?"

"Tidak sama sekali. Tidak sedikit pun."

"Kau tidak perlu mengelaknya begitu."

Ibu berteriak dari luar menyuruh Hong Joo untuk segera keluar.


Setelah Hong Joo keluar, Jae Chan membayangkan bagaimana Hong Joo merawat Woo Tak dulu. Mereka mesra-mesraan gitu. Jae Chan tidak terima jadi ia langsung melompat ke tempat tidur.


Tapi bayangan Jae Chan tidak berhenti sampai disitu, ia juga membayangkan mereka mesra-mesraan di depan TV, Jae Chan kesal, jadi ia melempar bantal.

"Astaga, seharusnya aku tidak kemari. Astaga, seharusnya aku di rumah saja."


Sebelum tidur, Hong Joo bertanya pada Ibu, ada lihat cincinnya yang hadiah dari Jae Chan gak? Ibu menjawab tidak, lalu bertanya apa Hong Joo menghilangkannya?

"Aku yakin meletakkannya di laci, tapi tidak ada."

"Kenapa mengolesnya dengan hati-hati? Kau hanya akan tidur. Oleskan saja dan tidurlah."

"Tidak. Belakangan ini, kulitku sangat kering. Bagaimana jika rusak? Jae Chan tinggal bersama kita."

"Ibu dengar Kau dan Jaksa Jung sebenarnya bertemu 13 tahun lalu. Kau merasa lebih dekat dengannya karena tahu soal itu?"

"Kenapa? Ibu ingin aku merasa lebih dekat dengannya?"

"Tidak, ibu tidak mau itu terjadi."

"Kami mungkin saja makin dekat. Kita tidak pernah tahu. Seiring waktu, kami mungkin.."

"Tidak. Ibu tidak mau itu. Ibu tidak mau nanti kalian makin dekat."

Lalu Ibu tidur duluan.


Dokter kembali menemui Ayah Lee, dokter sudah memeriksa apa yang ayah Lee minta.

"Putra Anda memang mendaftarkan diri untuk menjadi donor organ."

"Benar, bukan? Sudah kuduga."

"Anda seharusnya bangga dengan putra Anda."

"Hwan, Kau dengar itu? Doktermu memujimu."

"Kabari kami jika Anda sudah memutuskan tanggalnya."

"Besok lusa. Itu.. hari ulang tahunnya."

"Baiklah."



Perawat mengabari Jaksa Son bahwa akan ada donor ginjal, memang belum dipastikan, tapi ada seorang pasien mati otak yang bisa menjadi donor. Dan mereka harus melakukan tes antibodi lebih dulu. Jika cocok, Chan Ho akan bisa mendapatkan transplantasi ginjal.

Jaksa Son tak terkira bahagianya mendengar kabar itu, "Terima kasih. Terima kasih banyak."


Yoo Beom berhasil membebaskan Penulis Moon. Sementara Ayah Lee mencengkeram jubah Jae Chan.

"Katamu bedebah itu membunuh putraku. Kita tidak bisa menangkapnya karena tidak ada autopsi? Kenapa hukum sangat tidak adil?"

Dan Jae Chan terlihat mundur dari seorang jaksa, ia meninggalkan pekerjaannya.


Seseorang bangun dari mimpi itu, ia adalah Woo Tak.

"Astaga, bagaimana cara mengatakan itu kepadanya?"


Bukan hanya Ayah Lee yang marah pada Jae Chan ternyata, ada seorang AHjusshi lagi.

"Hanya demi menangkap satu orang itu, Anda membunuh.. Anda membunuh tujuh orang. Katakan. Seperti inikah keadilan yang Anda yakini? Menurut Anda ini adil?"


Jae Chan sangat sedih karenanya dan memutuskan keluar dari kejaksaan.


Itu adalah mimpi Hong Joo,


Pagi ini, Woo Tak mengendarai mobilnya ke rumah Jae Chan, tapi ia masih bingung nanti bilangnya bagaimana. Kemudian ia melihat Hong Joo keluar untuk mendaur ulang sampah. Tapi Hong Joo kelihatan tidak fokus, sepertinya pikirannya pada hal lain.


Woo Tak lalu membantu Hong Joo melakukan daur ulang. Hong Joo terus menghela nafas dan Woo Tak memprotes, Hong Joo ini benci daur ulang atau apa? Apa terjadi sesuatu?

"Aku bermimpi buruk. Aku sedang memikirkan bagaimana cara mengatakannya."

"Apa? Aku juga. Apa ini soal Jae Chan-ssi?"

"Ya, Kau juga?"

"Ya, Kau juga melihat dia mengundurkan diri?"

"Kau juga melihatnya?"

"Ya."


Jae Chan sedang menjemur selimut dan ia melihat mereka berdua di depan. Jae Chan heran, kenapa mereka tidak masuk?


Woo Tak memutuskan, mereka harus memberi tahu Jae Chan. Itu akan menimpanya. Tapi Hong Joo menahannya.

"Apa yang berubah jika kita memberi tahu dia? Tidak ada yang bisa dia ubah meski dia mengetahuinya lebih awal."

"Setidaknya dia bisa menghindarinya."

"Lalu apa? Orang lain harus menerima jika dia melarikan diri. Kau akan lari jika mengetahui itu? Kau sanggup?"

"Tidak."

"Jae Chan seperti kau. Dia tidak akan lari jika dia mengetahuinya. Jadi, sebaiknya Kau tidak memberi tahu dia. Aku akan membuat dia lari."

"Caranya?"


Jae Chan mengantar Hong Joo sampai ke halte. Bis mereka datang, Jae Chan menggandeng Hong Joo untuk segera naik, tapi Hong Joo tidak mau, ia tidak mau ke kantor, ia izin hari ini.

"Kenapa?" Tanya Jae Chan.

"Karena ini hari yang sangat indah. Tidak ada debu, dan Kau juga cuti. Aku tidak ingin bekerja di hari seperti ini."

"Lalu? Kau mau ke mana?"


Hong Joo mengirim pesan pada Seonbae-nya, "Seonbae, maafkan aku. Aku izin hari ini karena cuacanya sangat bagus."

"Cuaca yang bagus pasti telah membuatnya gila. Ada apa dengan Hong Joo?"


Hee Min berantakan banget karena ia harus lembut kasus Jae Chan. Lalu Jaksa Lee datang dan memberinya kopi.

"Kau lembur?" Tanya Jaksa Lee.

"Ya. Apa tidak ada yang lembur di divisimu? Untuk menggantikan seseorang."

"Hei, Jung Pro bukan ingin cuti. Aku yakin dia tahu betapa banyak pekerjaan dia yang kita kerjakan."

"Kalau begitu, dia harus segera kembali."

"Aku yakin dia juga merasa tidak enak karena mengambil cuti. Kasihan dia."


Tapi nyatanya Jae Chan sedang bersenang-senang bersama Hong Joo, mereka mengunjungi padang ilalalng, ada domba disana. 


Selanjutnya, mereka berfoto bersama dan disamping mereka ada couple yang heboh banget. Merka adalah Lee Sung Kyung dan Yoon Gyun Sang.


Jae Chan merasa itu sangat mengganggu.


Gyun Sang kemudian memberi Sung Kyung kejutan, sebuket bunga. Jae Chan tidak mau kalah, ia memetik bunga ilalang dan memberikannya pada Hong Joo.

"Kau suka bir. Bir terbuat dari ini." Kata Jae Chan.

"Benar, terima kasih."


Lalu Sung Kyung dan Gyun Sang lari-lari dibelakang mereka.


Saat berjalan berdampingan, Hong Joo mau menggandengan Jae Chan, tapi Jae Chan gak paham-paham. Setelah beberapa kali Hong Joo mencoba Jae Chan akhirnya paham juga, ia lalu melingkarkan tangan Hong Joo di lengannya.

"Bagaimana jika kita ke pantai besok? Setidaknya sudah lima tahun kita terakhir melihat laut." Kata Hong Joo.

"Tapi aku kembali bekerja besok."

"Izin saja, seperti aku hari ini."


Lalu mereka berhenti di depan jalan yang bercabang. Jae Chan bertanya, apa sesuatu terjadi kepadanya besok?

"Apa? Apa maksudmu?" Hong Joo terkejut.

"Aku mendengar percakapanmu dengan Woo Tak pagi ini. Katamu Kau melihat sesuatu di mimpimu. Katakan saja. Kenapa Kau ingin aku lari?"


Hong Joo menjelaskan, Jae Chan harus membuat pilihan, pilihan yang sangat sulit. Jika yang ia lihat di mimpinya benar terjadi, Jae Chan akan langsung melakukan inspeksi saat kembali bekerja besok.


"Pasien mati otak yang seharusnya cedera kepala di sebuah kecelakaan. Tapi di tengah inspeksimu, Kau mendapati bahwa cedera itu bukan diakibatkan oleh kecelakaan."


Jae Chan: Bukan kecelakaan? Artinya ada yang sengaja melukainya?

Hong Joo: Ya. Jadi, Kau memutuskan melakukan autopsi dan akhirnya menangkap pelaku.

Jae Chan: Lalu apa masalahnya?

Hong Joo: Korban mati otak itu.. mengajukan diri menjadi donor organ. Karena Kau memutuskan melakukan autopsi, dia tidak bisa lagi mendonorkan organnya. Jadi, tujuh pasien yang menunggu transplantasi...

Jae Chan: Meninggal?

Hong Joo: Ya. Karena terguncang, Kau berhenti sebagai jaksa.

Jae Chan: Bagaimana jika aku tidak melakukan autopsi? Aku tidak bisa menangkap pelaku tanpa itu?

Hong Joo: Woo Tak juga bermimpi. Itu yang Kau lakukan di mimpimu. Kau memilih tidak melakukan autopsi agar bisa menyelamatkan ketujuh orang itu, tapi..


Penulis Moon menemukan dari skolah mana topi itu. Ternyata dari "TK Hakdong".


Hong Joo: Pelaku dibebaskan dengan putusan tidak bersalah karena penyebab kematian tidak bisa dipastikan tanpa autopsi. Ayah korban menyalahkanmu atas segalanya. Jadi, setelah menyalahkan dirimu...

Jae Chan: Aku mundur sebagai jaksa.

Hong Joo: Ya.

Jae Chan: Ada informasi dari korban? Kau tidak tahu siapa dia?

Hong Joo: Aku tidak melihatnya di mimpiku.


Jae Chan menatap dua jalan di depannya. Jika ia melakukan autopsi, tujuh orang akan meninggal. Jika tidak, ia menyelamatkan ketujuh orang itu, tapi pelaku bebas. Tapi walaupun ia melakukan autopsi atau tidak, ia tetap meninggalkan posisi jaksa.

Jae Chan: Kurasa Kau ingin aku lari karena apa pun itu, aku akan menyesalinya. Astaga, itu sangat buruk.

Hong Joo: Benar, sangat buruk.


Jae Chan mengajak Hong Joo ke pantai besok, ia ingin melarikan diri. Ia tahu aku seperti pengecut, tapi ia masih ingin melarikan diri. Ia tidak ingin meninggalkan kejaksaan selamanya.

"Ya, aku yakin Kau tidak ingin berhenti." Jawab Hong Joo.


Jae Chan teringat kata Hong Joo pada Woo Tak tadi pagi, "Lalu apa? Orang lain harus menerima jika dia melarikan diri. Kau akan lari jika mengetahui itu? Kau sanggup?"

Jae Chan menjawabnya saat ini, "Tentu saja. Aku sangat sanggup."

Hong Joo pasgi tadi, "Jae Chan seperti kau. Dia tidak akan lari jika mengetahuinya."

Jae Chan menyanggahnya saat ini, "Salah. Aku akan melarikan diri. Menyusahkan orang atau  tidak, aku tidak peduli. Aku dan Woo Tak pada dasarnya berbeda. Hati nuraniku punya standar yang tergolong rendah."

Hong Joo: Itu bagus. Kita harus sadar diri.


Lalu Gyun Sang memanggil Jae Chan dengan Ahjusshi, meminta bantuan untuk memotretkan mereka.

"Tidak mau! Untuk apa aku memotret orang yang tidak kukenal?!" Jawab Jae Chan kesal.

Jae Chan sebenarnya ingin menunjukkan itu pada Hong Joo, "Lihat kan? Kini aku akan bertindak dan berkata semauku."

Hong Joo memberinya jempol.

Gyun Sang dan SUng Kyung sangat kesal. lalu SUng Kyung mengajak Gyung Sang pergi, ia akan mentraktirnya makan barbekyu.

"Baiklah Noona." Jawab Sang Kyu.


Sung Won kembali makan dengan teman yang dikucilkan itu. Teman mengatakan kalau kakak Seung Won adalah jaksa yang baik.

"Apa maksudmu? Aneh sekali."

"Dia membuktikan Do Hak Young tidak bersalah dan membebaskannya."

"Hei, dia hanya menjalankan tugasnya. Guru mengajari murid. Presiden melindungi rakyat, dan jaksa hanya menuntut pelaku kejahatan. Melakukan tugasnya bukan berarti dia jaksa yang baik."

"Tapi melakukan itu tidak selalu mudah. Aku belajar itu dari ayahku. Ayahku seorang dokter, tapi bertemu dengan jaksa licik membuatnya menjadi pembunuh berantai."

"Siapa jaksa itu?"

"Kau tidak akan mengenalnya. Dia mengubah pernyataan saksi dan memalsukan bukti. Begitulah cara dia mengubah orang tidak bersalah menjadi penjahat."


Kemudian diperlihatkan Yoo Beom yang sedang bersama Penulis Moon.

"Astaga. Anda beruntung, Penulis Moon. Staf rumah sakit itu memberitahuku bahwa Lee Hwan akan segera mendonasikan organnya."

"Berarti tidak akan ada autopsi, bukan?"

"Ini akan berakhir jika mereka tidak bisa menjalankan autopsi. Ini akan dianggap sebagai kematian akibat kecelakaan. Jangan terlalu cemas meski kasusnya diteruskan ke pengadilan. Akan mudah membebaskan Anda karena banyak yang bias."

"Aku sangat memercayaimu."

"Penulis Moon, Anda harus mencari pemilik topi itu. Itu yang paling membuatku khawatir."

"Tentu."


Woo Tak ternyata mengawasi mereka.

*Yoo Beom kah jaksa yang menangani kasus Ayah teman Seung Won itu? Kemungkinan besar iya.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon