Friday, November 10, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 27

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 27

Sumber Gambar: SBS


Polisi dan pemadam kebakaran datang. Pak Choi kemudian menghampiri Jae Chan dan Hong Joo yang duduk berdua sambil membawakan minuman.

Pak Choi: Kalian baik-baik saja?

Jae Chan: Ya, kami baik-baik saja.

Pak Choi: Ambulans akan segera tiba.


Jae Chan melihat tangan Pak Choi yang berdarah, ia khawatir. Tapi Pak Choi malah membentak Jae Chan, apa itu penting sekarang? Hong Joo sampai terlonjak.

Pak Choi: Kenapa Kau ke tempat seperti ini sendirian? Kenapa tidak meneleponku?

Jae Chan: Aku sungkan meneleponmu di luar jam kerjamu.

Pak Choi: Kau seharusnya meneleponku meskipun sungkan. Bagaimana jika kau sendirian dan terluka karena mengabaikan prosedur dan aturan? Apa yang kukatakan saat kau menjalankan surat perintah? Apa yang terpenting dalam hal seperti ini?

Jae Chan: Keselamatanku.

Pak Choi: Kau tahu betul! Tapi kenapa Kau kemari sendirian? Seandainya aku tidak datang hari ini, Kau sudah mati.

Hong Joo: Jung Geomsa tidak menduga tempat ini berbahaya.

Pak Choi: Jangan ikut campur! Percuma saja membelanya.

Hong Joo: Maafkan aku.

Pak Choi: Bahkan Kau juga, Reporter Nam. Kenapa kau kemari di malam hari padahal tidak tahu ada siapa?

Jae Chan: Dia benar. Kau sama sekali tidak takut.


Ambulan datang, Pak Choi bingung harus menemani siapa karena tubuhnya ini cuma satu. Hong Joo menyuruhnya menemani Jae Chan saja, soalnya Jae Chan menghirup banyak gas saat mencoba menyelamatkannya.

Jae Chan: Tidak, Pak. Pergilah bersama Hong Joo. Tangannya sangat gemetaran.

Hong Joo: Tanganku tidak gemetar. Sekarang sudah membaik. Luka dalamnya pasti lebih parah daripada aku.

Jae Chan: Hong Joo, Kau tidak baik-baik saja.

Hong Joo: Tidak, aku baik-baik saja. Kau yang tidak baik-baik saja.


Jae Chanlalu sibuk memperhatikan Hong Joo. Pak Choi hanya menghale nafas, Asataga.. dua orang kasmaran ini.


Pak Choi akhirnya ikut bersama Jae Chan. Pak Choi mengingatkan, saat mengabaikan perintah asisten kepala jaksa dan pergi ke lokasi tanpa inspektur, bisa-bisa jaksa menjadi korban. Jae Chan sudah menghancurkan kenetralan dari seluruh penyelidikan, mengerti?

"Ya, Pak."

Jae Chan kemudian melepas masker oksigennya, bertanya bagaimana Pak Choi tahu kalau ia ada disana? Pak Choi tidak mau jujur, ia mengalihkan pembicaraan kalau itu tidak penting. Ia menyuruh Jae Chan kembali memakai masker oksigennya.

"Diamlah dan pakai saja masker oksigen itu. Bukan hanya menyediakan oksigen, ini juga mencegahmu bicara."


Jae Chan teringat bagaimana bersyukurnya Pak Choi tadi saat ia dan Hong Joo masih hidup, ia kemudian menggenngam tangan Pak Choi, mengucapkan terimakasih.

"Sekarang tolong dengarkan aku jika Kau berterima kasih. Jangan membuatku mencemaskanmu lagi."

***


Paginya Hong Joo ke rumah Jae Chan dan yang membukakakn pintu Seung Won.

"Noona, kami akan segera ke rumahmu untuk sarapan."

"Aku tahu. Aku hanya ingin meminta bantuan."

"Bantuan? Apa?"


Lalu terdengar suara Jae Chan buang ingus di kamar mandi. Hong Joo terkejut. Parahnya lagi, Jae Chan keluar dan terus bicara, tapi ia melihat kebawah jadi tidak melihat ada Hong Joo disana.

"Wah.. aku menghirup banyak asap tadi malam. Aku terus berdengus, tapi abu yang terus keluar. Bahkan ingusku bisa dipakai untuk menulis.."


Seung Won menjelaskan, Hong Joo datang untuk meminta bantuan.

"Benarkah?" Jae Chan menyibak rambut, "Tunggu sebentar." Jae Chan lalu masuk kamar.


Jae Chan menyesali apa yang ia katakan tadi, menulis dengan ingus? Bisakah ia tarik ucapannya?

"Astaga. Itu menjijikkan."


Seung Won membuatkan minum sambil menjelaskan, Jae Chan mendengus seperti trompet, jadi ia tidak perlu alarm. Ia bangun karena dengusan Jae Chan setiap pagi.


Jae Chan sebenarnya sudah keluar namun baik Hong Joo dan Seung Won tidak menyadarinya.

Seung Won: Semoga Noona tidak terkejut. Katamu, Noona selalu melihat sisi menjijikkan dirinya di mimpimu.


Hong Joo: Ya, tidak apa-apa. Hidungku juga mengeluarkan abu. Kakakmu jauh lebih seksi saat dia lembap setelah mandi. Apa pun yang dia lakukan membuat hatiku berdebar.

Seung Won: Kau mengalami cinta buta sampai ke level serius.


Jae Chan kesal, jadi ia sengaja menginjak kaki Seung Won, kemudian menyuruh Seong Won mandi karena nanti bisa terlambat.


Jae Chan bertanya Hong Joo mau minta tolong apa. Hong Joo cerita kalau ia sudah mengatakan secara kasar pada ibunya soal kecelakaan semalam, ia tidak mau ibunya terlalu khawatir.

"Kau bilang apa kepadanya?" Tanya Jae Chan.

"Kubilang aku menelepon damkar saat lewat dan melihat api. Jadi, jangan katakan apa pun saat sarapan."

"Baiklah."


Hong Joo akan pergi tapi Jae Chan menariknya dengan memegnag kedua pundaknya.

"Jangan lakukan itu kepadaku." Kata Jae Chan.

"Apa?"

"Jangan bilang dirimu baik-baik saja, padahal tidak. Hal buruk, mimpi buruk. Kau harus memberitahuku semuanya. Jangan membohongiku."

"Baiklah."

"Kau masih bermimpi tentang yang Kau ceritakan kepadaku? Mimpi tentang hujan dan payung hijau."

"Tidak. Aku tidak memimpikan itu belakangan ini."

"Itu benar, bukan? Kau tidak berbohong?"

"Benar. Jika aku memimpikannya lagi, Kau yang pertama kuberi tahu."

"Baiklah."


Yoo Beom keluar dari mobilnya di parkiran dan ia diamati oleh seorang yang berpakaian serba hitam.


Di kantor Hong Joo sedang rapat mengenai foto di ponsel 10.000 dollar itu. Seonbae bertanya, apa pemilik ponsel itu berkaitan dengan Myung Yi Suk? Misalnya kaki tangan?

Hong Joo: Mungkin. Akan kucari tahu lagi saat meliputnya dengan teliti. Mungkin saja dia pelaku sebenarnya.

Seonbae: Pelaku sebenarnya? Apa dasarmu mengatakan itu?

Hong Joo: Selain 11 foto korban, ada foto delapan orang lagi di ponselnya.

Seonbae: Apa maksudmu? Ada apa dengan delapan orang itu?


Jae Chan juga merapatkan hal yang sama, ia mengatakan pada yang lain kalau semua orang di foto itu meninggal, termasuk 8 yang lain.

Kepala Park: Kenapa kedelapan korban tidak terdaftar dalam kasus itu?

Jae Chan: Mereka bukan dari kamar rumah sakit yang sama dengan kasus ini. Mereka tidak dihitung karena tewas setelah penangkapan Myung Yi Suk.

Hee Min: Mereka tewas setelah dia ditangkap?


Kapten: Maka dia mungkin pelaku sebenarnya atau kaki tangan. Artinya, pembunuh berantai itu masih hidup.

Hong Joo: Dia bisa melakukan kejahatan lagi.

Kapten: Kau yakin pria yang tewas dalam kebakaran bukan pembunuh berantainya?


Jae Chan: Orang yang tewas dalam kebakaran bukan pemilik ponsel itu. Dia hanya menerima ponsel dari orang lain.

Jaksa Lee: Saat polisi mendekati orang yang mencari ponselnya, ada yang membunuhnya dengan kebakaran?

Hee Min: Kemungkinan besar ponsel itu milik pelaku pembakaran.

Jaksa Son: Kemungkinan besar dialah pembunuh berantainya.


Kepala Park: Tenang, Semuanya. Kita tidak boleh berasumsi. Ini penyelidikan ulang, jadi, mari berhati-hati. Kau mendapat data pribadi pemilik ponsel itu?

Jae Chan: Tidak mudah menemukan pemiliknya karena itu ponsel prabayar.


Kapten: Nam Hong Joo. Bukankah Kau bertanggung jawab atas kasus ini tahun lalu?

Hong Joo: Ya, Pak.

Kapten: Aku mau kalian berdua hanya fokus terhadap kasus ini. Bong Do Hyun, pergilah ke rumah sakit dan cari tahu soal kedelapan pasien. Nam Hong Joo, teruslah bersama polisi dan jaksa untuk mencari tahu tentang pemilik ponsel itu. Cari tahu apakah ada masalah dengan penyelidikan lama.

Hong Joo: Baik, Pak.

Seonbae: Baik, Pak.


Kepala Park: Kau sudah memberikan data cadangan ponsel itu ke tim forensik?

Jae Chan: Ya, sudah kulakukan.

Kepala Park: Omong-omong, bagaimana Kau bisa mengetahui kasus ini, Jung Pro? Ini bukan kasusmu.

Jae Chan: Aku yang pertama menyadari ini sebagai kasus.

Kepala Park: Kau adalah korban kasus pembakaran. Bagaimana bisa korban menyelidiki? Kau akan dikecualikan seandainya aku hakimnya.

Jae Chan: Aku mengerti, Pak.


Kepala Park: Jangan berurusan dengan kasus ini, Jung Pro. Bu Son dan Shin Pro harus mengurus kasus ini.

Dan Kepala Jaksa menugaskan Jae Chan bersama Jaksa menyelidiki ulang kasus pembunuhan berantai cairan infus ini. Jaksa Lee seperti berpikir sessuatu.

Kepala Park mewanti-wanti, Jika Jae Chan tidak mematuhi perintah dan pergi ke lokasi kejahatan lagi, ia akan menghapusnya dari tim. Jae Chan mengerti.

Kepala Park menjelaskan kalau mereka punya dua kasus, tapi hanya ada satu tersangka. Jadi mereka akan bekerja dengan dua jalur. Kedua tim harus rapat setiap hari dan bekerja sama.


Jae Chan mengatakan akan menghubungi kantor Yeonju untuk mendapatkan catatan kasus dan mengajukan penyelidikan terhadap barang sitaan itu. Jaksa Lee menyetujuinya.


Tiba-tiba Jaksa Lee bertanya apa Jae Chan akan baik-baik saja? Jae Chan tidak mengerti maksud Jksa Lee itu.

"Menyelidiki ulang kasus lama berarti ada sesuatu yang salah dalam penyelidikan sebelumnya."

"Ya, aku menyadarinya."

"Kau harus memeriksa Pengacara Lee yang merupakan jaksa kasus ini. Kau juga harus memeriksa Pak Choi, yang merupakan inspektur. Aku yakin tidak ada masalah, tapi jika kita menemukan masalah dalam penyelidikan sebelumnya, Pak Choi bisa menghadapi tindakan disipliner. Setidaknya, kelalaian tugas. Parahnya, dia mungkin harus diadili."


Di ruangan, Hyang Mi membantu Pak Choi mengganti perban tangannya. Pak Choi sangat berterimakasih karena ia tidak bisa melakukannya sendiri.

"Aku gadis yang baik, bukan?"

"Ya."

"Aku gadis yang baik. Semoga aku bisa bertemu dengan pria seperti Letnan Han Woo Tak."

"Letnan Han Woo Tak juga hidup sebagai orang baik."

Hyang Mi langsung mengencangkan balutannya, Pak Choi kesakitan, ia cepat-cepat minta maaf.


Jae Chan sampai di depan pintu ruangannya, tapi ia tidak kunjung masuk, ia berhenti untuk melihat Pak Choi sambil memikirkan apa yang Jaksa Lee bilang tadi bahwa Pak Choi mungkin dalam masalah.


==Episode 27==
Tangkap Aku jika Bisa


Jaksa Lee dan Jae Chan serta inspektur Jaksa Lee mendatangi kejaksaan sebelumnya yang memproses kasus pembunuhan berantai cairan infus. Mereka mendapatkan banyak berkas dan semuanya dimasukkan ke dalam mobil Jaksa Lee.

Jae Chan: Astaga. Banyak sekali catatan untuk kasus ini. Kita harus bergadang beberapa hari untuk memeriksa semuanya.

Jaksa Lee: Sebelas orang tewas. Tentu saja banyak catatannya.

Kemudian Inspektur Jaksa Lee menutup bagasi dengan keras. Jaksa Lee marah, menyuruhnya untuk hati-hati karena itu mobil baru.


Di dalam mobil, Jaksa Lee mengirim pesan, "Seandainya aku satu tim denganmu dalam kasus pembakaran itu. Aku merindukanmu."

*WOW!!! ini pasti teman kencan Jaksa Lee kemarin, siapakan gerangan? Hee Min kah? Atau Jaksa Son? Atau salah satu asisten mereka?

Jae Chan: Ayo bawa semua barang sitaan dan catatan pengadilan ke ruanganmu. Aku akan terus menyelidiki catatan di ruanganku.

Jaksa Lee: Kau bisa melakukan itu. Pak Choi bekerja di ruanganmu. Bawa semua itu ke ruanganku.



Jae Chan terkejut, jadi Jaksa Lee tidak melibatkan Pak Choi dalam penyelidikan ini?

"Tentu saja. Kirim dia ke tim kasus pembakaran. Mari kita minta penyelidikan lain."

"Aku akan menyelidiki ulang kasus ini bersama Pak Choi. Pak Choi tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang terlibat. Dia seharusnya tidak dikecualikan hanya karena asumsi kita."

"Astaga, orang ini.."


Lalu di kantor, Jaksa Lee dan Jae Chan berebut catatan itu. Jae Chan memaksa untuk menaruh semua itu di ruangannya tapi Jaksa Lee tidak bisa mengijinkannya.

"Yaa!! Pak Choi menyelidiki kasus ini bersama Lee Yoo Beom. Jika catatan palsu ditemukan, dia bisa menjadi penjahat."

Jae Chan menyadari kalau Pak Choi mendekat, jadi ia meminta Jaksa Lee membicarakan masalah catatan ini nanti saja, tapi Jaksa Lee yang tidak menyadari ada Pak Choi marah-marah.

"Apa maksudmu nanti? Bagaimana jika dia mau penghormatan dan merekayasa kasusnya?"

"SEOBAENIM!"

"Apa? Kenapa? Apa ucapanku salah?! Aku tidak mau mencurigai Pak Choi melakukan kesalahan. Tapi aku bisa apa? Tugasku sebagai jaksa adalah mencurigai apa pun. Tugas kita mencurigai siapa pun bahkan yang tidak mau kita curigai."


Pak Choi mendekat dan membenarkan Jaksa Lee, Jaksa Lee bangga tapi setelah ia menoleh dan mengetahui kalau itu Pak Choi, ia melonjak terkejut.

Jaksa Lee: Maksudku.. Aku tidak bermaksud Kau membuat kesalahan saat penyelidikan.

Pak Choi: Aku mengerti. Aku seharusnya tidak terlibat dalam kasus ini. Catatan ini seharusnya ditaruh di ruangan Jaksa Lee.


Kemudian Pak Choi pergi. Jae Chan seperti akan memprotes Jaksa Lee lagi, tapi Jaksa Lee langsung mendahuluinya bicara dengan bilang kalau Pak Choi setuju dengan dirinya. Lalu Jaksa Lee membawa catatan itu ke ruangannya.


Besoknya saat sarapan, Jae Chan curhat pada yang lain kalau Jaksa Lee berlebihan. Ibu setuju, kenapa coba dia tega melakukan itu kepada rekannya? Dia kejam.

Jae Chan: Benar, bukan?

Hong Joo: Itu bisa melukai perasaannya, tapi ini penyelidikan.

Jae Chan: Apa? Kini Kau memihak Jaksa Lee?


Seung Won menjelaskan, Hong Joo tidak memihak, hanya mengatakan itu mungkin. Ada kemungkinan penjahatnya bisa ditemukan di suatu tempat. Artinya, ada yang salah dengan penyelidikan lama dan Pak Choi.. Jae Chan langsung menutup mulut adiknya itu dengan menyuapinya.

Jae Chan: Aku yang paling mengenal Pak Choi. Dia tidak akan pernah...


Woo Tak menyela, Pak Choi tidak akan pernah melakukan hal itu kan? Tapi bagaimana Jae Chan bisa yakin? Woo Tak mengingatkan kalau Jae Chan berkata hal yang sama kepadanya tentang kasus Do Hak Young.

"Kau pikir ini kasus yang sama?" Tanya Jae Chan.

"Ini tidak ada bedanya. Menurutku ucapanmu kepadaku waktu itu jawaban yang benar. Aku tahu Pak Choi orang yang baik. Memang benar ada banyak kecurigaan tentang kasus ini juga. Pertama.."

"Mari bicarakan ini nanti saat kita keluar. Aku tidak mau mendengarnya di sini karena akan membuat seleraku hilang."


Di luar, Woo Tak bertanya, apa Pak Choi menjelaskan bagaimana dia tahu pembakaran itu dan datang?

"Tidak, tapi ada banyak cara untuk mengetahui kasus itu."

"Misalnya?"

"Dia bisa saja mengikutiku."

"Jika mengikutimu, dia akan mencegahmu sebelum kebakaran itu."

"Atau dia bisa saja kebetulan lewat.."

"Tempat itu jauh dari jalur yang biasa dia lalui."

"Dia mungkin melihat api dari jarak itu dan mendatangiku!"


Hong Joo menyela, Pak Choi datang sebelum api menyala. SOntak keduanya langsung menoleh ke asal suara dan ternyata Hong Joo berdiri di pintu gerbang.

"Kau ingat ucapan Pak Choi kepadaku tadi malam?"


Pak Choi marah juga pada Hong Joo karena nekat kesana malam-malam padahal tidak tahu ada siapa.


Hong Joo melanjutkan, Pak Choi tahu mereka datang terpisah. Woo Tak menambahi, Pak Choi datang ke sana sebelum kebakaran, tapi kenapa dia menunggu api sebelum menyelamatkan Jae Chan? Bukankah itu aneh?

Jae Chan: Jadi, apa maksudmu? Maksudmu, Pak Choi adalah kaki tangan pembakar itu?

Hong Joo: Bukan itu maksud kami. Jangan curiga, dan tanya dia.

Jae Chan: Pak Choi mengorbankan nyawa demi menyelamatkan kita. Kenapa Kau menanyainya, "Bagaimana Kau tahu aku di sini?" Pantaskah jika tanya, "Kenapa Kau selamatkan kami setelah kebakaran?"

Woo Tak: Tapi Kau tetap harus menanyai dia. Kau tidak bisa berasumsi karena tidak mau lancang dan bertanya. Itu bahkan lebih buruk.

Jae Chan hanya menghela nafas.


Saat menunggu bis, Jae Chan masih terus menghela nafas, ia bahkan tidak memandang Hong Joo. Hong Joo bertanya, apa Jae Chan marah? Apa yang dikatakan Woo Tak..

Jae Chan: Aku tahu. Aku tahu dia benar dan aku salah. Kuubah kata-kataku. Aku sadar aku tidak menjadi jaksa yang baik. Aku juga tahu kenapa Kau dan Woo Tak meragukan Pak Choi. Pikiranku mengetahuinya, tapi hatiku tidak bisa memercayainya. Kini aku sangat membenci diriku. Aku sungguh memalukan. Aku malu karena Kau harus melihat sifatku yang seperti ini.

Hong Joo: Kita baru saja bertengkar? Kau mau sendirian? Baiklah. Kurasa sebaiknya aku pergi sendirian hari ini. Aku pergi, ya?


Hong Joo naik bis sendirian tapi Jae Chan kemudian ikut naik juga dan duduk disebelahnya.

Hong Joo: Kubilang, aku mau berangkat sendiri.

Jae Chan: Aku juga. Kita pergi sendirian bersama.

Hong Joo: Tidak masuk akal.


Di kantor, Jaksa Lee mencari catatan hukuman terhadap Myung Yi Suk. Jae Chan yang baru datang memberikannya tapi tanpa melihat Jaksa Lee.

"Kau di sini. Di mana Pak Choi?" Tanya Jaksa Lee


"Kini dia di tim pembakaran." Jawab Jae Chan tapi menghadap ke asisten Jaksa Lee. Asisten gak mudeng dong. Jae Chan pun melanjutkan, ia periksa penyitaannya.

"Kenapa Anda memberitahuku?"

"Dia mencari gara-gara kepadaku. Abaikan saja dia." Kata Jaksa Lee kesal.


Jae Chan malah menggebrak meja Asisten, "Aku tidak yakin Pak Choi akan merekayasa sebuah kasus hanya demi naik jabatan."

Asisten ketakutan, "B-Baiklah."


Untung ada Asisten Kepala Jaksa datang, ia memberitahu Jaksa Lee bahwa Jaksa Son ingin Jaksa Lee ke ruang penyelidikan video.

"Aku? Kenapa?"

"Dia kumpulkan tersangka pembakaran dan dia butuh asisten."


Jaksa Lee dijadikan salah satu tersangka disana, menyamar gitu. Jadi saksinya ini seorang kakek-kakek yang melihat seorang pria kabur dengan sepeda dari TKP. Jaksa Lee memanggil semua yang bicara dengan Jo Yoon Pyo tempo hari dan memiliki ukuran kaki yang sama dan jejak kaki dari TKP.


Saksi itu menunjuk Jaksa Lee lah orangnya. Ia melihat gigi itu tadi malam. Gigi itu bersinar dalam gelap.

"Anda bilang, tersangkanya memakai penutup wajah. Anda tidak bisa melihat giginya!" Kata Jaksa Son.

"Aku bilang begitu? Benar juga. Pria kedua dari kiri."

"Kedua?"

"Tidak. Mungkin yang ketiga."

Jaksa Son dan Kepala Jaksa menyerah. Saksinya terlalu lemah.


Hee Min dan inspekturnya mendatangi pom bensin. Petugas menjelaskan, bertentangan dengan dugaan, cukup sulit membeli bensin. Jika pembeli membelinya dengan jeriken, mereka harus mencatat data pribadinya.

"Ada orang lain yang membelinya pada tanggal 22 atau sebelumnya?" Tanya Hee Min.

"Tidak."


"Berapa banyak pom bensin dalam jarak lima kilometer?" Tanya Hee Min pada inspekturnya.

"Lebih dari 40."

"Empat puluh..."


Yoo Beom memandang sekeliling, mencari siapa yang mencurigakan tapi ia tidak menemukannya. Lalu pesan masuk lagi,

"Masuk akal. Penyejuk ruangannya kencang di sini, jadi, Kau mau cokelat panas."

Yoo Beom kesal, siapa gerangan orang yang mengiriminya pesan itu.


Hong Joo datang ke minimarket tempat Dae Gu bekerja, Dae Gu terkejut gitu melihat Hong Joo. Hong Joo bertanya letak koyo, Dae Gu menunjukkan letaknya dan Hong Joo langsung menuju kesana.


Dalam ingatan Dae Gu, Hong Joo adalah reporter yang mencecar ayahnya saat ayahnya ditangkap. 

"Bagaimana perasaan Anda sekarang? Anda punya komentar untuk keluarga kesebelas korban? Anda punya komentar untuk putra Anda? Tolong katakan sesuatu. Ada pesan untuk putra Anda?"

Waktu itu Dae Gu menangis melihatnya, ia sangat membenci Hong Joo. 


Hong Joo akan membayar dan Dae Gu bertanya, Hong Joo itu Reporter dari SBC kan? Hong Joo terkejut, bagaimana Dae Gu mengenalnya? Lihat di TV ya?

"Tidak, aku melihatmu secara langsung. "Bagaimana perasaan Anda sekarang?" "Anda punya komentar untuk keluarga kesebelas korban?" "Ada pesan untuk putra Anda?" "


Hong Joo terlihat ketakutan, apalagi ia melihat payung hijau disana. Ia langsung teringat kembali mipinya.


Dae Gu mengatakan siapa dirinya, bahwa ia putra Myung Yi Suk, pembunuh berantai. Hanya Hong Joo yang ia lihat di antara banyak reporter. Hong Joo sangat gigih.

Hong Joo munsur sedikit demi sedikit, ia gemetar. Dae Gu bertanya, apa Hong Joo tahu kalau ayahnya meninggal?


Lalu Jae Chan datang, mengatakan bahwa Hong Joo tahu, juga tahu bahwa Ayah Dae Gu merasa telah salah dituduh.

"Kau Myung Dae Gu, bukan? Temannya Seung Won." Jae Chan menunjukkan ID jaksanya. "Aku sedang menyelidiki ulang kasus ayahmu. Kami memeriksa apakah ada yang salah dalam penyelidikan sebelumnya. Aku juga akan memeriksa semua buktinya. Jika ketidakadilan terjadi dalam penyelidikan sebelumnya, atau Kau punya bukti bahwa ayahmu tidak bersalah, hubungi aku di nomor ini. Aku akan mendengarkan apa pun."

Dae Gu sampai menangis, ia sungguh berterimakasih pada Jae Chan.


Dalam perjalanan, Jae Chan bertanya, kenapa Hong Joo memebli koyo? Sakitkah?

"Otot bahu ibuku nyeri."

"Ah.."

"Kau masih marah? Kau tidak keberatan soal betapa malunya dirimu?"

"Ya, mungkin."

"Kapan Kau akan berhenti marah kepadaku?"


Jae Chan berkata kalau ia akan membaik dan menyuruh Hong Joo masuk duluan. Hong Joo memeluk Jae Chan untuk mengucapkan terima kasih.

"Untuk apa?" Tanya Jae Chan.

"Aku takut dengan pria di toko tadi."

"Kenapa Kau takut dengannya? Dia hanya anak SMA."

"Entahlah. Aku sangat takut, tapi menjadi lebih baik karena seseorang."


Sementara itu Dae Gu melihat payung hijau itu, ia terpikir sesuatu.


Hong Joo memuji Jae Chan keren tadi, jadi tidak perlu malu, lupakan saja. Rasanya tidak nyaman, marahan terus.

"Baiklah. Aku akan melupakannya. Sudah. Aku baik-baik saja."

"Maafkan aku karena meragukan Pak Choi. Aku juga tidak mau meragukan dia. Itu sebabnya kubilang tanyai dia. Asumsi menjadi tidak terkendali jika kita tidak menanyainya. Jika mendengar alasannya, Kau tidak perlu ragu lagi. Aku begitu karena sangat ingin memercayai Pak Choi."

"Aku mengerti."


Yoo Beom sampai di depan kantornya, dan SMS dari orang itu masuklagi.

"Kau punya sopir? Kau tampak seperti seusiaku. Aku iri kepadamu yang memiliki sopir. Bukankah Kau bisa seperti ini berkat aku?"

Yoo Beom mulai gelisah, "Siapa orang gila ini?"


Lalu ada pesan lagi, "Kau memanipulasi barang sitaan dari kasus Myung Yi Suk, bukan? Kau melakukan itu, bukan?"


Yoo Beom masuk dan sekretarisnya memberitahu kalau ia ada tamu.

"Siapa?"


Yoo Beom bertanya, ada perlu apa Hong Joo kesana? Hong Joo menjawab ingin berkonsultasi dengan Yoo Beom sebentar.

"Aku harus menghitung waktunya. Biaya konsultasiku cukup mahal."

"Tiga menit juga cukup."

"Katakan. Ada apa?"


Sementara itu, Dae Gu ke kantor Yoo Beom dengan membawa payung itu, ia mau mengembalikannya. Namun tak sengaja ia melihat Yoo Beom sedang bicara dengan Hong Joo.


Hong Joo mengatakan, ia tahu seorang tersangka yang sedang diselidiki jaksa. Dan Jaksa terus memberikan informasi hasilnya kepada media.

"Mereka tidak boleh melakukan itu. Jaksa mana yang melakukannya? Hasil penyelidikan sangat rahasia. Bahkan tersangka memiliki haknya dan hak penuh atas perlindungan. Apa tersangka tidak punya pengacara yang bisa membelanya?"  Tanya Yoo Beom.

"Kenapa jaksa membocorkan informasi tentang kasus?"

"Sudah jelas. Entah mereka tidak punya cukup bukti atau mereka tidak yakin. Jika mereka menuntut tersangka, dia bisa dibebaskan. Jadi, mereka meminta bantuan media."


Hong Joo mengerti, seperti gelembung kola itu? Yoo Beom membenarkan, memang seperti itu.

"Kau pasti membocorkan informasi saat kasus Myung Yi Suk untuk alasan yang sama, bukan?"

Mendengarnya, Yoo Beom tidak jadi meminum tehnya.

"Kupikir Kau memberikannya karena Kau menyukaiku. Tapi Kau sudah memperhitungkannya di kepalamu. Kau pasti kekurangan bukti atau merasa tidak yakin."


Yoo Beom menahan dirinya dan tetap tenang, ia bertanya kenapa Hong Joo tiba-tiba membicarakan kasus yang sudah lama ditutup?

"Aku mendapat informasi pelaku sesungguhnya bukan Myung Yi Suk. Divisi pelaporan kami membentuk tim baru untuk meliputnya."

Lalu Hong Joo melihat jam-nya, 3 menit sudah habis, "Aku akan mendengarkan pengacara dan jaksa untuk kasus Myung Yi Suk dan merilis artikelnya dengan adil. Hubungi aku jika ada informasi lain. Aku akan datang kapan pun. Kau tahu nomorku, bukan?"

"Tentu saja."

"Aku akan pergi sekarang."


Saat Hong Joo keluar, Dae Gu menyembunyikan wajahnya jadi Hong Joo tidak melihatnya. Dae Gu kagum melihat Hong Joo.


Hong Joo berpapasan dengan Sekretaris Yoo Beom, ia berterimakasih atas tehnya lalu turun. Lalu Sekretaris melihat Dae Gu, ia bertanya ada apa Dae Gu kesana.

"Aku ingin memberikan payung ini kepada Pengacara Lee. Payung ini tertinggal waktu itu."

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon