Thursday, November 16, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 29

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 29

Sumber Gambar: SBS


Setelah ditelfon Jae Chan mengenai penculikan Hong Joo, Woo Tak langsung menghubungi kantor pusat.

"Ini Mobil Patroli Empat dari Polsek Sangku. Kami menerima panggilan soal kasus penculikan. Atap Firma Hukum Hae Kwang di Moguk-dong. Kirimkan ambulans dan mobil patroli."

Kyung Han bertanya, bisakah mereka memercayai orang yang barusan menelepon? Woo Tak meyakinkan kalau mereka harus percaya dan harus tiba disana dalam lima menit.


Sementara itu Hong Joo ada di atap.


Jae Chan ada di taksi, ia meminta pak supir untuk mempercepat laju taksinya.


Di atap, Yoo Beom menggunakan payung merah dan agak jauh dari Hong Joo-Ju Won.


Ju Won jongkok untuk mempersiapkan racun yang akan ia suntikkan pada Hong Joo.

"Suntikan ini akan melumpuhkan semua otot di dalam tubuhmu. Lalu kau tidak akan bisa bernapas, dan kau akan mati perlahan dalam 5 menit seakan kau tertidur. Kematianmu akan menjadi seperti sebuah keberkahan." Jelas Ju Won.

Hong Joo sudah sadarkan diri walau masih lemas, ia bertanya pukul berapa saat ini dan di mana ia sekarang?

"Kau mau tahu di mana dan pukul berapa kau akan mati? Ini atap Firma Hukum Hae Kwang, dan sekarang pukul 10.30 malam."

Ju Won lalu menyuntikkan racun itu ke lengan Hong Joo.


Hong Joo bicara sendiri yang ia tujukan untuk Jae Chan jika melihatnya dalam mimpi, "Jae Chan-ah. Kau mendengar itu? Kau mendengar itu, bukan?"


Hong Joo menutup matanya dan Yoo Beom memakan pil tidur yang ia tadi berikan pada kopi Hong Joo. Yoo Beom tersenyum puas.


Ju Won berdiri, ia bergumam kalau Hong Joo itu wanita yang menarik.


Woo Tak dan Kyung Han sampai di Firma Hukum, mereka menuju lift, tapi tidak berfungsi. Kemudian penja keamanan menjelaskan bahwa sedang ada pemadaman listrik. Lalu Bapak itu menunjukkan arah tangga darurat.

Woo Tak langsung berlari ke sana, semantara Kyung Han meminta senter Bapak itu.


Ju Won mendekati Yoo Beom, namun ia dikejutkan dengan tampang Yoo Beom yang tampak mengerikan, seperti siap membunuhnya.

"Ya. Aku memang hendak membunuhmu." Jawab Yoo Beom tak disangka-sangka, padahal Ju Won tadi niatnya hanya bercanda.

"Maksudmu, kau akan menjadi seorang pembunuh?"

"Tentu saja tidak. Maksudku, aku harus membersihkan sampahnya. Kau berniat membunuh reporter itu, begitu pun aku. Aku berakhir membunuhmu selagi mencoba menghentikanmu, dan itu kulakukan sebagai pertahanan diri pihak ketiga, sehingga aku tidak akan divonis bersalah."

Ju Won merasa terancam, ia akan mempersiapkan suntik racunnya lagi, tapiYoo Beom terlanjur melihatnya.

Yoo Beom: Kau yang menyuruhku untuk mengaturnya dengan baik dan memastikan ini menguntungkan bagi semuanya.

Yoo Beom lalu membuang payungnya, "Inilah jawaban yang kutemukan." Lalu ia mendorong Ju Won.


Woo Tak berhasil menemukan tangga darurat dan langsung berlari ke atap, namun disana ia hanya melihat Hong Joo yang sedang di gendong Yoo Beom.

Woo Tak lalu menggantikan Yoo Beom menggendong Hong Joo. BTW, payung itu dua-duanya masih ada di atap.


Woo Tak turun melewati tangga yang sama dan Yoo Beom mengikuti dibelakangnya. Yoo Beom sempoyongan karena pengaruh obat tidur yang dimakannya tadi.

Kyung Han membantunya.


Woo Tak sampai di loby bertepatan dengan Jae Chan yang baru datang. Woo Tak berkata kalau ia masih bisa merasakan denyut nadi Hong Joo. Jae Chan kemudian menyuruh Woo Tak membaringkan Hong Joo. Woo Tak menurut saja walaupun penasaran.

"Masalahnya bukan denyutnya masih ada atau tidak. Dia tidak bisa bernapas karena paru-parunya lumpuh."

"Apa?"

"Jelaskan kepada tim medis dan minta alat bantu pernapasan."

Woo Tak mengerti dan langsung bergerak.


Jae Chan mulai memberikan nafas buatan pada Hong Joo, sambil terus berharap agar Hong Joo bertahan.


Hal ini serupa saat Hong Joo memberikan nafas buatan untuk Jae Chan dulu, setelah Jae Chan tenggelam.


-=EPISODE 29=-
Bantulah Aku


Yoo Beom siuman dan ternyata ia sudah berbaring di rumah sakit. Kemudian ada dua detektif mendekatinya, mereka dari Kantor Polisi Hangang yang akan memintai Yoo Beom keterangan.

Yoo Beom langsung mengarang cerita.

"Aku bertemu dengan Nam Hong Joo-ssi di kantorku untuk wawancara, dan kami minum kopi bersama. Aku tiba-tiba merasa lemah. Seseorang pasti memasukkan semacam obat di dalamnya."


"Aku merasa pusing, tapi aku sungguh melihat wanita itu, Ha Ju Won, sedang membawa Nam Hong Joo-ssi keluar dari kantorku. Aku mencoba menghentikannya, tapi aku kesulitan bergerak karena obat itu."


"Ha Ju Won adalah wanita yang tewas karena jatuh, bukan?"

Yoo Beom membenarkan, Ju Won datang menemuinya beberapa hari lalu. Ju Won bersikeras bahwa dialah pembunuh berantai cairan infus. Ju Won datang untuk berkonsultasi kepadanya.

"Orang yang tertangkap bukan pembunuh yang sesungguhnya?"

"Benar. Kusarankan dia menyerahkan diri, tapi dia menolak nasihatku. Kurasa dia melihatku bertemu Reporter Nam dan mengira aku membocorkan informasinya kepada media."

"Itukah alasan Anda berpendapat dia meracuni kopi Anda?"

"Ya, itu spekulasiku."

"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"

"Aku lemas, tapi masih sadar. Aku berpikir aku harus mencegah dia membunuh orang lagi, jadi, aku berusaha mengikuti mereka ke atap."


"Tapi Ha Ju Won telah meracuni Reporter Nam. Aku ingin menghentikannya, tapi aku lemas karena obat itu. Lalu Ha Ju Won langsung menyerangku. Saat berusaha menghentikannya, kami berkelahi. Aku terpaksa mendorongnya, lalu dia jatuh dari gedung."


Detektir melanjutkan, setelah itu Yoo Beom pasti pingsan selagi berusaha menyelamatkan Hong Joo. Yoo Beom membenarkan. Yoo Beom pura-pura menyesal, anda saja ia tidak diracuni, ia mungkin bisa menyelamatkan Hong Joo.

"Tenang saja. Dia baik-baik saja."


Yoo Beom terkejut, tapi mencoba bereaksi biasa saja saat menanyakan bagaimana Hong Joo bisa tetap hidup, soalnya yang ia dengar obat itu bisa membunuh siapa pun dalam lima menit.

"Ya. Semua orang bilang itu kejaiban. Kudengar, dia bisa mati jika terlambat satu menit saja. Jaksa Jung menyelamatkannya dengan napas bantuan berulang kali."

"Jaksa Jung Jae Chan? Dia datang ke lokasi?"

"Dia sangat beruntung."

"Dewi Keberuntungan pasti berada di sisinya."

"Benar sekali. Syukurlah."

Woo Tak berdiri tak jauh dari mereka dan mendengarkan semua yang Yoo Beom katakan tadi.


Ibu dan Jae Chan menunggui Hong Joo. Ibu kelihatan sangat sedih. Kemudian Dokter datang.


Dokter mengatakan Hong Joo sudah melewati masa kritisnya. Hong Joo bisa selamat berkat pertolongan pertama. Tapi masalanya, ia tidak bisa memberi tahu kapan Hong Joo akan siuman.

"Apa maksud Dokter?" Tanya Jae Chan.

"Dia tidak bisa bernapas. Tidak ada oksigen yang masuk ke otaknya saat itu, dan itu pasti menyebabkan trauma psikis yang parah. Kami tidak bisa memprediksi apa pun saat ini."


Ibu lemas sampai akan pingsan. Jae Chan minta maaf karena tidak datang lebih cepat tadi. Ibu bilang tidak apa-apa, Ibu malah yang harusnya berterimakasih karena Je Chan telah menyelamatkannya.

"Aku senang dia masih hidup. Dia bisa saja mati. Tenang saja. Hong Joo-ku pasti akan siuman. Dia akan siuman seakan tidak ada yang terjadi." Lanjut Ibu.


Jae Chan duduk sendiri di kursi tunggu. Lalu Woo Tak menghampirinya, Woo Tak menanyakan bagaimana keadaan Hong Joo?

"Dokter bilang, dia telah melewati masa kritis. Tapi dia masih koma."

"Aku baru saja mendengar.. pernyataan Pengacara Lee Yoo Beom."

"Dia bilang apa? Kurasa dia akan bilang itu pertahanan diri."


Jae Chan kesal sekali, ia sampai membanting jasnya ke lantai dengan sangat keras.

"Di mana dia sekarang?! Di UGD?"

Jae Chan akan kesana tapi Woo Tak menghentikannya. Saat itu Pak Choi datang.


Jae Chan langsung menghampiri Pak Choi dan memegnag kedua pundak Pak Choi. Jae Chan berteriak lalu memangis, "Kenapa.. Kenapa.. Kenapa kau harus melakukan ini? Kenapa kau harus mendadak pergi? Kenapa di saat seperti ini? Kenapa harus.. di saat seperti ini?

"Aku... Anda meninggalkanku,, sendirian. Kenapa Anda harus meninggalkanku? Kenapa..."


Pak Choi langsung memeluk Jae Chan. Pak Choi meminta maaf pada Jae Chan dan Jae Chan menumpahkan tangisnya dipelukan Pak Choi. Woo Tak haru melihat mereka.


Selanjutnya, mereka bicara di taman. Jae Chan mengatakan tidak ada yang tahu Pak Choi mengundurkan diri, Hyang Mi juga bilang dia tidak akan memberi tahu siapa pun. Jadi, anggap saja sedang mengambil cuti. Saat Pak Choi kembali..

Pak Choi memotong Jae Chan, mengatakan kalau ia tidak akan kembali. Ia akan bekerja di Firma Hukum Hae Kwang.

"Anda mengundurkan diri untuk bekerja dengan Yoo Beom Hyung?"

"Ya."

"Tapi... Kenapa?"


Pak Choi menghela nafas sebelum menjelaskan. Dahulu, adiknya kabur dari militer. Setiap kali dia menelepon untuk memberitahu bahwa dia tidak bisa tahan dalam militer, ia bilang semua orang menghadapinya dan pengalaman akan membuatnya dewasa.


"Aku hanya memarahi dia seperti itu. Aku tidak pernah benar-benar mendengarkannya. Aku merasa bersalah karena itu. Aku merasa bersalah karena tidak pernah mendengarkan."


"Lalu, saat dia mendatangiku setelah melarikan diri, membujuknya menyerahkan diri bukanlah yang pertama kupikirkan."


Pak Choi pergi membeli makanan, tapi saat ia kembali adiknya sudah tidak ada di tempat semula.

"Dia pasti lapar. Jadi, yang ada di benakku adalah memberi dia makan."


"Saat kudengar dia telah membunuh atasanku dan merenggut nyawa orang lain, rasanya aku ingin bunuh diri."


Pak Choi merasa sebagai pembohong. Jae Chan membentak, kenapa baru sekarang disaat Pak Choi punya banyak waktu?! Pak Choi seharusnya bilang sejak awal, maka semuanya pasti akan lebih mudah.

"Kini aku harus bagaimana? Anda mau aku memaafkanmu? Atau Anda mau aku makin membencimu?!" Tanya Jae Chan.

"Tidak keduanya. Kau menanyakan alasanku bekerja di Firma Hukum Hae Kwang. Aku hanya menjawab pertanyaanmu."


Pak Choi tidak ingin menjadi pembohong lagi. Ia tidak boleh pura-pura bodoh seperti saat itu. Itulah alasannya mengundurkan diri. Tidak ada alasan lain.

"Pak Choi~"


Pak Choi berpesan agar Jae Chan tidak gegabah, menemui Yoo Beom sekarang untuk menginterogasinya hanyalah tindakan gegabah. Sikap tidak sabar seperti itu tidak akan menguntungkan Jae Chan. Dari penyidikan hingga ke persidangan, Jae Chan tidak akan bisa melakukan apa pun.


Pak Choi: Sekarang, buatlah pilihan. Kau akan memukulnya sekarang dan dikeluarkan dari penyidikan dan proses hukum? Atau kau akan merelakannya sekarang.. agar bisa memberikan pukulan yang pantas dia dapatkan melalui penyidikan dan persidangan kelak?

Jae Chan mulai menangis lagi dan Pak Choi kali ini membantu menghapus airmatanya.


Saat Jae Chan sudah mampu menguasai emosinya, ia bertanya bagaimana Pak Choi bisa tahu kalau ia ada disana?

"Aku tahu saja. Sesuatu memberitahuku kau akan dipecat dan tidak bisa berbuat apa-apa jika menemui Pengacara Lee dan berulah. Firasatku tajam. Kenapa? kau pikir itu omong kosong?"

"Tidak. Menurutku itu bukan omong kosong. Aku tidak akan.. bertindak gegabah."

"Bagus. Itulah yang seharusnya kau lakukan sebagai putra Kepala Jung. Aku sungguh ingin bertemu denganmu lagi. Putra Kepala Jung."


Lalu Pak Choi kembali memeluk Jae Chan.


Hong Joo masih belum membuka matanya, tapi airmatanya keluar saat ia berbaring di ruangan ICU.

Sementara itu, Kepala Park memimpin rapat mengenai kasusnya. Kepala Park bertanya, tentang kasus pembakaran karavan, Hee Min yakin Ha Ju Won adalah tersangka utamanya, bukan?


Hee Min: Dia mirip dengan wanita di rekaman CCTV SPBU, dan sidik jari yang di temukan di lokasi cocok dengan miliknya.

Jaksa Son: Kami telah melacak BTS ponsel pembakarnya, dan jejaknya cocok dengan tersangka.


Kepala Park: Kalau begitu, mari kita simpulkan dia pelaku kasus pembakaran itu. Karena sudah mati, dia tidak bisa didakwa, jadi, tutup saja kasusnya.

Jaksa Son dan Hee Min menjawab "iya" dengan kecewa.


Kemudian Kepala Park beralih pada Jae Chan dan Jaksa Lee, apa mereka juga yakin Ha Ju Won adalah pembunuh berantai cairan infus sebenarnya, bukan?

Jaksa Lee: Kami memeriksa setiap kasus yang terjadi setelah penangkapan Yi Suk, dan semua korbannya satu kamar dengannya.

Jae Chan: Kami menggeledah rumahnya dan menemukan botol serta jarum suntik yang digunakan dalam kasus itu. Semuanya ccok dengan botol yang kami kumpulkan di lokasi.

Kepala Park: Kita juga tidak bisa mendakwanya atas hal ini karena dia sudah mati. Oh.. Bagaimana dengan manipulasi bukti?


Yoo Beom datang ke minimarket tempat Dae Gu bekerja, ia mengatakan kalau Ha Ju Won lah yang memanipulasi buktinya, bukan dirinya.

"Maksud Anda, dia yang menjebak ayahnya atas pembunuhan berantai, bukan Anda?" Tanya Seung Won yang kebetulan sedang bersama Dae Gu.

"Jika yang kuingat benar, botol-botol itu ditemukan di ruangan ayahmu. Ruang itu ada di dalam rumah sakit, maka sebagai pasiennya, dia bisa memasuki ruangannya. Bagaimana menurutmu? Masuk akal?"

"Ya. Mudah bagi Anda untuk memunculkan teori yang masuk akal itu. Kenapa waktu itu Anda kesulitan? Kenapa Anda tidak bisa memikirkannya saat itu?!" Bentak Dae Gu.


Yoo Beom tiba-tiba berlutut, orang-orang yang melihat dari luar heboh dan berlomba mengabadikan momen itu.

"Maafkan aku. Sebagai jaksa, aku seharusnya tidak berhenti mencurigai dia. Hanya saja, aku tidak menyangka dia bisa secakap dan seteliti itu. Semua ini kesalahanku."


Seung Won membentak, maka dari itu Yoo Beom harus bertanggung jawab. Yoo Beom sendiri yang bilang itu kesalahannya.

"Aku ingin bertanggung jawab, tapi membuat kesalahan semacam itu.. tidak dianggap melanggar hukum."


Dae Gu emosi, ia langsung menendang Yoo Beom, beruntung ada Seung Won yang menghentikannya.

Dae Gu histeris, "Hidupkan ayahku kembali! Hidupkan ayahku kembali! Aaaakkkhhhh!"


Kepala Park: Astaga. Berarti kematian Ha Ju Won adalah penutupan yang sia-sia untuk sejumlah kasus.

Jaksa Lee: Benar. Kesimpulannya, semua ini adalah ulahnya.

Kepala Park: Ayo fokus pada sisa persidangan untuk kasus Ha Ju Won.


Jae Chan mendapat pesan dari Ibu yang mengabari kalau Hong Joo baru saja siuman. Jae Chan langsung pamit pada Kepala Park. Jaksa Lee bertanya, kenapa? mau kemana?

"Nam Hong Joo baru saja siuman."

"Astaga, itu kabar baik. Cepat jenguk dia."

"Baiklah, aku segera kembali."

"Ayo cepat."


Setelah Jae Chan pergi, Kepala Park menyarankan Jaksa Lee untuk satu tim dengan Jae Chan dan menangani persidangan bersama?

Jaksa Son: Kudengar, CEO firma itu, Pak Ko, akan membela Lee Yu Beom. Kau tidak akan bisa menanganinya sendirian.


Jaksa Lee tiba-tiba ketawa keras dan mengagetkan yang lain, "Begitu? Dia hanya seorang pengacara. Dia bukan apa-apa. Astaga."

Jaksa Son: Gara-gara dia, permintaan kita untuk surat perintah melawan Lee Yoo Beom ditolak. Dia bahkan tidak ditangkap atas penyidikan pembunuhan. Hebat, bukan?

Kepala Park: Ya, pantas saja gajinya delapan digit.

Jaksa Lee: Delapan digit? Astaga. Memangnya dia bekerja apa setiap hari?

Hee Min: Penghasilannya sekitar 27.000.000 won sehari. Meski hanya bekerja empat hari dalam setahun, dia tetap lebih kaya daripada kau, Seonbae. Cepat, bukan?

Jaksa Lee: Cukup cepat untuk membuatku ingin mengumpatmu. Aku akan bersatu dengan Pak Jung dan menumpasnya bersama-sama.


Jae Chan sampai di depan ruang ICU, tapi ia terlambat karena jam besuknya sudah habis. Lalu ia mohon-mohon pada perawat untuk diijinkan masuk, satu menit saja! ia hanya akan melihatwajahnya, lalu pergi.


Tiba-tiba ia mendengar suara Hong Joo, "Aku baik-baik saja."

Jae Chan langsung menoleh ke arah asal suara, ternyata Hong Joo ada di luar menunggunya.


Jae Chan mendekati Hong Joo dengan khawatir, "Kau baik-baik saja? Tangan dan kakimu bisa digerakkan? Kau bisa mengenaliku?"

"Tentu saja. Aku juga tahu kau sudah berusaha menyelamatkanku."

Jae Chan lega. Hong Joo menjelaskan kalau ia mendengar semuanya. Semua yang Jae Chan katakan.


Jae Chan lalu mengangkat Hong Joo, ia bersyukur karena Hong Joo baik-baik saja. Sungguh sangat bersyukur.

"Terima kasih. Kau telah menyingkirkan mimpi burukku yang panjang." Kata Hong Joo.


Selanjutnya, mereka jalan ditaman. Jae Chan masih khawatir, beneran Hong Joo bisa jalan? Gak merasa pusing?

"Tidak, aku menunggumu di luar karena aku baik-baik saja. Aku akan pindah ke kamar umum."


Jae Chan heran, bagaimana Hong Joo tahu kalau ia akan terlambat? Hong Joo memimpikannya lagi?

"Aku terus memimpikanmu selagi tertidur. Karena itu aku punya firasat soal kasus itu dan omong kosong macam apa yang akan diucapkan Lee Yoo Beom. Aku juga tahu soal Pak Choi. Dia pernah menjadi polisi."

"Ya."

"Aku melihatmu menangis di mimpiku."


Hong Joo kemudian menggenggam tangan Jae Chan dan mengatakan kalau ia menangis bersama Jae Chan. Jae Chan mengangguk mengerti.


Pak Choi beneran bekerja untuk Yoo Beom, ia juga sudah mendapat kartu nama baru.

"Bagaimana? Anda suka kantormu?" Tanya Yoo Beom.

"Ya, meja kerja ini lebih besar daripada meja kerja kepala jaksa."

"Kami juga punya gimnasium dan sauna. Anda bebas menggunakannya kapan saja."

"Astaga, aku harus menyombongkan ini kepada Hyang Mi-ssi. Oh.. Aku hampir lupa. Kabarnya, Reporter Nam Hong Joo sudah siuman."

"Dia sudah siuman?"

"Kenapa? Bukankah itu kabar baik?"

"Tentu saja. Itu kabar baik. Senang mendengarnya."


Seseorang masuk dan langsung menyahut kalau tentu saja kabar Hong Joo sudah siuman adalah kabar baik. Itu adalah CEO Ko, CEO Firma Hukum tempat Yoo Beom bekerja.

Kemudian Pak Choi dan Pak Ko saling berkenalan.

"Aku hanya perlu membaca tulisanmu dengan lantang di meja hijau, bukan? Di mana drafnya? Sudah disiapkan?" Tanya Pak Ko pada Yoo Beom.

"Sudah."


Lalu Yoo Beom membawa Pak Ko ke ruangannya untuk menunjukkan draf yang sudah ia siapkan. Sambil melihat-lihat berkas itu, Pak Ko meminta Yoo Beom membuat jadwal makan malam dengan Hong Joo karena Hong Joo ada di pihak mereka, jadi ada perkataan yang harus disamakan sebelum persidangan.

"Pak, ada yang ingin kusampaikan."

"Apa?"

"Reporter Nam tidak akan memihak kita."

"Kenapa? Kau telah bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya."

"Dia mungkin salah paham soal aku. Dia pasti kebingungan saat itu."

Pak Ko lalu menutup Draf-nya, ia mencopot kacamatanya dan mebgelapnya. Ia meminta Yoo Beom menjelaskan, salah paham bagaimana? Soalnya ia sudah lama tidak ke meja hijau, ia tidak mau mempermalukan dirinya.

"Dengar, Pengacara Lee." Kata Pak Ko setelah memakai kacamatanya lagi.

"Ya, Pak."

"Kau pikir aku mau membelamu karena menyukaimu? Kau pikir aku mengambil kasus itu untuk mendapatkan uang receh itu?"

"Tidak."

"Aku tidak tertarik. Aku bahkan tidak memercayaimu. Kau membunuhnya dengan sengaja atau tidak, aku tidak peduli. Aku hanya tidak menyukai fakta bahwa nama firma hukumku telah tercemar. Kau harus memberitahuku kenyataannya agar aku bisa membersihkan atau menutupinya. Katakan sekarang. Salah paham bagaimana?"

"Pak. Sebenarnya.."

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon