Friday, November 17, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 31

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 31

Sumber Gambar: SBS


Pak Choi memanggil Jae Chan sebelum sidang dimulai kembali. Pak Choi memberitahu kalau mereka harus minta larangan perjalanan untuk Yoo Beom. Ia menjelaskan, tadi ia kesana bareng Yoo Beom dan di dalam mobil Yoo Beom, ia lihat ada koper. Ia pikir , Yoo Beom mungkin akan kabur ke luar negeri setelah sidang hari ini selesai.


Jae Chan lalu bertanya pada Jaksa Lee, bukankah butuh beberapa hari untuk mendapat persetujuan larangan? Jaksa Lee menjawab bisa mendapatkannya hari ini jika mendesak.

Kemudian Jaksa Lee menjelaskan pada Hee Min dan Jaksa Son mengenai hal itu (larangan perjalanan untuk Yoo Beom).


Yoo Beom mengawasi mereka.


Sidang pun dimulai dan Woo Tak membacakan sumpah seperti di episode kemarin, gak usah ditulis lagi ya..

Hakim kemudian menyilahkan Jaksa untuk memulai menanyai Woo Tak. Jae Chan kali ini yang maju untuk menanyai Woo Tak.

Jae Chan: Saksi, Anda yang pertama tiba di atap Firma Hukum Hae Kwang pada malam kejadian, bukan?

Woo Tak: Benar.

Jae Chan: Tolong jelaskan kejadian saat Anda tiba?

Woo Tak: Baik. Saat saya tiba di sana, terdakwa, Lee Yoo Beom, terisak saat membawa Nam Hong Joo. Saya melihat dua payung terbuka dari kejauhan.


Jae Chan bertanya lagi, apa tidak ada orang lain disana? Woo Tak bilang tidak ada. Jae Chan lalu memberikan foto payung itu pada Hakim dan pihak Yoo Beom.

"Foto berikut adalah bukti Nomor 1 dan 2. Pada gagang payung di foto terdapat sidik jari keduanya. Fakta bahwa terdakwa membawa dua payung ini ke atap menunjukkan niatnya untuk kembali bersama terdakwa, Lee Yoo Beom. Lee Yoo Beom membunuh Ha Ju Won yang tidak berniat membunuh. Ini juga bertentangan dengan pernyataan pertahanan dirinya."


Yoo Beom membisiki Pak Yo, memintanya bersikeras bahwa payung itu ditemukan di lantai pertama, bukan atap. Katakan bahwa payung itu mungkin berbeda dengan yang saksi lihat.


Jae Chan mengamati mereka dan mencoba memperkuat buktinya. Ia mengatakan bahwa Woo Tak adalah adalah polisi yang pertama tiba di TKP dan melihat situasinya. Payung yang dia lihat di atapdan yang dari lantai pertama bisa diidentifikasi sama oleh saksi.

"Saksi, tolong gambarkan payung itu."

"Payung pertama sangat panjang. Payung kedua pendek dan bisa dilipat."


Hong Joo tegang, Kyung Han juga. Kyung Han menggelengkan kepalanya, berharap Woo Tak tidak mengatakan yang sesungguhnya.

Kilas Balik..


Hong Joo bertanya, bagaimana Woo Tak akan bersaksi? Akan menyembunyikan bahwa dirinya buta warna?

"Jika mereka tahu kau berbohong, kau akan dihukum atas sumpah palsu."

"Aku tidak akan dihukum."

"Kau akan mengatakan bahwa kau buta warna? Maka kau terpaksa harus mundur sebagai polisi."

Woo Tak hanya tersenyum.

Kilas Balik Selesai..


Jae Chan heran, kenapa Woo Tak diam dan tak segera menyebutkan apa warna payung itu? Woo Tak masih diam saja. Jae Chan bertanya lagi, Apa warna payung itu?

"Saya.. kurang bisa membedakan warna." Jawab Woo Tak pada akhirnya.

Jae Chan shock, giliran ia yang terdiam.


Hong Joo pasrah. Jaksa Lee cemas, Ada apa ini? Kyung Han tak mengerti, kenapa Woo Tak jujur begitu? Dae Gu heran, kenapa seorang yang buta warna bisa menjadi polisi?


Sementara Pak Ko senang, permainan berakhir.


Jae Chan rasanya tidak percaya. Kemudian Woo Tak menjelaskan, ia adalah seorang polisi. Menjadi buta warna berarti ia tidak memenuhi syarat untuk ini. Begitu kesaksiannya berakhir, ia akan menyerahkan surat pengunduran diri.

Jae Chan tambah shock, ia sampai menjatuhkan kertas yang dibawanya, tangannya gemetar. Woo Tak memandangnya, memintanya untuk melanjutkan interogasi.

Jae Chan mengendorkan dasinya, tangannya masih gemetar dan tidak bisa digunakan untuk mengambil kertas  yang jatuh tadi. Akhirnya ia menggunakan tangan yang satunya, tangan kanan. 


Jae Chan kemudian meminta Woo Tak menggambarkan payung yang dilihatnya malam itu.

Pak Ko menyela, "Yang Mulia, bahkan orang biasa tidak akan ingat payung yang dia lihat di malam hari dalam beberapa detik. Selain itu, saksi buta warna."


Woo Tak membela diri, "Saya bukan tidak bisa melihat, saya melihatnya secara berbeda. Bukan mengenali warna secara berbeda dari orang biasa, saya mengenali cahaya dan warna lebih baik daripada orang biasa. Jadi, kemampuan melihat saya saat malam lebih baik dari mereka."


Jae Chan memohon pada Hakim untuk mengijinkan mendengarkan pernyataan Woo Tak karena itu masih bisa dinilai. Hakim memberi ijin Jae Chan untuk melanjutkannya.

Jae Chan bertanya, apa payung yang Woo Tak lihat malam itu?


"Payung panjang yang saya lihat malam itu bergagang kayu. Gagangnya melengkung seperti tongkat. Payung lipatnya bergagang silinder. Ada dua lingkaran pada gagangnya."


"Payung panjang memiliki warna yang sama dengan dasi Terdakwa."


"Payung lipat memiliki warna yang sama dengan bagian depan jubah Anda. Tapi lebih terang."


Kemudian pihak Jaksa menampilkan foto payung itu di monitor jadi semua bisa melihat dan mereka kasak-kusuk membenarkan pernyataan Woo Tak itu.


Jae Chan bertanya, apa foto payung di monitor itu sama dengan payung yang Woo Tak lihat di atap?

"Ya, sama." Jawab Woo Tak.

Hong Joo menangis usai Woo Tak memberikan kesaksian.

-=Episode 31=-
Selamat Tinggal, Kawan


Tangan Jae Chan masih terus gemetar.

Jaksa Lee: Astaga, apa Letnan Han baik-baik saja? Kurasa dia baru kehilangan pekerjaan karena pernyataannya.


Lalu pesan masuk di ponsel Jae Chan, dari Woo Tak, "Jangan canggung. Aku baik-baik saja. Mari terus berteman."


Pak Ko menyuruh Yoo Beom mengumpulkan bukti dan alasan bahwa perbuatan Yoo Beom tidak disengaja. Yoo Beom terkejut, apa maksud Pak Ko, Pak Ko akan menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah?

"Kurasa kita tidak perlu melanjutkan pernyataan pertahanan diri. Bukankah lebih baik mengurangi hukuman beberapa tahun? Juga.. Pengacara Seo akan bergabung di sidang berikutnya menggantikanku."

Yoo Beom ditinggalkan.


Hong Joo mencari-cari Woo Tak dan ia menemukannya sedang bersama Kyung Han.


Kyung Han memarahi Woo Tak karena bicara jujur, kan sudah dibilangin untuk tutup mulut. Woo Tak seharusnya berkata tidak melihat apa-apa malam itu!

"Kau tidak bisa menarik ucapanmu di persidangan!"

"Aku tahu."

"Orang tuamu bekerja keras beternak babi dan sapi agar kau masuk akademi polisi! Putra tunggal dalam tiga generasi!"

"Aku bukan putra tunggal dalam tiga generasi, Seonbaenim."

"Apa?"

"Orang tuaku.. juga tidak tinggal di desa. Mereka sudah lama bercerai dan menikah lagi. Meskipun aku berhenti, mereka akan berkata, "kau berhenti?" Itu saja."

"Tak-ah~"


Woo Tak memegang lencana polisi di seragamnya, "Lencana ini.. tidak pernah.. cocok bagiku.. Lencana ini selalu berat.. Sulit.. Tapi.. aku ingin menanggung bebannya.. Aku menikmatinya."

Woo Tak mengatakannya dengan terpotong-potong karena berusaha menahan tangisnya tapi pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Saat ia berkata kalau ia bahagia bekerja dengan Kyung Han, airmatanya mengalir.

Hong Joo juga menangis melihat dan mendengarnya.

"Aku sudah cukup.. Kurasa aku tidak seharusnya meminta lebih." Kata Woo Tak.

Woo Tak lalu memakai topinya dan menghormat pada Kyung Han. Kyung Han membalas hormatnya.

"Terima kasih banyak, Seonbaenim."


Kyung Han menurunkan tangannya, lalu memeluk Woo Tak, ia juga menangis.


Yoo Beom mencucu tangannya di toilet. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, ini belum berakhir.

Yoo Beom beneran berencana ke luar negeri, saat ia menerogoh saku jasnya, ia tak sengaja menjatuhkan paspor dan tiket pesawat.


Jaksa Son dan Hee Min bekerja sama untuk meminta larangan perjalanan bagi Lee Yoo Beom.


Jaksa Lee mengajak Jae Chan berhenti sebentar, ia ada pesan masuk. Itu adalah pesan dari pacarnya yang mengatakan bahwa larangan perjalanan Lee Yoo Beom telah disetujui.

"Pacarku memang sempurna dalam segala hal! Muah!!." Jaksa Lee mencium layar ponselnya.


Pak Choi tiba-tiba datang dan mengagetkan, apa Jaksa Lee sedang memacari seseorang? Jaksa Lee hanya diam saja, masih terkejut. Pak Choi melanjutkan kalau ini memang waktu terbaik.

Jae Chan memanggil Pak Choi. Jaksa Lee lalu mengatakan soal larangan perjalanan Yoo Beom yang telah disetujui. Pak Choi bersyukur, ia bisa tenang.

Jae Chan: Terima kasih untuk hari ini. Anda akan datang di sidang berikutnya, bukan?

Pak Choi" Sidang berikutnya adalah sidang terakhir, bukan? Siapa yang membacakan tuntutan?

Jaksa Lee: Kenapa? kau tidak akan datang jika aku melakukannya dan datang jika Jae Chan yang melakukannya? Begitu?

Pak Choi: Benar.

Jaksa Lee: Ya, silakan datang. Anda harus datang. Jaksa Jung yang akan melakukannya.


Pak Choi kemudian menyalami Jaksa Lee, mengatakan kalau ia tidak akan melewatkan sidang terakhir. Jaksa Lee bercanda, mengatakan kalau Pak Choi telah mengecewakannya.

Selanjutnya Pak Choi menyalami Jae Chan, menyelamati karena penampilan Jae Chan hari ini sangat bagus. Kemudian Pak Choi pergi.


Di luar, Pak Choi bertemu Yoo Beom. Yoo Beom berkata kalau perkataan Pak Choi hari ini mengesankan. Apa? Seluruh tanggung jawab dan penghargaan.. adalah untuk jaksa?

"Saat menyelidiki kasus pembunuhan berantai cairan infus, aku tidak mengharapkan hadiah. Anda tahu itu, Pak Choi. Aku yakin Myung Yi Suk adalah pelaku sesungguhnya. Aku ingin menangkapnya bagaimanapun juga. Itu saja."

"Ya, aku tahu."

"Lalu kenapa Anda melakukan ini kepadaku? KENAPA?!! Kenapa Anda melakukan ini kepadaku? Kenapa semua orang dengan kejam.."

"20 November 1983. Itu hari lahirmu, Pengacara Lee. Benar kan?"

"Ya. Itu hari yang bahkan tidak diingat orang tuaku, tapi Anda merayakannya denganku setiap tahun. Anda merayakannya denganku untuk mengkhianatiku seperti ini?"

"Itu hari yang sama dengan hari lahir adikku. Usiamu dan hari lahirmu. Jadi, kau istimewa bagiku. Itu sebabnya aku melakukan ini."


Pak Choi kemudian memegang kedua bahu Yoo Beom, mengatakan kalau larangan perjalanannya sudah diberlakukan. Jadi Yoo Beom tidak perlu pergi ke bandara sekarang.

"Anda.." Yoo Beom menepis tangan Pak Choi, tapi Pak Choi kembali memegangnya.

"Jadi, berhentilah melarikan diri. Sudah cukup."

Yoo Beom dengan kasar menepis kembali tangan Pak Choi, Ia sangat marah.


Pak Choi kembali memegang pundak Yoo Beom, ia melihat Yoo Beom sebagai adiknya, "Kau hanya akan terluka dan menderita."


Pak Choi sekarang mengatakan apa yang harusnya ia katakan pada adiknya waktu itu, "Jadi.. berhentilah keras kepala. Berhenti menyakiti orang lain. Ikutlah dengan kakak, Guk Hyun-ah."


Jae Chan merasa harus menemui Pak Choi, tidak bisa ditunda lagi. Ia lalu menitipkan berkasnya pada Jaksa Lee, termasuk jubah dan jasnya.

"Maaf, aku akan segera kembali. Aku tidak akan lama.

"Jung Pro!! Jung Pro!! Yaa!!"

Tapi Jae Chan tetap pergi.


Jae Chan melihat Pak Choi mencoba menengkan Yoo Beom yang marah padanya. Dan alhirnya Yoo Beom pergi meninggalkan Pak Choi.


Pak Choi jalan sambil menunduk, ia lalu mendongak ke atas dan dari langit ia melihat daun jatuh ke arahnya.

"Dedaunan masih terlalu dini untuk menjadi merah. Ah.. Sepertinya aku pernah melihat ini." Gumam Pak Choi.


Pak Choi kemudian memungut daun itu, ia menyadari, sudah hampir waktunya

"Aku tahu musim gugur tiba karena kau." Batin Pak Choi.


Kemudian di kejauhan ia melihat Jae Chan berjalan mendekatinya.

"Kupikir aku masih punya banyak waktu."


Tiba-tiba di belakang Pak Choi melaju mobil dengan kecepatan tinggi. Jae Chan shock, ia mencoba memberitahu Pak Choi tapi terlambat.


Pak Choi tertabrak, terpental sebelum akhirnya jatuh ke aspal dan daun yang dipegangnya tadi terbang ke tepi jalan. Jae Chan berlari ke arah Pak Choi.

"Geomsanin.. Geomsanim.."


Sebenarnya Pak Choi melihat kejadian yang menimpanya ini di mimpinya saat ia terbaring di rumah sakit setelah tenggelam dulu.


Pak Choi membuka matanya, ia mendengar Jae Chan panik menyuruh orang-orang menelfon ambulan.


Yang menabrak Pak Choi adalah Yoo Beom dan saat ini Yoo Beom dibawa oleh petugas.


Pak Choi bicara dengan tenaga yang terbatas, ada yang ingin ia sampaikan pada Jae Chan. Jae Chan melarangnya bicara dan mengatakan ambulan akan tiba sebentar lagi.

"Dahulu sekali.. 13 tahun yang lalu, aku melihat ini dalam mimpiku. Dalam mimpiku.. kau mengatakan sesuatu.. kepadaku."

"Pak Choi. Jika Anda bermimpi tentang ini, jangan menemuiku. Jika tidak menemuiku, Anda tidak akan meninggal. Jadi.. jangan datang kepadaku."

"Kau tidak mengatakannya seperti itu.. Katakan.. Katakan lagi."

Jae Chan menggeleng, ia menangis.

"Cepat. Waktuku tidak banyak."

Jae Chan akan mengatakannya tapi susah karena isak tangisnya.


"Pak Choi.. Jika aku bertemu dengan Anda lagi.. Bodoh sekali aku tidak mengenali Anda."


"Bagi Anda, aku menjengkelkan dan ceroboh. Anda selalu lembur karena kasusku menumpuk."


"Kenapa.. Kenapa Anda.. yang terluka?"


"Sepatu Anda rusak karena aku. Anda menderita karena diriku."


"Tapi... Meskipun begitu.. Jika Anda masih bisa memercayai orang sepertiku.. datanglah kepadaku. Aku akan banyak bertanya dan belajar dari Anda. Aku.. Aku.. akan sangat menghormati Anda."

Pak Choi tersenyum, "Benar.. kau mengatakannya seperti ini. Itu sebabnya polisi cepat mendatangimu. Aku kemari karena mengetahui apa yang akan terjadi. Ini pilihanku. Jangan menyalahkan dirimu."

"Pak Choi.. Pak.. Pak.."

"Salahkan dirimu sesaat. Ingatlah selama mungkin. Kau mengingatnya, bukan?"

Jae Chan mengangguk.

"Itu.. Itu baru putra dari atasanku."


Pak Choi pun menjadi lemas, ia meninggal. Jae Chan semakin keras menangisnya dan memanggil-manggilnya.


Jadi waktu Pak Choi bangun di rumah sakit itu, waktu ia bangun dari mimpinya. Ia berkata pada temannya kalau ia tidak akan melakukan hal bodoh karena akhir hidupnya.. bukan sekarang. Ada yang harus ia temui


Di pemakaman Pak Choi, ada tulisan bahwa keluarga tidak menerima uang duka atas permintaan mendiang. Setelah mengisi buku tamu, Hyang Mi menangis tersedu. Asisten yang lain memeluknya.

Jae Chan mengembalikan uang yang selama ini ia terima dari Pak Choi, disana ada setas penuh amplop uang itu.


Di sela-sela Hong Joo membantu melayani para pelayat, ia melihat Jae Chan. Tapi Jae Chan malah pergi lagi bukannya menghormat di altar Pak Choi.


Hong Joo mengikutinya. Hal ini pernah terjadi waktu itu. Namun waktu itu Jae Chan yang mengikuti Hong Joo.


Jae Chan remaja melihat bola baseball Hong Joo dan karena itulah ia bisa menemukan Hong Joo.


Sementara Hong Joo saat ini menghampiri Jae Chan sama seperti Jae Chan yang dulu menghampirinya.



Hong Joo lalu duduk disebelah Jae Chan, sama seperti Jae Chan yang duduk disebelahnya dulu.


Hong Joo juga memeluk Jae Chan sama seperti saat Jae Chan memeluknya dulu. 

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon