Friday, November 3, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 22

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 22

Sumber Gambar: SBS


Hong Joo memastikan, sungguhan jadi pergi kepantai besok kan?

"Tentu saja. kau tidak perlu bertanya dua kali. Omong-omong, bisakah kau mengambil libur juga besok?"

"Bisa, karena aku sudah bekerja keras. Jangan cemaskan aku. Periksa saja tempat-tempat tujuannya di internet."

"Baiklah. Ayo kita masuk."


Tapi Seung Won menghentikan mereka. Seung Won mengatakan kalau kakaknya harus pulang soalnya janjinya cuma tinggal di rumah Hong Joo dua hari saja. Sekarang sudah lebih dari dua hari, jadi harus pulang sekarang.

"Ya, tapi barang-barang kakak masih di dalam rumahnya."

"Tenang saja. Ahjumonim sudah mengantarnya tadi pagi. Berhentilah menyusahkan dan ayo pulang."

Jae Chan pun terpaksa pulang. Hong Joo bertanya-tanya, kenapa ibunya kasar begitu?


Ibu senang karena Hong Joo pulang tepat waktu, karena Ibu sedang melipat selimut. Sambil membantu Ibu, Hong Joo membahas soal Ibu yang mengantarkan barang-barang Jae Chan ke rumahnya.

"Katanya, dia hanya tinggal di sini dua hari, bukan?" Tanya Ibu.

"Tapi terlalu kejam mengusirnya seperti itu. Apa dia membuat Ibu kesal atau menyakiti perasaan Ibu?"

"Tidak."


Ibu melamun di kamar, ia iangat saat Hong Joo menyalahkan dirinya sendiri di rumah sakit sambil menangis sesenggukan.


Hong Joo pernah melakukan hal yang sama saat ayah meninggal dulu. Ibu gak tega.


Kemudian Ibu mengeluarkan kotak cincin itu dari dalam lacinya.

"Maafkan aku, Jung Geomsa. Aku tidak tega melihat Hong Joo.. tersakiti lagi."


Jae Chan akan mencari pantai untuk berlibur besok, tapi malah mendapatkan pesan dari rekan-rekannya di kejaksaan.

Kepala Park: Aku mengirim ekstrak bawang ke alamatmu. Sudah diterima? Aku mendoakanmu setiap hari.

Jaksa Son: Jangan cemaskan kami. Jaga saja dirimu, mengerti?

Jaksa Lee: Jangan paksakan dirimu. Beristirahatlah jika masih sakit. Aku pria yang paling tampan di divisi kita tanpa kehadiranmu.

Hee Min: Ketidakhadiranmu bahkan tidak disadari. Beristirahatlah sebanyak mungkin.

Jae Chan jadi kepikiran, kenapa mereka semua tiba-tiba bersikap baik padanya? Tapi kemudian ia tidak mau ambil pusing, pokoknya ia mau ke pantai besok.


Paginya, Jae Chan salah kostum, ia malah mengenakan setelan jas lengkap padahal mau ke pantai.

"Kau yakin pakaianmu cocok untuk ke pantai?" Tanya Hong Joo.

"Ya, ini setelan pantaiku yang biasanya. Setelan jas, kacamata hitam, dan matras pantai. Astaga, kenapa busnya belum tiba? Bus pantainya."

Hong Joo sadar kalau Jae Chan sedang gelisah. Jae Chan pasti mencemaskan orang yang menderita di kantor kan?

"Tidak, aku tidak peduli. Lagi pula, mereka bisa sedikit menderita di kantorku. Maksudku, hanya aku yang dipukuli oleh para tersangka dan ditembak. Aku sudah sangat menderita. Ini terlalu tidak adil bagiku jika harus mengundurkan diri. Hanya aku yang menderita. Ini sungguh tidak adil. Kesulitan semacam itu harus didistribusikan dengan adil."


Hong Joo tiba-tiba mencopot topi dan kacamatanya, sudahlah, mereka bisa pergi ke pantai di hari lain. Sekarang saatnya bekerja.

"Kenapa? Ayo kita ke pantai. kau bilang, kau ingin ke pantai."

"Tidak usah. Firasatku juga buruk jika kita pergi. kau lihat? Aku membawa laptopku untuk berjaga-jaga jika aku harus bekerja. Mungkin kita bisa menciptakan jalan baru jika mengerjakannya. Bekerjalah sekarang."

"Baiklah. Aku akan kembali bekerja, tapi aku akan langsung kabur ke pantai jika menyesal."

"Kabari aku jika kau ke pantai. Aku akan kabur bersamamu."


Hong Joo memeluk Jae Chan dari belakang saat Jae Chan menanti bis, "Sudah kuperingatkan, itu akan menjadi keputusan yang sulit. kau harus menyiapkan mental."

"Baiklah."


Penulis Moon akhirnya menemukan anak itu dan anak itu sangat ketakutan saat melihatnya.


Anak itu melihat bagaimana Penulis Moon mencekik Lee Hwan, lalu setelah Lee Hwan kehilangan nyawa, Penulis Lee mendorong Lee Hwan sampai ke poros lift. Anak itu gemetar sampai menjatuhkan topi yang cibawanya.


Saat ini, Penulis Moon memakaiakan topi itu pada anak itu dan berkata topinya sangat pas.

"kau pernah melihat Ahjusshi, bukan? Di depan lift."

"Tidak pernah."

Tapi anak itu kencing dicelana saking takutnya. Penulis Moon tersenyum, lalu anak itu lari sambil menangis.


Penulis Moon mengejar anak itu dan anak itu jatuh dalam pelariannya. Penulis Moon senang, tapi kemudian Woo Tak dan Kyung Han datang dan membekuknya.

"Anda ditahan atas tindakan penyerangan. Anda berhak memanggil pengacara dan diam." Kata Kyung Han.

"Dengar. Aku hanya ingin bicara kepada anak itu."

"Anda bilang apa kepadanya? Anda membuat celananya basah."

"Aku harus membawa Anda ke kantor polisi dulu."


Sementara Woo Tak menghampiri anak itu. Dan karena anak itu terus menangis, ia pun menggendongnya. Setelah memasukkan Penulis Moon ke mobil, Kyung Han menghampiri Woo Tak dan anak itu.

Kyung Han: Hei, Nak. kau tidak apa-apa? Tapi Tak-ah, bagaimana kau tahu pria itu akan membuat masalah? kau bilang kita harus mengikutinya.

Woo Tak: Aku cukup ahli membaca wajah, kau tahu.

Kyung Han: Apa aku akan naik menjadi kapten?

Woo Tak: Entahlah.


Hong Joo datang ke kantor masih dengan kostum pantainya. Si Seonbae gak melihat Hong Joo, ia membahas soal Lee Hwan dan Penulis Moon tapi langsung berhenti saat melihat kostum Hong Joo.

"Tentu saja ingat. Asisten dosen yang memberontak terhadap Penulis Moon?" Tanya Hong Joo.

"Kau baru kembali dari melihat real estat atau apa? Kurasa ini cara barumu untuk memberontak kepadaku."

"Bukan itu alasanku memakai pakaian semacam ini hari ini. Ayo. Ada apa dengan asisten dosen itu?"

"Begini, aku menelepon rumah sakit untuk memastikan apakah aku bisa mewawancarai dia mewakilimu, tapi mereka bilang kini dia mengalami mati otak. Ternyata, hari ini organ-organnya akan didonorkan kepada tujuh orang."

"Tujuh orang.. Pasti dia."

Hong Joo langsung berlari keluar.


Jaksa Son kelihatan buru-buru sekali. Ia meminta atasannya untuk segera menghubunginya jika tersangkanya tertangkap. Ia akan terus memeriksa ponselnya. Selain itu, tolong lihat apakah yang ia serahkan pagi ini telah disetujui.

"Baiklah."


Kebetulan Jaksa Lee masuk saat Jaksa Son akan keluar. Jaksa Lee bertanya, mau kemana Jaksa Son?

"Aku harus ke rumah sakit untuk menjenguk Chan Ho." Jawab Jaksa Son dan langsung pergi.

Jaksa Lee lalu menyerahkan dokumen pada asisten untuk selanjutnya mengejar Jaksa Son.


Jae Chan melihat Jaksa SOn dan Jaksa Lee, ia merentangakan tangannya sambil bilang, kejutaaaaan...

Tapi baik Jaksa Lee dan Jaksa Son hanya menanggapinya sambil lalu.


Jae Chan kecewa, ternyata mereka berdua tidak terlalu mencemaskannya.


Saat hanya berdua di dalam lift, Jaksa Lee bertanya, ada apa? Sesuatu terjadi kepada Chan Ho?

"Dia mungkin akan menjalani transplantasi ginjal hari ini."

"Anda sudah menemukan donor?!"

"Ya, dia pasien mati otak. Kurasa dia akan segera divonis mengidap mati otak. Dokter bilang, Chan Ho dapat menjalani operasi saat itu terjadi. Rasanya bagaikan mimpi. Aku bahkan tidak percaya ini. Prosesnya akan lancar, bukan?"

"Tentu! Segalanya akan lancar!"

"Aku tidak mau membuat orang cemas. kau paham, bukan?"


Jaksa Lee bisa menjamin itu, ia sungguh orang yang sangat berhati-hati. Jika ia bermulut besar, semua orang di kantor mungkin sudah tahu bahwa Kepala Park menjalani operasi plastik dan Hee Min menjadi Buddhis.

"Kepala Park menjalani operasi plastik?"

"Astaga, jangan membuatku terkejut. Dia kecanduan operasi plastik ringan. Jika melihatnya dari dekat, Anda akan melihat wajahnya yang sudah dipermak."

"Astaga. Shin Pro penganut Buddha?"

"Dia sangat menaati ajaran Buddha. Dia rutin pergi ke kuil untuk bersujud 108 kali. Seperti ini."

"Astaga. Tidak kusangka aku ketinggalan gosip."

Akhirnya Jaksa Son bisa ketawa lepas. Jaksa Lee lega melihatnya, apa itu membuat Jaksa agak tenang?

"Astaga.."

"Saat tiba di rumah sakit nanti, tetaplah tenang dan santai seperti sekarang. Ya?"

"Terima kasih."


Jae Chan masuk ke ruangannya dan tidak ada siapapun disana, lalu Hyang Mi datang. Jae Chan ,enyapanya dengan riang tapi Hyang Mi malah tidak mau melihatnya.

"Kenapa kau berjalan seperti itu?"

"kau lebih suka melihatku dari belakang. Aku akan terus berjalan seperti ini di depanmu mulai sekarang."

"Baiklah, terima kasih."


Pak Choi datang dan langsung heboh melihat Jae Chan ada disana. Jae Chan sangat terharu dan langsung memeluk Pak Choi, hanya Pak Choi seorang yang menyambutnya.

"Tidak juga. Semua orang sangat merindukanmu."

"Tidak, tampaknya hanya kau yang merindukanku."


Hyang Mi menyela, mereka bisa meneruskan acara kangen-kangenannya nanti saja, ada yang harus dilihat Jae Chan.

"Apa ini?"

"Dokumen untuk inspeksi. Proses transplantasi organnya akan dimulai seusai inspeksi, jadi, kau harus langsung menanganinya."

Jae Chan terdiam mengingat penjelasan Hong Joo kemarin.

Suara Hong Joo: Jika yang kulihat di mimpiku benar terjadi, kau akan langsung melakukan inspeksi saat kembali bekerja besok.



Pak Choi mengingatkan, Jae Chan harus segera menandatanganinya dan mengirimnya karena pihak RS tidak memulai operasi transplantasinya tanpa dokumen itu.

"Pak Choi, bagaimana jika pria ini mengalami mati otak bukan karena kecelakaan? Bagaimana jika dia dipukuli oleh seseorang?"

"Astaga, berarti jangan izinkan proses transplantasi organnya. Kita harus menjalankan autopsi."

"Pak Choi, ayo kita ke RS Universitas Seogu sekarang."

"Apa? Untuk apa?"

"Kurasa aku harus menyelidiki kasus ini sebelum mengizinkan ini."

"Ah.. Baiklah."

Hyang Mi tah habis pikir saat Jae Chan langsung menyelidik padahal baru kembali, mungkin dia pikir dirinya marmot tanah atau semacamnya.

"Aku sempat lupa soal hal ini. Karena itu tidak ada yang menyambutnya." Tanggapan Pak Choi.

"Benar sekali."


Saat di depan lift, ada dering ponsel. Pak Choi memeriksa ponselnya dan ternyata bukan berasal dari miliknya. Jae Chan baru sadar saat itu dan menyudahi membaca.

Ternyata itu adalah telfon dari Woo Tak. Woo Tak menanyakan dimana Jae Chan saat ini.

"Aku sedang menuju rumah sakit untuk menjalankan inspeksi."

"Hong Joo memberitahumu soal mimpiku, bukan?"

"Ya, aku sudah mendengarnya."

"Kurasa aku baru saja menangkap pelaku kasus itu, Profesor Moon Tae Min."

"Sungguh?"

"Kurasa aku juga punya seorang saksi di sini. Dia anak-anak, jadi, pernyataannya tidak konsisten, tapi cukup jelas. Kami akan mengalihkan kasus ini ke Polsek Hangang."


Asisten Hee Min keluar dari lift, ia menyapa Jae Chan dengan penuh kekhawatiran tapi Jae Chan menanggapinya sambil lalu. Ia lalu fokus lagi bicara di telfon.

"Beri tahu aku detail kejadiannya."


Penulis Moon diam-diam menelfon Yoo Beom.

"Katanya, aku akan dipindahkan ke Polsek Hangang karena diduga menyerang anak kecil itu."

"Tuntutan penyerangan itu bukanlah masalah. Jika Anda ke sana, mereka juga akan menyelidiki kasus asisten Anda."

"Bukankah kau bilang mereka tidak akan bisa menjalankan autopsi setelah transplantasi organ dilakukan? Mereka tidak akan bisa mencari tahu penyebab kematiannya. Artinya, aku benar-benar bisa cuci tangan."

"Saat Anda tiba di sana, katakan Anda harus memanggil pengacara, dan jangan katakan apa pun. Setelah itu, aku akan menanganinya."

Yoo Beom mengumpat setelah menutup telfon. Penulis Moon beneran membuatnya gila. Yoo Beom kemudian menyuruh supirnya menuju Rumah Sakit Universitas Seogu dahulu.


Jae Chan memeriksa keadaan Lee Hwan dan ia menemukan bekas lecet di lehernya. Ia dan Pak Choi saling pandang.


Sementara itu, Chan Ho akan menjalani tes. Jaksa Son menyuruh putranya menahan sebentar dan memuji saat putranya itu berhasil melakukannya.

"Jika operasinya berjalan lancar, kau tidak perlu kemari lagi untuk menjalani cuci darah." Kata Dokter.

"Aku akan bisa membuang air kecil seperti teman-temanku, bukan?"

"Tentu saja. kau sangat cerdas." Kata Jaksa Son.


Seseorang menyampaikan kabar buruk untuk Jaksa Son, tampaknya, mereka tidak bisa menjalankan operasinya hari ini.

"Ada apa?" Tanya Jaksa Son.

"Seorang jaksa baru saja menjalankan inspeksi, tapi dia pergi tanpa memberi izin prosedur ekstraksi organnya. Katanya, mereka harus menjalankan autopsi."

Jaksa Son hanya bisa memeluk putranya.


Yoo Beom bertanya pada salah satu perawat, apa Lee Hwan sedang menjalani proses donor organ?

"Anda siapa?"

"Aku temannya. Profesor kami ingin mengetahui bagaimana keadaannya."

"Barusan, seorang jaksa datang dan menginspeksinya, tapi dia tidak memberikan izin untuk melakukan ekstraksi organ. Katanya, mungkin cederanya bukan disebabkan oleh kecelakaan."

"Dia tidak memberikan izin? kau tahu siapa jaksa yang bertugas itu?"

"Dia bilang, namanya Jung Jae Chan. Dia sangat tinggi."


Yoo Beom keluar dengan kesal, "Baiklah, Jae Chan-ah. Teruskan saja. Kuharap kasus itu berlanjut ke pengadilan. Ayo kita bersaing di pengadilan."


Jaksa Lee terkejut karena Jaksa Son kembali sangat cepat, bagaimana dengan operasinya?

"Tidak jadi."

"Kenapa?"

"Sudah kubilang. Ini terasa sangat tidak nyata, dan aku tidak bisa memercayainya. Firasatku benar. Sepertinya, donor yang akan mendonorkan ginjalnya.. harus menjalani autopsi saat ini."

Jaksa Son menangis.


Lalu Asisten Kepala Park datang, mengatakan kalau mereka berdua dipanggil Kepala Park untuk ke ruangannya. Ada hal penting.


Di ruangan, sudah ada Hee Min dan Jae Chan. Sementara Kepala Park membaca dokumen permintaan ijin transpalantasi organ.

Jaksa Lee dan Jaka Son bertanya ada apa, katanya penting? Hee Min menjawab kalau Jae Chan merumitkan keadaan setelah kembali bekerja.

Jaksa Lee: Astaga, kau menyalahkan dia lagi.

Kepala Park: Dia tidak merumitkan apa pun. Ini adalah hal yang harus kita selidiki.

Lalu Kepala Park menyuruh Jae Chan menjelaskan pda yang lain.


Jae Chan: Aku baru saja menginspeksi pasien yang divonis mengalami mati otak di Rumah Sakit Universitas Seogu. Para dokter menunggu izin dariku untuk segera memulai proses donor organnya.

Jaksa Lee dan Jaksa Son menyadari siapa pasien yang dimaksud Jae Chan. Kemudian Jaksa Lee membentak Jae Chan, lalau sedang apa Jae Chan di sini? Operasinya harus segera dilakukan. Cepat berikan izin.

Jae Chan: Aku tidak bisa memberikan izin.

Jaksa Son: Kenapa?

Jae Chan: Kurasa itu bukan cedera akibat kecelakaan.

Kepala Park: Lantas apa penyebabnya?


Jae Chan memutar rekaman Hong Joo di acara peluncuran buku Penulis Lee.

Jae Chan: Barusan, Reporter Nam dari SBC mengirimkan cuplikan ini kepadaku. Ini dari pesta peluncuran buku Penulis Moon Tae Min. Asisten dosen ini adalah korbannya. Seperti yang terlihat, dia diseret setelah memberontak kepada Penulis Moon, dan satu jam kemudian, dia ditemukan jatuh di poros lift di bangunan yang sama.

Kepala Park: Kudengar, itu terjadi karena dia mabuk parah.

Jae Chan: Bukan. Seperti yang kalian bisa lihat, dia sama sekali tidak mabuk. Dibandingkan dengan tamu lain, dia hampir tidak pernah minum.

Hee Min: kau benar.

Kepala Park: Jadi, maksudmu ada yang mendorongnya?

Jae Chan: Ya.

Jaksa Lee: kau sudah mengidentifikasi tersangkanya? Kuharap ini bukan berdasarkan spekulasimu semata karena ini akan berdampak pada banyak orang.

Jae Chan: Tersangka utamanya adalah Moon Tae Min.

Hee Min: kau yakin?

Jae Chan: Aku baru mendapatkan panggilan dari Polsek Sangku. Penulis Moon ditangkap atas penyerangan saat mengikuti seorang anak TK. Tapi anak itu bilang, dia melihat Penulis Moon di lokasi kecelakaan.

Kepala Park: Begitu rupanya. Ini sungguh terdengar mencurigakan. Sepertinya, kita harus menjalankan autopsi.

Jaksa Lee: Penulis Park!

Hee Min: Kita tidak bisa menjalankan autopsi pada pasien itu karena dia masih dianggap mengalami mati otak.

Kepala Park: Biasanya itu akan diikuti dengan henti jantung dalam beberapa hari, jadi, kita bisa melakukannya nanti.


Jaksa Lee: Berarti, organnya tidak bisa didonorkan.

Kepala Park: Maksudmu, kita harus membatalkan autopsinya demi donor organ? Bagaimana jika pelakunya kabur?

Jaksa Lee: Bagaimana jika autopsinya membuktikan itu karena kecelakaan? Tujuh orang yang nyawanya dapat diselamatkan akan mati. Astaga, aku tidak mengerti. Buktinya kurang cukup. Teganya kau melawan keputusan keluarga korban dan bersikeras menjalankan autopsi.

Jae Chan: Keluarga korban juga meminta autopsi.

Jaksa Lee: Pasti kau menghasut mereka! Yaa, prestasimu lebih penting bagimu daripada nyawa tujuh orang, bukan?

Jae Chan: Bukan seperti itu, Seonbaenim.


Kepala Park menegur Jaksa Lee, mereka tidak boleh mendiskusikan ini dengan emosi. Apa Jaksa Lee tidak tahu mereka harus mencari tahu penyebab kematiannya melalui autopsi jika ada dugaan percobaan pembunuhan agar bisa menyeret tersangka ke pengadilan.

Jaksa Lee: Kita harus memiliki bukti yang kuat. Apakah bukti yang kita miliki saat ini sudah cukup penting untuk mengorbankan nyawa tujuh orang?

Kepala Park: Astaga.


Jaksa Lee kemudian menanyakan pendapat Hee Min. Hee Min setuju dengan Jaksa Lee, tampaknya terlalu berisiko membatalkan transplantasi organ karena bukti tidak langsung yang mereka miliki saat ini.


Kepala Park kemudian bertanya pendapat Jaksa Son. Mengejutkannya, Jaksa Son setuju untuk melakukan autopsi, ia rasa Jae Chan membuat pilihan yang tepat.


Jaksa Lee memotres keras keputusan Jaksa Son tadi. Pasien mati otak itu seharusnya memberi Chan Ho ginjalnya.

"Aku tahu."

"Menurut Anda, kita harus menjalankan autopsi? Anda akan mengorbankan Chan Ho demi menangkap pelaku?"

"kau tahu bukan begitu maksudku."

"Tidak, aku tidak tahu! Aku tidak tahu kenapa Anda melakukan ini! Jika maksud Anda, Anda memilih keputusan itu karena Anda seorang jaksa.."

"Aku tidak membuat keputusan sebagai seorang jaksa. Ini pilihanku sebagai orang tua."


Jaksa Son memosisikan diri sebagai orangtua Lee Hwan, ia pasti ingin tahu penyebab kematian Lee Hwan. Itu akan lebih penting ketimbang menolong nyawa anak orang lain.


Ayah Lee berkata pada Hwan, "Hwan-ah. Katakan. Siapa yang melakukan ini kepadamu? Ayah akan menangkap orang itu dan memberi dia pelajaran. Katakan, Nak. Ayah mohon."


Jaksa Son melanjutkan, "Baik itu 7 atau 70 nyawa, menegakkan keadilan untuk anakku yang mati seperti itu lebih penting daripada menyelamatkan nyawa orang lain. Semua orang tua akan merasa seperti itu. Itulah kenapa.. kita harus menjalankan autopsi. Aku tidak mengatakan ini sebagai seorang jaksa. Itu pendapatku.. sebagai orang tua."


Kepala Park menerangkan pada Jae Chan, korban mati otak itu akan divonis mati kurang dari sepekan. Mereka bisa jalankan autopsi saat itu. Kepala Park menyuruh Jae Chan menolak permintaan Transplantasi organ.


Jae Chan teringat perkataan Hong Joo tadi pagi. Hong Joo bertanya apa yang aka ia pilih, menyelamatkan tujuh orang atau menangkap satu tersangka itu?

"Jika jadi aku, mana yang akan kau pilih?" tanya Jae Chan balik.


Hong Joo: Jika aku jadi kau, aku tidak akan memilih keduanya.


Jae Chan menyarankan, bisakah mereka menjalankan autopsi dan transplantasi organ secara bersamaan?

"Apa?"

"Aku sudah bicara dengan ahli bedah transplantasi organ. Katanya itu pernah dilakukan meski kasus semacam itu amat jarang. Di kasus pembunuhan di jembatan yang berlokasi di Busan tahun 2008, autopsi dan transplantasi organ dijalankan sekaligus, dan tersangkanya dihukum atas tuduhan pembunuhan. Sama halnya dengan kasus resor ski tahun 2014. Autopsi dan transplantasi organnya dilakukan sekaligus, dan tersangkanya dihukum atas pembunuhan yang disengaja. Selain itu.."

"Seperti yang kau bilang, itu kasus-kasus yang langka. Kita tidak bisa memeriksa organ jika transplantasi sedang berjalan. Artinya, akan sangat sulit menemukan penyebab kematiannya."

"Benar, tapi kasus-kasus langka itu memiliki banyak kesamaan  dengan kasus ini. Cedera pada semua korbannya terdapat di kepala dan tidak memengaruhi organ mereka. Serta, autopsi membuktikan adanya tanda peluru di leher mereka. Kita tidak perlu memeriksa organnya. Kita bisa memastikan penyebab kematiannya hanya dengan memeriksa leher dan kepalanya."


Kepala Park menyetujui, tapi Jae Chan tidak boleh terdengar ragu soal hal ini. Mereka harus memastikan penyebab kematiannya.

"Baik, Pak. Aku akan mencari tahu bagimanapun caranya."


Hong Joo: Jika aku jadi kau, aku akan menyelamatkan nyawa ketujuh orang itu serta menangkap pelaku. Itulah pilihanku.

1 komentar so far

terima kasih mba sudah update sinopsis nya... ditunggu sinopsis ep 23,24 nya ...semangat nulisnya ya.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon