Saturday, November 4, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 24

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 24

Sumber Gambar: SBS


Seung Won pergi ke minimarket dekat rumah dan ternyata temannya kerja paruh waktu disana, Myung Dae Gu yang ayahnya dipenjara.

"Tolong beri aku kantong plastik daur ulang 10 ml dan kantong makanan daur ulang ukuran dua liter. Masing-masing sepuluh buah." Pinta Seung Won.

"kau membelikan ini untuk Ibu?"

"Tidak, orang tuaku sudah meninggal. Aku seorang ibu sekarang karena kakakku tidak bisa mengurus rumah."

Dae Gu bertanya, apa kakak Seung Won juga sering kesana. Seung Won menjelaskan ciri-ciri kakaknya, pria tinggi berwajah biasa yang kekanakan. Hati-hati dengannya.


"Seung Won-ah. kau bisa meminta kakakmu bertemu dengan ayahku?"

"Ayahmu?"

Seung Won lalu ingat kalau ayah Dae Gu itu dipenjara dan teman-teman pernah nyeletuk kalau Jae Chan mungkin bisa membebaskan ayah Dae Gu.

Seung Won lalu mengatakan kalau Jae Chan sedang sibuk karena menangani kasus rumit.

"Ah.. begitu ya.. Lupakan saja kalau begitu. Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa."


Hong Joo pulang bertepatan dengan Ibu yang sedang mengangkat kursi untuk diletakkan diatas. Hong Joo mengingatkan, kalau begitu untuk sarapan besok mereka kekurangan kursi dong?

"Biarkan mereka sarapan di rumah mereka."

"Kenapa?"

"Ibu lelah. Ibu tidak nyaman bertemu Jung Geomsa."


Chan Ho senang bukan main karena sekarang ia sudah bisa kencing. Jaksa Son langsung memeluk putranya itu.

"Bagus! Bagus, Pangeran kecil ibu."


Jaksa SOn harus kembali ke knator, ia berkata kalau nenek Chan Ho akan tiba dalam 30 menit, Chan Ho bisa sendiri kan? Chan Ho mengiyakan.


Jaksa Son mengingatkan kalau mereka harus berterima kasih kepada banyak orang. Sekarang ia harus membalas kebaikan banyak orang.

"Ya, cepat balas mereka. Aku baik-baik saja sekarang." Jawab Chan Ho, lalu meeka melakukan tos seperti biasa.


Pagi ini Hong Joo menelfon Woo Tak, bertanya saat ini Woo Tak ada dimana. Woo Tak sedang dalam perjalanan menuju rumah Hong Joo untuk sarapan.

"Maaf, tapi kurasa kita harus melewatkan sarapan hari ini."

"Kenapa?"

"Ibuku agak sibuk karena restorannya."

"Baiklah. Oh ya.. Aku menemukan pengisi dayamu."

"Apa?"

"Pengisi daya merah yang terjatuh di mobilku."

"Ah.. itu."

"Akan kuberikan kepadamu nanti. Jangan lupa membawa payung. Hari ini akan hujan."

"Baik."


Tapi Woo Tak memasukkan sesuatu berwarna hijau ke dalam sakunya.


Jae Chan dan Seung Won keluar gerbang rumah mereka. Jae Chan heran melihat Hong Joo ada di luar, sedang menunggunya ya?

"Aku ingin sarapan siang di luar. Ayo pergi bersama."

Tapi Seung Won tidak mau, ia lebih senang sarapan di rumah Hong Joo, ia tidak suka sarapan siang. Seung WOn akan masuk, tapi Jae Chan menarik kerah bajunya dari belakang.

"kau menyukainya. Ayo sarapan siang. Ayo sarapan siang."


Hong Joo bertanya pukul berapa persidangan hari ini? Jae Chan menjawab ukul 02.00 siang, Hong Joo akan datang kah?

"Tentu saja. Hari ini sidang terakhir. Aku harus melihat apa kura-kura lambat bisa menangkap sang kelinci."

Sambil jalan Jae Chan bertanya, apa Hong Joo membawa payung, nanti hujan lho! Hong Joo mengiyakan, ia membawa payung kok!


Jae Chan mengatakan pada yang lain kalau Yoo Beom tidak setuju dengan hasil autopsi. Jae Chan menjelaskan kalau ia harus menginterogasi dokter yang melakukan autopsi.


Hee Min: Aku tidak pernah melihat ada yang tidak setuju dengan hasil autopsi.


Jaksa Lee: Dia akan menunjukkan kesalahan karena melakukan autopsi setelah transplantasi organ.

Kepala Park: Pengacara Lee bermain kotor.


Tiba-tiba Jaksa Son ingin ikut bersama Jae Chan untuk persidangan ini, ia yang akan menanyai dokter autopsinya sendiri. Jaksa Son beralasan kalau ia  tidak tahan dengan permainan kotor Yoo Beom sebagai pengacara.

Jae Chan: Terima kasih jika Anda bisa ikut denganku. Terima kasih, Seonbaenim.

Jaksa Son: Tidak masalah. Aku lebih berterima kasih kepadamu.


Jae Chan heran, kenapa memangnya? Lalu Jaksa Lee yang menjawabnya dengan heboh, ia juga berterima kasih kepada Jae Chan belakangan ini.

Jaksa Lee mencium kedua telapak tangannya bergantian lalu menempelkannya di pipi Jae Chan. Yang lain memandangnya takut.


Yoo Beom datang ke kejaksaan saat hujan. Ia menggunakan payung hijau itu lagi.


Jaksa Son menanyai Dokter Autopsi sendiri. pertama, ia mengonfirmasi, benar Dokter itu menulis sendiri hasil autopsi bukan? Dokter itu membenarkan.

"Berdasarkan hasil autopsi, apa penyebab kematian?"

"Penyebab kematian adalah pukulan luar pada otak korban yang menyebabkan perdarahan di membran araknoid."

"Autopsi dilakukan tepat setelah transplantasi organ. Bagaimana itu bisa terjadi?"

"Saat korban tiba di rumah sakit tepat setelah kecelakaan, dia tidak memiliki cedera lain selain perdarahan otak dan beberapa patah tulang. Saat kami melakukan pindai CT dan MRI sebelum transplantasi, organ lain terlihat baik-baik saja. Jadi, kami menghapus kerusakan organ sebagai penyebab kematian. Lalu kami melakukan autopsi tepat setelah transplantasi."

"Mungkinkah hasil autopsi berubah karena transplantasi organ?"

"Tidak, itu tidak mungkin."


Jaksa Lee tersenyum, masalah pertama teratasi, yaitu autopsi setelah transplantasi. Ia memuji strategi Jaksa Son yang bagus. Jaksa Son ingin memimpin permainan dengan menanyakan hal sama sebelum pengacara terdakwa.


Jaksa Son melanjutkan, berdasarkan hasil autopsi, tulang rawan tiroid kanan patah. Apa maksudnya?

"Tulang rawan tiroid menutupi pita suara. Tulang itu patah saat seseorang dicekik. Itu penyebab umum patah."

"Bagaimana jika patah karena orang itu terjatuh? Seperti saat mabuk dan jatuh ke suatu tempat."

"Tulang rawan tiroid tidak akan patah hanya karena jatuh."

"Tapi bagaimana jika kita anggap tulang rawan tiroid korban patah karena jatuh seperti pernyataan pengacara terdakwa?"

"Maka patahnya pasti juga terjadi di rahang dan tulang belakang leher. Tapi itu tidak terjadi. Poin terpenting adalah kami menemukan darah di sekitar tulang rawan tiroid. Itu hanya muncul jika leher ditekan menggunakan kedua tangan."

"Jadi, kesimpulannya, hasil autopsi menunjukkan korban meninggal karena dicekik dan dia jatuh ke bawah pintu lift. Hal itu menyebabkan dia tewas akibat luka luar dan perdarahan. Benar?"

"Benar."


Jaksa Son selesai dengan pemeriksaannya. Saat kembali ke kursinya ia menunduk pada Ayah Lee Hwan. Ayah Lee membalasnya.


Jae Chan memberikan jempolnya untuk pertanyaan Jaksa Son tadi. Jaksa Son membalas jempol jae Chan dengan jempolnya juga.


Saatnya Yoo Beom melakukan pemeriksaan silang. Dae Gu ternyata ada disana dan ia terkejut melihat Yoo Beom.

*Makin yakin kalau Yoo Beom adalah jaksa yang mendakwa ayah Dae Gu.


Yoo Beom bertanya pada dokter, kapan korban Lee Hwan didiagnosis mati otak?

"Pukul 08.30, 2 Juni 2016."

"Jadi, kapan sebenarnya jantungnya berhenti?"

"Pukul 05.17 sore, 2 Juni 2016."

"Perbedaannya sembilan jam. Bagaimana penentuan waktu kematiannya?"

"Saat kami mencoba mentransplantasi organnya, kami mencatat itu sebagai waktu kematiannya."

"Jadi, itu pasti waktu kematian yang tercatat dalam dakwaan, bukan?"

"Benar."


Yoo Beom menyudahi pemeriksaannya. Jaksa Lee tak menynagka, apa-apain ini? Yoo Beom tidak setuju dengan bukti hanya untuk itu?

Hee Min juga bertanya-tanya, apa kira-kira rencana Yoo Beom?


Hong Joo datang, ia langsung duduk disamping Ayah Lee.


Jae Chan melanjutkan, "Nyawa korban Lee Hwan direnggut oleh dosen yang dahulu dia kagumi. Tapi sejak kecelakaan sampai persidangan hari ini, terdakwa, Moon Tae Min, berusaha menutupi kejahatannya. Dia membantah tuduhan dan sering mengubah pernyataan. Dia bahkan tidak menyesali perbuatannya. Berdasarkan KUHP Pasal 250 ayat 1, saya meminta terdakwa dihukum 10 tahun penjara atas pembunuhan."


Selanjutnya, Hakim mempersilahkan Yoo Beom untuk menyampaikan pernyataan penutup.

Yoo Beom: Persidangan hampir berakhir. Keterangan dari anak lima tahun. Autopsi setelah transplantasi organ. Semuanya tidak membuktikan terjadi pembunuhan. Melihat alasannya yang labil, saya selalu ingin menanyakan ini. Bisakah kita menghukum terdakwa.. atas pembunuhan?


Jaksa Lee geram, kenapa Yoo Beom mengatakan omong kosong itu dengan sopan?


Yoo Beom: Berdasarkan pernyataan dokter autopsi, korban, Lee Hwan, meninggal tanggal 2 Juni 2016, pukul 08.30 pagi. Setelah 9 jam, pukul 05.17 sore, jantungnya berhenti berdetak setelah organnya dipindahkan. Seperti kita tahu, mati otak tidak dianggap meninggal menurut KUHP. KUHP hanya mengenal kematian saat jantung berhenti berdetak. Hal sama berlaku juga dalam UU transplantasi organ. Kami merujuk kepada keluarga pasien yang meninggal karena mati otak sebagai "keluarga". Kita baru menyebut mereka "keluarga yang berduka" setelah transplantasi organ selesai.


Jae Chan baru mengerti kemana arah Yoo Beom, "Tidak mungkin..."


Yoo Beom melanjutkan, "Jika korban Lee Hwan.. mendapat luka di otaknya dan meninggal hanya setelah beberapa jam, kita bisa mendakwa terdakwa atas pembunuhan. Tapi saat korban mati otak, jantungnya tidak berhenti berdetak. Saat dia melakukan operasi transplantasi, jantungnya berhenti berdetak."


Jaksa Son tidak setuju dengan itu. Tidak boleh begitu.

Yoo Beom belum selesai, "Terdakwa tidak membuat jantungnya berhenti berdetak. Tapi dokter yang membuat jantungnya berhenti berdetak saat membedah arteri utama. Maka kematian yang dianggap oleh KUHP bukan disebabkan oleh terdakwa, melainkan dokter yang melakukan operasi."


Hong Joo sama sekali tak percaya Yoo Beom bisa sekejam itu.

Yoo Beom: Jadi menurut KUHP, korban tidak meninggal karena terdakwa. Dia meninggal karena transplantasi organ.


Hee Min: Lidahnya kejam sekali.

Yoo Beom: Maka, kita tidak bisa mendakwanya atas kematian korban. Selain itu, terdakwa mengaku tidak bersalah atas pembunuhan.


Ayah Lee histeris, apa-apaan ini? Apa maksud Yoo Beom? Jadi siapa yang membunuh putranya?

Hong Joo mencoba menenangkan Ayah Lee. Ayah Lee bertanya lagi, apa dokter itu membunuh putranya? Bukan pria itu?

"Bukan, Pak. Semua tidak masuk akal. Jangan khawatir, Pak. Aku akan membawanya keluar. Pak, ayo ikut aku. Jangan khawatir. Jaksa di sana akan membuktikan semua ini tidak masuk akal."


Keamanan yang ada disana menyuruh Hong Joo tenang, tapi Hong Joo membantah.

"Aku harus membuatnya mengerti, jadi, kami bisa keluar dari sini. Bayangkan perasaan ayahnya. Kenapa kita tidak bisa mendakwanya? Jika dia tidak memukul putranya, dia pasti masih hidup. Dokter juga tidak akan melakukan transplantasi organ. Kalian setuju, bukan?"


Jae Chan sepertinya menangkap maksud omongan Hong Joo.


Jaksa Lee memuji Hong Joo yang sangat berani, berani mengatakan yang dia pikir benar. Hee Min kesal mendengarnya.


Hakim bertanya, apa Jaksa memiliki pernyataan tambahan? Jaksa SOn lalu bertanya pada Jae Chan, haruskah ia yang mentakannya?

"Tidak, aku saja." Kata Jae Chan.


Ayah Lee tidak menyangka, apa hukum sangat tidak masuk akal begitu? Transplantasi organ tidak membuat terdakwa bersalah!

"Tidak, Pak. Hukum tidak selonggar itu, Pak. Mereka akan mengadili orang yang bersalah."

"Aku seharusnya tidak menyetujui transplantasi itu. Semua karena aku. Aigoo.."

"Pak, ini bukan kesalahan Anda."


Jae Chan berkata, setelah mendengar pernyataan Yoo Beom, Ayah Lee sekarang pasti menyalahkan dirinya. "Karena aku menyetujui transplantasi itu, aku tidak bisa menghukum pembunuh putraku. Niatku baik, tapi hasilnya buruk. Hukum membela penjahat". Ayah Lee pasti berpikir begitu. Jadi, hukum seharusnya tidak melakukan itu.


Jaksa Lee kembali dengan dehemannya, "Tentu saja. Itu seharusnya tidak terjadi. Itu tidak boleh terjadi."


Jae Chan: Korban mengalami mati otak karena terdakwa. Seperti kata pengacara terdakwa, setelah mati otak, jika hari berlalu tanpa transplantasi organ, jantungnya akan berhenti dan dia akan meninggal. Seperti pasien mati otak lainnya. Tapi hanya karena transplantasi organ terjadi di antara kematiannya, bisakah terdakwa dinyatakan tidak bersalah?


Hong Joo menjelaskan sama persis seperti yang Jae Chan jelaskan pada Ayah Lee.

Hong Joo: Itu tidak masuk akal. Tanpa transplantasi organ pun, putra Anda pasti meninggal dalam beberapa hari. Dia pasti meninggal tanpa dokter transplantasi itu. Tapi bayangkan jika Penulis Moon tidak memukul putra Anda.


Jae Chan: Jika Terdakwa Moon tidak memukul korban, akankah korban meninggal? Sebenarnya cukup mudah mencari tahu siapa penyebab kematiannya. Coba hapus penyebab-penyebab yang membuatnya meninggal. Meskipun kita menghapus dokter dalam kasus itu, korban pasti akan meninggal juga. Tapi keadaannya berubah jika kita menghapus terdakwa. Jika terdakwa tidak melakukan itu, korban tidak akan meninggal dan bisa melanjutkan hidupnya.


Hong Joo: Transplantasi organ tidak membunuh putra Anda. Begitu juga Anda. Yang membunuh putra Anda adalah Penulis Moon Tae Min. Jangan keliru.


Jae Chan: Hukum tidak bisa merancukan fakta. Hukum harus dengan jelas dan adil mengadili orang yang bertanggung jawab atas kejahatan itu. Hanya karena waktu kematian menerapkan aturan baru kepada kasus, kita tidak bisa menyatakan terdakwa tidak bersalah. Jika tidak, kita bisa mengatakan bahwa.. keadilan itu tidak ada.


Hong Joo da ayah Lee kembali masuk ke ruang persidangan.

Jae Chan: Selain itu, demi korban yang memberi hidup baru kepada tujuh orang dan kepada keluarganya yang menyetujui transplantasinya, kita tidak bisa membiarkan persidangan membela terdakwa. Karena itu tidak adil.

Semua orang lega mendengar pernyataan Jae Chan itu.


Jae Chan mengakhiri pernyataanya, lalu memohonpada Hakim, "Tolong.. biarkan keadilan mengalir seperti sungai di persidangan ini. Biarkan itu terjadi di persidangan ini. Saya harap itu terjadi."


Jae Chan kembali ke tempat duduknya, ia menoleh pada Hong Joo dan Hong Joo mengangguk padanya. 


Persidangan usai dan hasinya..

Saat keluar dari ruang sidang, Jaksa Son memanggil Jae Chan. Jae Chan mengucapkan terimakasih pada Jaksa Son untuk hari ini.

"Tidak, aku yang berterima kasih. Berkat kau, aku bisa tidur tanpa rasa bersalah. Terima kasih."


Jaksa Son bahkan memeluk Jae Chan.

"Terima kasih banyak." Kata Jaksa Son.

"Baiklah. Aku juga berterima kasih."


Yoo Beom kembali mencuci tangannya dengan kasar. Usai mencuci, ia akan mengambil tisu untuk mengelap, tapi tisunya habis. Yoo Beom tambah emosi, ia langsung meninju box tisu itu.


Kebetulan Dae Gu ada disana, ia lalu menawarkan saputangannya untuk Yoo Beom. Yoo Beom menolaknya dan langsung keluar.

Yoo Beom melupakan payung hijaunya dan Dae Gu mengambilnya.


Ibu mengeluarkan semua selimut dari kamar Hong Joo, ia akan mencucinya. Hong joo yang baru pulang berkata kalau semua itu tidak akan muat di mesis cuci mereka.

"Ibu akan mencucinya di ruang cuci." Jawab Ibu.


Hong Joo kemudian duduk disamping Ibu, bertanya apa mereka tidak akan memanggil Jae Chan untuk sarapan besok pagi? Ibu membenarkan.

"Ibu, aku menghadiri persidangan Jae Chan hari ini. Saat melihat persidangan itu, aku sadar selama ini aku keliru."

"Keliru?"

"Seperti kata Ibu, kupikir Ayah meninggal karena aku. Kupikir Jae Chan ditembak karena aku. Pikirkan itu membuatku menderita. Aku sadar aku keliru setelah melihat persidangan itu. Selama ini aku keliru. Ayah meninggal karena tentara yang kabur. Jae Chan-ssi ditembak ayahnya Yoo Su Kyung. Semua itu pasti terjadi meskipun aku tidak ada di TKP. Benar, bukan?"

"Hmmm."

"Yang lain bersalah, tapi aku tidak tahu itu. Aku keliru selama ini."

"Jadi, kau merasa lebih baik sekarang?"

"kau tidak menyalahkan dirimu?"

"Tidak."


Jae Chan juga pergi ke ruang cuci dan disana ia melihat Ibu. Ia pun memanggil.

"Ibu. Maksudku, Bibi. Selamat malam."

"Kau akan mencuci pakaian?"

"Ya."


Jae Chan mengingat percakapan Hong Joo dan Ibu kemarin pagi. Ia kemudian mengajak Ibu bicara. Ia mengatakan kalau Hong Joo tidak ada hubungannya dengan kecelakaannya. Orang yang menembaknya adalah orang lain, bukan Hong Joo. Hong Joo juga tahu itu. Hong Joo tidak akan...

"Dia tidak akan keliru dengan itu. Dia juga tidak akan menyalahkan dirinya." Sela Ibu.

"Ya, bagaimana Anda.."

"Kalian berlatih kalimat yang sama? Kau tahu dari Hong Joo, aku kemari dan mengikutiku."

"Tidak. Ini kebetulan. Aku datang untuk mencuci."

"Hentikan omong kosongmu. kau tidak membereskan rumahmu, tapi membawa pakaian kotor ke sini. Kedatanganmu ke sini terdengar dibuat-buat."

"Aku sering membereskan rumah, Ibu. Ah.. Bibi."

"Maaf sudah membuatmu bingung, tapi kau boleh memanggilku "Ibu"."


Ibu minta maaf karena selama ini telah berpikiran sempit. Ia tahu seharusnya tidak melakukan ini. Tapi ia pengecut seperti manusia lain. Ia menyakiti anak orang lain untuk melindungi anaknya.

"Maaf aku telah melakukan itu sebagai orang tua. Maafkan aku."

"Tidak apa-apa."

"Kalau begitu, kau memaafkanku?"

"Ya, Bu."

"Terima kasih sudah peduli dan mencintai Hong Joo."

"Tidak. Aku yang lebih berterima kasih, Ibu mertua. Maksudku, Bibi. Ah.. Maksudku, Ibu."

Lalu mereka berpelukan.


Jae Chan kembali ke kebiasaan lamanya, suka selfie. Kali ini ia melihat mobil merah di depan kantor dan ia langsung berfoto bersama mobil itu.


Ternyata itu mobil Jeksa Lee.

"Woah.. Ini mobil impian. Mobil merah." Kata Jae Chan.

"Beri tahu saja aku. Kapan pun kau membutuhkan ini, kau boleh meminjamnya."

"Benarkah?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Aku baru tahu bahwa Moon Tae Min sudah didakwa. Bersalah atas pembunuhan! Tujuh tahun penjara!"


Jae Chan langsung bersorak. Tapi ia masih kesal, harusnya kan 10 tahun penuh. Jaksa Lee mengingatkan kalau tujuh tahun juga sudah lama.

"Bagus. Juga.. Terima kasih."

"kau mengatakan hal yang sama ju Apa orang harus berterima kasih karena jaksa melakukan tugasnya?"

"Tidak, itu normal. Tapi aku berterima kasih saja."

"Ah.. Katamu aku boleh meminjam mobilmu kapan saja, bukan?"

"Ya, kenapa?"

"Baiklah. Aku ingin meminjamnya sekarang!"

Jaksa Lee pun dengan beat hati memberikan kuncinya pada Jae Chan sekarang.


Jae Chan menggunakan mobil itu untuk menjemput Hong Joo. Mengajaknya ke pantai. Di dalam mobil, Hong Joo menggoda Jae Chan yang batal kiss karena sabuk pengaman. Jae Chan tersenyum malu.


Hong Joo membandingkan laut itu dengan foto yang ia ambil di pemberhentian bis. Hong Joo terkejut karena sama persis, bagaimana Jae Chan bisa menemukannya?

"Aku melakukan pencarian. Bagaimana? Ini laut yang sama dengan yang ada di mimpimu?"

"Ya, sama."

"kau berbohong."

"Tidak. Sebenarnya ini lebih indah dari yang ada di mimpiku."

"kau tidak bermimpi tentang itu. Aku tahu kau berbohong."

"Bagaimana kau tahu?"

"Sudah kubilang. Aku bisa mendeteksi semua kebohongan. Aku bisa tahu kau berbohong. kau terus bilang jangan lengah. kau juga datang ke persidangan. Wajahmu sangat jelas saat berbohong."

"Kenapa kau diam saja? Lalu kenapa kita kemari?"

"Entahlah. kau sepertinya ingin melihat pantai. kau ingin melihat aku menang di persidangan dan melihat laut. Kupikir kau ingin melihat keduanya. Aku berusaha keras untuk itu. Aku berusaha sangat keras."

"Terima kasih sudah berusaha keras."


Jae Chan udah selesai mencopot sepatu, kaos kaki, jas dan dasinya. Ia menawari Hong Joo untuk masuk ke air. Hong Joo menolak, karena ini masih pagi jadi ia mau melihat laut dulu.


Jae Chan tidak masalah, ia pun masuk ke air sendirian. Jae Chan memotret laut dan berkata kalau airnya tidak dingin, ia membujuk Hong Joo untu ikutan masuk.

"Jangan berbohong! Bibirmu menjadi ungu karena terlalu dingin."


Jae Chan menggunakan cara lain, ia memotret Hong Joo lalu mengatakan kalau hasilnya bagus pake banget. Hong Joo penasaran dong dan mendekat ingin lihat.

Jae Chan langsung membuang ponselnya jauh dari air dan menggendong Hong Joo. Hong Joo berpegangan kuat pada Jae Chan sambil teriak tidak mau dilempar ke air.


Narasi Jae Chan: Mengetahui masa depan adalah suatu anugerah. Aku menganggapnya begitu. Tapi anugerah ini merebut perasaan mendebarkan. Membunuh keinginan untuk mengambil tantangan. Itu memutuskan asa.


Ibu mengembalikan kotak cincin itu kembali ke kamar Hong Joo.


Ibu melihat catatan mimpi Hong Joo, salah satunya ada yang bertuliskan, "Kematianku, saat hujan. Seragam Tim Biru SBC"


Seonbae melaporkan dari depan penjara.

"Sekitar pukul 05.00 pagi ini, Pak Myung (Ayah Dae Gu??), 52 tahun, gantung diri dengan mengikat pakaian dalam yang dia kenakan saat menjalani hukuman di Penjara Seoul Gu Min. Mei 2015 lalu, Pak Myung ditunjuk sebagai pelaku pembunuhan berantai menggunakan alat suntik yang menghebohkan, dan dipenjara seumur hidup."


Dae Gu meraung-raung mendengar berita itu. Ada payung hijau disampingnya.

Narasi Jae Chan: Masa depan yang tidak bisa kuubah. Masa depan yang telah ditetapkan.


Woo Tak juga melihat berita ayah Dae Gu.

Narasi Jae Chan: Itu bentuk lain putus asa. Aku kehilangan segalanya.. dengan menyerah dan mengulangi setiap hari dengan sia-sia.

Seobae dalam beritanya, "Korban meninggalkan surat bunuh diri  yang menyatakan bahwa dia difitnah. Dia juga berharap agar kebenaran terungkap."


Rekan Woo Tak bertanya, apa protofonnya sudah penuh? Woo Tak melihatnya dan semuanya berwarna hijau.

Woo Tak: Ini.. Kapan kau mulai mengisinya?

Rekan: Apa?


Kyung Han datang, ia melihat protofon itu lalu berkata, "Lampunya hijau. Sudah penuh."

Si rekan tersenyum mengerti.

Kyung Han lalu berjalan keluar dan Woo Tak memandangnya tajam.


Narasi Jae Chan: Aku berharap memberinya waktu bersantai dengan membawanya ke laut. Semoga ini bisa menjadi perlindungan dari hari-hari yang sia-sia. Kuharap.. hari ini mendebarkan baginya.

*Hong Joo beneran meninggal kah?

6 komentar

Jadi bingung apa yg woo tak sembunyikan? Jahat atau baik woo tak ini. Sebab dia menutupi kebohongan 😧. Sy suka woo tak, semoga dia pri baik2

Kalau diliat dari posternya kayaknya dia baik, cuma ya itu misterius sangat.tapi kalau diliat dari ig nya jung hae in 😓

Dan woo tak kayaknya buta warna di sini, mungkin itu rahasianya, dan itu nanti bisa jadi berhubungan sama payung hijau yg ada di mimpi hong joo. (Cuma asumsi saya lho 😆)

Engga ngerti dengan kemisteriusan woo tak karena kegantengannya mengalahkan fokus gw ���������� PEA

Bkin baper.... hong joo n jae chan psangan sjti
..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon