Friday, November 10, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 28

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 28

Sumber Gambar: SBS


Jae Chan kembali bekerja dengan Jaksa Lee. Jae Chan membaca di antara semua barang sitaan, botol berisi racun ternyata merupakan bukti terakhir untuk kasus ini.

"Tapi Myung Yi Suk bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah." Jelas Jaksa Lee.

"Apa kata Myung Yi Suk soal botol itu?"

"Katanya itu tidak masuk akal. Dia berkata jaksa memanipulasinya."

"Manipulasi?"


Jae Chan jadi teringat saat Yoo Beom mengajaknya untuk memanipulasi buku rapor dulu.

"Hyung, ayahku polisi."

"Kita bisa memastikan  tidak sejelas itu."

Jae Chan kemudian bertanya pada Jaksa Lee apa menurut Jaksa Lee seorang jaksa atau inspektur bisa memanipulasi barang sitaan?

Jaksa Lee: Itu perbuatan tercela.


Jaksa Lee mendadak teringat kata Yoo Beom saat interogasi saat Woo Tak bertanya apa melakukan pemalsuan itu mungkin.

"Jaksa memiliki kuasa dan cara untuk melakukan itu." Jawab Yoo Beom.


Jae Chan bertanya pada Inspektur, siapa yang melakukan penyitaan? Inspektir melihat catatan dan tertera nama Pak Choi disana.

Inspektur: Jika memang dimanipulasi, entah itu oleh Pengacara Lee Yoo Beom atau Pak Choi.

Jae Chan: Jika memang dimanipulasi, pasti oleh Pengacara Lee. Pak Choi tidak akan pernah melakukan itu.

Pengacara Lee: Kita masih menyelidiki. Kau tidak boleh yakin dahulu.

jae Chan keluar dengan kesal. Jaksa Lee lalu meminta asistennya menghubungi bagian umum untuk minta catatan pribadi Pak Choi dan buatkan salinannya untuknya.


Yoo Beom sedang menggulung kertas di ruangannya setelah Hong Joo pergi tadi. Dan pesan dari orang itu masuk lagi.

"Jika aku ditangkap, aku akan beri tahu polisi soal manipulasimu. Kau tidak keberatan?"

"Ayo bertemu. Di mana kita sebaiknya bertemu?" BalasYoo Beom.

"Temui aku pukul 21.00 di kantormu."

Oh ya.. nama Firma Hukum Yoo Beom adalah "Firma Hukum Hae Kwang".


Jae Chan kembali ke ruangannya. Disana hanya ada Pak Choi seorang. Pak Choi bertanya, bagaimana perkembangan penyelidikannya?

"Lancar. Bagaimana denganmu, Pak Choi? Ada perkembangan terkait pelaku?"

"Ini lebih sulit dari perkiraanku."

"Pak Choi, bukankah Kau melihat pelaku pembakarannya malam itu?"

"Tidak. Aku tiba di sana setelah kebakaran."


Jae Chan lalu bertanya, darimana Pak Choi tahu Hong Joo dan dirinya datang terpisah?

"Aku hanya.. Hanya menebaknya." Jawab Pak Choi.

"Bagaimana Kau tahu kami ada di sana?"

"Itu kebetulan. Aku sedang.. lewat."

"Pak Choi."

"Aku hanya... Bagaimana aku mengatakannya? Itu seperti menerima pesan telepati. Aku bisa tahu Kau dalam bahaya. Aku punya kekuatan super. Mungkin karena aku sekolah di dekat Punggung Bukit Miari."


Hong Joo menemui Woo Tak malam-malam, ada yang ingin ia tanyakan soal kejadian pembakaran. Sebelum itu, Woo Tak memberikan pengisi daya yang Hong Joo tinggalkan di mobilnya.

"Aku menemukan pengisi daya portabel-mu. Ini tertinggal di mobilku. Pengisi daya portabel merah."

Hong Joo terdiam karena itu jelas-jelas warna hijau tapi Woo Tak bilang merah.

Woo Tak:Bukankah ini milikmu? Pengisi daya portabel merah.

Hong Joo akhirnya membenarkannya saja, "Itu milikku. Pengisi daya portabel merah. Terima kasih."

"Apa yang ingin Kau tanyakan?"

"Katamu Kau menangkap pria yang dibunuh pelaku, bukan?"

"Ya."


Hee Min dan inspektirnya sudah mendatangi 36 pom bensin, Tapi ia tidak putus asa, ia tetap mencoba.


Yoo Beom gelisah menunggu orang itu. Lalu Sekretarisnya masuk untuk pamit pulang. Yoo Beom menyuruhnya pulang dulu karena ia masih akan ada klien nanti.

Yoo Beom melihat jamnya, 8:50 pm.


Hong Joo menjelaskan, Jaksa dan polisi mencari pelaku selama beberapa hari, tapi mereka belum menangkapnya. Ia juga sudah mencari informasi, tapi tidak banyak perkembangan. Ia harap ada secercah harapan.

"Apa ada yang Kau perhatikan saat menangkap Jo Yoon Pyo?" Tanya Hong Joo.

"Entahlah.. Untuk seseorang yang membawa 10.000 dolar tunai, pakaiannya tampak lusuh."

"Apa lagi?"

"Lalu tas yang berisi uang itu.."

"Kenapa tasnya?"


Hee Min berhasil, pada tanggal 22 Juni ada yang membeli bensin sebanyak 10 liter menggunakan jeriken. Hee Min dan Inspekturnya sangat senang.

"Dia membelinya dengan tunai atau kartu kredit?" Tanya Hee Min.

"Dia membayar dengan uang tunai." Jawab Petugas.

"Anda ingat bagaimana wajah atau pakaiannya?"


Yoo Beom menerima pesan dari orang itu, mengatakan kalau ia sudah datang, bahkan memuji Firma Hukum Yoo Beom yang sangat bagus, bahkan meminta Yoo Beom mentraktirnya.

"Jika aku ditangkap, Kau akan kehilangan semua ini? "Seseorang yang memiliki banyak juga rugi banyak"."
"Seseorang yang memiliki banyak juga rugi banyak"


Orang itu masuk ke ruangan Yoo Beom dan ternyata ia adalah seorang wanita. Yoo Beom sama sekali tidak mengangkanya, ia membayangkan orang yang mengiriminya pesan itu adalah pria.


Jae Chan menjawab Hong Joo, tas uang itu sepertinya milik wanita.

"Tas wanita?" Ulang HOng Joo.


Petugas Pom bensin juga mengatakan kalau yanga membeli bensin 10 liter itu bukan pria melainkan wanita yang datang menggunakan sepeda.


Yoo Beom memastikan, jadi wanita itu yang mengirim pesan untuknya?

"Ya. Kau tampak terkejut. Wah.. kantor yang bagus. Ah.. Aku memeriksa umur kita. Ternyata kita sebaya. Bisa kita bicara dengan santai? Kau memenangkan banyak penghargaan."

"Ayo duduk, dan bicara."

"Baiklah."


Yoo Beom bertanya alasan wanita itu mengiriminya pesan. Juga kenapa wanita itu mencarinya?

"Kau belum bisa menebaknya? Kau kan pintar."

"TIDAK! Aku tidak tahu."

"Kau tidak penasaran. Kau hanya ingin memastikan. Itu seperti yang kukatakan di pesan teks. Aku sudah membunuh hampir 20 orang. Tapi berkat Kau, aku belum masuk penjara. Aku sungguh.. menghargai perbuatanmu."


Hong Joo berdiskusi dengan Seonbae dan Kapten. Seonbae menjelaskan hepotesisnya, jika penjahat sesungguhnya wanita, dia pasti orangnya, Ha Ju Won, 34 tahun.

"Siapa wanita itu?" Tanya Hong Joo.

"Dia pasien lama di kamar rumah sakit itu. Pasien dengan penyakit Crohn. Tapi dia juga dimasukkan ke kamar yang sama dengan kedelapan korban lain."

"Jadi, dia tidak ada di daftar tersangka karena dia pasien?"

"Benar. Saat para korban dibunuh, Ha Ju Won juga sakit. Jadi, dia dimasukkan sebagai salah satu korban."

Kapten: Tapi.. kenapa pasien membunuh pasien lain?


Ju Won menjelaskan pada Yoo Beom, ia melakukan itu karena merasa sangat tidak adil. Ia harus mengangkat usus dan perutku. Ia melakukan banyak operasi selama bertahun-tahun, tapi tidak pulih. Tapi pasien lain pulih. Bahkan ada yang pulang dalam beberapa hari. Lalu mereka berkata...


"Aku kasihan dengan wanita muda itu."


"Kau akan segera pulih. Semangat."

Mereka mengatakan omong kosong itu.


Yoo Beom: Jadi, Kau membunuh mereka? Menurutmu alasanmu bisa membenarkan perbuatanmu?

Ju Won menjawab tidak, ia di ambang kematian, ia sudah menyerahkan segalanya. "Jika aku ditangkap, biarkan saja. Jika mereka menghukumku, biarkan". Ia berpikir seperti itu. Tapi.. jaksa menangkap orang lain.

"Maksudmu aku?" Tanya Yoo Beom.


Lalu Ju Won berpikir, untuk kali pertama dalam hidupnya, ada yang bernama harapan. Orang yang memberikan harapan kepadanya adalah Lee Yoo Beom. Ia juga berharap.. Yoo Beom akan terus menjadi satu-satunya harapannya.


Saat rapat, Kepala Park bertanya, apa mereka sudah memasukkan Ha Ju Won ke daftar pencarian orang? Jaksa Son mengiyakan tapi Ju Won sudah lama tidak pulang dan sulit dilacak karena memakai nomor prabayar.

Hee Min: Catatan kartu kredit dan kartu bus hilang usai kebakaran.

Jaksa Lee: Artinya, dia akan terus melarikan diri.

Kepala Park: Dia hanya bisa lari selama beberapa hari sekarang ini.

Jae Chan: Dia sudah buron selama lebih dari setahun. Dia akan berpikir kali ini akan berhasil juga.


Jadi Ju Won memohon pada Yoo Beom untukmembuat keajaiban lagi. Beri ia harapan.

"Aku tidak bisa mendengarkanmu lagi. Kapan aku menjadi harapan untuk sampah sepertimu?"

"Kenapa aku sampah?"

"KARENA MEMBUNUH ORANG! ORANG!"

"Aku harus bagaimana sekarang? Itu sudah terjadi. Ya. Itu memang menyedihkan."


Tapi Ju WOn berkeyakinan, oorang hidup harus melanjutkan hidup. Apa coba untungnya mengetahui bahwa aku pelaku sesungguhnya? Bagi keluarga korban, Myung Yi Suk adalah sampah dan sampah itu sudah meninggal. Itu menenangkan, tapi bagaimana jika ia tiba-tiba muncul? Mereka akan terpukul. Lalu bagaimana dengan putra Myung Yi Suk? Dia akan marah jika mengetahui bahwa ayahnya tidak bersalah.

"Lalu Kau.. Apa yang akan Kau lakukan?"

"Tutup mulutmu."

"Aku sangat terkejut mendengar berita bahwa botol obat ditemukan di ruangan Myung Yi Suk."


Yang sebenarnya terjadi adalah Yoo Beom dengan sengaja memasukkan botol racun itu ke dalam kantung yang berisi barang bukti. Ia melakukannya diam-diam, tanpa sepengetahuan yang lain.


Ju Won: 32 botol.. Itu pasti membuatmu gelisah. Sudah sangat jelas Myung Yi Suk pelakunya. Tidak ditemukan bukti langsung. Media terus meragukan kecakapan jaksa. Lalu Kau memanipulasi botol sitaan sebagai milik Myung Yi Suk. Benar, bukan? Aku benar?

Yoo Beom: Botol itu sudah ada di sana.

Ju Won: Lalu kenapa Kau menyebutku pembunuh? Jika botol itu ditemukan di sana, Myung Yi Suk pembunuhnya. Kenapa Kau menyebutku sampah? Katakan. Sekarang Kau mengerti, bukan? Jika aku mendapat masalah, Kau juga.

Yoo Beom langsung melonggarkan dasinya. Ju Won melarangnya khawatir karena orang yang tahu itu dimanipulasi hanya Yoo Beom dan dirinya. Tadinya ada tiga orang, tapi ia sudah menyingkirkannya.


Yoo Beom terkejut, apa maksudnya menyingkirkan?

"Kau melihat berita pembakaran kontainer, bukan?"

"Kau pelakunya?"

"Seseorang yang mengetahui cerita kita tinggal di sana. Dia pendiam. Tapi malangnya, dia terlibat dengan polisi."

Kilas Balik..


Jadi Ju Won ada disana saat si penadah itu pulang. Ju Won berkata kalau ia bisa masuk karena pintunya terbuka.

"Tidakkah Kau berlebihan dengan sarung tangan itu?" Tanya si penadah.

"Kepanasan lebih baik daripada dalam bahaya."


Si penadah itu duduk membelakangi Ju Won, jad Ju Won memiliki kesempatan untuk mengambil racun menggunakan jarum suntik. Lalu ia mendekati si penadah dan menyuntikkan racun itu di lehernya.

"Young Pyo-ya. Terima kasih."

Kilas Balik Selesai..


Ju Won mengakui, ia melakukan semua perbuatan kotor. Mulai sekarang, Yoo Beom yang akan menanganinya. Putra Myung Yi Suk yang berduka, Yoo Beom, dan dirinya. Biarkan mereka tenang.

"Kau tahu artinya rahasia, bukan? Sekarang Kau tahu. Jika aku mendapat masalah, Kau juga."


Yoo Beom berjalan ke atap, ia meluapkan emosinya disana, ia teriak-teriak histeris. Ia harus mencari jalan keluar.

Lalu ia melihat pemberitahuan pemeriksaan listrik. Listrik akan dimatikan pada 28 Juni. Yoo Beom menatap atap yang lebih tinggi.


Yoo Beom akhirnya kembali ke dalam. Ju Won lelah menunggu, baginya Yoo Beom berpikir terlalu lama. Dan.. bagaimana? Mau menerimanya sebagai klien?

"Sebelum itu, Kau melewatkan satu hal." Kata Yoo Beom.

"Apa?"

"Bukan hanya kita yang tahu soal manipulasi itu. Ada tiga orang."

"Siapa?"


Hyang Mi akan menyuapi Pak Choi daging tapi tidak jadi, "Benar. Aku sangat cantik dan baik. Aku tidak bisa memiliki Letnan Han Woo Tak sebagai hadiah?"

"Jangan mengatakan itu. Baginya, itu hukuman."

Hyang Mi pun memakan sendiri daging yang akan ia suapkan pada Pak Choi.


Para Asisten bercakap mengenai hasil penyelidikan Jaksa Lee dan Jae Chan yang menduga kasus pembunuhan berantai cairan infus itu dimanipulasi.

"Kasus yang diselidiki Pengacara Lee dan Pak Choi. Jadi, mereka memanipulasinya?"
"Itu menurut Jaksa Lee. Tapi Jaksa Jung terus menyangkal Pak Choi melakukan itu."
"Lebih dari 10 orang meninggal. Jika itu dimanipulasi, banyak yang akan terluka."
"Itu sebabnya Jaksa Jung makin menginginkan kasus ini. Untuk melindungi Pak Choi."

Hyang Mi akan menegur mereka tapi Pak Choi menahannya.


Pak Choi kembali ke ruangannya, ia sedih. Ia mengeluarkan kertas dan bolpoin, lalu menulis.


Hong Joo bersiap melakukan wawancara bersama keluarga korban pembunuhan berantai. Kemudian pesan masuk dari Yoo Beom,

"Kau bilang akan menulis dengan adil, bukan? Aku meminta wawancara pukul 20.00 di kantorku."

Hong Joo: Ada banyak wawancara untukku. Pengacara Lee ingin diwawancara.


Seonbae: Dia jaksa kasus pembunuhan berantai cairan infus itu, bukan?

Hong Joo: Ya.

Seonbae: Jika pelaku sesungguhnya ada di tempat lain, artinya ada yang hilang dari penyelidikan itu. Gali itu.

Hong Joo: Baik, Pak.

Hong Joo sudah mau pergi tapi ia berbalik lagi dan bertanya, apa hari ini akan hujan? Seonbae melihat perkiraan cuaca, lalu menjawab tidak, hanya ada kemungkinan lima persen.

"Baik, aku akan segera kembali."


Asisten Jaksa Lee akan memberikan salinan catatan pribadi Pak Choi. Tapi malah Jae Chan yang muncul. Jae Chan lalu meminta catatan itu. Jaksa Lee sudah membuka pintu tapi ia tidak jadi masuk.

Jae Chan: Dia terlalu kejam. Memangnya dia bisa tahu Pak Choi memanipulasinya dari ini?


Jae Chan membacacatatan itu dan ia terdiam, lalu Jaksa Lee masuk, Apa? Ada apa? Ia bisa memeriksanya, bukan?

"Pak Choi adalah mantan polisi?" Tanya Jae Chan.

"Ya, itu sebabnya dia ahli di TKP."

"Kantor Polisi Ill Yoo.."

"Kenapa? Kau tahu tempat itu?"

"Dahulu, ayahku bekerja di sana."

"Mereka bekerja di tahun yang sama?"

"Ya."

"Kebetulan sekali."

"Tidak mungkin.."


Jae Chan lalu mencari Pak Choi di ruangan tapi yang ada hanya Hyang Mi yang menangis.

"Dia tidak ada. Dia mengundurkan diri." Kata Hyang Mi.

"Apa maksudmu? Dia mengundurkan diri?"

"Saat aku kembali setelah makan siang, dia menyerahkan surat pengunduran dirinya. Kuhentikan dia dan bertanya apa dia tidak akan pamit kepada Jaksa Jung. Dia berkata sulit melihat wajahmu. Dia menulis surat, lalu pergi."


Jae Chan langsung ke mejanya untuk membaca surat Pak Choi.

"Kepada Jaksa Jung. Aku tidak memanipulasi apa pun. Pengacara Lee akan mengatakan hal yang sama. Kami berdua jelas akan menyangkal manipulasi. Pernyataan kami tidak berarti apa-apa. Jadi, jangan pikirkan aku atau yang lain. Selidiki ulang kasus ini dengan adil. Aku akan membuktikan diriku tidak bersalah. Terima kasih untuk segalanya. "Dari Choi Dam Dong"."


Jae Chan menghubungi Pak Choi tapi tidak dijawab.


Pak Choi saat ini sedang makan bersama Yoo Beom. Yoo Beom tahu yang menelfon pasti Jae Chan. Pak Choi menjelaskan, Jae Chan menghubunginya untuk penyelidikan.

"Dia menanyaimu terkait kasus cairan infus?" Tanya Yooo Beom.

"Aku dicurigai."

"Kau akan kesulitan bekerja sendiri saat kasus ini makin serius. Firma hukumku akan membantumu."

"Itu menenangkan."

Sementara itu, Jae Chan melarang Hyang Mi memberitahu pada yang lain perihal Pak Choi yang menguncurkan diri. Karena Pak Choi belum menjawab telfonnya, Hyang Mi akan ke rumah Pak Choi. Jae Chan setuju dan mneyueuhnya segera menghubungi jikabertemu Pak Choi, jangan biarkan Pak Choi pergi.


Yoo Beom meminta Pak Choi menghubunginya. Lalu pergi. Pesan Jae Chan masuk ke ponsel Pak Choi, meminta Pak Choi menghubunginya tapi Pak Choi hanya membacanya saja.


Yoo Beom menuang kopi ke dalam dua cangkir. Lalu Hong Joo menelfon, Yoo Beom mengatakan kalau ia ada di ruangannya.

"Aku sudah memberi tahu resepsionis soal kunjunganmu. Naik saja."

Selanjutnya, Yoo Beom memasukkan pil ke dalam salah satu cangkir.


Hong Joo akhirnya sampai juga. Saat itu Yoo Beom sedang menatap layar komputernya, berkata kalau ia sedang mengerjakan penyelidikan kasus cairan infus soalnya ia sulit mengingat kasus tahun lalu. Jadi, ia mencoba menulis berkas dan berharap bisa mengingatnya.

"Silakan duduk, dan tunggu sebentar."

"Baik. Kau akan memberikan data itu kepadaku?"

"Tentu saja. Aku membuatnya untukmu."

Hong Joo sambil ngobrol sambil minum kopi yang Yoo Beom sediakan, kopi yang sudah dicampur pil itu.


Hong Joo bertanya, apa Yoo Beom akan membagikannya ke tempat lain juga?

"Tidak, Kau yang pertama mendapatkannya. Aku belum menghubungi yang lain."

"Hanya karena Kau memberiku informasi eksklusif, aku tidak bisa berjanji akan baik."

"Tentu saja."

Tiba-tiba  ada petir dan hujan turun. Lalu payung hijau yang ada di bawah meja Yoo Beom disorot.


Sementara itu, Ju Won sampai di lobi, ia menggunakan payung merah. Petugas keamanan mengatakan padanya kalau hari ini ada pemeriksaan listrik. Semua listrik akan segera dimatikan.

"Aku punya janji dengan Pengacara Lee. Sebentar saja. Kami akan mengobrol sebentar." Jawab Ju Won.


Jae Chan bermimpi saat ketiduran di ruangannya dan ia berteriak. Tidak!


Jae Chan bermimpi soal Hong Joo.

Ju Won: Setelah kuberikan ini, Kau tidak akan bisa bernapas. Lalu dalam lima menit, Kau akan mati seperti tertidur.

Hong Joo: Jae Chan. Kau mendengarku? Tolong.


Jae Chan melihat ke jendela, hujan deras di sertai petir. Ia kemudian keluar dan sambil menunggu taksi ia menelfon Hong Joo tadpi tidak dijawab.

"Hong Joo-ya. Jawab teleponmu. Kumohon."


Saat ini Hong Joo sudah ingsan, Yoo Beom dan Ju Won memandanginya.

"Orang ketiga yang mengetahuinya selain kita adalah dia?" Tanya Ju Won.

"Ya."

Ju Won mendekat, melihat dengan seksama wajah Hong Joo.


Jae Chan berlari mencari taksi dan setelah ada di dalam taksi ia menghubungi Woo Tak, ia mengatakan kalau Hong Joo diculik.

"Mimpi itu. Hujan dan payung hijau." Lanjut Jae Chan.

"Kapan?"

"Pukul 22.30, 15 menit kemudian."

"Di mana tempatnya? Kau bilang pegunungan, bukan?"

"Bukan pegunungan. Di atap Firma Hukum Hae Kwang."


Yoo Beom membawa Hong Joo ke atap lalu membaringkannya disana. Sementara itu, Ju Won membantunya membawakan payung hijau itu.


Bersambung... Tak terasa minggu depan udah tamat..

3 komentar

Bnran tamat bak??? Haduuuuh,, msih kurang bnget....

Wah ntr jgn2 Woo Tak keliru malah ngejar org yg bawa payung merah (ingat pas Woo Tak keliru ngembaliin powerbank nya Hong Joo). Kan warnany sama dg payung : merah & hijau

Keren bangett,, minta dipanjangin episodenya

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon