Thursday, November 9, 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 25

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 25

Sumber Gambar: SBS


Narasi Hong Joo: Momen itu terasa bagaikan hadiah. Aku berterima kasih atas semua pilihan yang kubuat karena pilihan-pilihan itu membawa momen ini kepadaku. Pilihan yang terlihat bodoh pada waktu-waktu tertentu sebenarnya adalah keputusan yang bijaksana. Bahkan semua pilihan yang kusesali pada akhirnya terbukti benar. Segalanya membuat jantungku berdebar dan terlihat begitu manis.


"Aku bersyukur.. atas segalanya. Tapi ada satu hal."


Hong Joo bertanya pada Jae Chan, akankah Ahjusshi polisi yang mereka temui di danau itu baik-baik saja? Terkadang, Hong Joo memikirkan dia, juga mencemaskannya.

"Tenang saja. Dia baik-baik saja." Jawab Jae Chan.

"Sungguh? Bagaimana kau bisa tahu? Dia tinggal di mana?"

Jae Chan ingat kalau Ahjusshi itu selalu mengiriminya uang, tapi ia kemudian menjawab, "Aku tidak tahu di mana tempat tinggalnya ataupun siapa namanya, tapi aku tahu dia masih hidup. Jadi, kau tidak perlu khawatir."

"Aku lega. Hanya itu yang perlu kuketahui. Selama dia masih hidup."


Kilas Balik..

Ahjusshi itu bangun di rumah sakit karena suara temannya yang sedang membaca buku.

Meski hidup menipumu, jangan sedih atau marah.
Hatimu hidup di masa depan.
Saat ini selalu sedih.
Semua hanya sementara dan akan berlalu.
Dan yang berlalu akan menjadi berharga di masa depan.


Ahjussi itu sudah duduk saat temannya menoleh ke arahnya. Ahjussi itu berkata kalau ia lapar. Temannya sangat senang dan akan segera mengambilkan makanan. Temannya sudah melangkah beberapa langkah tapi berbalik lagi,

"Hei, kau tidak berpikir untuk melakukan hal gila, bukan?"

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku juga tidak akan melakukan hal gila. Hidupku.. tidak boleh berakhir sekarang. Ada seseorang.. yang harus kutemui nanti."


Hong Joo bertanya pada Jae Chan, "Akankah kita saling mengenal jika bertemu lagi? Maksudku, kita juga tidak saling mengenal waktu itu. Apa sama halnya dengannya?"

"Tentu. Kami mungkin saja bertemu kembali, tapi tidak saling mengenal."


Jae Chan menghentikan langkahnya, kenapa? Hong Joo ingin bertemu dia?

"Ya. kau?" Tanya Hong Joo juga.

"Aku juga. Tapi apa menurutmu dia juga ingin bertemu kita?"

"Entahlah."

Lalu mereka kembali jalan lagi.


Narasi Jae Chan: Saat kita bertemu dengannya lagi, dia bilang, dia makin memikirkan dan merindukan kita dan dia makin ingin bertemu dengan kita lagi.

Ahjusshi itu sedang menulis sesuatu.


Seorang Ahjusshi lainnya mencuri ponsel meja restoran yang ditinggalkan pelanggannya mengambil makanan. Bukan hanya satu, ia mengambil 3 sekaligus.

Narasi Jae Chan: Saat dia datang menemui kita setelah melalui misteri kehidupan, kita tidak bisa mengenali dia untuk waktu yang cukup lama.


Dae Gu menangisi abu ayahnya setelah dikremasi. Lalu Seung Eon datang menghampirinya.

Narasi Jae Chan: Dan bagaikan ombak kecil, insiden kecil yang bertebaran mulai berdatangan satu demi satu dan menghampiri kita.


Narasi Jae Chan: Menyatu menjadi ombak besar, mereka mulai.. memandu kita untuk menemui dia.


==EPISODE 25==
Kami dalam Perjalanan untuk Menemuimu Sekarang



Seung Won masih menemani Dae Gu, tapi Dae Gu tidak akana mengadakan pemakaman karena tidak mungkin ada orang yang akan datang. Dae Gu membahas jas Seung Won yang kebesaran, ia berkata kalau Seung Won terlihat mengerikan.

"Aku tidak punya pakaian hitam, jadi, aku memakai jas kakakku. Lengannya sungguh panjang."

"Ya, benar-benar panjang."

"kau pernah bertemu dengan kakakku?"

"Aku pernah datang ke salah satu persidangannya."

"Sungguh?"

"Ya. Dia membandingkan keadilan dengan sungai dan benar-benar mengalahkan pengacara lawan. Sangat menarik. Aku juga merasa berterima kasih."

"Berterima kasih? Atas apa?"

"Pengacara lawan itu.. adalah orang yang melakukan ini kepada ayahku."

"Siapa?"

"Jaksa Lee Yoo Beom. Bukan. Kini dia seorang pengacara."


Yoo Beom melihat Hyang Mi dan Pak Choi memasukkan buku tabungan mereka ke dalam mesin untuk dicetak. Tapi karena mereka tidak percaya dengan cetakannya mereka memasukkannya lagi.


Yoo Beom tersenyum lalu menghampiri mereka, berkata kalau uang mereka  tidak akan bertambah jika memasukkannya lagi.

Hyang Mi: Kenapa rekening tabunganku seperti ini padahal sudah gajian?

Pak Choi: Itu karena rasanya lama sekali menunggu hari gajian berikutnya, tapi uangmu sudah lenyap dalam sekejap.

Hyang Mi: Benar sekali.

Yoo Beom: Kalian berdua sebaiknya bekerja di firmaku. Akan kupastikan kalian tidak akan merasa menunggu begitu lama.

Hyang Mi: Sungguh?

Yoo Beom: Katakan berapa gaji yang diharapkan, lalu kita bisa bernegosiasi. Jabatan kalian akan terjamin sampai pensiun, dan kalian boleh pulang tepat waktu setiap hari.

Hyang Mi: Aku suka itu. Aku sungguh ingin bekerja di firmamu.

Yoo Beom: Bagaimana denganmu, Pak Choi?

Namun Pak Choi menolaknya seperti yang sudah-sudah. Hyang Mi tetap tertarik untuk bergabung tapi Yoo Beom punya syarat. Hyang Mi harus membujuk Pak Choi agar mau bergabung.

Yoo Beom: Aku akan menunggumu, Pak Choi.


Hyang Mi tidak mengerti, syarat macam apa itu? Ia cuma tambahan? Barang gratis? Memangnya ini beli satu gratis satu?


Pak Choi meminta Hyang Mi merahasiakan apa yang tadi Yoo Beom katakan pada Jae Chan, juga yang lain juga.

"Aku sungguh kecewa kepadamu. Memangnya aku terlihat seperti orang yang gemar bergosip? Tidakkah kau mengenalku?"


Tapi kemudian Hyang Mi mengatakannya pada Jae Chan. Jae Chan yakin Pak Choi akan menolak ajakan Yoo Beom, ia tahu betul Pak Choi memiliki rasa tanggung jawab yang kuat.

"Mungkin. Ada satu hal yang disebut jawaban yang benar. Jabatannya akan terjamin sampai pensiun, dan dia akan dapat ruangan pribadi yang menghadap selatan, bahkan kartu kredit perusahaan. Siapa pun yang masih waras akan segera mengajukan surat pengunduran diri."

"Aku tahu dia jauh lebih senang bekerja denganku daripada dengan.."

"Tidak. kau membuat kami frustrasi karena kau begitu lamban. kau cuma bisa menggali seperti marmot tanah. kau membuat dia bergadang dan membawanya ke banyak lokasi. Aku hampir menangis karena sangat kasihan kepadanya."

"Lalu aku harus bagaimana? Lagi pula, kenapa kau memberitahuku hal ini?"

"Bersikap baiklah kepadanya sebelum kau kehilangan dia. Seringlah memuji dia dan cobalah untuk memikatnya. Serta, beri dia hadiah."

"Astaga, sudahlah. Jika aku harus memaksa dia tetap di sini, aku tidak mau dia bekerja di sini. Aku pergi, ya."

"Itu tidak berhasil."


Pak Choi kesulitan mengambil berkas yang letaknya diatas, lalu Jae Chan datang dan membantunya. Pak Choi pun mengucapkan terimakasih.

"Hyang Mi-ssi sudah memberitahuku tentang semuanya. Kudengar, Yoo Beom menawarimu sebuah jabatan." Kata Jae Chan.

"Hyang Mi, tidak kusangka kau sudah memberitahunya." Tegur Pak Choi.

"Jung Geomsa, teganya kau langsung memberitahunya." Kesal Hyang Mi.

Jae Chan: Sebaiknya, kau bekerja di firmanya jika penawarannya lebih baik.

Pak Choi: Baiklah.


Jae Chan kemudian mengikatkan tali sepatu Pak Choi. Pak Choi tidak enak, jadi ia ikutan duduk.

"Aku tidak mau memaksamu untuk bekerja di sini, dan aku tidak bisa menjanjikanmu bahwa aku akan lebih baik kepadamu hanya untuk mempermanis keadaan."


Bagaimanapun semua itu keputusan Pak Choi, Jae Chan tidak akan membenci Pak Choi meski Pak Choi memutuskan untuk pergi. Jae Chan kemudianmengajak Pak Choi berfoto bersama.

Jae Chan: Tolong jangan mencemaskanku, dan jangan terpaksa bekerja di sini. Pikirkan keputusanmu baik-baik.


Hyang Mi langsung mengecek profil Jae Chan dan Jae Chan ternyata menggunakan foto tadi sebagai foto profil serta memberi catatan, "Bersama mentorku (gambar hati)".


Kapten rapat bersama yang lain, kali ini agendanya untuk menentukan cerita "Pengalaman Tiga Hari". Hal semacam memancing di laut lepas atau bekerja di kebun anggur bukanlah hal baru. Mari mencoba sesuatu yang lebih orisinal.

Hong Joo menyarankan untuk mengalami kehamilan dalam tiga hari. Bentuk yang ia kenakan sekarang benar-benar sama dengan bentuk tubuh wanita yang sedang mengandung 8 bulan. Mereka bisa memakai ini selama 3 hari dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti naik kereta untuk merasakan bagaimana rasanya mengandung. Mereka mempelajari apa yang masyarakat bisa lakukan untuk wanita hamil.

"Baiklah, simpan ide itu. Ada ide lain?" Tanya Kapten.


Seonbae mengusulkan untuk tiga hari di kejaksaan. Mereka jarang mendapatkan kesempatan untuk melihat aktivitas rutin jaksa. Hong Joo langsung tertarik.

Kapten: Itu ide bagus, tapi mustahil untuk dilakukan. Mereka tidak akan mengizinkan kita melakukan itu. Untuk alasan konfidensial dan untuk melindungi hak tersangka, mereka tidak akan mengizinkan kita. Mereka akan memberi berbagai alasan.

Seonbae: Justru sebaliknya. Jaksa wilayah kantor Hangang ramah kepada media. Aku pernah bertemu dengannya saat dia minum teh bersama reporter. Aku menjelaskan tujuannya, dan dia terlihat menyetujuinya.

Kapten: Kau seharusnya mengatakan itu dari tadi. Kalau begitu, simpan ide itu juga.


Hong Joo kemudian memancing Seonbae, bukankah akan lebih bermakna bagi pria jika merasakan seperti apa rasanya mengandung? Seonbae setuju, Pria tidak tahu bagaimana rasanya mengandung, jadi, itu akan lebih bermakna.

Kapten: Baiklah. Hong Joo, kau harus menghabiskan 3 hari di kejaksaan. Du Hyun, kau harus merasakan kehamilan.

Seonbae: Tentu. Apa? Kenapa aku? Bagaimana dengan semua bawahan yang ada di sini?

Kapten: Kau sendiri yang bilang akan lebih bermakna jika pria merasakannya. Yang paling paham harus melakukannya. Artinya, kau.

Seonbae: Ah Kapten!


AKhirnya Seonbae terpaksa menggunakan bentuk itu dan Hong Joo membantunya memakai kamera di kepala. Semua orang memuji Seonbae.

Hong Joo: Sayang sekali. Anda akan dijuluki Reporter Terbaik Tahun Ini lagi. Celakalah aku. Menghabiskan 3 hari di kejaksaan akan sangat sulit. *Pura-pura

Seonbae: Hei! Kejaksaan.. Jauh lebih sulit menjadi wanita hamil!

Kapten: Astaga, lihatlah dirimu. kau sungguh memahami kesulitan yang wanita hamil hadapi daripada siapa pun. Aku akan sangat menantikan ceritamu. Beri dia tepuk tangan meriah!

Semua: Semoga berhasil! Aku mengagumi Anda!

Seonbae: Kalian semua sudah gila, ya.


Jae Chan sibuk mengetik pesan untuk Pak Choi. "Pak Choi, bisakah kau tidak menerima penawaran Yoo Beom?"

Tapi ia merasa itu terdengar aneh, jadi ia menghapusnya dan mengetik lagi.

"Jangan pergi." Tapi ia merasa itu akan terdengar kurang ajar, ia pun mengubahnya lagi.

"Kumohon jangan pergi. Jangan pergi ke.."


Seung Won keluar memanggilnya dan itu membuatnya tak sengaja menekan tombol kirim saat ia menoleh. Saat ia melihat ponselnya lagi, ia terbelalak terkejut.

Jae Chan langsung memukuli Seung Won. "Astaga! Celaka! Hyung tidak sengaja menyentuh tombol kirim gara-gara kau!"

"Apa? Apa salahku?"

"Pesan yang aku kirim ke Pak Choi terlalu lancang. Bagaimana ini?"


Kemudian ada pesan masuk dari Pak Choi yang bilang kalau ia tidak akan pergi. Jae Chan senang bukan main sampai ia joget-joget.

"Bagus, katanya dia tidak akan pergi. Dia tidak akan pergi! Dia tidak akan meninggalkan kakak. Aku mencintaimu, Pak Choi."

Seung Won terus menatapnya, akhirnya ia berhenti dan tanya ada apa.


Seung Won menghela nafas, tidak mengerti kenapa Dae Gu bisa mempercayakan ini pada Jae Chan. Jae Chan tidak mengerti ini apa? Lalu Seung Won memberikan surat pada Jae Chan.

"Aku punya teman bernama Myung Dae Gu. Dia meminta Hyung untuk melihatnya."

"Myung Dae Gu? Ini seperti permintaan terakhir seseorang."

"Ya. Hyung tahu pembunuh berantai yang bunuh diri di penjara, bukan? Itu keinginannya."

"Kenapa ini ada padamu?"

"Dia ayah Dae Gu. Dia mau Kakak membacanya."

"Aku? Kenapa?"

"Menurutnya, kematian ayahnya sungguh tidak adil. Dia berharap Hyung bisa membersihkan namanya."

"Hei, siapa yang berpikir masuk penjara itu adil? Semua orang merasa itu tidak adil."

"Pokoknya, Hyung harus membacanya. Aku sudah membacanya, dan tampaknya itu tidak adil. Serta, ada hal lain yang memberiku firasat buruk. Yoo Beom adalah jaksa yang mengurus kasus itu."


Jae Chan lalu masuk kamar dan membaca surat itu dengan teliti.

Penjelasan Seung Won: Kasus ini bahkan membuatnya mendapat anugerah dari Jaksa Penuntut Umum.

Isi surat Ayah Dae Gu: "Tugasku menolong orang-orang, tapi aku menjadi pembunuh mereka. Mustahil bagiku untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah. 16 Juni 2016, Salam, Myung Yi Suk".


Jae Chan ingat saat Yoo Beom datang ke ruangannya saat ia pertama kali menjadi jaksa disana,

"Karena mengerjakan skandal korupsi dan kasus pembunuhan berantai itu, aku mendapatkan penghargaan dari Jaksa Penuntut Umum. Aku hanya meletakkan sendok di atas meja yang telah dirapikan Pak Choi, tapi aku malah mendapat penghargaan."


Kembali ke Ahjussi yang mencuri ponsel tadi. Ternyata polisi mengintainya, tapi menunggu saat ia bertemu penadah ponsel-ponsel itu baru meringkusnya.


Ahjusshi lalu meletakkan ponse itu di kasurnya. Kemudian ia mengeluarkan kotak yang berisi banyak ponsel. Ahjussi mematikan satu per satu ponsel yang tadi dicurinya baru kemudian meletakkannya di ddalam kotak.


Saat akan mematikan ponsel kedua, Ahjusshi membaca pesan,

"Tolong kembalikan ponselku. Aku akan membayarmu"
"Aku akan memberimu 5.000 dolar. Aku tidak akan lapor polisi"
"Aku akan memberimu 10.000 dolar. Besok pukul 1 di Underpass Chungil".

Ahjussi tertarik, 10.000 dolar? Ponsel apa ini? Kenapa orang ini mau membayar sebanyak itu?


Ahjusshi melihat pola di layar dibawah lampu, ia lalu mengikuti bekas jari disana dan berhasil membuka polanya.


Seseorang bermimpi ada Jae Chan dan Hong Joo yang menemukan mayat. Lalu terjadi kebakaran dan keduanya terjebak di ruangan itu. Bukan kebakaran biasa, ada yang sengaja menuang bensin untuk membakar mereka.


Orang itu bukan Hong Joo, Jae Chan ataupun Woo Tak.


Pagi ini, Jae Chan dan Woo Tak kembali sarapan di rumah Hong Joo, mereka berdua sama-sama mengupas apel. Hong Joo bertanya, jadi menurut Jae Chan  Ahjusshi kepolisian itu juga bermimpi tentang mereka berdua?

Jae Chan: Ya. Aku dan Woo Tak membicarakan soal bagaimana permulaan mimpi kita.

Woo Tak: Berdasarkan peraturan itu, dia pasti juga bermimpi tentang kita.

Ibu: Peraturan? Peraturan apa?

Woo Tak: Orang yang menolong kita dalam situasi hidup atau mati. Kurasa kita akan bermimpi tentang orang itu. Aku sering bermimpi tentang Jae Chan, sementara dia biasanya melihat Hong Joo di mimpinya.

Hong Joo: Mungkinkah itu benar?


Jae Chan juga bereaksi sama seperti Hong Joo saat pertama mendengar teoronya, menurutnya juga tidak masuk akal, karena Hong Joo tidak tahu bahwa kau Kastanye. Tapi kini itu masuk akal karena Hong Joo Kastanye. Hong Joo menyelamatkanku 13 tahun lalu di danau, dan ia menyelamatkan Woo Tak dengan mencegah kecelakaan mobil.

Ibu: Ya, aku mengerti. Itu sungguh masuk akal.

Hong Joo: Tapi kenapa kita mengalami mimpi-mimpi itu?


Woo Tak menjelaskan, "Beginilah perasaanku saat selamat dari maut. Aku berpikir, "Aku bisa saja mati. Aku ingin bisa membalas budi kepadanya". Pikiran itu pasti yang memulai mimpi-mimpi itu."

Woo Tak lalu meletakkan apel hasil kupasannya di depan Hong Joo. Ia melanjutkan, "Mimpi-mimpi yang menunjukkan masa depan orang yang menolong kita."


Jae Chan juga selesai mengupas ape, ia meletakkannya di depan Hong Joo juga, tapi hasil kupasannya ancur tidak seperti milik Woo Tak. Jae Chan bertanya, "Bagaimana menurutmu? Teori yang masuk akal, bukan?"


Hong Joo berpikir sambil memutar-mutar garpunya, lalu bilang kalau semau teori itu masuk akal.


Berarti yang mimpiin Jae Chan dan Hong Joo tadi adalah AHjusshi polisi itu. Dan sekarang ia menulis mimpinya di buku catatannnya.

"Mayat di atas matras"
"Nam Hong Joo mati!"


Hong Joo: Kita menyelamatkan polisi itu di danau, jadi, berdasarkan peraturan itu, dia pasti bisa melihat masa depan kita di mimpinya.

Jae Chan: Benar.

Woo Tak: Berarti, dia pasti tahu bagaimana paras kalian. Aku yakin dia juga tahu di mana tempat tinggal kalian.

Jae Chan: Ya... Mungkin.


Tapi menurut Hong Joo itu tidak mungkin, ia rasa itu sungguh tidak masuk akal. Andai hipotesis Woo Tak benar, Ahjusshi pasti sudah menemui mereka.

Ibu: kau pikir dia mau menemuimu? Dia tidak akan menemui kalian dengan cara yang baik. Bertemu kembali hanya akan membangkitkan kenangan pilu.

Hong Joo: Begitukah?


Hong Joo akan memilih apel yang mau ia makan. Jae Chan serius memperhatikan dan saat Hong Joo memilih apelnya, Jae Chan bersorak gembira dalam hati. Hong Joo heran, kenapa dengan Jae Chan itu.

"Hmm? Bukan apa-apa. Jangan hiraukan aku."


Hong Joo kemudian mengatakan kalau ia akan ke Divisi Tiga Tindak Pidana mulai hari ini untuk artikel, selama tiga hari ke depan. Jae Chan terkejut, maksudnya kantornya? Kenapa? Selama tiga hari?

Woo Tak: Oh.. Pasti itu untuk "Pengalaman Tiga Hari". Itu segmen yang menarik.

Ibu: Berarti kau bisa melihat Jung Geomsa di tempat kerjanya?

Jae Chan langsung teringat bagaimana ia selalu dimaraho Kepala Park juga saat ia narsis duku, serta kelemahan-kelemahannya selama ini.


Jae Chan ngeri membayangkan kalau Hong Joo nanti melihat semua itu.

Hong Joo: Aku mungkin akan terus membuntutimu selama tiga hari ke depan.

Jae Chan: Aku?

Hong Joo: Jaksa wilayah memilih jaksa paling kompeten dan tampan di divisi untuk dijadikan orang yang diwawancarai.

Woo Tak: Jaksa yang paling kompeten dan tampan? Sepertinya itu kau.

Jae Chan: hahaha (ketawa garing).. Begitukah?


Namun ternyata Kepala Park memilih Hee Min untuk dijadikan orang yang diwawancarai.

"Senang bertemu denganmu. Aku Jaksa Shin Hee Min. Kita pernah bertemu, bukan?"

"Aku Nam Hong Joo dari SBC. Terima kasih atas bantuanmu."

Kepala Park: Baiklah, Shin Pro. Tolong bantu Reporter Nam agar dia bisa memberi tahu pemirsa segalanya tentang kejaksaan.

Hee Min: Tentu. Tenang saja. (mengibaskan rambut) Silakan ikut aku.


Hong Joo melirik Jae Chan sebelum keluar.


Jaksa Lee memprotes Kepala Park, Jae Chan dan Hong Joo kan akrab, kenapa malah memilih Hee Min? Jaksa Son setuju, ia rasa Kepala Park tidak sungguh-sungguh saat bilang Anda menyukai Jae Chan.

Jaksa Son: Jung Pro, itu pasti menyakiti perasaanmu.

Jae Chan: Tidak, aku baik-baik saja. *Tapi dengan wajah cemberut.

Kepala Park: Astaga, kalian sungguh tidak mengerti. Aku tidak memilih dia karena menyayangi dia. Mereka saling mengagumi saat ini. Jika dia mengamati Jung Pro selama tiga hari, dia akan kecewa dan fantasinya akan rusak.

Jaksa Lee: Kenapa fantasinya akan rusak? Memangnya Jung Pro kenapa?

Kepala Park: Siapa yang punya kasus tidak selesai terbanyak di divisi kita?

Jaksa Lee: Jung Pro.

Kepala Park: Laporan kasus siapa yang paling sering salah ketik?

Jaksa Lee: Jung Pro.

Kepala Park: Siapa yang menghabiskan satu bulan dalam kasus pencurian sepele, saat para jaksa lain bisa menyelesaikannya dalam sepekan?

Jaksa Lee: Jung Pro juga.

Jae Chan menunduk malu.

Kepala Park: Kalau begitu, katakan. Akankah fantasinya tentang dia akan hancur?

Jaksa Lee: Ya, fantasinya akan hancur.

Kepaka Park: Kau senang dengan tindakanku atau tidak?

Jae Chan: Terima kasih.


Jaksa Son menyemangati Jae Chan, "Jung Pro. Ayo kita bekerja lebih giat lagi, ya?"

"Baiklah."

Tapi Jae Chan tetap kesal pada kepala Park. Kepala Park malah ketawa puas.


Hee Min menunjukkan pesonanya saat direkam Hong Joo, ia bersikap anggun. Asistennya pun tak mau kalah.


Hong Joo juga ikut saat Hee Min menginterogasi tersangka.

Hee Min: Anda menjual bubuk akar bunga balon kepada pasien kanker dan mengatakan bahwa itu obat ajaib, bukan?

Tersangka: Apa? Akar... akar bunga balon? Aku tidak begitu paham bahasa Korea. Ada yang bisa bicara bahasa Inggris di sini? Aku orang yang sangat baik. Aku orang baik.

Hee Min: (Bicara bahasa inggris) Beraninya Anda menganggap diri Anda orang baik? Padahal Anda mengambil keuntungan dari orang lain. Aku tahu bahasa Korea Anda lebih baik daripada bahasa Inggris, jadi, berhentilah mencoba dan bicaralah dalam bahasa Korea.


tersangka: Begini, Jaksa. Dengar, aku sungguh menjualnya dengan niat baik, hanya dengan niat baik.

Hee Min: Itu tidak bisa membenarkan pelanggaran hukum. Sejujurnya, aku tidak tahu itu dianggap tindakan kriminal.  Andai aku tahu, aku akan menerima hukumannya dengan senang hati.

Hee Min: Tidak ada yang menerima hukuman dengan senang hati. Ini bukan semacam permen. Hukuman itu pahit, jadi, terima saja.

Hong Joo: Dia keren sekali.


Jaksa Lee dan Jae Chan ternyata melihat interogasi itu dari ruang sebelah.

Jaksa Lee: Untung saja Nona Shin wanita. Dia akan mengaguminya andai dia pria.

Jae Chan: Benar sekali.

Jaksa Lee: Hei, semangat. Aku akan meminjamkan si Merah kapan pun kau membutuhkannya.

Jae Chan: Sungguh?

Jaksa Lee: Ya.

Jae Chan langsung memeluk Jaksa Lee untuk mengucapkan terimakasih, hanya Jaksa Lee yang terbaik.

"Kalau begitu, bisa gantikan tugas malamku sebagai rasa terima kasih?"

"Tentu, Anda ada rencana malam ini?"

"Ya."

"Dengan siapa?"

"kau pasti tahu. Sampai jumpa."


Jaksa Lee keluar, ia mengirim pesan pada seseorang, "Aku bisa mengajakmu berkencan hari ini!"


Jae Chan kembali ke ruangannya bertepatan saat Pak Choi dan Hyang Mi sedang makan, mereka menyuruh Jae Chan bergabung juga.

Jae Chan: Aku ingin berterima kasih kepada kalian.

Pak Choi: Apa?

Hyang Mi: Atas apa?

Jae Chan: Karena tetap di sisiku meski aku banyak kekurangan.

Hyang Mi: Dia ini bicara apa?

Jae Chan: Pak Choi.

Pak Choi: Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan selalu berada di sisimu. Aku akan di sini sampai pensiun, jadi, jangan dibahas lagi. Aku hanya bisa tertawa setiap kali kau seperti ini.


Jae Chan tidak ingin membahas itu ternyata, ia menanyakan mengenai kasus pembunuhan Ayah Dae Gyu, Myung Yi Suk. Hyang Mi ternyata juga tahu kasus itu.
Hyang Mi: Dia pembunuh berantai terkenal yang membunuh orang lewat infus. Baru-baru ini, dia bunuh diri.

Jae Chan: Kudengar, Yoo Beom Hyung yang menangani kasus itu di kantor Yeonju. Anda mengerjakan kasus itu dengan dia, Pak Choi?

Pak Choi: Ya. Kenapa?

Jae Chan: Aku telah membaca surat wasiat dan surat permintaan bandingnya. Ada beberapa hal yang kukhawatirkan.

Pak Choi: Semua soal kasus itu sangat jelas. Penjahat selalu membuat kisah yang masuk akal dan sejumlah alasan. Kau mengasihani mereka dan merasa mereka diperlakukan buruk, tapi kau akan celaka jika tertipu.

Jae Chan: Benar. *Tapi ia masih penasaran.


Ahjusshi pencuri menunggu orang yang akan membayarnya 10,000 dolar itu, si penadah. Ia kesal karena enadah itu gak muncul-muncul. Tapi akhirnya penadah itu muncul juga, mereka pun melakukan transaksi.

"Omong-omong, ada apa di dalam ponsel itu? Kenapa kau mau memberi 10.000 dolar demi ponsel ini?"


Si penadah hanya tersenyum. Lalu kemudian polisi datang menggerebek. Mereka kabur secepat mungkin.


Woo Tak ingin bertanya pada Kyung Han soal lampu protofon itu, tapi kemudian mereka melihat Detektif Ko mengejar Penadah, mereka pun bergabung.


Kyung Han bertanya pada Detektif Ko yang berhenti karena kelelahan, Apa yang terjadi?

"Pria berkaos abu-abu itu." Kata Detektif Ko.


Woo Tak memandang ke depan mencar pria berkaos abu-bau. Tapi ia bingung yang mana soalnya pandangannya cuma hitam putih, OMG Woo Tak buta warna., jadi ini rahasia Woo Tak selama ini?


"Hei, Woo Tak-ah. Dia memakai celana kotak-kotak." Kata Kyung Han.

Woo Tak menemukannya dan menyuruh Kyung Han berlari.


Woo Tak berhasil memblokir jalan pria itu. Pria itu akan kembali tapi Kyung Han ada di belakagnya.

Woo Tak: Aku Letnan Han Woo Tak dari Polsek Sangku. Tolong berhenti.

Pria itu panik, jadi ia membuang ponsel yang dibawanya ke dalam sungai.


Pria itu kemudian akan kabur, tapi Woo Tak berhasil membantingnya, kemudian Kyung Han memborgolnya.

Woo Tak terdiam.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon