Saturday, December 9, 2017

Sinopsis Wise Prison Life Episode 1 Part 3

Ditulis oleh: Diana Recap
Support Admin dengan kunjungi "www.diana-recap.com"

Sinopsis Wise Prison Life Episode 1 Part 3

Sumber Gambar: tvN


Ggalbegi membuka toilet dan ia mencium bau tak sedap, lalu ia memanggil Pak Tua untuk membersihkannya lagi dan Pak Tua langsung bangun untuk membersihkannya.


Saat itu Je Hyeok kembali, Profesor Myung bertanya, bagaimana kunjungannya, apa tadi pacar Je Hyeok? Ggalbegi tak menynagka Je Hyeok memiliki pacar, benar-benar kabar besar.

"Ex (mantan)." Jawab Je Hyeok singkat.

"Hah?" Tanya Ggalbegi.

Profesor Myung lalu menjelaskan kalau Je Hyeok tidak memiliki pacar.


Tiba-tiba Ggalbegi ingin kencing, padahal disana ada Pak Tua yang sedang membersihkan tapi Ggalbegi tetap kencing. Je Hyeok melarang tapi ggalbegi tidak peduli.


Usai kencing, Ggalbegi memperingati, Je Hyeok jangan ikut campur. Je Hyeok beralasan kalau Pak Tua itu jauh lebih tua, apa seperti tadi itu tidak berlebihan?

"Sialan! Di penjara mana ada orang tua dan anak kecil. Disini semuanya sama para pencuri, mengerti?"


Beobja datang. Ggalbegi berhenti sebentar, sementara Profesor Myung tiduran sambil beralaskan buku.


Ggalbegi melanjutkan, ia menasehati agar Je Hyeok tidak tertarik dengan urusan orang lain lagi. Je Hyok menyuruh Ggalbegi meminta maaf.

"Apa?"

"Kubilang minta maaf."

"Tidak mau. Kubilang tidak mau, sialan."

Ggalbegi menjauh, tapi ia kesal juga dan akan memukul Je Hyeok, tapi Pak tua mendahuluinya mencengkeram kerah Je Hyeok.

"Berhentilah, sialan! Tutup mulutmu, sialan! Tidak usah ikut campur urusanku, mengerti?!"

Ggalbegi ketawa puas. Je Hyeok speachless.


Suji datang mengantarkan kiriman. Je Hyeok kembali terkejut karena barang-barang itu adalah barang yang biasanya ada di minimarket. Suji tahu kalau kali ini giliran Profesor Myung, jadi ia menyuruhnya tandatangan.


Suji kelupaan satu hal, yaitu apel, ia bertanya, kenapa Profesor Myung memesan apel? Kan orang-orang disana tidak makan apel karena rasanya tidak enak? Profesor Myung diam saja.

Su Ji lalu menyapa Je Hyeok dan memintanya memesan padanya jika membutuhkan sesuatu karena disana bisa memesan segala hal yang ada di supermarket. Profesor Myung menyela, menyuruh Suji pergi.


Setelah sel ditutup kembali, Ggalbegi memanggil Pak Tua, Susu 1 dan Juice 1 sudah cukup kan?

"Terima kasih sekali, terima kasih."


Je Hyeok melongo, masih belum mengerti. Lalu Profesor Myung melemparkan apel padanya. Ia menangkapnya dengan mulus.

"Hanya bercanda. Bercanda." Kata Profesor Myung.


Saat mengantri mandi, Bebja menjelaskan pada Je Hyeok bahwa Pak Tua itu tidak memiliki uang sedangkan mereka bergiliran membayar barang yang dipesan. Pak Tua tidak memiliki uang, jadi dia bekerja sebagai gantinya.

Beobja: Begitulah cara dia bertahan hidup di sini. Kenapa Kau terlibat? Kau mengacaukannya, kan? Bagaimana kunjunganmu? Ibumu pasti banyak menangis, kan?

Je Hyeok megangguk dan menoleh pada Beobja. Beobja paham maksudnya, dirinya? Noona-nya?

"Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya datang. Operasi ibuku tidak berjalan baik. Dia berada di ICU Rumah Sakit Shinchon. Dia dalam kondisi kritis. Dia membutuhkan operasi lain hari ini, tTapi dia tidak bisa operasi hari ini karena kita tidak punya uang. Apa? Oh, Aku baik-baik saja. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Ketika ayahku meninggal dalam kecelakaan mobil saat berusia tujuh tahun, aku banyak menangis. Tapi pamanku mengambil uang asuransi dan melarikan diri. Aku tinggal di gubuk dengan nenek, ibu, dan Noona. Tapi ada kebakaran, dan nenekku meninggal. Noonaku mengalami bekas luka bakar yang buruk di wajahnya dan wajanya jadi rusak. Noona-ku yang malang.


Ibuku melakukan segala macam pekerjaan di restoran. Dia menjadi korban tabrak lari dalam perjalanannya dari tempat kerja. Sopir itu mabuk dan ngebut, tapi mereka masih belum menangkapnya. Otak ibuku terluka parah saat itu dan mendapat operasi beberapa kali. Aku pikir operasi kali ini akan menjadi yang terakhir, jadi Aku berbohong dan mendapat pinjaman dari bank. Operasinya mungkin tidak akan berhasil kali ini. Aku pikir dia akan meninggal dunia."

Tiba giliran mereka mandi, Beobja mengajak Je Hyeok bergegas karena mereka jarang bisa mandi air hangat.


Je Hyeok bukannya mandi seperti yang lain, ia diam saja. Beobja mengerti, Je Hyeok tidak punya shampo kan? Lalu ia memberikan sabunnya. Je Hyeok memakainya tapi tidak mengeluarkan busa tak peduli seberapa keras ia mencoba.


Lalu ada seseorang mendekat dan memberikan shampnya, cuma sisa sedikit sih, tapi ia yakin itu cukup. Je Hyeok menerimanya dengan senang hati.

Sebelum pergi, orang itu mengingatkan kalau air hangatnya akan segera mati, jadi Je Hyeok harus bergegas.


Je Hyeok memakai sampo itu dan benar saja, airnya langsung berubah dingin disaat busa di rambutnya belum hilang.


Joon Ho dan Juniornya bersiap pulang. Tapi Joon Ho membaca verita dulu di internet, kali ini ada berita soal Je Hyeok yang mendapatkan pengunjung pertamanya.

"Bahkan hal itu masuk berita? Pasti sangat melelahkan baginya." Komentar si Junior.

"Benar. Je-hyeok ku yang malang. Rasanya pasti lelah."


Di dalam sel, semua menonton TV. Tpi tayangannya aneh. Ggalbegi bergumam, tidak bisakah mereka menayangkan Sex and Zen?


Sementara itu, Je Hyeok melamun sambil memegangi apelnya.


Di ruang ganti datang satu petugas lagi, jadi mereka bertiga minum kopi bersama. Petugas yang baru tapi berkata,

"Tapi Kau tahu, Kim Je Hyeok sangat ceroboh. Aku merasa dia akan menangis dan meminta sel pribadi. Dia agak bodoh. Aku tidak tahu Apa dia bisa bertahan di sini. Dia terlihat seperti orang idiot yang sempurna untuk di ganggu."

Joon Ho menjawab bahwa Je Hyeok memiliki temperamen buruk yang sudah diketahui semua fans-nya.


Ggalbegi memberikan snack pada Pak Tua. Pak Tua tersenyum, ia akan menikmatinya.

"Makanlah semuanya sekarang juga. Makanlah semuanya sekarang juga. Apa yang Kau tunggu? Cepat makan."

Ggalbegi lalu menoleh pada Je Hyeok yang ternyata sedari tadi memelototinya. ggalbegi menyueuh Je Hyoek berhenti memelototinya.

"Aku sangat takut. Aku terlalu takut pada superstar yang tinggal di sini." Candaan ggalbegi.


Joon Ho melanjutkan, Je Hyeok biasanya lamban dan kelihatan mudah, Tapi begitu dia meledak, bukan main, sangat menakutkan. Itulah sebabnya julukannya adalah Orang Gila Mok-dong.


Saat waktunya tidur, Je Hyeok masih main lempar tangkap apelnya. Je Hyeok tiba-tiba bangun membangunkan Ggalbegi yang tidur di sebelahnya.

"Aku bilang bangun."


Ggalbegi pun bagun dengan kesal, Je Hyeok gila ya? Je Hyeok menyuruh Ggalbegi bicara yang sopan. Ggalbegi tidak mau, memangnya kenapa?

"Aku bilang berbicaralah dengan sopan, kau *TIIIIT*!"

Je Hyeok tidak segan0segan memukulkan apelnya pada Ggalbegi.


Si Junior pulang duluan, sementara Joon Ho masih disana dan ia mendapat telfon dari orang rumahnya. Joon Ho bertanya, apa orang yang menelfon itu sudah pulang kerja?


Apel yang digunakan untuk memukul Ggalgebi sampai hancur. Ggalbegi jelas marah, ia akan balik menyerang tapi yang lain menghalanginya.


Lalu Kepala Jo datang, dan ggalbegi mengadu kalau Je Hyeok gila karena sudah memukulnya. Kepala Jo bertanya, apa Je Hyeok benar memukul Ggalbegi?

"Ya! Aku memukulnya." Jawab Je Hyeol singkat.


Ggalbegi makin marah mendengar itu, ia lalu mengusap hidungnya dan menemukan ada darah. Kepala Jo memerintah rekannya untuk membawa Ggalbegi ke rumah sakit. Sementara Je Hyeok diminta keluar oleh Kepala Jo.


Kepala Jo membawa Je Hyeok ke ruangannya, bukan ke ruang hukuman. Kepala Jo menawari rokok pada Je Hyeok, Je Hyeok menolaknya karena ia tidak merokok. Kepala Jo paham, seorang atlet memang harus menjaga tubuhnya.

Kepala Jo kemudian memberikan minuman energi. Je Hyeok menerimanya dan berterimakasih. Kepala Jo menjelaskan, orang yang bukan siapa-siapa di luar akan berjuang untuk menjadi bos di dalam sel. Tapi tetap saja, ada aturan bahkan di tempat seperti ini. Je Hyeok harus dihukum di sel hukuman


Kepala Jo kemudian memberikan minuman energi. Je Hyeok menerimanya dan berterimakasih. Kepala Jo menjelaskan, orang yang bukan siapa-siapa di luar akan berjuang untuk menjadi bos di dalam sel. Tapi tetap saja, ada aturan bahkan di tempat seperti ini. Je Hyeok harus dihukum di sel hukuman, tapi itu akan memberatkan saat sidang banding, maka ia membawa Je Hyeok ke ruangannya.

"Terima kasih. Aku berutang budi padamu. Aku akan membalasmu untuk ini."

"Ya, tentu saja harus."

Kepala Jo mencatatat nomor rekeningnya dan menyerahkan pada Je Hyeok. Ia meminta Je Hyeok menyuruh pengacaranya untuk mengirim uang ke rekening itu.

"Oh, benar. Cara ini akan lebih baik. Kau bisa menelepon saja. Hubungi keluarga atau teman dekatmu dan meminta 30 juta won. Minta mereka untuk mendepositkan ke rekening itu sekarang. Apa yang sedang Kau lakukan? Cepat. Seseorang akan masuk."


Benar saja, seseorang masuk mengabari kalau Ggalbegi mengamuk. Sebelum pergi, Kepala Jo ingin Je Hyeok melakukanya besok. 

Kepala Jo kemudian menitipkan Je Hyeok pada orang itu (Joon Ho) untuk mengantarnya ke sel dan mengijinkan Joon Ho ngobrol, karena ia tahu Joon Ho adalah fans berat Je Hyeok.  


Je Hyeok menunduk saja saat Joon Ho duduk di depannya. Baru beberapa saat kemudian Je Hyeok mendongakkan kepala.


Joon Ho lalu melepas topinya dan Je Hyeok terkejut melihatnya. Ternyata mereka saling kenal. Je Hyeok menyapa duluan, bertanya untuk apa Joon Ho ada disana.

"Hei, Superstar. Sudah lama tak jumpa."

"Diam. Apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa lagi? Aku adalah petugas sipir."


Je Hyeok kesal, kalau begitu kenapa baru menemuinya sekarang? Joon Ho pun menjelaskan penyebabnya, soal napi yang menelan gunting kuku itu yang memaksanya menunggu di rumah sakit selama dua hari terakhir.

"Bagaimana denganmu? Kau sudah membuat masalah, dalam waktu singkat?"

Je Hyeok hanya ketawa. Lalu bertanya, bagaimana lengan Joon Ho, tidak apa-apa?

"Tentu saja. Itu sudah lama sekali. Bagaimana denganmu?"

"Aku juga. Aku baik."


==Musim Gugur 2005==

Disebuah lapangan baseball ada pertandingan.

"Hanya satu yang tersisa. Lemparan Ace SMA Gwangju Jeil, adalah remaja berbakat. kankah Gwangju Jeil menang atau menjadi kekecewaan terbesar?"

Si pelempar membaca kode penangkap bola dan lawan mereka tidak berhasil memukul. Akhirnya SMA Gwangju Jeil memangkan pertandingan.


Si pelempar bola tadi memasak ramyeon dan akan memakannya. Seorang anak kecil cewek yang duduk disampingnya meminta ramyeonnya.


Lalu teman si pelempar itu memberikan ramyeonnya dengan sedikit menggoda. Temannya datang, mengatakan tidak boleh seperti itu pada anak kecil. Teman itu bertanya, imana pelatih?


Lalu pelatih datang bersama istrinya. Pelatih membawa bir sebagai hadiah kemenangan mereka. Mereka boleh minum dan besok tidak ada latihan.

Istri pelatih bertanya, mereka sudah memutuskan mau bergabung ke club apa, Doosan? LG? Bear atau Twins?

"Siapa pun yang membayar lebih." Jawab si pelempar.

"Bagus. Aku suka sikapmu."

Kemudian mereka pamit ke atas dan membawa birnya.


Istri pelatih menyuruh Pelatih untuk membiarkan mereka tetap tinggal bersama mereka walau sudah menjadi atlet profesional kelak.

"Mereka tidak bisa bolak-balik dari Gwangju ke Seoul. Astaga. Yang satu mempunyai banyak tawaran, tapi yang satu tidak memiliki satupun tawaran. Tapi dalam jangka panjang, dia akan melakukannya lebih baik."

"Seumur hidupnya?"

Pelatuh ketawa lalu menghela nafas.


Si pelempar bangun pagi ini, tapi temannya masih molor. Ia ketawa, ternyata temannya juga tidak mampu minum banyak.


Si Pelempar kemudian turun untuk mengambil minum bertepatan dengan Istri pelatih yang baru pulang belanja.

"Kau sudah bangun? Kurasa kebiasaan adalah hal yang menyeramkan."

"Aku akan kembali tidur."

"Lanjutkan."

"Kurasa dia masih manusiawi. Siapa yang mengira hari ini akan datang?"

"Dia sudah melakukannya. Dia sudah berolahraga, mandi dan tidur lagi."

Si Pelempar melongo.


Saatnya pindah. ANak-anak akan pindah ke Seoul dan pelatih menangtarnya. Istri pelatih berpesan untuk menyetir dengan hati-hati.


Teman pelempar berterimakasih pada Istri pelatih untuk kebaikannya selama ini, ia tidak akan pernah melupakannya.


Sementara si pelempar langsung memeluk Istri pelatih, berjanji akan membelikan barang paling mahal di Seoul.


Dan mereka pun pergi.


Tapi naas, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa sang pelatih, Kim Hyuk Kwon. Dan pemain baseball itu adalah Kim (Je Hyeok) dan Lee (Joon Ho), mengalami cedera parah. Mereka dibawa ke rumah sakit dan dirawat, tapi mereka masih dalam kondisi kritis.


Joon Ho mengalami cedera tangan kanan dan Je Hyeok mengalami cidera tangan kiri.

Dokter menjelaskan: Syukurlah itu masih tahap wajar. Ada kemungkinan 50% keberhasilan operasi siku. Kau sangat berotot, jadi Aku pikir Kau akan bisa pulih setelah satu tahun menjalani rehab.

okter menjelaskan: Cideramu cukup serius. Tulang bahumu muncul keluar akibat benturan dan hancur. Pundak kiri terkilir dan retak. Kita perlu melihat lagi, Tapi operasi nampaknya menjadi satu-satunya pilihan saat ini. Namun, hanya ada 10% kemungkinan keberhasilannya. Ini tidak akan menghalangi kehidupan sehari-harimu, tapi jika Kau adalah seorang pitcher, isangat buruk. Jika Kau tidak menjalani operasi, perlu waktu lebih 2-3 tahun lagi untuk merehabilitasi itu. Dan... yah...


Tapi Joon Ho bersikeras ingin pergi dan bilang tidak terus main bisbol lagi, ia akan kembali ke rumah dengan keluarganya. Ibunya datang hari ini dan membawanya pulang. Dokter menyayangkan karena Joon Ho memiliki kesempatan untuk sembuh dengan operasi.


Istri pelatih dan putrinya datang. Istri pelatih berterimakasih pada Je Hyeok karena tidak mengatakan ingin berhenti main baseball.

"Jika Kau mengatakan bahwa Kau akan berhenti juga, Ayahnya Ji Ho pasti akan menyalahkan dirinya sendiri di surga. Terima kasih."

"Ini bukan apa-apa."

"Je Hyeok-ah. Ini akan sangat sulit. Mungkin butuh waktu yang sangat lama juga."

"Tidak apa-apa. Aku tahu mungkin butuh waktu lama, tapi Anda tahu aku memang lamban. Tidak ada klub yang membinaku. Aku memang lambat, jadi aku akan memperbaiki segalanya di sana sini, dan mulai dari awal."


Je Hyeok dan Joon Ho tertawa saat ini saat membicaraan masa lalu itu. Joon Ho lalu bertanya, apa yang Je Hyeok dan Kepala Jo bicarakan tadi?

"Tidak banyak. Joon Ho-ya. Bolehkah Aku menelepon?"

Joon Ho mengijinkan, tapi Je Hyeok harus cepat, soalnya kalau Je Hyeok ketahuan, ia bisa dihukum juga. Joon Ho lalu keluar, tapi ia membiarkan pintu terbuka sedikit.


Je Hyeok mengeluarkan nomor baru pengacaranya. Ia meminta tolong pada pengacaranya.


Seseorang mengetik di komputer,

kata "pertama" memberimu perasaan. 
Seperti cinta pertama. 
Bagaimana dengan pemenjaraan pertama?


Ternyata itu adalah orang yang tidur di ruang tamu rumah Joon Ho dan sekarang Joon Ho pulang. Ia marah karena rumah berantakan sekali. Pria itu adalah asik kandung Joon Ho, namanya Lee Joon Dol.


Joon Ho menyuruh adiknya bersih-bersih. Joon Dol mengatakan kalau ia harus menyerahkannya hari ini.

"Berapa nomor sel nya Kim Je Hyeok? Dan mengapa mereka tidak memberi Hyung-ku sel pribadi?"

Joon Ho langsung mendekat dan memukul kepala Joon Dol. "Hyung-ku? Apa Je Hyeok kakakmu? Aku kakakmu."

"Apa masalahmu? Kau akhirnya bisa berguna untuk adikmu! Hyung harus berterima kasih pada Kim Je Hyeok. Temanmu adalah superstar. Kau sangat beruntung. Itu sangat keren."

"Hei. Aku juga bermain bisbol dulu, kembali ke masa lalu. Dan sejujurnya, aku sedikit lebih baik dari Je Hyeok."

"Tidak. Kau berbeda. Kau dan Je Hyeok Hyung jauh berbeda."

"Bagaimana kita berbeda? Kita sama."

"Kau seperti kristal. Kau ringan dan rapuh, tapi. Je Hyeok Hyung adalah orang yang tidak pernah menyerah. Jadi.. Berapa nomor sel nya? Aku ingin memulai dengan itu minggu ini. Hmm? Katakan padaku. Tolong beritahu Aku."

Tapi Joon Ho malah meninggalkannya.


Ddolmae bersih-bersih sambil melirik Je Hyeok yang sedang membaca buku.


Ggalbegi: Hukum melindungi dan membantu kita? Betapa lelucon yang aneh. Terserah. Betapa dunia yang buruk. Orang terkenal dan bajingan kaya tidak dihukum di dunia yang buruk ini.



Je Hyeok dimasukkan ke sel hukuman. Je Hyeok menyemangati dirinya sendiri, setidaknya itu adalah sel pribadi.


Saat waktunya makan, Ggalbegi sangat senang, makanannya terasa super manis hari ini, keadilan benar-benar menang.

"Hal ini sangat aneh. Atlet Kim menimbulkan masalah kemarin. Mengapa dia ada di sel hukuman hari ini?" tanya Profesor Myung

"Kepala Jo adalah seorang psiko. Sekarang kau harus tahu itu."


Sebelumnya.. Kepala Jo mengecek saldo rekeningnya, tapi uangnya tidak bertambah. Ia kesal makanya memasukkan Je Hyeok ke sel hukuman.


Perut Je Hyeok berbunyi, ia bergumam minta diberi makan. Dan tiba-tiba Joon Ho datang memberinya cup ramyeon.


Joon Ho bertanya, apa Je Hyeok baik-baik saja? Je Hyeok mengiyakan. Joon Ho berkata, harusnya Je Hyeok memberitahunya. Je Hyeok bertanya, bagaimana Joon Ho bisa tahu. Joon Ho menjawab Kepala Choi memberitahunya.

"Kepala Jo adalah seorang licik. Seharusnya kau memberitahuku tadi malam."

"Tidak apa-apa. Aku bisa menutupi itu sendiri."

"Terserah. Itu sebabnya Kau ada disana? Dan Kau punya uang sebanyak itu, kan? Lalu beri aku beberapa."

Je Hyeok tidak menjawabnya.


Ggalbegi berharap Je Hyeok akan lama di sel tahanan. Dan tiba-tiba Beobja menangis tersedu.


Sebelumnya.. Je Hyeok menelfon pengacaranya untuk membantu Beobja, "Ada seorang pasien bernama Kim Mal-shim di Rumah Sakit Shinchon."

Maka operasi Ibu Beobja bisa dilakukan karena Je Hyeok membiayainya.


Joon Ho meminta, cukup sampai disitu saja, Je Hyeok terlibat dengan orang-orang di sel. Karena semua orang di sana melakukan kejahatan, mereka semua adalah penjahat.

"Oke. Itu karena dia bilang dia penggemar Yang  Hyeon Jong. Aku ingin merebutnya jadi untuk penggemarku."

"Orang tua itu juga jahat. Dia sudah terkena 9 kasus. Dia masuk kesini karena pembunuhan kali ini. Dia menikam seseorang yang berjalan sebanyak 20 kali tusukan."

Je Hyeok terdiam.


Joon Ho mengulangi lagi, Pak Tua itu menikam seseorang yang masih bernafas 20 kali karena memelotinya tanpa alasan.

"Jangan percaya siapapun. Semua orang di sini adalah penjahat. Apa yang akan kita lakukan denganmu? Tidak bisakah Kau mengendalikan emosimu?"


Joon Ho pergi dan Je Hyeok merenung.

1 komentar so far

Seperti nya keren ya mbak..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon