Wednesday, January 10, 2018

Sinopsis Longing Heart Episode 1 Part 2

Ditulis oleh: Diana Recap
Support Admin dengan membaca sinopsis hanya di "www.diana-recap.com"

Sinopsis Longing Heart Episode 1 Part 2

Sumber Gambar: OCN


Shin Woo terbangun dan memuntahkan air. Samar-samar ia melihat wajah ibunya di depannya.


Ibu bertanya menggunakan bahasa formal, apa Shin Woo sudah sadar? Shin Woo menggumam, menyebut Ibu. Ibu lega, ia pikir Shin Woo sudah mati soalnya.


Shin Woo langsung bangun dan bertanya-tanya dalam hati, Apa yang terjadi? Ada apa ini? Dan Shin Woo ingat semalam ia kecebur sampai tak sadarkan diri. Ibu bertanya lagi, apa Shin Woo baik-baik saja?

"Jika Ibuku muncul dihadapanku saat ini.. itu berarti dua hal.."

Shin Woo langsung memeluk ibunya erat.

"Skenario pertama: Ini hanya mimpi."


Ibu kesal dan melepaskan pelukan Shin Woo dengan memukulinya, disini Ibu sudah menggunakan bahasa onformal. Shin Woo sadar kalau ini bukan mimpi karena ia merasakan sakit, Lalu.. apa ini skenario kedua?"

Shin Woo: Biasanya saat kau merindukan seseorang, seseorang itu akan muncul di mimpimu.


Shin Woo memandangi cara berpakaian Ibunya dan merasa kalau itu terlalu norak setelah 10 tahun mereka tak bertemu.

"Nak, aku bukan Ibumu." Jawab Ibu.

"Oh ya, sudah 10 tahun berlalu rupanya sejak Ibu meninggal, bukan?" "Baik. Sepertinya Ibu tak mengenaliku. Ya, Bu. Aku paham. Bu, aku anakmu...

"Kalau kau memang puteraku, kalau begitu kau harus kupukul! Apa yang kaulakukan? Saat semua orang pergi bekerja di pagi hari, buat apa kau berbaring di halaman seperti ini? Astaga."


Noona itu datang dan menyapa Ibu, ada apa? Ibu bersyukur Noona mampir. Shin Woo mengenali Noona itu.

"Na Hee.. Na Hee Noona? Woah, daebak! Bagaimana bisa kau semuda ini?"

Ibu bertanya pada Na Hee, memang kenal dengan Shin Woo dan Na Hee menjawab tidak, ia baru pertama kali melihat Shin Woo. Tapi kemudian Na Hee ingat kalau Shin Woo adalah guru matematika baru pindahan dari Seoul.

"Yah, aku memang guru matematika, tapi.. Dan... benar, aku datang dari Seoul."

"Benar, itu kau! Pak Kang Shin Woo! Aku melihat resumenya. Aku melihatnya dengan saksama karena dia punya nama yang sama dengan Shin Woo." Kelas Na Hee pada Ibu

"Jadi, dia guru di sekolah Shin Woo?"

"Ya. Setahuku hari ini adalah hari pertamanya mengajar."

Shin Woo: Tunggu, tidak mungkin sertifikat mengajarku kubawa hingga kemari. Ada apa? Dimana aku ini?

Ibu menjelaskan pada Na Hee kalau sejak tadi Shin Woo terus saja bicara aneh, apa benar Shin Woo seorang guru karena ia rasa dia sedang tidak waras.

Na Hee: Omo, benarkah? Apa mungkin karena dia terluka? Apa kita panggil 119 saja?


Na Hee mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi 119, tapi Shin Woo tiba-tiba menyambarnya. Shin Woo melihat tanggal di ponsel itu, 20 Agustus 2007 (Senin). Ia mencocokkannya dengan koran yang ia bawa, 30 September 2017 (Sabtu).

"Ini.. tahun 2007?" Gumamnya.


"Kedua skenario yang ada tidak benar. Ini adalah skenario ketiga yang tak masuk dalam pilihan. Dan itu adalah.. kembali ke masa lalu!"


Shin Woo nebeng mobil Na Hee ke sekolah, tapi Na Hee ini baru belajar menyetir jadi Shin Woo was-was terus.

"Kau sudah sepenuhnya sadar, Guru Kang?" Tanya Na Hee.

"Kurasa begitu, tapi.. Sepertinya aku belum bangun dari mimpiku sepenuhnya."

Shin Woo melamun melihat di luar, dimana-mana tulisan tahun 2007.


Na Hee merasa Shin Woo sepertinya terlihat seperti orang yang ia kenal. Tadi Shin Woo bilang "Noona,"  apa ia terlihat seperti Noona kandungnya?

"Dia adalah seseorang yang sudah seperti kakak kandungku sendiri."

"Tapi.. kau terlihat familiar, Guru Kang."

"Kau bahkan mengganti popokku. Aneh rasanya bila kau tak mengenaliku!" Batin Shin Woo. 

"Mungkin kita ditakdirkan?"


Shin Woo yang sedang minum sampai menumpahkan minumnya karena terkejut. Na Hee membantu mengambilkan tisu tapi ia lupa dengan setirnya, hampir saja mereka bertabrakan dengan bis, untung saja berhasil menghindar. 

"Maaf. Maafkan aku." Kata Na Hee takut.

"Astaga. Jangan cuman lihat depan saja. Lihat juga di samping dan belakang!"

"Baik."

Sampai di sekolah, Shin Woo turun dan langsung berterimakasih. Na Hee langsung terpesona.


Shin Woo menggalau karena kembali ke tahun 2007, tapi beruntung ia masih memiliki ponselnya. Sayangnya tidak ada jaringan dan saat ia berkeliling mencari, ia malah kena timbuk sebuah tas.


Itu adalah tas Shin Woo (R) yang terlambat hari ini dan harus meloncat pagar.

"Ini.. Ini.." Batin Shin Woo (D)


Shin Woo (R) minta maaf dan segera mengambilkan ponsel Shin Woo (D) yang terjatuh, tapi ia malah tidak sengaja mengunci ponsel itu dengan sidik jarinya.

"Maaf, Pak." Kata Shin Woo (R) sambil mengembalikan ponsel itu.

"Dia... benar-benar aku!"

"Saya belum pernah melihat Anda."

"Aku baru saja pindah. Aku baru pindah hari ini."

"Ah.. Jadi Anda guru baru.. Ah.. Aku biasanya yang paling awal datangnya.. Tapi-- (Uhik-Uhuk). Aku harus ke dokter untuk memeriksakan flu-ku."

"Astaga. Aku pasti remaja tukang bohong, bukan?"

"Maaf?"


Shin Woo (D) ingin membiarkannya kali ini, tapi memercayai kebohongan Shin Woo (R) sama seperti aku menampar diri sendiri. Shin Woo (R) tak pernah flu saat remaja dan Shin Woo (R) takkan menemui dokter dalam 10 tahun.

"Oh. Itu bukan aku. Ibuku."

"Hei, berandal! Aku tak pernah jual nama Ibuku! Beraninya kau jual nama Ibumu?!"


Shin Woo (D) menjewer telinga Shin Woo (R) lalu memanggil Guru piket. Tapi guru itu tidak mendengar, akhirnya ia berteriak lantang.

"Pak! Pak Mokzart! Pak!"

Guru itu langsung menoleh sambil menutui lehernya dengan kerah. Shin Woo (R) bertanya, siapa Pak Mokzart itu?

"Benar, aku lupa kalau nama panggilan "Mokzart" itu adalah ideku pas tahun depan, saat aku kelas 3."

Anak-anak yang sedang dihukum menertawakan julukan itu.


Pak Mokzart pun menghampiri mereka, pertama ia menyapa Shin Woo (D) yang merupakan guru baru.

"Salam yang baik di pertemuan pertama, bukan?" Kata Pak Mokzart.

"Maaf, Pak. Mohon bantuannya."

Pak Mokzart langsung menjewer Shin Woo (R) dan membawanya bergabung dengan yang lain. Pak Mokzart menghukum SHin Woo untuk membersihkan sekolah dan tidak usah masuk kelas.

"Tapi.." Shin Woo (R) protes.

"Sampai aku lihat ada sampah di lapangan aku akan menyuruhmu untuk membersihkannya selama seminggu!"

Lalu Pak Mokzart mennggalkan semuanya.


Shin Woo bertanya-tanya, ini benar-benar tahun 2007. apa artinya masa lalu berubah karena dirinya?

"Tidak. Dia pasti akan dipanggil seperti itu. Siapa yang peduli, bukan?"


Lalu Shin Woo melihat Ji Soo melompati pagar.

"Aku tersadar saat itu.. bahwa masa lalu bisa berubah, bahwa masa lalu harus diubah dan masa lalu akan berubah. Dan atas alasan itulah, aku kemari."


Shin Woo (D) Menawarkan bantuan untuk Ji Soo yang seharusnya dilakukan oleh Shin Woo (R).


Kejadiannya sama persis seperti 10 tahun lalu.


Rok Ji Soo juga sobek dan kali ini Shin Woo menyuruhnya membawakan jas untuk menutupi robekan itu. ji Soo melihat roknya dan ia kagum dengan Shin Woo. Shin Woo kemudian mengajak Ji Soo masuk.

"Ayo, Murid Pindahan yang telat di hari pertama sekolah. Pergilah ucapkan salam."

"Apa Anda wali kelasku?"

"Jika semua ini memang suratan takdir.. ya, mungkin saja."


Shin Woo masuk kelas dan langsung disambut oleh Geun Deok dengan kabar kalau mereka kedatangan murid baru.

"Apa dia pintar main bola?" Tanya Shin Woo.

"Dia perempuan. Sepertinya dia cantik sekali!"

"Bagaimana dengan bola basket? Apa dia hebat?"

"Sepertinya dia pandai belajar."

"Kelihatannya peringkatku akan turun satu tingkat padahal aku sudah di peringkat bawah. Terima kasih atas berita bagusnya. Oh ya. Apa kau sudah dengar siapa wali kelas baru kita? Tak mungkin si krempeng itu, 'kan?"

Min Seok: Oh, kau sudah tahu rupanya. Guru matematika baru itu akan jadi wali kelas baru kita. Wali kelas kita sedang cuti melahirkan, dan hanya kelas kita yang tak punya wali kelas.


Shin Woo kesel banget dan memutuskan untuk meninggalkan kesal, ia tidak peduli kalaupun wali kelas akan masuk kelas.


Ji Soo berjalan ke kelas bersama Shin Woo (D), Ji Soo kagum karena beneran menjadi anak wali Shin Woo.


Geun Deok terpesona melihat Ji Soo sampai-sampai ia menjatuhkan buku yang dibacanya.

"Hai, Murid Pindahan." Sapanya.

"Oh, hei." Jawab Ji Soo sambil memungut lalu mengembalikan buku Geun Deok.

"Tak apa. Buat kau saja. Aku tak butuh. Kau mau buku cetakku untuk mata pelajaran lainnya? Semuanya masih baru."


Shin Woo: Kau pikir, punya buku cetak baru adalah satu hal yang bisa kau pamer di kelas 3? Belajarlah sebelum terlambat. Ketua Kelas Kim Min Seok. Bawa Choo Geun Deok kembali ke kursinya!

Min Seok: Ya, Pak! (segera bergerak membawa Geun Deok).

Shin Woo: Dan berikan kacamata itu pada Kim Min Seok. Kau tak cocok memakainya.


Shin Woo melihat ada catokan diatas loker, ia tahu kalau itu milik Jang So Ra. So Ra segera mengambilnya dan menyembunyikannya.

Shin Woo: Apa itu? Itu milikmu, bukan, Jang So Ra? Aku akan membiarkanmu kali ini tapi aku takkan membiarkan kalian saat pemeriksaan loker nanti. Aku wali kelas baru kalian. Aku mengajar matematika, usiaku 28 tahun. Dan namaku Kang Shin Woo.

Geun Deok mengatakan kalau dikelas mereka juga ada yang namanya Kang Shin Woo.

Shin Woo: Setidaknya ada 3 nama yang sama pada tiap kelas di Seoul. Pada tahap ini, seperti yang kalian lihat, aku cukup mengenali kalian. Jadi, jangan sampai kalian membohongiku dan bolos kelas malam atau beralasan apapun untuk bolos. Anggap ini sebagai peringatan dan permintaan agar kalian dan aku tidak terlibat masalah di kemudian hari. Dan aku senang bertemu dengan kalian. Ada pertanyaan?


Geun Deok: Nama!

Shin Woo: Sudah kubilang tadi, namaku Kang Shin Woo!

Geun Deok: Bukan Pak Guru. Tapi murid pindahan di samping Bapak.

Semua: (Bersoak) Whoo!

Shin Woo: Bukankah lebih baik kalau dia langsung memperkenalkan diri?

Ji Soo: Hai, namaku Han Ji Soo asalku dari Seoul. Mari berteman semuanya karena aku yakin takdirlah yang mempertemukan kita. Senang berkenalan dengan kalian semua.


Ji Soo bertanya, dimana tempat duduknya. Shin Woo menjawab di depan Kang Shin Woo. Min Seok lalu menunjukkan tempat duduk yang dimaksud.

"Aku belum punya buku cetak." Kata Ji Soo lagi.

"Pinjam punya Kang Shin Woo saja."

"Dan juga seragam olahraga.

"Oh. Pinjam Kang Shin Woo saja."

"Baiklah."


Shin Woo puas, jika ia membantu hubungan mereka seperti ini masa depan akan berubah. Dan mereka pasti akan berhubungan dengan baik seiring dengan berubahnya masa depan.

Tapi Shin Woo masih terganggu dengan kata-kata Ji Soo, "Jika kita ditakdirkan satu sama lain aku yakin alasan dibalik itu bukanlah alasan yang baik. Kita tak perlu bertemu lagi."

Shin Woo: Lalu, Ji Soo takkan mengucapkan kata-kata seperti itu, 'kan?


Ji Soo melihat bangku kosong Shin Woo, ia bergumam, siapa  sih Kang Shin Woo itu?


Sementara itu, Shin Woo saat ini sedang keliling memunguti sampah.

"Uh, sialan! Saat melihat wajahnya, aku sudah tahu si brengsek itu. Lalu apa hubungannya kalau aku mau jual nama Ibuku atau tidak? Ibuku juga bukan Ibunya!"


Ji Soo akan keluar tapi So Ra menghalanginya dan malah memintanya untuk membuka baju.


Tapi niat So ra baik kok, ia menyuruh Ji Soo membuka baju untuk menjahitkan roknya yang robek. Ji Soo merasa tersanjung dan berterimakasih.

"Aku tipe orang yang tak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi. Semuanya harus sesuai dengan keinginanku."

Ji Soo tersenyum.


Min Seok mendekat, mengatakan kalau Ji Soo harus mengenal sekolah, mereka harus berkeliling. Kebetulan So ra juga sudah selesai menjahit dan ia menyuruh Ji Soo pergi dengan Min Seok, si ketua kelas.


Min Seok mengajak Ji Soo berkeliling sambil menjelaskan semuanya tapi ada masalah, ia harus ke toilet segera.


Kebetulan ada Shin Woo di dekat mereka, Min Seok lalu mendekatinya. Min Seok meminta Shin Woo menggantikannya mengajak Ji Soo berkeliling.

"Kau tak lihat aku lagi bersih-bersih?"

"Mengajaknya lihat-lihat sekolah juga bagian dari bersih-bersih, bukan?"

"Bukan. Kau bilang dia perempuan. Mengganggu sekali."

"Bukankah sebaiknya kalian dekat satu sama lain?"

"Apa maksudmu? Dia tak bisa main futsal dan basket. Apa untungnya bagiku dekat-dekat dengannya? Apa aku harus main lompat tali sama dia?"

"Yang benar saja!"


Min Seok pun kembali pada Ji Soo dengan kecewa. Ji Soo bilang tidak apa-apa dan menyuruh Min Seok segera ke toilet saja.

"Maaf, aku akan segera kembali!" Kata Min Seok dan Ji Soo juga segera pergi.


Shin Woo hanya bisa melihat punggung Ji Soo tanpa ketertarikan sama sekali.


Shin Woo dan Na Hee berpapasan dengan Pak Mokzart, Shin Woo menyapanya dengan hormat, tapi Pak Mokzart hanya berlalu begitu saja. 


Na Hee ketawa lepas setelah Pak Mokzart menjauh. Shin Woo heran dong kenapa begitu.

"Anak-anak pada menyebut Nama panggilan "Mokzart!""

"Jangan berisik, Bu Baek!"

"Mereka menyebutnya "Mokzart" karena lehernya pendek (mok = leher). Bukankah nama panggilan itu tepat? Oh, lucu sekali!"


Shin Woo ingat saat Na Hee memberitahukan sesuatu yang menggemparkan kalau ia sedang berkencan dengan Pak Mokzart.

Noona: Dia tampan, 'kan?

Na Hee: Ya.

Shin Woo: Tampan? Dia? Omong kosong! Apa yang kau sukai dari dirinya?

Na Hee: Dia terlihat maskulin sekali dengan bahunya yang lebar. Benar-benar idamanku. Terlebih.. leher tebalnya yang beraroma maskulin. Aku jatuh hati padanya karena hal itu!


Jadi sekarang Shin Woo mencoba membuat Na Hee tertarik kembali pada Pak Mokzart.

"Bagiku, lucu saja. Apa karena aku sering mendengar anak-anak membuat lelucon dirinya?" Kata Na Hee.

"Momen saat Na Hee Noona jatuh cinta dengan Mokzart pada pandangan pertama telah lenyap. Karena satu kata yang kuucapkan."

Shin Woo: Ya. Karena hasilnya juga akan jelek, mending akhiri sebelum dimulai. Itulah yang terbaik. Ya.

Na Hee: Ya?

Shin Woo: Kau pasti akan bertemu dengan seseorang yang lebih baik. Seseorang yang tak punya masalah dengan wanita, uang, dan keluarganya!

Na Hee: Aku tak paham maksudmu. Kau mengucapkannya dalam masa yang salah. Seharusnya kau tak pakai tata bahasa masa yang akan datang. Tapi harusnya dalam masa sekarang. Aku sudah ketemu orangnya pagi ini.


Na Hee menunjuk Shin Woo lalu pergi. Shin Woo menjelaskan kalau ia menyukai orang lain, tapi Na Hee tidak mendengar sepertinya.


Na Hee menunjuk Shin Woo lalu pergi. Shin Woo menjelaskan kalau ia menyukai orang lain, tapi Na Hee tidak mendengar sepertinya.

"Tidak! Tidak benar! Karena aku ada disini, saat itu juga hilang. Saat dimana aku yang berumur 18 tahun jatuh cinta dengan Ji Soo pada pandangan pertama! Jika berandal itu tak menyukai Ji Soo karena ini.. apa yang bakal terjadi?"


Shin Woo sampai di lapangan basket dan ia menemukan bola basket disana, ia melemparnya tapi tidak masuk ring. Ia kembali mengeluh kalau hari ini benar-benar penuh kesialan.


Bola itu menggelinding ke arah kaki seorang cewek. Shin Woo tidak bisa melihatnya dengan jelas karena silau cahaya matahari, ia hanya meminta cewek itu melemparkan bola itu kembali padanya.

Tapi cewek itu malah melemparnya ke ring dan masuk. Shin Woo kagum.


Cewek itu ternyata adalah Ji Soo.

"Aku cukup hebat main basket. Kemampuan futsalku juga tak buruk-buruk amat. Aku juga hebat berolahraga. Aku akan berteman denganmu kalau kau bisa memasukkan bolanya ke ring."

"Setelah meracuniku, berikan aku penawarnya. Baiklah, ayo. Mari berteman."

Shin Woo melemparnya dan kali ini masuk.


Shin Woo (D) melihat itu dari atap dan ia tersenyum lega.

"Syukurlah, sepertinya takdir sudah mulai bekerja."


Ji Soo mengulurkan tangan duluan untuk mengajak kenalan. Tapi Shin Woo ternyata sudah tahu nama Ji Soo.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Ji Soo.

"Berkatmu aku telat dan dihukum."

Ji Soo bingung.

Kilas Balik..


Shin Woo tetap bertemu Ji Soo saat naik bis dan tetap menghalangi cahaya matahari yang sampai ke mata Ji Soo.

"Takdir mungkin.. cukup berbelit-belit, atau tersesat.. namun takdir selalu berhasil menuju titik akhirnya."



Dan bis yang akan ditabrak Na Hee dan Shin Woo (D) pagi tadi adalah bis yang ditumpangi Shin Woo(R)-Ji Soo. Akibatnya, Ji Soo tak mengaja mencium pipi Shin Woo karena Shin Woo menunduk akibat supir bis yang mengerem mendadak.

"Namun.. belitan kecil itu.. atau jalan yang tersesat sedetik atau semenit itupun.. dapat menjadi sebuah keajaiban."


Kilas Balik Selesai..

"Atau, mengantar kita menuju masa depanyang berbeda dari sebelumnya."


Shin Woo akan mengatakan namanya, tapi Ji Soo memotongnya karena ia sudah tahu nama Shin Woo adalah kang Shin Woo.

"Namamu adalah nama tersering yang kudengar hari ini."

"Cinta pertamaku dimulai lagi, saat ini. Semoga semuanya berjalan dengan lancar untuk waktu yang sangat lama."

1 komentar so far

Sudah sering liat drama tentang timetraveler,semoga yg ini bagus.
Btw lanjutkn eonni,fighting😄✌

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon