PEMBERITAHUAN!!!!

Dalam beberapa hari kedepan, Diana Recap pindah ke alamat baru
Pastikan mengunjungi alamat diatas jika www.diana-recap.com tidak bisa dibuka lagi

Wednesday, March 28, 2018

Ditulis oleh: Diana Recap
Support Admin dengan membaca sinopsis hanya di "www.diana-recap.com"

Sinopsis Great Seducer Episode 10 Part 1

Sumber Gambar: MBC


Besoknya, Ibu Kyung Joomencampur kerangnya dengan nasi dan bumbu-bumbu lain. Bing Bing melihatnya begidik karena ia tahu apa yang ia lakukan dengan kerang itu.

Ibu memanggil-manggil Kyung Joo, memintanya untuk makan bersama, sesendok saja!

"Menyebalkan sekali. Ibuku menggodaku, ya?" Kata Kyung Joo pada Bing Bing menggunakan bahasa mandarin.

"Ibu senang mendengarmu berbahasa Mandarin. Buka mulutmu. Aaaa..."

"Ibu membenciku, ya? Aku mau bepergian besok. Ibu mau bertanggung jawab jika aku terlihat gemuk?"

Kyung Joo kesal, jadi ia kembali masuk ke kamarnya.


Ibunya minta maaf, Ibu hanya sayang jika harus membuang semuanya. Ibu lalu makan sendiri, dan Bing Bing terus melihatnya. Ibu menawari, tapi Bing Bing menggelengkan kepalanya.


Ibu Soo Ji meminta pendapat putrinya untuk memilihkan baju yang bagus. Soo Ji balik tanya, berdasarkan apaan?

"Mana yang lebih bagus ibu kenakan?"

"Ibu mau pergi?"

"Ibu ada janji sarapan siang."

"Sarapan siang? Biasanya Ibu setengah sadar di Sabtu pagi. Setelah itu, Ibu menemui dokter pada sore harinya."

"Ibu harus libur sehari."

"Pukul berapa Ibu pergi sampai sudah menyiapkan semuanya?"

"Sebelum siang."


Ibu menanyakan soal Soo Ji, apa mau bepergian juga? (karena Soo Ji mengemasi beberapa baju sekarang). Soo Ji membenarkan, mereka akan ke vila Si Hyun, jadi, jangan bertanya.

"Mana yang kamu pilih?" Tanya Ibu lagi.

"Keduanya bagus, tapi jujur saja, abu-abu tidak cocok dengan Ibu."

"Kamu selalu benar. Bersenang-senanglah."


Ibu pun keluar, tapi anehnya, Soo Ji merasa cemas.


Ayah Shi Hyun meminta Ibu Tae Hee keluar. Ayah SH dandan keren, pakai celana jeans dan kacamata hitam. Ibu TH bertanya, sedang apa disana? Tapi Ayah SH hanya menyuruh Ibu TH masuk mobil.

"Kamu sakit?" Tnaya Ibu TH.

"Masuklah."

"Kuno sekali. Kita bicara di dalam. Geum Sil akan segera kembali dari toko."

Tapi Ayah SH tetap memaksa agar Ibu TH masuk ke mobilnya.


Setelah masuk mobil, Ibu TH kembali bertanya, ngapaian Ayah SH ada disana? Tapi Ayah SH malah memasangkan sabuk pengamannya. Ayah SH mengajak Ibu TH pergi jalan-jalan.

"Apa?" Ibu TH terkejut.

"Aku mau ke tempat baru. Dahulu, aku mengemudi dan kamu memandu dengan peta. Kita tersesat dan bertengkar hebat, lalu kembali ke Seoul, ingat?"

"Mana mungkin aku melupakannya? Kamu terus mengejekku karena tidak bisa membaca peta."

"Jika kita berhasil sampai, pasti sudah ketinggalan feri pulang dan ceritanya akan berbeda."

"Salah siapa itu? Kamu lupa dahulu kamu jarang mengemudi? Aku ingin mengemudi dan kamu bilang itu tugas pria. Kamu sangat keras kepala."

"Itu bukan salahku. Aku selalu diantar oleh sopir. Hanya kamu wanita yang pernah kuantar."

"Iya.. Sungguh suatu kehormatan bagi saya. Anda terus di jalur pertama, sampai kita tidak makan atau rehat. Anda ingat itu?"

"Kamu ingat semuanya, Young Won."

"Karena aku sangat kesal."

"Kalau begitu, ayo. Sekarang, aku punya GPS dan pandai mengemudi."


Ayah SH menggenggam tangan Ibu TH, tapi Ibu TH melepaskannya, "Maaf, tapi aku tidak membawa dompet."

"Siapa yang peduli? Aku wakil presdir. Ayo."


Tae Hee tak sengaja jatuh dari kursi saat akan mengambil sesuatu di atas almari, kakinya terkilir.


Saat keluar, ia melihat Shi Hyun jalan seorang diri. Shi Hyun sedang sibuk dengan ponselnya, jadi tidak melihat Tae Hee.

Tae Hee menggerutu menggunakan bahasa jerman saat melewati Shi Hyun, "Cabul. Mesum. Kenapa aku menyukai orang seperti dia? Pasti aku sudah gila."


Shi Hyun mendongakkan kepalanya saat Tae Hee menggerutu, ia diam sebentar lalu mengikuti Tae Hee untuk memastikan bahwa itu beneran Tae Hee. Lalu ia bertanya, Tae Hee mau pergi kemana? Tae Hee membatin, bukannya Se Joo ikut liburan itu?

“Aku mau menemui Kyung Joo. Kamu?” Jawab Tae Hee ketus.

“Aku mau pulang.”

“Pak Pemilik Gedung. Aku sibuk. Kirimi aku pesan jika ada komentar soal kontrak itu.”

Tae Hee kemudian pergi.

“Itu bukan jalan ke perpustakaan.” Gumam Shi Hyun memperhatikan Tae Heed an ia tahu kalau pergelangan kaki Tae Hee terkilir karena jalan Tae Hee agak pincang.


Kyung Joo akan berangkat, tapi ibunya kesakitan, Ibu merintih meminta Kyung Joo menolongnya.

"Ibu makan apa sampai sakit begini?"

"Ibu baik-baik saja. Pergilah!"

"Mana bisa aku pergi saat Ibu kesakitan?"


Setelah ibunya dirawat, Kyung Joo menghubungi Tae Hee, "Tae Hee, aku sungguh minta maaf. Berangkatlah lebih dahulu."

"Kita batalkan saja."

"Tidak, aku sudah janji untuk menonton film dengan Se Joo."

"Baiklah. Jangan terlalu lama."


Kyung Joo kemudian menelfon Shi Hyun.

"Kamu di mana?" Tanya Kyung Joo.

"Kyung Joo? Aku dalam perjalanan menemui yang lain."

"Soal perjalanan itu... Aku ada urusan mendesak, jadi, Tae Hee sendirian. Bisakah kamu menjemputnya? Aku akan datang nanti malam."

"Eun Tae Hee nai apa?"

Shi Hyun langsung memutar balik mobilnya.


Ketua Dewan masuk ke kamar Se Joo tapi ia tidak menemukan Se Joo di dalamnya, ia hanya melihat tali merah terikat di jendela, "Apa dia tidak tahu ini hari peringatan kakek buyutnya? Dia bahkan mencuri mobil. Baiklah, berbuatlah sesuka hatimu! Tahun depan, kami akan menghormatimu di upacara peringatan ini."


Se Joo yang datang menjemput Soo Ji, tapi Soo Ji malah menanyakan Shi Hyun dimana.

"Kamu tidak senang melihatku?"

"Seharusnya kamu menjemput Kyung Joo."

"Kita pergi saja."


Ibunya Hye Jeong dan Ketua Dewan sedang Yoga bersama. Ibu Hye Jeong bertanya, apa Ketua Dewan sudah menemukan universitas yang mau menerima si bungsu itu?

"Untuk apa aku memasukkannya ke universitas? Aku akan mengirimnya ke luar negeri."

"Apa kamu tidak bisa menyuruh guru matematika SMA Joosung ke rumahku? Hye Jeong butuh guru les."

"Kamu tidak boleh berkata begitu ke seorang guru. Aku punya izin mengajar Lho. Kamu lupa?"

"Kalau begitu, izinkan aku meminjam guru matematika Jeong Won sebentar. Jeong Won sangat pintar."

"Lebih baik kamu meminjam suamiku. Jangan ganggu guru-guru les anakku."

"Kamu tidak lihat betapa putus asanya aku?"

"Nilai Hye Jeong buruk. Dia harus mencari kegiatan selain belajar."


Ibu Hye Jeong keceplosan, ia kesal karena ketua Dewan terus mengatai nilai Hye Jeong jelek, "Jangan jahat begitu, Ddal Mak!"

Padahal tadi Ibu Hye Jeong terus memanggil Ketua Dewan Eonni, tapi kali ini langsung menyebut nama saking kesalnya. Ketua Dewan tetap tenang, tapi ia melampiaskannya pada Guru Yoga Ibu Hye Jeong.

"Pak Oh? Barusan kamu mengajar yoga untuk Geun Sook, bukan?"

"Apa?"

"Jangan gugup. Aku bisa menjaga rahasiaku."


Ketua Dewan mengetes Ibu Hye Jeong lagi setelah kelas Yoga, "Ya, ini aku, Geun Sook. Oh Ddal Mak. Aku ingin mencari udara segar."

"Ya, tentu, Se Ri Eonni. Aku akan mengaturkan sesuatu. Sampai jumpa."


Ibu Hye Jeong menggerutu kalau Oh Ddal Mak sedang marah besar padanya.

Hye Jeong tak sengaja mendnegar gerutuannya itu dan bertanya, "Siapa yang marah kepada Ibu?"

"Makanlah di sana. Ibu sakit kepala."

"Ibu. Apa Ddal Mak nama orang?"

"Berhentilah makan dan segera belajar! Kamu membuat ibu mendapat banyak masalah!"

Maka Hye Jeong pun naik ke kamarnya setelah melempar pandangan super kesal pada ibunya karena sudah membentaknya.


Ibu TH dan Ayah SH dalam perjalanan dan mereka terlihat senang.


Shi Hyun ngebut untuk menjemput Tae Hee.


Sementara itu, Tae Hee ada di stasiun dan ia kesulitan karena kakinya.


Ibu Soo Ji terus menunggu telfon dari Ayah Shi Hyun, padahal sudah jam 2 siang, tapi ayah Shi Hyun belum juga menelfon.

Kemudian pelayan datang, menanyakan apa Ibu akan makan siang. Ibu bilang harus ke kantor, jadi ia akan makan disana.


Tae Hee menelfon Kyung Joo, ia berkata akan kembali ke Seoul, tapi Kyung Joo terus membujuknya.

"Kamu bisa membantuku? Aku tidak punya alasan ke sana jika kamu tidak ada."

"Apa yang akan kulakukan sendirian sampai kamu tiba di sini?"

"Sebenarnya, Si Hyun pergi menjemputmu. Kamu bisa pergi lebih dahulu dan bicara dengan mereka."

"Apa? Hei, kamu serius?"


Belum selesai menelfon, SHi Hyun sudah sampai dan langsung memanggil Tae Hee. Tae Hee pun menutup telfon. Shi Hyun memaksa untuk mengantar Tae Hee kembali ke Seoul, tapi Tae Hee tidak mau.

"Kenapa? Apa aku membuatmu tidak nyaman? Jangan khawatir! Aku hanya akan ikut sampai Kyung Joo tiba." Jelas Tae Hee.


Tae Hee jalan dengan terpincang, Shi Hyun tidak tahan melihatnya, jadi ia meminta Tae Hee naik ke punggungnya.

"Kamu bercanda? Kamu membuatku merasa bersalah. Tadi kamu menyuruhku pulang."

"Kamu yang bercanda? Kenapa kamu naik kereta kemari dengan pergelangan kaki seperti itu?!"


Shi Hyun minta maaf karena tadi meneriaki Tae Hee, ia suka Tae Hee ada disana, tapi ia tidak tahu Tae Hee akan datang.

"Aku juga tidak tahu kamu akan datang." Balas Tae Hee kesal.

"Maaf karena aku tidak cerita tentang gedung itu. Aku juga baru tahu bahwa akulah pemiliknya."

"Cepat sekali."

"Awalnya, aku ingin menceritakannya sambil makan tangsuyuk. Kenapa aku menyimpan perkakas itu di sana?"

"Kamu sangat cabul." Gerutu Tae Hee menggunakan bahasa Jerman.


Shi Hyun memintanya berhenti, ia tahu Tae Hee pernah menghinanya dalam bahasa Jerman, "Kamu pikir aku tidak tahu kamu menyebutku bodoh di pertemuan pertama kita?"

"Baguslah. Aku mau kamu tahu."

"Astaga. Omong-omong, tadi kamu bilang apa? Kedengarannya lain."

"Aku menyebutmu mesum, maniak seks, dan cabul. Begitulah kira-kira. Benar juga.. Sudah lama aku ingin mengatakan ini. Kamu tahu kondom juga punya masa kedaluwarsa? Hati-hatilah!"


Lalu Tae Hee mengajak SHi Hyun segera berangkat. Tae Hee puas setelah mengatakannya, tapi Shi Hyun malu banget.


Ibu TH main sendirian karena Ayah SH tidur di mobil.

Ibu TH: Kamu tertidur lelap. Padahal kamu yang mau pergi mencari udara segar.


Ibu TH lalu menyusul Ayah SH di dalam mobil, "Pasti hidupmu sangat sibuk sampai lupa memperbarui ini (GPS). Kamu masih memakai kolonye yang sama. Kenapa kamu tidak hidup tenang? Aku tidak menyalahkanmu, jadi, kamu tidak perlu hidup dalam pelarian.

Tiba-tiba Ayah SH membuka matanya, "Aku sedang bermimpi, bukan?"

"Ya."


Shi Hyun dan Tae Hee sampai di lokasi, Tae Hee kagum melihatnya, ia tak menyangka ternyata Shi Hyun kaya juga.


Shi Hyun membukakan pintu untuk Tae Hee, ia mengulurkan tangan dan Tae Hee menyambutnya. Shi Hyun terbengong senang.


Saat mereka masuk, ternyata sudah ada bahan makanan pesanan Shi Hyun disana. Shi Hyun mengajak Tae Hee menyiapkan makanan sebelum yang lain tiba.

"Baiklah."


Mereka bekerja sama mengatur semua makanan itu di dalam kulkas.


Tae Hee akan masak nasi, tapi Shi Hyun melarangnya, ia menyuruh Tae Hee duduk saja karena pergelangan kaki Tae Hee masih sakit.

"Aku baik-baik saja." Jawab Tae Hee, tapi ia menurut untuk diam saja.

Shi Hyun mulai mencuci beras. Tae Hee tak menyangka kalau Shi Hyun ahli juga.

"Aku pandai memasak. Mendiang ibuku suka memasak, jadi, aku sering mengamatinya. Kami juga sering memasak bersama." Jelas Shi Hyun.

"Lalu kenapa kamu tidak bisa masak mi instan?"

"Baru kali itu aku memakannya. Ibuku tidak pernah memasak mi instan di rumah."

"Astaga."

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon