PEMBERITAHUAN!!!!

Dalam beberapa hari kedepan, Diana Recap pindah ke alamat baru
Pastikan mengunjungi alamat diatas jika www.diana-recap.com tidak bisa dibuka lagi

Thursday, March 29, 2018

Ditulis oleh: Diana Recap
Support Admin dengan membaca sinopsis hanya di "www.diana-recap.com"

Sinopsis Great Seducer Episode 12 Part 1

Sumber Gambar: MBC


Shi Hyun datang diam-diam saat tae Hee berbaring dibangku, ia meminta Kyung Joo tidka bilang-bilang dan Kyung Joo menurut.

Tae Hee bicara tanpa tahu situasi, "Aku akan bersikap baik saat ingin dan terbuka saat marah. Aku Eun Tae Hee. Lebih baik aku tidak berpacaran. Menggoda? Tidak mau."


Shi Hyun menanggapinya, "Baiklah. Itu sikap yang baik."

Tapi Tae Hee menganggap ia hanya mendengar suara Shi Hyun itu di pikirannya, ia pun meminta Kyung Joo menamparnya jika ia membiarkan Shi Hyun memasuki pikirannya.

Shi Hyun: Kalau begitu, kamu mau makan dengannya besok?

Tae Hee: Tentu saja, aku akan makan dengan... Ah... Pasti aku sudah gila. Kenapa sekarang aku mendengar suaranya juga?


Semua itu terjawab saat Tae Hee membuka matanya, ia menyadari kalau ia tidak mendengar suara Shi Hyun dipikirannya tetapi memang Shi Hyun ada disana, ia pun segera bangun.

Shi Hyun mengajak Tae Hee makan di luar besok. Tae Hee setuju kalau ia ada waktu. Shi Hyun pun meninggalkan mereka.


Tae Hee marah pada Kyung Joo karena tidak bilang padanya kalau Shi Hyun datang.


Soo Ji akan mulai berlatih, tapi ia menemukan sesuatu, itu adalah surat perjanjian yang Se Joo tulis.

'Lee Se Joo akan membantu Choi Soo Ji menjadi pemain selo sukses melalui dukungan material dan moral. Choi Soo Ji akan mempekerjakan Lee Se Joo lebih dahulu saat dia membutuhkan asisten.'

Soo Ji kesal karena Se Joo mencorat-coret partiturnya. Lalu ia menyalakan kamera dan mulai bermain.


Ketua Dewan melaporkan pada Ayah Se Joo mengenai Se Joo yang ditahan di rumah selama 23 hari.

"Lima perjalanan resmi yang Ayah setujui. Untuk mengobati bibirnya yang sobek, kakinya yang terkilir, serta pemeriksaan fisik, kami mengontak RS Myoungjeong dan mengirimnya ke sana. Dia menyelinap delapan kali dan tidur di luar delapan kali. Total tidur di luar adalah 12 malam. Sekali menyelinap keluar, dia menginap dua malam. Selama 23 hari terakhir, jumlah hari dia di rumah hanyalah satu hari di mana Ayah menghukumnya."


Ayah heran, kenapa Se Joo belum mogok makan? Kenapa Se Joo bisa terlihat begitu sehat? Siapa yang mengabaikan perintahnya dan memberi makan orang bodoh itu? Siapa yang membiarkannya lepas dan berkeliaran? Siapa?

Se Joo: Kakak sulungku. Dia memberiku kartu kredit dan sebuah mobil. Bukankah begitu, saat kita bertemu di Gangnam?

Kakak Sulung: Hei. Begini... Dia masih muda. Menurutku kita harus membiarkannya berkembang.


Ketua Dewan menyarankan untuk menguliahkan Se Joo ke Amerika, ia akan mencarikan universitas untuk Se Joo belajar.

Kakak Ipar Se Joo protes, menurutnya, lebih sulit masuk universitas di Amerika. Belum lagi, Se Joo belum ikut wajib militer.


Namun diluar dugaan, Se Joo setuju tinggal di Luar Negeri. Baiklah, tapi jangan ke Amerika, "Bahasa Inggris yang aku tahu hanya "cinta" dan "seks". S-E-K-S. Itu saja. Mungkin hanya itu yang akan kulakukan di sana."

Tekanan darah Ayah Se Joo langsung naik drastis mendengarnya. Semua mencoba menenangkan Ayah, jadi Se Joo menggunakan kesempatan itu untuk kabur.


Se Joo kembali ke kamarnya, ia kesakitan banget kelihatannya. Lalu kakak iparnya yang baik itu masuk dan membawakan obat herbal. Tapi itu tidak gratis, kakak iparnya ingin tanya-tanya.

"Jadi, kamu sudah mengambil hati kakakmu? Kenapa dia memberimu kartu kredit?"

"Aku sangat penasaran dengan Kakak. Aku tidak tahu apakah Kakak kawan atau lawan."

"Dasar bodoh. Kamu tidak bisa membedakan keluarga seperti itu."

"Benar."


Bertepatan dengan akan keluarnya kakak ipar, Ketua Dewan masuk. Keduanya melempar tatapan saling benci.

Kakak Ipar: Hampir lupa. Apa mungkin suamimu punya masalah wanita? Ayah akan mengamuk jika tahu.

Ketua Dewan: Sepertinya kamu belum tahu. Itu bukan masalah besar di keluarga ini.

Kakak Ipar: Tapi berapa yang bisa dia habiskan? Suamimu bisa sangat murah hati.

Se Joo menghentikan mereka, ia mengusir keduanya. Kalau mau bertengkar di luar saja!


Se Joo kembali berbaring, ia mengajak Shi Hyun olahraga. Tapi Shi Hyun menolaknya karena ia sudah ada janji.

"Dengan Tae Hee? Kenapa kalian bertemu sekarang? Nanti malam saja." Bujuk Se Joo, tapi tidak ada tanggapan.


Se Joo lalu menelfon Soo Ji, ia bicara imut, tapi Soo ji langsung memutus telfon tanpa memberi balasan. Fix! Se Joo sendirian hari ini.


Shi Hyun menekan bel rumah Tae Hee, tapi malah Kyung Joo yang membukakan pintu.

"Tae Hee pergi bekerja. Dia tidak di sini. Pergilah ke tempat kerjanya."

"Terima kasih."

"Baik-baiklah kepadanya. Aku sudah memintamu bersikap baik kepadanya saat kalian ke sana."

"Apa?"

"Di kolam itu. Kenapa kamu membiarkan Soo Ji ke sana? Aku meminta Tae Hee ke sana supaya kalian lebih dekat."

"Soo Ji?"

"Baik-baiklah kepadanya."

Kyung Joo masuk dan menutup pintu. bersamaan dengan itu, Detektif Kim menelfon Shi Hyun.


Kyung Joo memberitahu Tae Hee kalau Shi Hyun mencarinya dan akan datang ke tempat kerja tae Hee, Kyung Joo menyuruh Tae Hee menerima Shi Hyun kembali. 

Tae Hee berkata kalau ia tidak peduli, tapi ia dandan juga.


Shi Hyun ke kantor polisi untuk menemui Detektif Kim. Detektif ingin memberitahukan soal penyelidikannya.

"Hanya ada satu kecelakaan di area Jeongeup pada hari kecelakaan ibumu. Tabrak lari. Korbannya adalah anak SMA. Itu bukan ibumu."

"Baiklah."

"Mungkin kamu keliru tentang kecelakaan ibumu, atau mungkin ada hal lain."

"Hal lain?"

"Kami tidak mungkin tahu. Keluargamu sangat kaya. Aku sempat terkejut."

"Baiklah. Terima kasih."



Shi Hyun pun pulang ke rumah, tapi ia hanya mengawasi dari luar dan ia duduk di depan pintu.

Shi Hyun meliat bayangan ibunya di sana, ia kembali menangis.


Shi Hyun akhirnya datang juga ke tempat kerja Tae Hee dan ia kali ini dengan sadar memuji Tae Hee yang terlihat cantik. Ia bahkan mengambil foto Tae hee, tentu saja diam-diam.


Saat di dalam pun, Shi Hyun terus saja melihat wajah tae Hee.

"Apa?" Tanya Tae Hee.

"Aku datang untuk membeli kopi."

"Kamu tidak minum kopi."

"Mari makan sepulang kerja."

"Aku makan sebelum pulang."

"Ayo ke taman hiburan. Itu buka di malam hari dan dekat."

"Aku takut ketinggian."

"Ayo belanja makanan. Bukankah makananmu sudah habis?"

"Aku pesan makanan daring."

"Benar, itu terdengar lebih mudah."

Shi Hyun pun menyerah.


Di panti Jompo, Nenek Forsythia malah terus menelfon saat nenek-nenek yang lain berkumpul di depan TV. 


Ternyata Nenek Forsythia menelfon Shi Hyun, tapi sudah dimatikan sebelum Shi Hyun sempat menjawab. Shi Hyun pun menelfon balik dan yang menerima adalah bapa Mateo.

"Aku merindukannya juga. Ya, kami akan sama-sama ke sana."


Tae Hee membawakan pesanan Shi Hyun ke mejanya. Shi Hyun merasa istimewa, tapi ternyata Tae Hee melakukannya karena Shi Hyun tidak mendengar getar alat pemberitahuan kalau pesanan Shi hyun sudah bisa diambil.

Shi Hyun memanggil Tae Hee saat Tae Hee akan kembali, Tae Hee pun berbalik dan menoleh pada Shi Hyun.

Shi Hyun: Jika sempat, maukah kamu mengunjungi..


Perkataan Shi Hyun itu terpotong dengan kedatangan Ki Young. Tae Hee sangat sumringah menyambut Ki Young, tidak seperti saat menyambut Shi Hyun tadi.


Tae Hee pun menemani Ki Young ngobrol. Ki Young tak menyangka Tae Hee masih bisa bekerja, bukannya tugas mahasiswa arsitektur banyak ya?

"Aku menyempatkannya. Sejauh ini masih menyenangkan."

"Oppa hanya sedih melihat Tae Hee melakukan pekerjaan kasar begini."

"Ayolah. Jangan bilang begitu."


Shi hyun menyahut dari meja sebelah, "Apa haknya mengatakan ini pekerjaan kasar?!"


Ki Young lalu menawari Tae Hee bekerja di firma hukumnya, Tae Hee bisa mengatur catatan dan berkas kasus dan bisa bekerja di akhir pekan saja.

"Dengan senang hati. Tapi aku sungguh boleh datang di akhir pekan saja?"

"Tentu saja. Kamu mau datang untuk wawancara?"

"Sungguh? Aku juga dapat uang makan di akhir pekan, bukan?"

"Tentunya kamu juga akan menjamin upah minimum. Kamu pikir aku siapa? Upah minimum?"


Shi hyun kembali menyela, "Apa dia tahu berapa upah minimum itu?"


Tae Hee tidak bisa lagi membiarkan Shi Hyun. Ia pamit pada Ki Young untuk membereskan Shi Hyun sebentar.

Tae Hee memberi Shi hyun pilihan, mau bergabung dengan mereka atau tidak usah nyeletuk, tapi ia lebih suka Shi Hyun tidak ikut.

Ki Young ikut mendekat, ia menyuruh Tae Hee membiarkan Shi Hyun saja, toh mereka bukan orang asing.

"Si Hyun-ie, kapan pernikahan orang tuamu diadakan? Apa Soo Ji baik-baik saja?"

"Kenapa tanya aku? Tanyakan sendiri."

"Memangnya aneh jika aku menanyakan kabar adikmu? Aku beberapa kali mengiriminya pesan, tapi tidak dibalas. Apa dia masih merajuk?"


"Mungkin dia tidak mau bicara denganmu. Itu alasannya. Selain itu... Jangan meremehkan perasaan Soo Ji dengan kata sederhana seperti "merajuk"."

Ki Young langsung diam usai Shi Hyun mengatakannya dengan tegas.


Shi Hyun lalu melembut dan mengajak Tae Hee melepas celemek karena jam kerja tae Hee sudah habis.

"Kenapa aku harus pergi denganmu?" Tanya Tae Hee.

"Kita bertetangga."

Ki Young heran, tetangga? Shi hyun membenarkannya tapi Tae Hee mengelaknya. Ki Young bertanya lagi, sebenarnya apa sih hubungan mereka?

Tae Hee: Dia temannya temanku. Kami baru kenal.


Shi Hyun: Baru kenal? Hei, kita lebih dari itu.

Tae Hee: Oppa.. Beri aku 10 menit. Aku mau berkunjung ke kantormu.

Ki Young: Baiklah.

Dan saat Tae Hee masuk, Ki Young mengucapkan sampai jumpa pada Shi Hyun.


Di Panti Jompo, nenek-nenek sedang asyik menonton drama jadi mereka tidak menghiraukan Shi Hyun yang datang, hanya Bapa Mateo yang menyambutnya.


Kedua, ada nenek Forsythia yang menyapa Shi Hyun. Shi Hyun langsung memeluk nenek.


Lama-lama semua nenek menyadari kehadiran Shi Hyun. Mereka bahkan membuatkan nasi campur untuk Shi Hyun. Nenek Heo merasa iba pada SHi Hyun, pasti hati Shi Hyun sangat hancur. Shi Hyun tidak mengerti apa maksudnya.


Nenek Forsythia kemudian menunjukkan foto masa kecil Shi Hyun. Shi Hyun paham sekarang dan ia tersenyum.


Suster Columba tiba-tiba bertanya, apa Shi Hyun bertengkar dengan Tae Hee? Kenapa datang sendiri?

"Entahlah. Sepertinya ada yang membuatnya marah." Jawab Shi Hyun sedih sampai meletakkan makanannya.


Bapa Mateo kemudian mengambil makanan Shi Hyun, ia memberi saran agar Shi Hyun meminta Tae Hee mentraktirnya makan.

"Apa?" Shi Hyun gagal paham.

"Itu intinya. Jangan menawarkan untuk mentraktir. Tapi minta dia mentraktirmu. Akan lebih mudah ditolak jika kamu menawarkan untuk mentraktir orang. Tapi jika kamu minta ditraktir, mereka lebih mudah mengalah. Begitulah wanita."


Semua orang setuju dengan pendapat Bapa Mateo itu kecuali nenek Forsythia. Nenek menjelaskan kalau Tae Hee marah kepadanya karena sesuatu, jadi Shi Hyun yang harus mentraktir Tae Hee. Nenek Forsythia kemudian memberikan uang pada SHi Hyun.

Shi Hyun menolaknya, tapi nenek-nenek yang lain malah iut-ikutan memberi uang dan memaksa Shi hyun menerimanya dan menyuruhnya segera pulang.

1 komentar:

Terimakasih sinopsisnya, ditunggu episode selanjutnya 😍😍

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon