PEMBERITAHUAN!!!!

Dalam beberapa hari kedepan, Diana Recap pindah ke alamat baru
Pastikan mengunjungi alamat diatas jika www.diana-recap.com tidak bisa dibuka lagi

Thursday, March 29, 2018

Ditulis oleh: Diana Recap
Support Admin dengan membaca sinopsis hanya di "www.diana-recap.com"

Sinopsis Great Seducer Episode 12 Part 2

Sumber Gambar: MBC


Ki YOung membawa Tae Hee ke tempat yang sangat bagus. Tae Hee heran, apa Ki Young selalu mewawancarai orang di tempat sebagus ini?

"Hanya kamu. Mari kita makan sebelum bicara."

"Kapan yang lain kemari? Apa aku akan menemui mereka di kantormu setelah makan malam?"

"Sebenarnya, itu bercanda karena aku ingin mengajakmu berkencan. Mungkin kamu tidak akan mau jika aku mengajakmu makan malam."

"Jadi, ini bukan wawancara untuk pekerjaan sambilan?"

"Kamu sungguh percaya? Kukira kamu ikut karena ingin membuat Si Hyun kesal."

Tae Hee meletakkan garpunya dan menghela nafas kesal.

"Aku minta maaf jika sudah membuatmu tersinggung. Tolong lupakan saja. Aku ingin mentraktirmu makan malam enak." Bujuk Ki Young.


"Tentu, aku tersinggung. Aku tidak butuh permintaan maafmu. Jika ingin meminta maaf, lakukanlah tanpa mengatakan "jika aku menyinggungmu". Aku menghormatimu hanya karena kamu dahulu mahasiswa ayahku."

Tae Hee langsung berdiri dan pergi. Ki Young sampai tidak berkutik saat Tae Hee marah begitu.


Dan sebelum pergi, Tae Hee membayar makanannya. Sementara Ki Young hanya berani mengintip.

"Aku harus memacari wanita seperti dia. Ya. Tae Hee punya pola pikir terbaik." Gumam Ki Young saat Tae Hee pergi.


Tae Hee curhat pada Kyung Joo kalau ia menghabiskan separuh biaya hidupnya, padahal itu cukup untuk membeli banyak bahan makanan.

Sialnya lagi, Tae Hee menjatuhkan bahan makanan yang dibelinya. Ia benar-benar kesal, ia tak mengerti ada apa dengan dirinya hari ini, ia lalu memutus telfon dan mengemasi barang-barangnya.


Tae Hee tiba-tiba mendengar suara tangisan anak. Ternyata bola anak itu nyangkut dipohon jadi ia menangis. Tae Hee pun membantu, ia memanjat pohon untuk mengambil bola itu tapi susah.


Datanglah Shi Hyun. Tae Hee terkejut, apa maunyaSi Hyun? Shi Hyun menjelaskan pada anak-anak itu, ada kalanya mereka harus memakai otak, bukan otot.

Shi Hyun lalu meminta bola satunya yang masih di pegang anak itu. Ia melemparkan bola itu pada bola yang nyangkut, jadi bola yang nyangkut terbentur dan akhirnya terlembar turun.


Shi Hyun mengambil kedua bola itu dan memberikannya pada anak tadi, lalu ia menyuruh anak-anak pulang karena orangtua mereka akan khawatir.

"Terima kasih." Jawab anak-anak itu kompak lalu pergi dari sana.


Shi Hyun mendongak pada Tae Hee, "Kamu mau tetap di sana? Turunlah dari sana dan temani aku makan. Ya?"

"Apa ada masalah?"

"Ayolah."

"Minggir agar aku bisa lompat."

"Hm? Oh.. Baiklah."


Shi Hyun mundur dua langkah, tapi saat Tae Hee meloncat, ia maju lagi untuk menangkap Tae Hee. Shi Hyun lalu menggandeng Tae Hee dalam perjalanan ke rumah.


Shi Hyun mengajak Tae Hee ke rumahnya dan ia menyajikan banyak makanan. Tae Hee hasrus makan banyak soalnya Tae Hee tadi memanjat setinggi itu padahal takut ketinggian.


Tae Hee berbalik dan ia tak sengaja melihat ada gambar di meja belakang sofa. Ia lalu mendekat.

"Boleh kulihat?"

"Belum ada yang pernah melihatnya."

"Sungguh?"

"Ya."

"Apa yang kamu gambar?"

"Berbagai macam hal yang kusukai. Jangan terlalu berharap."

"Maukah kamu menggambarku suatu hari nanti?"

"Tidak! Aku tidak sehebat itu."


Tae Hee membuka lukisan yang Shi Hyun masukkan ke dalam amplop. Ternyata itu adalah lukisan Ibu Shi Hyun, ia kagum, tapi tidak dengan lukisan-lukisan selanjutnya karena semuanya adalah lukisan Soo Ji. 


Tae Hee jadi ingat pertanyaannya di kolam renang kemarin kepada Soo Ji. Sejauh mana.. Soo Ji menyukai Shi hyun. Tae Hee menyadari sekarang kalau itu adalah pertanyaan bodoh.


Kebetulan ayah Tae Hee menelfon, jadi Tae Hee menggunakan alasan itu untuk keluar dari Rumah Shi Hyun.


Tae Hee menunjukkan rumah barunya pada ayahnya, ia pamer tipis-tipis.

"Sekarang ayah sudah lebih tenang."

"Lihat? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu juga baik-baik saja."

"Bagaimana pamerannya?"

"Ayah tahu soal itu? Kalian berhubungan?"

"Tidak juga."

"Ayah mencarinya di internet? Untuk apa?"

"Iseng saja, ayah senang mendengar dia berkarya lagi. Ayah juga ingin mendukungnya."


Ayah sedang mengemas kopi, ia akan mengirimnya dan meminta Tae Hee memberikannya pada Ibu juga karena Ibu suka sekali kopi racikan Ayah.

Tae Hee: Ayah, hanya itu. Hanya kopi buatan Ayah yang Ibu sukai. Ibu memanfaatkan Ayah untuk melupakan sakit hatinya. Karena itulah dia melahirkanku. Ayah sudah lupa?

Ayah: Ibumu tetap mendampingi ayah.


Tae Hee: Kenapa Ayah merindukannya jika dia tidak memberikan hatinya? Kenapa hanya Ayah? Hanya hati Ayah yang hancur berkeping-keping. Ayah ibarat bunga yang layu. Ayah memberitahunya bahwa Ayah baik-baik saja karena menyukainya. Bahwa Ayah tidak keberatan. Bahwa Ayah akan menunggu balasannya. Pernahkah dia membalas? Tidak pernah.


Tae Hee teringat dirinya sendiri, ia sama persi seperti ayahnya, mencintai sepihak. Dan Tae Hee baru menyadarinya sekarang.


Shi Hyun ke tempat favoritnya untuk melihat bintang.


Lalu ia kembali ke rumahnya dan ia melihat gambarnya berserakan di lantai, ia baru sadar kalau tadi Tae Hee melihat lukisan Soo Ji.


Shi Hyun langsung menemui Tae Hee. Ia baru akan menjelaskan semuanya, tapi Tae Hee keburu bilang kalau ia ingin berhenti. Shi Hyun tak mengerti apa maksudnya.

"Ini terlalu berat. Saat kita ke vilamu, aku berharap bisa menjadi teman seperti Soo Ji dan Se Joo. Itu tidak akan pernah terjadi. Pertemuan kita terlambat. Tapi bukan itu bagian sulitnya. Aku tidak mau.. menjadi teman seperti Soo Ji dan Se Joo bagimu. Aku ingin menjadi.. pacarmu. Kamu pernah bertanya apakah aku akan menyesal. Aku menyesalinya. Pergi ke vila itu dan tinggal padahal aku ingin pergi. Bahagia melihatmu dan mengatakan bahwa aku menyukaimu. Aku menyesali semuanya. Kamu tidak berpura-pura jahat. Kamu hanya tidak menyukaiku. Aku salah."


"Tidak."

"Aku mau memotretmu, tapi kenapa kamu tidak? Kenapa kamu tidak memegang tanganku lebih dahulu? Kenapa kamu membuatku bertanya-tanya apa ciuman pertama kita adalah mimpi? Kenapa kamu segera pergi saat Soo Ji telepon dan melupakan rencana kita? Kenapa kamu membuatku menanyakan hal-hal itu?"


Dan Shi Hyun pelan-pelan melepaskan pegangannya pada Tae Hee.

Tae Hee: Lihat? Sekarang pun kamu sangat tidak jelas.

Shi Hyun: Soo Ji.. bilang apa kepadamu? Aku tidak menyukai pria yang terlihat aneh. Aku tidak pernah menaksir pria. Selain itu, aku sedang membicarakan kita. Perkataan Soo Ji tidak penting. Pergilah.

Shi Hyun mengajak Tae Hee bicara, ia kembali meraih tangan Tae Hee, tapi Tae Hee melepaskannya dan tetap meminta Shi Hyun pergi.


Tae Hee masuk ke rumahnya, ia memangis pilu. Dari luar, Shi Hyun bisa mendengarnya.

5 komentar

Saranghae mba diana...semangat nulisnya :D ditunggu ep selanjutnya

Thank you mbak cemunguts.....😄😄😄😄

Makin seruuuu...makasih ya sinopsis y
D tunggu kelanjutan y.😊😊

Makin penasaran nih..
Makasih yah mba.. Ditunggu kelanjutannya...

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon