PEMBERITAHUAN!!!!

Dalam beberapa hari kedepan, Diana Recap pindah ke alamat baru
Pastikan mengunjungi alamat diatas jika www.diana-recap.com tidak bisa dibuka lagi

Saturday, March 31, 2018

Sinopsis Switch : Change The World Episode 4 Part 2

Sumber : SBS


Dalam perjalanan kembali, Ha Ra bertanya, apa yang tadi Do Chan bicarakan dengan Joon Suh sampai cepat akrab begitu.

"Anak-anak sangat mudah mengenali orang yang tulus."

"Kau tidak berbohong padanya soal menangkap para bajingan itu, 'kan?"

"Bohong kan bagian pekerjaanku. Para bajingan itu harus kita tangkap, 'kan?"

"Tentu saja. Tapi kasus narkoba cukup memakan waktu untuk pengusutan sampai akarnya. Mereka yang tertangkap biasanya sekedar pelaksana. Mereka bahkan tidak tahu identitas bos besar mereka. Jangan memikirkan hal-hal bodoh."

"Aku akan bukan Jaksa. Buat apa juga menangkap mereka."


Tapi Do Chan kembali melihat pemberian Joon Suh, bohong banget kalau ia tidak memikirkan sesuatu.


Do Chan bermipi soal peristiwa pembunuhan yang ia saksikan semasa kecil dan itu mengganggu tidurnya.


Direktur Bong mendengar suara teriakan DO Chan, ia langsung masuk kamar Do Chan. Direktur Bong bisa langsung tahu kalau Do Chan pasti mimpi buruk lagi, mimpi yang sama dan itu adalah kutukan Do Chan.

"Setiap kali kau bermimpi begitu, terjadi hal buruk. Mari ubah waktu operasi hari ini." Saran Direktur Bong.


Do Chan kembali memutar 'bintang'-nya sambil berpikir.


Ha Ra datang dan langsung menyinggung hal itu, memutarnya lagi? Ha Ra penasaran memang 'bintang' itu untuk apa?

"Aku hanya memutarnya saat bosan atau memikirkan sesuatu."

"Kelihatan seperti seseorang berusaha menjadi lebih pintar daripada pergi kerja."

"Aku akan bukan Jaksa sungguhan. Aku tidak bisa menginvestigasi maupun menandatangani dokumen. Bukankah kau hanya ingin aku menjadi bonekamu?"

"Benar. Beban pekerjaan yang berat ini membuatku iri kepadamu. Ini membuatku sakit kepala."


Do Chan lalu melihat dokumen yang sedang Ha Ra baca, "Aku tahu itu fail kasus rahasia, tapi bisa aku melihatnya?"

Do Chan membukanya dan ia bisa mengerti maksudnya, "Ini bisa menjadi faktor yang meringankan. Bagaimana kalau keringanan hukuman dalam keadaan khusus?"

"Keringanan hukuman? Bagaimana kau tahu itu?"

"Saat terdakwa dapat memilih antara membayar denda atau menjadi sukarelawan, terdakwa dapat memilih hukuman yang lebih ringan. Maka kau pun dapat mengurangi masa hukumannya. Hukum Pidana Pasal 54."

"Heol~ itu bukan sesuatu yang dapat dibualkan semata. Kau kuliah hukum, 'kan? Kau ikut ujian masuk juga, 'kan?"


Do Chan lalu melihat dokumen yang sedang Ha Ra baca, "Aku tahu itu fail kasus rahasia, tapi bisa aku melihatnya?"

Do Chan membukanya dan ia bisa mengerti maksudnya, "Ini bisa menjadi faktor yang meringankan. Bagaimana kalau keringanan hukuman dalam keadaan khusus?"

"Keringanan hukuman? Bagaimana kau tahu itu?"

"Saat terdakwa dapat memilih antara membayar denda atau menjadi sukarelawan, terdakwa dapat memilih hukuman yang lebih ringan. Maka kau pun dapat mengurangi masa hukumannya. Hukum Pidana Pasal 54."

"Heol~ itu bukan sesuatu yang dapat dibualkan semata. Kau kuliah hukum, 'kan? Kau ikut ujian masuk juga, 'kan?"


Ha Ra menepuk mulutnya sendiri karena tidak bisa dijaga. Do Chan hanya geleng-geleng.


Jaksa Baek masih belum bangun dari komanya.


Do Chan terlihat gelisah, ia terus melihat jam tangannya lalu pamit pada Ha Ra untuk pulang duluan dikarenakan ada janji.

"Kau ada janji bertemu Nam Seung Tae besok. Jangan terlibat masalah dan pulang saja nanti bersamaku."

"Kalau begitu, izinkan aku tidur sebentar di ruang piket malam. Aku benar-benar kelelahan."

AKhirnya Do Chan tetap bisa keluar.


Do Chan ternyata menyamar bersama Eun Ji. Mereka sekarang ada di depan Nana Club, mereka berperan sebagai sepasang kekasih, dimana sang wanita sedang hamil.

Eun Ji marah-marah, "Hei, dasar kau! Kau menyuruhku tinggal denganmu. Kau bilang kita akan menikah."

"Aih, kau benar-benar menjengkelkan."

"Tapi kau ingin aku melakukan aborsi sekarang?"

"Kita tidak punya cukup uang untuk merawat anak!"

"Kita bisa jual saja gitarmu!"

"Kau gila, ya? Gila, ya? Ini seperti anakku."

"Lalu bagaimana anak yang kukandung? Bukankah dia anakmu juga? Hah?"

"Tidak tahu, tidak peduli. Enyah sana."


Dan Do Chan meninggalkan Eun Ji sendiri. Eun Ji menangis. Do Chan dicibir pengunjung club yang masih antre, tapi ia gak peduli.


Kemudian pria botak yang kemaren itu menghampiri Eun Ji.


Eun Ji memanggil Do Chan untuk bertemu Pria botak itu. Eun Ji bilang Pria itu akan memberi mereka uang, tapi ia menyerahkan keputusannya pada Do Chan, ia akan menurut. Dan Eun Ji meninggalkan mereka.


Pria Botak berkata akan memberi DO Chan banyak uang jika Do Chan bisa membujuk Eun Ji. Do Chan tertarik, apa itu?


Sementara itu, Eun Ji bergabung dengan In tae dan Direktur Bong di mobil.


Jadi Kacamata  Do Chan ini bisa digunakan untuk merekam, dimana langsung tersambung dengan layar yang dipantau oleh In Tae di mobil. In Tae memberitahu Do Chan kalau mereka sudah mendapat gambar yang bagus.


Pria Botak berkata kalau Eun Ji hanya perlu naik pesawat, mereka akan mengurus semuanya. Do Chan pun terus memancing pria itu agar mau bicara.

"Biar aku tanya. Apa sebenarnya yang perlu kami lakukan?"

"Aigoo.. kau sangat tidak sabaran."


Namun tiba-tiba ada orang yang membekap mulut Do Chan dari belakang dan itu mengandung obat bius, karena Do Chan langsung pingsan.

In Tae kehilangan kontak, ia tidak bisa mendnegar apapun. Ia panik.


Direktur Bong juga panik, ia melepas headphone-nya dan langsung menuju lokasi DO Chan, tapi ia terlambat, Do Chan sudah tidaka ada disana, ia hanya menemukan kacamata yang Do Chan pakai.


Seorang pendaki menemukan orang yang gantung diri.


Kepala Yang buru-buru masuk ruangan Ha Ra, ia mengabari kalau Nam Seung Tae mati bunuh diri dan ditemukan di Gunung Bukhan.

"Kami seharusnya bertemu besok."

"Kita harus tetap melakukan autopsi, tapi ini pembunuhan yang disamarkan dengan bunuh diri. Kita kan akan memberinya uang. Buat apa dia bunuh diri? Aigooya... tidak bisa dipercaya."

Kepala Yang melihat kursi Do Chan yang kosong, ia menanyakan keberadaannya. Ha Ra akan menjawab, tapi belum selesai ia sudah berlari menuju lokasi Do Chan.


Do Chan bangun di tempat yang seram, sebuah gudang dan disana banyak orang-orang seram juga.

Pria Botak tadi melepas wig Do Chan, "Kenapa kau memakai ini, Jaksa?"


Lalu datanglah seseorang, Do Chan menatapnya tajam.


Ha Ra ke ruang piket malam, ia membuka selimut orang-orang yang tidur disana, tapi tidak menemukan Do Chan. Ha Ra pun keluar lagi.

Ia bingung, kemana DO Chan gerangan? Kemudian ia menelfon Do Chan, tapi tidak kunjung dijawab.


Orang tadi adalah Sekretaris Kim, tapi ia menggunakan to[i dan masker hitam, jadi hanya kelihatan matanya saja. Sekretaris Kim memastikan, benar yang dihadapannya itu Jaksa Baek Joon Soo? Do Chan hanya mengernyit.

"Kau berhasil selamat terakhir kali, tapi kali ini tidak akan lagi." Lanjut Sekretaris Kim.


Do Chan: Kalian ini siapa? Tidak punya rasa hormat pada Jaksa Korea. Siapa sebenarnya kalian?!

Sekretaris Kim: Siapa kami bukanlah hal penting sekarang. Menyadari jalan yang coba kau tempuh, itulah yang penting.


Sekretaris Kim mundur dan para algojo itu maju. Do Chan memanggil Sekretaris Kim, ia mengatakan yang sebenarnya kalau ia bukan Jaksa Baek, 

"Bukankah aku sangat mirip dengannya? Yaaah... siapa yang mengira ini akan terjadi? Mungkin sulit dipercaya, tapi ceritanya sangat rumit." Lanjut Do Chan.

"Bagaimanapun kau akan mati. Simpan ceritanya untukmu sendiri. Kalau begitu, selamat tinggal."

"Sudah kubilang. Aku bukan Baek Joon Soo. Aku Sa Do..."


Do Chan tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena sebuah tongkat melayang dan tepat mengenai kepalanya dengan keras, ia pun jatuh.


Tiba-tiba lampu mati dan sebuah mobil datang. Beberapa orang keluar dari mobil itu dengan memakai masker khusu, meteka melemparkan sesuatu yang mengeluarkan asap. Mereka maju dan berterung setelahnya.


Salah satu dari mereka mendekati Do Chan dan memakaikan masker yang sama. Do Chan setengah sadar, jadi ia hanya bisa melihat remang-remang.


Tapi ada yang memukul orang itu dari belakang, sarung tangan orang itu jatuh saat melawan orang yang memukulnya. Do Chan masih bisa melihat, tapi karena ada asap tebal pandangannya pun terhalang dan lama-lama ia pingsan.

1 komentar:

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon